
Farrel terkejut ketika Kakaknya bilang kalau Vanya adalah ceweknya. Telponnya langsung dimatiin sama Irene.
"Ada apa, Rel?" tanya Vanya.
"Kakakku, ngasih tahu kalau Ayah mau ketemuan sama aku dan Kakakku" jawab Farrel.
"Ya syukurlah, kalau gitu. Orang tua kamu tinggal Ayah doang. Sama kayak aku, sudah nggak punya Ibu. Jadi, kita rawat baik-baik orang tua tinggal satu. Lupakan persoalan dimasa lalu." ucap Vanya.
Farrel memandangi Vanya tanpa kedip. Gadis itu jadi salah tingkah dan pipinya semakin merona lantaran nahan malu. Kemudian Farrel memegang tangan Vanya lalu mengecup punggung tangannya.
"Dibalik sifat manjamu, ternyata tersimpan hati yang baik. Semakin kagum aku sama kamu." ucap Farrel.
"Apaan sih Rel, ada Papa lho." ucap Vanya.
"Papamu lagi tidur, nggak bakal bisa lihat kita." jawab Farrel.
"Kamu tuh, ya. Bisa saja godain anak gadis orang." ucap Vanya.
Tak terasa mereka ngobrol-ngobrol ternyata sudah malam. Jarum jam sudah menunjukan pukul sepuluh malam. Sudah dua malam Farrel nemani Vanya dirumah sakit. Akhirnya hubungan mereka berdua kembali menunjukan sinyal yang positif. Padahal sebelumnya Farrel dan Vanya sempat diem-dieman.
Farrel anaknya memang sudah dewasa, jadi bisa mengemong Vanya yang cenderung manja. Lambat laun Vanya bisa menampakan perubahan. Sudah nggak kolokan lagi dan perlahan bisa mandiri. Sebenarnya Farrel cinta dan sayang sama Vanya. Cuma, kadang Vanya itu masih seperti anak kecil. Dengan ketelatenannya Farrel akan tetap memperjuangkan gadis pujaannya itu. Suatu saat dia akan menembak langsung sama Vanya. Karena selama ini mereka sekedar dekat saja.
Malam semakin larut, Vanya tidur di springbed buat pengunjung. Sedangkan Farrel tidur di sofa. Kebetulan kamar itu yang VVIP jadi dapat fasilitas yang bagus.
(****)
Minggu pagi ini udara sangat cerah. Bu Ratih hari ini ingin menjenguk Pak Keanu di rumah sakit, kemarin dia absen padahal sudah janji sama Vanya untuk menjenguk Papanya. Setelah bersiap-siap, kini Bu Ratih langsung berangkat ke rumah sakit dengan naik taksi.
Sesampainya dirumah sakit, Bu Ratih langsung menuju kamar Pak Keanu. Dia membuka pintunya pelan-pelan. Ternyata Pak Keanu sendirian. Vanya sama Farrel kemana, batinnya.
Pak Keanu yang melihat Bu Ratih membuka pintu kamarnya, langsung saja menoleh dan tersenyum. Bu Ratih menganggukan kepalanya dan membalas senyuman Pak Keanu.
"Vanya sama Farrel kemana, Pak?" tanya Bu Ratih sambil meletakan oleh-oleh yang dibawahnya diatas meja.
"Tadi Vanya bilang mau ke kantin beli teh panas. Kalau si Farrel pagi-pagi tadi pamit pulang, karena Kakaknya kemarin telpon mengabari kalau Ayahnya minta ketemuan sama mereka berdua." jelas Pak Keanu.
"Oh syukurlah kalau mereka mau berdamai." sahut Bu Ratih.
"Iya, Bu. Kasihan Ayahnya. Bagaimanapun dia itu tetap Ayahnya." jawab Pak Keanu.
"Gimana keadaan Pak Keanu, sekarang?" tanya Bu Ratih.
__ADS_1
"Sampai saat ini sudah enakan, Bu. Cuma kadang kepala ini terasa pusing." jawab Pak Keanu.
"Syukurlah kalau memang sudah enakan." jawab Bu Ratih.
"Bu Ratih kesini tadi apa nggak dimarahi sama suami. Takutnya salah faham, mentang-mentang suaminya nggak ada, Bu Ratih jenguk laki-laki lain." ucap Pak Keanu sembari tertawa pelan.
"Pak Keanu ini ada-ada saja. Ya enggaklah.! saya juga sudah minta ijin sama suami saya." jawab Bu Ratih sambil tertawa lepas.
Pak Keanu memperhatikan Bu Ratih yang lagi tertawa. Kamu memang wanita yang luar biasa cantiknya, Bu Ratih. Senyummu membuat hati semua laki-laki jadi luluh, termasuk aku. Batin Pak Keanu.
Bu Ratih yang memergoki Pak Keanu yang lagi memperhatikan dirinya, dia langsung terdiam dan menatap balik kearah Pak Keanu. Wajah Bu Ratih mungkin saat ini berubah menjadi merah. Mata mereka saling bersirobok, dan tiba-tiba pintu kamarpun terbuka.
Pak Keanu dan Bu Ratih langsung terperanjat dari lamunannya masing-masing. Vanya yang muncul tiba-tiba membuat keduanya jadi gelagapan.
"Bu Ratih.,! kapan datang, sudah dari tadi, ya?" seru Vanya sambil berhamburan kepelukan Bu Ratih.
"Baru saja, Van. Kata Papamu, kamu habis dari kantin.?" tanya Bu Ratih.
"Iya, Bu. Ini saya bawah teh panas buat Papa. Oh iya, Bu Ratih sama siapa?" tanya Vanya.
