
Gazi berlari dan berteriak memanggil Dito. Mereka berpelukan, "Kamu, kenapa pindah dari tempat duduk, tadi Om cari kamu kesitu." ucap Dito.
"Gazi lama nunggu Om Dito, akhirnya ditolong sama mereka, karena Gazi nangis." jawabnya polos.
Dito kemudian menoleh kearah Gavin dan keluarganya. Seketika kaget karena siapa yang telah menolong keponakannya itu. Dito terdiam dan masih berdiri ditempatnya itu.
Dia mengingat sesuatu, Gavin dan Bu Ratih pun melihat kearah Dito. Kemudian mereka mendekati Dito dan Gazi.
"Dito, apa kabarmu?" ucap Gavin sambil mengulas senyum.
"Ka..aak, Gavin.!" jawabnya terbata.
"Sudah lama kita nggak ketemu, apa kabar semuanya?" sahut Bu Ratih.
"Kak Ratih, kami semua sehat-sehat semua. Kalian sendiri gimana kabarnya?" ucap Dito.
"Kami sekeluarga, aku, Kak Ratih dan ini jagoan kami juga sehat semua." jawab Gavin sambil memeluk pundak Raka.
"Raka sudah besar, ya Kak?" ucapnya sambil memegang pipinya Raka yang cabi.
"Raka, salam dulu sama Om Dito, Nak?" sahut Bu Ratih.
Kemudian Raka mendekati Dito dan menyalaminya. Mereka saling pandang seolah takjub satu sama lain. Dito tersenyum dan kembali mengelus pipinya Raka.
"Raka, kalau ada waktu, main-main ke rumah Om." ucap Dito.
"Oh iya, Dit. Aku dan Kak Ratih beserta Raka akan pindah ke Jogja. Kak Ratih melanjutkan kuliah S3 diJogja, lalu aku ganti mengurusi perusahaan di Semarang dan Jogja." jelas Gavin.
"Oh, jadi Kak Gavin sekeluarga akan pindah ke Jogja. Dan sudah nggak tinggal di Jakarta lagi, dong?" ucap Dito.
"Iya, kami sekeluarga pindah ke Jogja. Cuma kalau memang weekend kita akan jenguk Papa dan Mama di Jakarta." jawab Gavin.
"Itu siapa, Om. Kok Om Dito panggil Kakak?" tanya Gazi polos.
Dito terdiam dan nggak bisa menjawab apa-apa. Begitu pula dengan Gavin dan Bu Ratih, mereka saling pandang dan berdiam diri ditempatnya. Tak lama kemudian Bu Ratih mendekati Gazi.
"Gazi, Om Dito panggil kita dengan sebutan Kakak, karena umur Om Dito lebih muda dari umur kita. Seperti halnya Gazi dengan anak Tante, Raka. Umurnya lebih tua anak Tante, jadi Gazi panggilnya Kak Raka, Gitu." jelas Bu Ratih.
"Oh iya, Tante. Gazi ngerti." jawabnya lagi.
"Maaf, Dito. Terpaksa saya jawab seperti itu, karena kalau dijelaskan akan menimbulkan pertanyaan baru." ucap Bu Ratih.
"Iya, Kak. Nggak apa-apa." jawab Dito.
"Om, ayo main kerumah Gazi. Ajak Kak Raka juga. Gazi dirumah punya mainan banyak." ucap Gazi sambil menggandeng tangan Gavin.
Dito terdiam melihat sikap Gazi yang manja terhadap Gavin. Begitu juga dengan Gavin. Anak ini kok langsung dekat dengannya, padahal baru ketemu sekali. Bu Ratih memperhatikan sikap Gazi yang begitu manja dan dekat.
__ADS_1
Dalam hatinya dia masih meragukan anak siapa sebenarnya Gazi ini. Secara umur dia nggak jauh dari Raka. Kalau memang dia anak Kasih dengan suaminya yang sekarang, kok dilihat kira-kira usianya nggak jauh dari Raka. Bu Ratih masih bertanya-tanya dalam hatinya.
"Dito, ini anaknya Kasih?" tanya Gavin tiba-tiba.
Dito tak lekas menjawab pertanyaan Gavin. Dia hanya terdiam dan menunduk sambil memperhatikan Gazi. Bu Ratih semakin curiga dengan sikap Dito yang tak langsung menjawab pertanyaan Gavin.
"Mmm, iya Kak. Ini anaknya Kak Kasih" jawab Dito pelan.
Gavin berjongkok supaya dia bisa menatap Gazi lebih dekat lagi. Dia menyentuh pipinya dan tersenyum.
"Anak pintar, kamu kelas berapa, Nak?" tanya Gavin.
Gazi menoleh kearah Dito. Karena dia tidak berani langsung menjawab pertanyaan Gavin. Kemudian dia kembali menatap Gavin.
"Gazi kelas tiga, Om." jawabnya polos.
"Oh, nggak jauh beda dengan Kak Raka. Sekarang Kak Raka kelas lima." jawab Gavin.
