
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Raka sudah bangun. Kasih membantu Bu Ratih menjaga Raka karena Babysitter nya belum datang. Awalnya Raka nggak mau digendong Kasih. Tapi, setelah dibujuk oleh Bu Ratih akhirnya dia mau juga.
"Raka sama Ibu Kasih dulu, ya. Mama mau siapin bajunya Papa dulu dan siapin buat mandinya Raka. Habis itu Raka Mama mandiin." ucap Bu Ratih.
"Iya, Ma. Raka nggak rewel, kok" jawab Kasih seolah Raka yang bicara.
"Kamu ajak ke kolam ikan ditaman. Biasanya dia senang kalau lihat ikan." ucap Bu Ratih.
"Iya, Mbak." jawab Kasih sambil melangkah keluar.
Bu Ratih masuk ke kamarnya, sekalian bangunin Gavin karena semalam dia tidur dikamarnya Raka, jadi belum tahu Gavin sudah bangun apa belum. Dia buka pintu kamar dan ternyata nggak ada orang. Setelah itu dia buka kamar mandi juga nggak ada orang. Bu Ratih akhirnya membuka lemari mencarikan baju kerja buat suaminya, kemudian dia keluar lagi.
Setibanya diluar kamar, dia mendapati Gavin dari atas sambil kucek-kucek matanya khas orang baru bangun. Bu Ratih lalu berhenti. Berarti dia semalam tidur dikamar Kasih, nggak mungkin kalau tidur dikamarnya dulu secara itu sekarang ditempati Kak Mahen. Batinnya.
"Baru bangun, sayang?" tanya Bu Ratih.
Gavin menggaruk kepalanya yang gak gatal sambil mengangguk. "Iya, sayang. Maaf se.--" belum sampai meneruskan kalimatnya Bu Ratih keburu menutup mulut Gavin dengan telunjuknya.
"Sstt.,! sudah nggak usah diterusin. Kamu mandi sana gih! gantian, aku mandiin Raka dulu." ucap Bu Ratih sambil kekamarnya Raka.
"Iya, sayang." jawab Gavin.
Bu Ratih menyiapkan mandinya Raka dikamar mandi. Kemudian dia keluar memanggil Raka yang masih digendong Kasih.
"Kasih, sini. Raka mau mandi dulu." panggil Bu Ratih.
"Iya, Mbak." jawabnya sambil mendekati Bu Ratih yang berdiri diteras depan.
Raka diambil Bu Ratih lalu membawanya kedalam kamarnya. Kasih mengikuti dibelakangnya untuk membantu Bu Ratih mandiin Raka.
Kasih memperhatikan Bu Ratih sedang memandikan Raka. Dia sudah terbiasa dengan Bu Ratih. Anak ini memang menjadi anak yang mahal, karena untuk membuatnya dia terlahir didunia harus dibarengi dengan perjuangan dan pengorbanan.
Tak lama kemudian selesai juga Raka mandi dan dipakaikan baju sekarang sudah ganteng. Bu Ratih menyerahkan kembali ke Kasih untuk digendongnya karena dia mau mandi untuk siap-siap ke kampus.
Dalam kamarnya dia sudah mendapati suaminya selesai mandi dan rapi siap untuk berangkat ke kantor. Bu Ratih kemudian masuk ke kamar mandi.
"Sih, dia sudah mulai mau sama kamu." ucap Gavin ketika berada disamping Kasih yang lagi pangku Raka diruang tengah.
"Iya, Mas. Awalnya tadi nangis, tapi setelah dibujuk sama Mbak Ratih akhirnya dia mau.
"Nanti aku antar kamu ke stasiun, biar aku pulang untuk jemput kamu." ucap Gavin.
"Apa nanti nggak merepotkan kamu, Mas. Bolak-balik kantor kerumah." jawab Kasih.
"Nggak apa-apa, Sih. Masak aku mau antar istriku sendiri nggak boleh.!" seru Gavin.
"Iya sudah, kalau itu mau kamu. Makasih Mas." jawab Kasih.
__ADS_1
Akhirnya Babysitter nya datang juga. Bu Ratih dan Gavin siap-siap berangkat beraktivitas. Bu Ratih pamit sama Kasih sekalian karena nanti siang Kasih pulang. Setelah itu berangkatlah mereka.
Siang harinya sekitar jam satu an, Gavin menjemput Kasih ke rumah. Dia sudah bersiap-siap dengan tasnya.
"Kasih, hati-hati, ya. Salam sama Ibu dan Kakekmu" ucap Pak Indra.
"Iya, Pa. Nanti Kasih sampaikan." jawab Kasih.
"Oh iya, kapan-kapan Mama akan ikut Gavin kalau kesana. Mama pingin liat monumen Simpang Lima Gumul yang menjadi Icon Kota Kediri." ucap Bu Hesty.
"Iya, Ma. Nanti Mama tinggal ngomong sama Mas Gavin." jawab Kasih.
"Kamu sudah siap, Sih.!" tanya Gavin ketika dia masuk keruang tengah.
"Sudah, Mas." jawab Kasih.
Akhirnya Kasih pulang diantarkan Gavin ke stasiun. Setelah pamit sama kedua mertuanya dia menuju mobil Gavin.
Dalam perjalanan Gavin seringkali melirik kearah Kasih. Sedangkan Kasih hanya diam. Saat dilampu merah, Gavin menangkap anak kecil sekitar seumuran Raka lagi digendong Ibunya diajak meminta-minta.
Seketika dada Gavin sesak menahan tangis karena melihat anak seumuran dengan anaknya diajak seperti itu. Kasih yang melihat suaminya memperhatikan anak kecil itu langsung memegang tangan Gavin dan melempar senyum.