"Ibu sendirian, sayang. Kamu sudah sarapan?" ucap Bu Ratih.
"Sudah, Bu. Barusan beli roti sama teh panas. Ini saya bawa lagi teh panas buat Papa." jawab Vanya.
"Iya, Bu. Alhamdulilah, akhirnya mereka mau berdamai." jawab Vanya.
"Iya, Van. Bu Ratih juga ikut senang. Orang tua tinggal satu. Jadi kita harus benar-benar menjaganya." ucap Bu Ratih.
"Oh iya, Van. Bu Ratih tadi bawakan sesuatu buat Papamu sama kamu. Coba itu kamu buka aja dalam tas." titah Bu Ratih sambil menunjukan tas yang berada diatas meja.
Kemudian Vanya membuka tas dan mengeluarkan isinya. Matanya langsung terbelalak melihat apa yang dibawa Bu Ratih.
"Woow..,! Ini kesukaan Papa, Bu. Dulu, sewaktu Mama masih ada. Dia selalu membuatkan Papa puding coklat susu seperti ini. Apalagi kalau habis ditaruh kulkas, rasanya maknyuus." jelas Vanya.
"Oh ya,! kebeneran dong. Padahal Ibu tadi nggak sengaja. Ibu pikir apa yang makanan yang ringan tapi, tetap mengenyangkan. Ya udah, Ibu buatkan puding aja." jawab Bu Ratih.
"Makasih, ya Bu Ratih. Maaf udah ngerepotin." ucap Pak Keanu.
"Oh, nggak ngerepotin sama sekali, kok Pak. Cuma puding aja kok repot. Tapi, maaf kalau makanannya cuma itu." jawab Bu Ratih.
"Ini juga sudah banyak, Bu. Papa pasti suka banget nih.!" seru Vanya.
__ADS_1
Akhirnya mereka melanjutkan obrolan mereka sambil menikmati puding yang dibawakan Bu Ratih. Apalagi Vanya, dia sangat senang sekali jika Bu Ratih menjenguk Papanya disini. Pak Keanu pun demikian, terlihat senang sekali dengan kedatangan Bu Ratih.
Pak Keanu memperhatikan saat putrinya bercanda dengan Bu Ratih. Dia jadi ingat sama mendiang istrinya. Sosoknya nggak jauh beda dengan Bu Ratih. Kalem, cantik serta keibuan. Sayangnya Bu Ratih sudah menikah. Andai saja belum, mungkin dia akan memberanikan diri untuk melamarnya.
Tak lama kemudian, datanglah Farrel dengan membawa banyak sekali makanan. Dia tersenyum-senyum kelihatan kalau lagi bahagia.
"Haii semua..! lihat nih, aku bawa apa?" seru Farrel.
"Emangnya kamu bawa apaan!" tanya Vanya balik.
"Aku bawakan masakan Jepang. Tadi, aku dan Kak Irene habis ketemuan sama Ayah di restoran Jepang. Kami akhirnya sepakat saling memaafkan dan kembali seperti dulu." ucap Farrel dengan matanya berbinar.
"Syukurlah kalau begitu, berarti kalian sudah berdamai satu sama lain.?" tanya Bu Ratih.
"Iya, Kak. Aku dan Kak Irene memutuskan untuk menerima Ayah kembali. Tapi, untuk tinggal. Mungkin tetap seperti ini. Karena kita bertiga punya kehidupan masing-masing. Aku akan tetap sama Kakek, karena Kakek juga sudah tua. Kak Irene juga tetap pulang dirumah Mas Bagas. Kalau ikut Papa, kan Tante Rahma sendirian sama Winda saja. Makanya Ayah akan tetap tinggal sendiri sama pembantu dan sopirnya. Tapi, setiap saat kita bisa menginap disana." jelas Farrel.
"Lho, istri Ayahmu dimana?" sahut Bu Ratih.
"Ayah sudah cerai lama, Kak. Jadi, selama ini dia juga hidup sendiri." jawab Farrel.
"Oh gitu. Ya syukurlah kalau kini kalian bisa akur kembali." jawab Bu Ratih.
Kehadiran Farrel menambah suasana ruangan itu semakin gaduh. Apalagi Farrel sama Vanya selalu bertengkar, maka keributan selalu tercipta jika mereka berdua bersama.
Pak Keanu senang sekali melihat putrinya bisa bertemu dengan laki-laki seperti Farrel. Dia akan merestuinya jika memang Farrel akan berjodoh dengan putrinya. Biar hubungan keluarga dirinya dengan keluarga Bu Ratih semakin dekat.
Bu Ratih juga senang sekali jika memang Farrel benar jodoh Vanya, dirinya pasti ikut bahagia karena Vanya bisa menemukan laki-laki yang baik dan bertanggung jawab. Tak henti-hentinya Bu Ratih menatap mereka berdua yang lagi bercengkerama.
"Bu Ratih kok senyum-senyum sendiri.?" tanya Vanya.
"Nggak apa-apa. Ibu senang aja melihat kalian bergurau seperti ini. Serasi, kelihatannya jodoh nih.!" seru Bu Ratih.
"Ih, Bu Ratih apa-apaan sih. Vanya kan jadi malu." jawabnya pelan.
"Kenapa malu, kalian sudah dewasa, kok. Wajar kalau kalian menjalin hubungan." sahut Bu Ratih.
"Baiklah kalau begitu, didepan Papamu dan Kak Ratih. Aku akan mengatakan sesuatu sama kamu, Van.!" tukas Farrel.
"Emang, kamu mau ngomong apa?" tanya Vanya.
"Apakah kamu mau jadi pacarku.!"
__ADS_1
----------------------------------
Bersambung.......