BU DOSEN CANTIK

BU DOSEN CANTIK
SEASON DUA Part : 84 (Pasrah)


__ADS_3

Ketika menyadari bahwa dirinya telah memeluk Kasih. Seketika Gavin melepaskan pelukannya dengan wajah yang bercampur malu.


"Maaf, Kasih. Saya tadi kebawa suasana. Nggak sengaja meluk kamu." ucapnya sambil menyeka air matanya.


"Iya, Nggak apa-apa, Pak. Saya maklum kok." jawab Kasih.


"Makasih ya, karena kamu telah mau merawat istri saya." tukas Gavin.


"Iya, Pak sama-sama." jawab Kasih.


Tak terasa hari semakin gelap. Jam sudah menunjukan pukul sepuluh malam. Bu Ratih belum dipindahkan ke ruang rawat. Gavin tetap setia menunggui istrinya bersama Kasih. Sedangkan orang tuanya sudah kembali pulang.


Tak lama kemudian Bu Ratih didorong keluar oleh beberapa Perawat untuk dipindahkan ke ruang rawat inap. Gavin dan Kasih mengikutinya dari belakang. Gavin meminta nanti istrinya ditaruh ruangan VIP.


Setelah sampai dikamar, Bu Ratih ditempatkan di tempat tidur. Gavin dan Kasih membantu mereka.


"Pak, istri Bapak belum sadar dari pengaruh obat sehabis operasi. Nanti kalau sudah sadar, jangan boleh banyak bergerak dulu, ya?" titah Perawat itu.


"Baik, Sus." jawab Gavin.


Setelah itu, Perawat yang mengantarkan Bu Ratih itu keluar. Kini tinggal Bu Ratih, Gavin dan Kasih diruangan itu.


Gavin terus memandangi wajah istrinya yang nampak lemah, disentuhnya wajah serta tangan istrinya itu. Dia nggak henti-hentinya memandangi wajah istrinya itu tanpa kedip. Sesekali dia mengecup kening istrinya. Mata Gavin berkaca-kaca saat mengecup kening istrinya.


Kasih tak bisa menahan air matanya ketika memandangi Gavin yang begitu menyayangi istrinya. Dia terharu dengan melihat kesetiaan seorang suami yang sedang menemani istrinya dikala sakit.


"Pak, sebaiknya Pak Gavin istirahat aja dulu. Biar Bu Ratih saya yang jaga." tawar Kasih.


"Nggak usah, Kasih. Saya akan menunggui istri saya sampai siuman." jawab Gavin.


"Ya sudah kalau gitu. Kalau ada apa-apa, bilang sama saya." jawab Kasih.


"Iya, Sih." jawab Gavin.


Tak lama kemudian Gavin tertidur disamping istrinya. Kasih yang melihat itu, dia mendekati kedua majikannya itu


Bu Ratih masih belum sadarkan diri. Sedangkan Gavin masih tidur pulas dengan posisi masih menggenggam tangan istrinya.


Kasih kasihan dengan mereka berdua, begitu harmonis dan begitu serasinya mereka berdua. Tapi, kenapa musibah selalu datang. Seandainya mereka dikaruniai seorang anak, alangkah bahagianya mereka.


Tapi, Tuhan berkehendak lain, tidak selamanya jalan hidup seseorang itu lancar seperti yang mereka inginkan. Tapi, semua kembali lagi pada Sang Pencipta.


Tiba-tiba tangan Bu Ratih bergerak dan Gavinpun jadi terbangun. Kasih yang dari tadi berdiri kini ikut terkejut.


"Bu Ratih sudah sadar, Pak.!" seru Kasih.


Gavin membuka matanya lalu menatap istrinya. Bu Ratih perlahan membuka matanya. Diedarkannya pandangan menelusuri setiap sudut ruangan. Sepertinya dia mengenali ruangan yang seperti ini. Pasti dirumah sakit.

