BU DOSEN CANTIK

BU DOSEN CANTIK
SEASON DUA Part : 75 (Kesabaran Bu Ratih)


__ADS_3

Suara itu ternyata Gavin. Dia sudah memasang wajah yang merah dan tangannya mengepal nahan amarah.


Bu Ratih yang melihat perubahan wajah suaminya jadi takut akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.


Seketika Gavin menghampiti istrinya. Dan Bu Yolanda menjadi ketakutan. Wajahnya menunduk dan nggak berani menatap kedepan.


"Emang kamu siapa, berani bentak-bentak dia, hah!" kini suara Gavin meninggi.


"Maaf, pak Gavin. Dia sudah nggak sopan telah berani masuk ruangan Pak Gavin tanpa ijin." jawab Bu Yola.


"Tapi, setidaknya bicara kamu yang sopan, jangan bentak-bentak kayak preman. Bagaimana kalau dia itu kolega atau klien saya, apa sikap kamu seperti itu!" tukas Gavin.


"Iya, maaf Pak. Tapi--" belum sampai dia melanjutkan bicaranya, Gavin sudah menyelahnya.


"Kamu tahu dia siapa?" tanya Gavin.


"Nggak tahu, Pak." jawabnya seraya melihat kearah Bu Ratih.


"Dia istri saya.,!!" jawab Gavin.


Seketika wajah Bu Yolanda langsung berubah menciut. Dia lalu menunduk tanpa berani menatap wajah Gavin dan Bu Ratih.


"Kalau sikap kamu masih terus-terusan seperti ini, jangan harap kamu akan tetap bekerja disini. Rubah sikap kamu yang sok kuasa. Jangan mentang-mentang kamu adalah sekretaris saya, jadi seenaknya menggunakan jabatan untuk bersikap seenaknya. Kalau bukan Papa yang memasukan kamu disini, saya juga nggak mau punya sekretaris yang sok dan sombong kayak, kamu.!" kini Gavin benar-benar marah sampai dia bicara seperti itu.


"Iya, maaf Pak, Bu. Saya benar-benar minta maaf." ucap Bu Yola dengan wajah yang melas.


Bu Ratih melihat dan memegang tangan suaminya dengan lembut. Dia lalu menganggukan kepalanya supaya suaminya memaafkan sikap sekretarisnya itu.


" Ya sudah, sekarang kembali ke tempat kamu. Jangan masuk kalau nggak saya panggil." ucap Gavin.


"Baik, Pak. Makasih Pak, Bu. Saya permisi dulu." ucap Bu Yola.


Ketika membalikan badanya dia nggak tahu kalau ada Kasih sedang membawa minuman buat Gavin. Akhirnya dia hampir saja menabrak Kasih. Untung saja minuman itu tidak tumpah. Tapi, tetap saja dia hendak memarahi Kasih, tapi dia ingat kalau masih di ruangan Gavin. Jadi, dia urungkan niatnya yang hendak memarahi Kasih.


Kasih tersenyum lalu menaruh minuman itu diatas meja Gavin seperti biasa. Lalu dia melangkah meninggalkan ruangan itu. Tapi, tak lama dia kembali lagi.


"Maaf, Pak. Apa perlu saya buatkan minum buat Ibu.?" tanya Kasih.


"Iya, nggak apa-apa. Buatkan sama dengan punya saya aja." jawab Gavin.


"Baik, Pak." jawabnya kemudian dia pergi.


Gavin kemudian mengajak istrinya duduk disofa biar bisa leluasa duduk. Dia mendaratkam tubuhnya disofa dengan memegangi keningnya. Bu Ratih tersenyum memandangi suaminya. Lalu dia mengelus lengan suaminya dengan lembut.


"Sabar, sayang. Ini anggap aja ujian. Aku baru kali ini lihat kamu marah sehebat tadi." ucap Bu Ratih.


"Aku sebenarnya nggak masalah dengan dia, cuma sikapnya itu lho yang nggak aku suka." ucap Bagas.


Tak lama kemudian Kasih datang dengan membawakan minum. Bu Ratih senyum ketika Kasih masuk dan memberikan minuman itu.


"Ini minumannya, Bu." ucap Kasih.

__ADS_1


"Makasih, ya..?" jawab Bu Ratih.


Kasih menundukan badannya lalu tersenyum kearah pasangan suami istri itu. Bu Ratih langsung meminum minuman yang dibawakan Kasih. Kasih melangkah meninggalkan mereka. Saat dia hendak menutup pintu, matanya bersirobok dengan mata Gavin yang tak sengaja juga tengah melihatnya. Buru-buru Kasih langsung menutup pintunya.


Sekitar sejam kemudian Gavin dan Bu Ratih meninggalkan kantor untuk menuju ke rumah sakit. Gavin mengemudikan mobilnya menuju rumah sakit.


Sampailah dirumah sakit, Gavin dan Bu Ratih menuju spesialis kandungan. Mereka sudah janji sebelumnya sama Dokter.


Setelah masuk, dan diperiksa oleh Dokter, kini Bu Rtaih duduk didampingi suaminya nunggu hasil pemeriksaannya.


"Kandungan Bu Ratih nggak ada masalah, hanya saja memang keadaannya masih lemah. Pesan saya tetap seperti biasa, hati-hati, jangan terlalu capek dan minum vitaminnya." jelas Dokter.


"Terima kasih, Dok. Saya akan lakukan apa yang Anda bilang." jawab Bu Ratih.


"Chek rutin tiap bulan juga penting, biar terus terpantau kehamilannya, ya Bu?" ucap Dokter.


