BU DOSEN CANTIK

BU DOSEN CANTIK
SEASON DUA Part : 121 ('Menikah')


__ADS_3

"Nggak apa-apa, kok sayang. Aku terharu saja." jawab Bu Ratih pelan.


"Kalau kamu memang belum siap aku menikah lagi, lebih baik kita batalkan saja, mumpung masih belum terlanjur jauh.!" ucap Gavin.


"Jangan,! aku nggak apa-apa. Lanjutin saja." tukas Bu Ratih.


Akhirnya pertemuan itu selesai juga, semua keluarga Indra wijaya meninggalkan rumah Kasih. Dan sekarang dirumah Kasih tinggalah Pak Firman, Ibu serta dirinya dan Adiknya.


Kasih memasuki kamarnya, dia nggak menyangka kalau sebentar lagi dia menikah dengan Gavin. Dia nggak ngerti mau senang atau sedih. Senang karena dia bisa menikah dengan laki-laki yang dulu pernah dia kagumi, sedih karena laki-laki itu adalah suami orang. Bahkan orang itu adalah majikannya sendiri yang baik hatinya dan sabar.


Mungkin ini sudah menjadi takdir dalam hidupnya. Tuhan berkehendak untuk menjadikan dirinya sebagai istri kedua Gavin. Jodoh bukan berarti harus menjadi istri pertama, jadi istri keduapun kalau Tuhan berkehendak, maka terjadilah seperti yang Kasih alami sekarang.


.


.


.


Malam semakin larut dan dingin. Setelah acara pertemuan itu, Kasih pulang kerumahnya sampai dengan hari pernikahannya.


(***)


Beberapa hari kemudian, tepatnya hari ini adalah satu hari sebelum pernikahan Gavin dan Kasih. Sesuai kesepakatan, pernikahan akan dilaksanakan dirumah Gavin. Awalnya Gavin minta kalau ijab qobulnya di KUA saja. Tapi, Pak Indra menyarankan mendingan dirumah sendiri.


Malam ini Gavin dan Bu Ratih menjemput Kasih di rumahnya. Setibanya dirumah Kasih, mereka disambut baik oleh Ibunya Kasih. Gavin dan Kasih duduk diruang tamu. Sedangkan Kasih sendiri mengemasi barang-barangnya yang sebelumnya memang belum dibawa semua.


Setelah Kasih keluar, merekapun berpamitan.


"Bu, Kasih berangkat. Doakan Kasih ya, Bu?" ucap Kasih sambil memeluk kemudian mencium tangan Ibunya.


"Iya, sayang. Kamu hati-hati, ya?" jawab Bu Laksmi.


"Bu, kami permisi dulu, ya. Mohon doanya untuk acara besok" ucap Gavin.


"Iya, Nak. Ibu doakan." jawab Bu Laksmi.


"Oh iya, Bu. Besok Pak Firman biar dijemput sopir saya untuk wali nikahnya Kasih." ucap Gavin.


"Iya, Nak. Sekali lagi Ibu minta maaf karena Ibu tidak bisa ikut, biar Om nya Kasih saja. Yang penting doa Ibu menyertai kalian." ucap Bu Laksmi.


"Makasih Bu..," jawab Gavin.


"Oh iya, untuk kamu Nak Ratih. Hatimu begitu tulus dan luas, sehingga kamu memilihkan istri untuk suamimu. Saya nitip Kasih ya, Nak?" ucap Bu Laksmi sambil memeluk Bu Ratih.


"Iya, Bu. Saya akan menjaga Kasih seperti saya menjaga Adik saya sendiri." jawab Bu Ratih sambil matanya berkaca-kaca.

__ADS_1


Kemudian mereka meninggalkan rumah Kasih. Bu Ratih sengaja berjalan disamping Kasih supaya dia tidak merasa seperti asistennya. Biar seperti sama saudara. Kemudian Gavin mengemudikan mobilnya menuju jalan raya.


Tak lama kemudian mereka pun sampai dirumah Pak Indra. Gavin memarkirkan mobilnya dihalaman. Kasih dan Bu Ratih pun keluar dan masuk kedalam rumah. Diruang tengah duduklah Pak Indra dan Bu Hesty. Kasih seperti biasa menundukan badannya tanda hormat kepada kedua orang tua itu.