"Iya, Kak. Gazi tahun ini menginjak sembilan tahun" jawab Dito.
Bu Ratih langsung tersenyum kemudin di juga membelai rambutnya Gazi.
"Anak pintar. Kamu pasti nurun Papamu," ucap Bu Ratih tiba-tiba.
Dito langsung menatap Bu Ratih, demikian juga Bu Ratih. Jadi mata mereka bersiborok nggak sengaja. Dito sekilas melihat kearah Gavin kemudian kembali menatap Gazi.
"Gazi, ayo kita pulang. Nanti ditungguin Bunda, lho." ucap Dito.
"Kak Gavin, Kak Ratih. Kita permisi dulu, ya. Takut Mbak Kasih nyariin.!" ucap Dito.
"Iya, Dit. Salam ya buat Kak Kasih dan Ibu." ucap Gavin.
"Iya, Kak. Nanti saya sampaikan" jawab Dito.
Dito kemudian mengajak Gazi balik dan meninggalkan Gavin dan keluarganya. Gavin masih menatap Gazi yang digandeng Dito. Dia tiba-tiba merasa dekat dengan anak itu. Bu Ratih memperhatikan Gavin ketika dia menatap Gazi. Pandangannya beda, seperti ada sebuah ikatan batin.
"Pa, ayo kita juga pulang. Kita tadi lumayan lama ngobrol-ngobrol sama Dito." ucap Bu Ratih membuyarkan lamunannya Gavin.
"Oh iya, Ma. Ayo.!" jawab Gavin.
Kemudian mereka berjalan menuju parkiran mobil. Pikiran Gavin seolah masih berkutat pada sosok Gazi. Kenapa pesona anak itu begitu memikat hatinya Gavin. Ada apa dengan anak itu. Batinnya.
Ketika memasuki mobil, dia berkonsentrasi pada kemudi. Mobilnya menyusuri jalan raya pada malam hari. Bu Ratih sesekali melihat kearah suaminya yang fokus nyetir. Raka duduk dibangku penumpang sampai tertidur.
Gavin langsung memasukan mobilnya ke garasi. Bu Ratih membangunkan Raka dan langsung masuk ke rumah. Raka langsung naik ke kamarnya karena dia sudah nggak kuat matanya ngantuk.
.
__ADS_1
.
.
Sedangkan ditempat yang berbeda, Dito dan Gazi juga baru saja sampai dirumah. Dirumah ada Kasih yang lagi nyantai duduk di ruang tengah. Sedangkan Ibunya sudah masuk kamar dari tadi.
Gazi langsung duduk disamping Bundanya yang lagi duduk.
"Bunda, Gazi capek banget." ucapnya sambil menggelayut dibahu Bundanya.
"Kalau Ccapek ya langsung istirahat, Nak." jawab Kasih.
"Tapi, Gazi masih pingin nyantai disini." jawabnya.
"Gazi, lebih baik Gazi istirahat sama Nenek saja. Pasti dia senang kalau kamu tidur sama Nenek." sahut Dito.
"Iya, deh Om. Gazi istirahat dulu, ya?" ucap Gazi sambil melangkah masuk.
Gazi melangkah menuju dalam. Dito memperhatikan Gazi yang masuk kedalam. Setelah dia sudah nggak terlihat, dia beralih duduk dekat Kasih.
"Kak, Coba tebak tadi kita bertemu siapa?" tanya Dito.
Kasih menautkan alisnya sambil memutar duduknya dan kini menghadap langsung dengan Dito.
"Emang kalian ketemu siapa?" tanya Kasih.
"Kita tadi ketemu Kak Gavin, Kak Ratih dan Raka!" ucapnya.
"Apa,!" seru Kasih.
Dito mengangguk pelan dan matanya tak beralih kepandangan lain. Dia masih menatap Kakaknya yang kini mukanya berubah menjadi merah.
"Terus, kamu bilang soal Gazi?" tanya Kasih.
"Enggak, Kak. Aku nggak bilang apa-apa. Mereka nitip salam buat Kakak dan Ibu." jawab Dito.
"Raka sudah besar pastinya, Dit. Gimana keadaan dia, Dit?" tanya Kasih sambil matanya yang mulai berembun.
"Dia sudah besar, Kak. Ganteng mirip Kak Gavin. Dia tadi juga sempat mainan sama Gazi." jawab Dito.
"Raka anak Ibu. Kamu sudah besar, Nak. Kamu sebenarnya punya Adik, dan tadi itu adalah Adikmu, Raka." ucap Kasih pelan.
Tak terasa air matanya sudah menetes dipipiya. Dito yang mendapati Kakaknya sedih jadi merasa bersalah karena sudah bercerita.
"Maafkan Dito, ya Kak. Kalau tadi nggak cerita soal Raka, pasti Kak Kasih nggak akan sedih begini." ucap Dito.
"Emangnya siapa Raka, Dit,!"
__ADS_1
---------------------------------
Bersambung....