"Kamu keinget sama Raka, ya." ucap Kasih.
"Iya, Sih. Kasihan aku, jadi nggak tega." jawab Gavin.
"Mas, sudah hijau tuh!" seru Kasih disaat melihat lampu hijau kembali.
Akhirnya sampai juga di stasiun, Gavin dan Kasih turun dari mobilnya menuju kursi yang dibuat menunggu. Gavin membantu membawakan tas nya Kasih.
"Sih, kemarin kamu belum menjawab pertanyaanku?" tanya Gavin.
"Pertanyaan yang mana, Mas?" tanya Kasih balik.
"Yang waktu aku nanyain, apakah kamu nggak ada perasaan sama sekali sama aku?" ucap Gavin.
Kasih diam karena kaget karena dia nggak menyangka kalau suaminya bakal menanyakan hal ini kembali. Gavin memegang dagu Kasih untuk memandanginya dengan jelas wajah istrinya itu.
"Mas, sudahlah jangan bahas itu lagi, ya. Jam nya sudah hampir pukul dua. Itu sudah ada informasi kalau keretanya mau datang." ucap Kasih mengelak.
"Kalau kamu nggak menjawab, berarti aku anggap itu jawaban iya." ucap Gavin.
Kasih hanya tersenyum lalu mencium tangan Gavin untuk pamitan. "Aku pulang dulu, ya Mas." ucapnya.
"Iya, Sih. Kamu hati-hati dijalan, ya. Jaga hati buat aku, ya?" ucap Gavin sambil mencium kening istrinya.
"Iya, Mas." jawab Kasih sambil masuk kearea tunggu khusus penumpang.
__ADS_1
Gavin melambaikan tangannya begitu pula dengan Kasih, dia membalas lambaian tangannya ke arah Gavin. Kemudian Gavin membalikan badannya lalu menuju parkiran mobilnya.
Saat menunggu keretanya datang, Kasih duduk sambil memikirkan ucapannya Gavin barusan. Dia disuruh jaga hatinya buat Gavin. Apa Gavin sekarang mulai tumbuh benih-benih cinta sama Kasih.
"Ya Allah, kenapa disaat aku sudah mulai ikhlas dan mau melepaskan suamiku, kenapa justru dia sekarang mulai ada hati sama aku. Kuatkanlah hatiku ini." ucap Kasih dalam hati.
Kasih masih melamun dalam pikirannya. Dia nggak menyadari kalau keretanya sudah datang, sampai-sampai dia ditegur sama salah satu penumpang juga.
"Mbak, maaf. Itu keretanya sudah datang. Silahkan masuk." ucap seorang laki-laki kepada Kasih.
"Eh..iya, Mas. Maaf." jawab Kasih sambil memandangi laki-laki itu.
Kasih kemudian masuk dan disaat mau masuk, tas yang dibawanya mau jatuh dan langsung ditangkap sama laki-laki tadi.
"Hati-hati, Mbak. Kayaknya Mbak ini lagi banyak pikiran. Soalnya dari tadi saya perhatikan banyak melamun." ucap laki-laki itu.
"Eh, maaf Mas. Makasih, ya?" ucap Kasih sambil melangkah menuju kursi yang sesuai dengan tiketnya.
Setelah mencari kursinya, akhirnya dia menemukan sudah kursinya. Dia dapat kursi yang bangku isi dua. Tak lama kemudian laki-laki yang bantuin Kasih tadi muncul dan duduk disebelah Kasih.
"Lho,! ini Mbak nya tadi, kan. Ini kursi saya disebelah Mbak." ucap laki-laki itu.
"Eh, iya Mas." jawab Kasih.
"Kenalin, saya Herdi." ucapnya seraya mengulurkan tangannya.
"Saya Kasih." jawab Kasih sambil membalas uluran tangan Herdi.
Akhirnya mereka ngobrol-ngobrol. Mereka berdua lalu bercerita satu sama lain. Dan tak lama kemudian Kasih ketiduran.
Malam hari sekitar jam delapan dirumah Gavin. Bu Ratih masih bermain sama Raka. Kali ini Raka belum tidur juga. Dia mulai belajar berjalan, karena sebelumnya sudah bisa berdiri dan merambat pegangan dinding.
Tak lama kemudian Gavin datang. Dia hari ini pulang malam karena ada meeting ndadak soal kerjasama dengan perusahaan Jepang. Ternyata hasilnya memuaskan. Bulan depan Gavin diundang untuk menikmati liburan ke Jepang sama keluarganya.
"Sayang, Papa pulang..!" teriak Gavin dari luar.
"Hallo Papa. Kok malam, Pa?" tanya Bu Ratih.
"Iya, tadi ada meeting mendadak. Kerjasama dengan perusahaan Jepang hasilnya memuaskan. Mereka cocok dan senang dengan konsep yang aku tawarkan. Kita sekeluarga diundang untuk liburan ke Jepang.!" seru Gavin sambil memeluk Bu Ratih dan Raka.
"Apa,! kita ke Jepang, sayang!" jawab Bu Ratih sambil berteriak histeris.
"Iya, sayang. Aku akan mengajak kalian berdua untuk jalan-jalan ke Jepang. Aku akan menyenangkan kalian berdua sayangku..!" jawab Gavin.
Bu Ratih senang sekali karena suaminya selalu memanjakan dirinya dan Raka. Apalagi setelah ini dia mengajaknya ke Jepang. Baru kali ini dia ke Negara nya film Naruto. Batinnya.
---------------------------------
__ADS_1
Bersambung..