Keduanya pun membalas dengan senyuman seperti biasa. Bu Ratih menghampiri kedua mertuanya dan menyalami seperti biasa, kemudian keatas diikuti Kasih. Sesampainya dikamarnya, Kasih masuk dan Bu Ratih juga ikut masuk.


"Bu Ratih, saya masih takut soal besok." ucap Kasih lirih.


"Kamu jangan takut, lakukan saja. Yang terpenting hati kamu nggak merasa terpaksa menjalani ini." jawab Bu Ratih.


"Bu Ratih, terima kasih. Maafkan saya, ya Bu?" ucap Kasih sambil meneteskan air mata.


"Kasih, kenapa kamu menangis.?" tanya Bu Ratih.


"Bu, saya akan menjalankan semua ini sampai saya punya anak saja, ya Bu. Setelah itu saya bisa pergi dari kehidupan Bu Ratih dan Pak Gavin." ucap Kasih sambil menggenggam tangan Bu Ratih.


"Kasih, saya ihklas dengan semua ini. Saya mencintai suami saya. Dan saya masih bisa menjalankan tugas saya sebagai seorang istri. Tapi, saya tidak bisa memberikan seorang anak yang seharusnya hadir ditengah-tengah keluarga kami." ucap Bu Ratih sambil memegang bahu Kasih.


"Tapi, Bu--"


"Sudah, kamu istirahat saja. Besok hari pernikahanmu dengan Pak Gavin." ucap Bu Ratih seraya meninggalkan Kasih sendirian.


Bu Ratih keluar dan meninggalkan kamar itu. Kemudian dia turun dan menuju kamarnya. Sementara Gavin rebahan dikamarnya sambil memikirkan besok. Dia masih tidak menyangka kalau Bu Ratih menginginkan pernikahan ini.


Gavin memang menginginkan anak, tapi tidak dengan cara seperti ini. Tapi, kalau ditolak, Bu Ratih pasti akan memaksanya.


"Sayang, kok kamu belum tidur?" tanya Bu Ratih yang baru saja masuk kedalam kamar.


"Iya, sayang. Kemarilah, aku ingin sekali memelukmu." ucap Gavin seraya meraih tubuh istrinya kedalam pelukannya.


Gavin ingin memeluk istrinya lebih lama, hatinya ingin menangis karena besok dirinya akan membagi raganya dengan wanita lain. Tapi, tidak dengan hati Gavin masih tetap satu buat istri tercintanya. Dia semakin mendekap erat tubuh Bu Ratih sampai istrinya merasa sesak.


"Sayang, kok gini amat sih meluknya. Jadi susah nafas, nih!" tukas Bu Ratih.


"Maaf, sayang. Aku mencintai kamu." ucap Gavin.


"Aku juga mencintaimu, suamiku." jawab Bu Ratih sembari mengecup pipi suaminya.


(***)


Keesokan harinya Bu Ratih duduk dikamarnya. Dia harus bahagia atau sedih dia tidak tahu. Rasa itu bercampur jadi satu dia bahagia karena suaminya akan bisa mendapatkan keturunan, dia sedih karena telah memaksa suaminya menikah lagi.


"Semoga ini yang terbaik Ya Allah. Aku tidak punya cara lain untuk suamiku bisa mendapatkan keturunan. Aku tidak bisa menyewa rahim wanita saja dengan cara bayi tabung. Aku ingin anak yang sah dari suamiku melalui ikatan suci pernikahan yang aku Ridhoi dan Allah Ridhoi" ucap Bu Ratih dalam hati.


Kemudian dia menuju kamar Kasih untuk melihat dia sudah siap dirias. Urusan pengantin wanita yang urus memang Bu Ratih sendiri. Dari urusan baju pengantin sampai tukang rias pun Bu Ratih yang handle.

__ADS_1


Bu Ratih masuk ke kamar Kasih, dan ternyata Kasih sudah selesai dirias. Bu Ratih mendekati Kasih yang sudah siap, wajahnya sedikit tegang dan matanya berkaca-kaca.


"Maafkan saya karena harus memintamu menikah dengan suami saya. Kasih jadilah istri yang baik untuk suami saya, beri dia keturunan yang baik." ucap Bu Ratih seraya memeluk Kasih dengan mata yang berkaca-kaca.