__ADS_1


"Sayang, kamu sudah sadar.?" tanya Gavin sambil membelai wajah istrinya.


"Aku kenapa,?" tanyanya heran.


"Sudah, tenang dulu." jawab Gavin.


"Kasih.! aku kenapa?" kini dia bertanya pada Kasih.


Kasih masih terdiam, dia melirik ke arah Gavin. Dia nggak berani bicara. Kali ini dia hanya tersenyum dan mencoba mengambilkan air untuk mengalihkan perhatiannya.


"Minum dulu, Bu. Kayaknya Bu Ratih haus.?" ucapnya lirih sambil mendekatkan botol minuman ke mulut majikannya itu.


"Iya, sayang. Minum dulu." ucap Gavin.


Akhirnya Bu Ratih nurut dan meminum air itu. Gavin membantu istrinya untuk membawakan botol itu.


"Aku ingat, tadi pas mandi aku mengalami pendarahan, lalu Kasih membawaku kerumah sakit pakai taksi. Setelah itu aku diperiksa dokter dan aku dipindahkan keruangan lain. Seperti kamar operasi, tapi setelah itu aku nggak ingat apa-apa." jelas Bu Ratih.


Gavin dan Kasih saling pandang. Mereka bingung harus gimana. Apa harus dikasih tahu sekarang atau gimana.


"Sayang, seharusnya kamu jangan banyak tingkah dulu. Istirahat saja." ucap Gavin.


"Iya, Bu. Bu Ratih jangan banyak bergerak dulu, ya. Kalau mau apa-apa, biar Kasih yang bantu." sahut Kasih.


"Tapi, kenapa tadi aku dibawa keruang operasi?" tanya Bu Ratih sambil matanya menatap kearah suaminya lalu ganti ke arah Kasih.


"Tapi, kok mata kamu sembab, kamu habis nangis, ya sayang?" perkataan Bu Ratih membuat Gavin jadi bingung serta kikuk.


"Ya tentu lah habis nangis, kan aku kawatir karena istriku yang cantik ini tiba-tiba masuk rumah sakit lagi." jawab Gavin sekenanya.


"Aku bukan akan kecil yang bisa dibohongi dengan kata-kata seperti itu, tolong katakan apa yang terjadi denganku, sayang!" seru Bu Ratih.


Gavin semakin bingung, dia menoleh ke arah Kasih. Bu Ratih semakin curiga kenapa dari tadi suaminya itu selalu menoleh ke arah Kasih. Pasti ada yang mereka sembunyikan. Batinnya.


"Baiklah kalau memang kamu mau tahu sebenarnya. Tapi, aku harap kamu jangan marah ataupun kaget. Tenang dan kendalikan emosi." jawab Gavin.


"Ayo, katakan.!" teriak Bu Ratih.


"Sayang, keluhan pada perut kamu itu ternyata bukan sembarang sakit perut biasa. Lalu pendarahan yang tadi kamu alami itu juga ada hubungannya dengan keluhan kamu selama ini. Setelah diperiksa, ternyata rahim kamu ada masalah. Ditemukan semacam tumor yang tumbuh dirahim kamu. Jadi dengan berat hati Dokter mengangkat rahim kamu." jelas Gavin dengan pelan-pelan.


"Apa.! rahimku diangkat? Oh tidaaak.!!!!" teriak Bu Ratih histeris.


Gavin dan Kasih mencoba menenangkannya. Bu Ratih menangis diatas tempat tidur itu. Gavin langsung memeluk tubuh istrinya itu. Dia mencoba menenangkan istrinya. Kasih juga nggak kalah panik. Dia mengelus-elus punggung majikannya itu.


Tak lama kemudian Bu Ratih sedikit tenang. Gavin perlahan melepaskan pelukannya itu. Gavin mengusap air mata istrinya yang ada di pipinya. Bu Ratih terdiam dan menatap keatas tanpa kedip.