"Iya, Dok." jawab Bu Ratih.


"Berarti kandungan istri saya, ngga ada masalah Dok?" kini Gavin ikut bertanya.


"Nggak ada, Pak. Hanya lemah saja, seperti pertama kali periksa. Itu nggak akan masalah kalau benar-benar dijaga dan rutin check." jawab Dokter.


"Ya sudah, terima kasih banyak, ya Dok.?" ucap Bu Ratih.


"Iya, ini jangan lupa resep obat yang harus ditebus. Rutin minum vitamin. Pasti kedepannya baik-baik saja." ucap Dokter itu.


"Baik, Dok. Sekali lagi kami ucapkan terima kasih banyak, ya?" ucap Bu Ratih.


"Sayang, kamu dengar sendiri kan apa kata Dokter tadi. Kamu tidak boleh terlalu capek. Jadi jangan terlalu memforsir pekerjaan, ya?" ucap Gavin saat dalam mobil.


"Iya, sayang. Kamu tenang saja." ucap Bu Ratih sambil mengelus lengan suaminya yang lagi pegang kemudi.


"Jangan lupa vitamin rutin diminum, makan teratur dan yang penting, tidak boleh capek.!" tukas Gavin.


"Siap Boss.!!" seru Bu Ratih sambil mengerlingkan matanya.


Keduanya kembali terdiam dan tenggelam dalam pukirannya masing-masing. Gavin masih fokus menyetir, sedangkan Bu Ratih tatapannya masih mengarah kedepan.


Hari ini Bu Ratih minta diantarkan ke rumah Mamanya. Karena mumpung ijin nggak ngajar, dan Gavin sendiri juga harus balik ke kantor, jadi dia minta kerumah Mamanya.


Akhirnya sampailah mereka dirumah Mamanya Bu Ratih. Gavin memarkirkan mobilnya, lalu turun membukakan pintu buat istrinya. Mereka berdua masuk ke rumah itu.


Bu Rahma sibuk didapur, dan ternyata ada Irene yang lagi duduk diruang tengah. Mungkin Kakak iparnya ini nggak ke cathering.


"Eh, Ratih. Ma.. ada Ratih, nih!" seru Irene.


Bu Ratih dan Gavin kemudian duduk disofa bersama Kakak iparnya.


"Tumben nih, nggak ngajar?" tanya Irene.


"Iya, Kak. Ini tadi habis check kandungan rutin, makanya aku ijin. Ini aku minta Gavin anterin kesini, karena habis ini dia balik kantor." jawab Bu Ratih.

__ADS_1


"Oh gitu. Kebetulan Kakak juga nggak ke tempat cathering. Capek, kandungan sudah mulai tua." jawab Irene sambil tertawa.


"Ratih.!" seru Mamanya.


"Iya, Ma. Ini baru dari check kandungan aja." jawab Bu Ratih.


"Sayang, aku langsung balik kantor, ya?" ucap Gavin.


"Iya, sayang. Nanti jangan lupa jemput lagi." ucap Bu Ratih.


"Iya, pulang kantor aku langsung jempit kamu." ucap Gavin.


Kemudian Gavin berpamitan sama mertua dan Kakak iparnya, lali dia meninggalkan mereka yang bertiga.


"Gimana kandungan kamu, Tih. Masih lemah seperti sebelumnya?" tanya Bu Rahma.


"Iya, Ma. Masih tetap seperti sebelumnya. Tapi, Ratih sudah dikasih obat penguat kandungan serta vitamin." jawab Bu Ratih.


"Iya, nggak apa-apa, Nak. Yang penting kamu harus hati-hati sendiri dan nggak boleh capek." ucap Mamanya.


"Iya, Ma." jawab Bu Ratih.


Kini mereka bertiga asyik ngobrol-ngobrol, Bu Rahma banyak memberi wejangan kepada dua perempuan yang lagi hamil itu. Bu Ratih dan Irene mendengarkan apa yang Ibunya bilang.


.


.


.


Gavin memarkirkan mobilnya setibanya di Kantor. Dia berjalan menuju ruangannya. Sepanjang dia berjalan menuju ruangannya, semua karyawan menyapanya.


Disaat mau masuk ruangannya, Gavin melihat Kasih mau masuk ruangannya, ketika melewati meja Bu Yolanda, dia diam saja ketika melihat Kasih masuk. Sekretaris itu sudah nggak berani macam-macam lagi. Bathin Gavin.


Kasih kaget kwtika Gavin masuk ruangannya yang mendapatinya lagi didalam untuk mengambil gelas yang kosong.


"Maaf, Pak. Saya hanya mau mengambil gelas yang kosong." ucap Kasih sambil menunduk.


"Iya, nggak apa-apa. Saya percaya sama kamu, jadi kalau mau masuk ruangan saya silahkan langsung saja. Nggak usah takut." jawab Gavin sambil memandangi gadis berhijab itu.


"Terima kasih, Pak Gavin. Atas kepercayaannya pada saya." ucap Gadis itu.


"Oh iya, gimana kabar ibu kamu, kasih." tanya Gavin.


"Alhamdulilah baik, Pak. Semua sehat-sehat." jawab Kasih.


Kasih masih berdiri didepan meja Gavin. Kini Gavin mulai menuju ke mejanya lalu duduk dikursi seperti biasa. Kali ini mereka berdua saling berhadapan. Kasih masih tidak bisa menyembunyikan kegugupannya. Gavin hanya tersenyum melihat sikap gadis itu.


"Kamu, kenapa gugup Kasih?" ucap Gavin.


----------------------------------

__ADS_1


Bersambung......


__ADS_2