"Insya Allah, Bu. Saya akan berusaha memenuhi semua permintaan Bu Ratih. Sekali lagi, maafkan saya Bu." jawab Kasih sambil menangis dipelukan Bu Ratih.


"Sudah, jangan menangis. Nanti make up nya luntur. Saya keluar sebentar, ya?" ucap Bu Ratih seraya meninggalkan Kasih dikamarnya.


Dikamar Bu Ratih, Gavin masih duduk di kursi. Dia kini memakai stelan jas lengkap dengan dasi dan sepatu. Dia masih nampak gelisah karena nggak tenang dan nggak yakin kalau ini bakal terjadi.


"Ratih, aku sangat mencintaimu, aku tak sanggup jika harus menyentuh wanita selain kamu. Ya Allah, Ampuni aku semoga ini yang terbaik" ucap Gavin dalam hati.


"Kamu sudah siap, sayang?" tanya Bu Ratih yang tiba-tiba masuk kamar.


"Sayang, kamu mengagetkanku saja. Sayang, maafkan aku, aku nggak bisa berbagi ranjang dengan wanita lain. Aku nggak bisa sayang, aku hanya mencintai kamu" ucap Gavin seraya memegang tangan Bu Ratih.


"Sayang, jangan seperti itu, ini untuk kebaikan kita semua, sayang. Kalau aku nggak sayang sama kamu, aku akan membiarkanmu tidak punya keturunan. Aku ingin kamu punya keturunan yang sah, sayang. Yang aku Ridhoi dan Allah Ridhoi." ucap Bu Ratih sambil memeluk suaminya.


"Apapun akan aku lakukan, asalkan kamu selalu disisiku. Sayang, sekali lagi maafkan aku, ya?" ucap Gavin seraya memandangi wajah Bu Ratih.


"Itu, pasti sayang. Aku akan selalu disampingmu. Jalankan tugasmu sebagai suami yang baik untuk Kasih. Seperti kamu menjadi suami terbaikku." jawab Bu Ratih.


"Baiklah, sayang. Aku akan melakukannya untukmu." jawab Gavin.


Kemudian Bu Ratih keluar kamar sambil menggandeng tangan suaminya. Diruang tamu sudah menunggu penghulu, Pak Firman selaku wali serta kedua orang tua Gavin. Gavi masih menggenggam erat tangan istrinya seolah tidak mau dilepas.


"Sayang, sudah jangan seperti ini." ucap Bu Ratih yang tangannya masih digenggam oleh suaminya.


Akhirnya Gavin melepaskan tangan istrinya. Kemudian Bu Ratih naik keatas untuk menjemput Kasih. Tak selang lama Bu Ratih kembali dengan Kasih disampingnya. Bu Ratih menuntun Kasih untuk duduk disamping suaminya. Matanya berkaca-kaca saat dia harus mengantarkan calon istri untuk suaminya yang sekarang harus melaksanakan ijab qobul.


"Bu Ratih, apakah Anda ikhlas jika suami Anda menikah secara sah untuk yang kedua kalinya?" tanya Penghulu itu.


"Iya, saya ikhlas dan Ridho jika suami saya menikah untuk yang kedua kalinya." jawab Bu Ratih tegas.


"Pak Gavin, apakah Anda siap menjalankan sebagai suami untuk istri yang kedua ini dan bersikap secara adil?" tanya Penghulu lagi.


Gavin menoleh kearah Bu Ratih. Dia tidak berani menjawab. Bu Ratih pun menoleh kearahnya. Kemudian Bu Ratih tersenyum dan mengangguk tanda bahwa dia sudah lkhlas.


"Iya, insyaAllah saya siap, Pak." jawab Gavin perlahan.


"Mbak Kasih, apakah Mbak bersedia dan siap menjadi istri kedua Pak Gavin.?" tanya Penghulu itu.


Kasihpun sama, dia menoleh kearah Bu Ratih sambil matanya berkaca-kaca. Bu Ratih akhirnya menganggukan kepalanya sama seperti saat Gavin mau menjawab pertanyaan penghulu tadi.


-----------------------------------

__ADS_1


Bersambung......


__ADS_2