"Sayang, yang sabar. Kita pasti bisa melalui cobaan ini." ucap Gavin.

__ADS_1


"Tapi, harapan kita untuk punya anak sirna sudah, sayang." sahutnya.


"Kamu nggak boleh bicara seperti itu. Anak adalah titipan Tuhan. Dengan jalan apapun kalau Tuhan mempercayai kita punya anak, kita pasti dikasih." jawab Gavin.


"Tapi--" Bu Ratih belum sampai melanjutkan ucapannya, tiba-tiba ponsel Gavin berdering.


Gavin berdiri dari tempat duduk dan mengangkat telponnya. Dia melangkah agak jauh untuk bicara. Tak lama kemudian dia balik dengan wajah sedikit ceria.


"Itu tadi Mas Bagas. Ngabari kalau Mbak Irene sudah melahirkan, anaknya laki-laki." ucap Gavin sumringah.


Bu Ratih langsung saja terdiam dan wajahnya kembali sedih. Mungkin dia mendengar kalimat suaminya soal bayinya Irene, Bu Ratih jadi sedih. Gavin lalu memegang tangannya lalu menciumnya.


"Sayang, ponakan kamu lahir." ucap Gavin.


"Aku sedih, sayang. Karena aku tidak akan bisa melahirkan seperti Kak Irene. Aku wanita nggak sempurna. Aku wanita tak berguna.!" seru Bu Ratih.


"Bu Ratih, jangan bicara seperti itu. Kasih yakin Bu Ratih kuat melewati cobaan ini." sahut Kasih.


"Kamu tahu apa,! karena kamu belum merasakan apa yang saya alami.!" teriak Bu Ratih.


Gavin kaget kenapa istrinya bisa seperti ini. Demikian juga dengan Kasih. Dia belum pernah melihat majikannya se marah ini.


"Sayang, kamu jangan bicara seperti itu pada Kasih. Dia sudah setia menemani kamu, dia telaten merawat kamu, jadi kamu yang sabar, ya?" ucap Gavin.


Bu Ratih menangis. Dia menoleh kearah Kasih. Dia sebenarnya nggak bermaksud demikian. Mungkin hanya emosi sesaat. Kasih nggak berani menatap majikannya itu. Dia berdiri agak menjauh.


"Kasih, maafin saya, ya. Tadi saya hanya emosi. Sekali lagi maafin saya." ucap Bu Ratih sambil tersenyum ke arah Kasih.


"Iya, Bu. Saya maklumi itu. Yang penting sekarang Bu Ratih tenang, sabar, serta ikhlas, ya?" ucap Kasih.


"Iya, Kasih. Makasih atas supportnya." jawab Bu Ratih.


"Itu sudah menjadi kewajiban saya, Bu. Merawat dan menjaga Bu Ratih." jawab Kasih.


"Kasih, tadi katanya kamu beli buah-buahan, saya lapar." celetuk Gavin.


"Oh, iya Pak. Saya tadi beli buah pas beli air minum." jawab Kasih.


"Tolong, saya minta satu." ucap Gavin.


Kasih mengupaskan satu buah Apel, dengan sabar dia mengupas untuk majikannya itu. Bu Ratih memperhatikan bagaimana Kasih meladeni suaminya untuk membantu mengupaskan Buah. Dia jadi merasa bersalah telah membentak Kasih tadi.


Gavin memakan buah yang dikupaskan Kasih. Bu Ratih dari tadi melihati suaminya dengan lahapnya menikmati buah itu ditemani Kasih. Dalam hati Bu Ratih, kelihatannya keduanya itu kayak sudah terbiasa melakukan hal itu. Tidak ada kejanggalan sama sekali.


Bu Ratih berfikir sesuatu. Tapi, apa tidak terlalu dini untuk bicara hal ini. Batinnya..


----------------------------------

__ADS_1


Bersambung.........


__ADS_2