
Setelah itu, Dokter keluar lagi menemui keluarga pasien.
"Maaf, Pak. Mohon dibantu kami lagi butuh darah banyak. Segera ikut kami." tukas Dokter itu.
Tanpa babibu lagi Gavin memgikuti Dokter tersebut kedalam. "Baik, Dok"
"Ra, emang Ayahnya Gazi kemana.?" tanya Raka.
"Ka, sejak nenek dari Bundanya meninggal, Gazi ikut Nenek dari Ayahnya disini. Ayahnya setelah menikah lagi dia lebih sering di rumah istri mudanya. Keluarga dari Ayahnya disini nggak sependapat sama Ayahnya justru lebih membela Bundanya Gazi. Makanya Gazi mau tinggal sama Neneknya disini." jelas Dara.
"Apa di Jogja sini nggak ada keluarga lain.?"
"Ada, Om nya Gazi. Pak Bram. Sudah aku hubungi tadi. Mungkin Neneknya nunggu dijemput Pak Bram." jawab Dara lagi.
"Mudah-mudahan darah Papaku cocok sama Gazi." ucap Raka.
"Amin. Mudah-mudahan."
Tak lama kemudian Tyo mendekati Raka dan Dara. "Ra, kamu kan sudah ada temannya, aku sebaiknya pulang duluan, ya. Besok pagi kesini lagi. Soalnya Ibuku sendiri dirumah."
"Oh iya, Yo, makasih ya. Maaf aku ngerepotin kamu." ucap Dara.
"Nggak apa-apa. Kita kan sahabatan. Harus saling bantu." jawabnya.
"Okey."
"Baiklah, aku duluan. Mari Mas, saya pamit." ucap Tyo lagi.
"Iya, makasih."
Akhirnya kini tinggal berdua saja. Raka yang melihat Dara hanya memakai jeans dan t-shirt saja dia langsung melepaskan jaketnya.
"Kamu pakai ini, malam-malam perempuan hanya pakai kaos sama celana saja. Udaranya dingin, lho!" ucapnya sambil memakaikan jaketnya pada tubuh Dara.
Dara kaget dengan perhatian Raka barusan. Dia jadi malu karena saat ini wajahnya dan wajah Raka begitu dekat saat dia memakaikan jaket pada tubuhnya. Raka nggak sadar kalau Dara dari tadi memperhatikannya.
"Kalau dari dekat gini kamu kelihatan tambah ganteng, Ka. Tanpa cacat wajahmu jika aku pandang dari dekat seperti ini" ucap Dara dalam hati.
"Dara, setelah Mamaku, baru kamu peremuan yang aku perlakukan seperti ini. Kamu begitu cantik dan anggun." ucap Raka dalam hati.
Mereka saling memuji satu sama lain. Dan beberapa menit kemudian mereka tersadar dan buru-buru mereka menjauh.
"Dara, maaf kalau sikapku barusan membuat kamu nggak nyaman." ucap Raka.
"Oh enggak, kok. Nggak masalah."
"Kamu lapar, nggak." tanya Raka.
"Nggak, cuma haus."
"Kamu tunggu disini bentar. Aku keluar beli minum."
Kemudian Raka bergegas keluar untuk membelikan Dara minum. Setelah itu Gavin keluar karena sudah selesai proses pengambilan darah.
"Dara, Raka mana?" tanya Gavin.
__ADS_1
"Masih beli minum, Om."
"Oh ya sudah."
"Om, untung darah Om Gavin sama Gazi sama." ucap Dara.
"Iya, awalnya dites dulu cocok apa nggak. Ternyata cocok akhirnya darah Om diambil buat Gazi." jelas Gavin.
"Syukurlah kalau begitu, Om. Kasihan, Ayahnya sekarang sudah nggak begitu mengurusi keluarga disini." ucap Dara.
"Maaf, Ra. Om mau tanya. Siapa nama Bundanya Gazi." Gavin memberanikan diri untuk bertanya seperti itu.
"Oh Bundanya Gazi, namanya Tante Kasih, Om,!" kalimat yang dilontarkan Dara membuat badan Gavin lemas dan serasa nggak bertenaga.
Tak lama kemudian Raka datang dengan membawa beberapa botol minuman air mineral. Lalu dia memberikan minuman itu kepada Dara dan Papanya.
"Papa kenapa kok diam saja." tanya Raka.
"Papa nggak apa-apa, kok." jawab Gavin bohong.
"Untung saja darah Papamu sama dengan Gazi. Jadi Papamu lah yang telah mendonorkan darahnya buat Gazi." sahut Dara.
"Kak., kamu disini saja temani Dara. Sampai keluarga Gazi datang. Papa biar minta jemput Pak Santo." ucap Gavin.
"Raka antar aja gimana, Pa."
"Nggak usah, biar kamu nggak bolak-balik. kasihan Nak Dara disini sendiri. Nanti kalau keluarganya sudah datang kalian baru pulang." tegas Gavin.
"Dara sendiri saja nggak apa-apa, Om."
"Jangan, kamu perempuan. Biar Raka menemanimu." jawab Gavin.
Gavin mengeluarkan ponselnya kemudian menelpon Santo. Setelah ngobrol ditelpon beberapa menit, akhirnya Gavin menutup telponnya. Lalu dia mengeluarkan dompetnya lalu memberikan card kepada Raka.
"Kak., sementara bawa ini. Siapa tahu nanti sebelum keluarganya datang perlu membeli sesuatu." tukas Gavin.
"Raka juga bawa punya Raka, Pa." ucap Raka.
"Nggak apa-apa. Itu kan punya kamu buat keperluan kamu. Ini kamu bawa aja." icap Gavin meyakinkan.
"Baiklah, Pa." jawab Raka sambil menerima card dari Papanya kemudian dia masukan kedalam dompetnya.
Dara yang melihat Ayah dan anak ini sungguh salut. Kekompakan serta perhatiannya begitu indah. Dia menjadi kagum dengan keluarga Raka.
"Nak Dara, Om pulang dulu. Kak, kamu jagain Dara. Dia anak permpuan, jadi nggak baik kalau malam-malam gini ditinggal sendiri di rumah sakit." pesan Gavin.
"Beres, Pa."
"Ya sudah, Pak Santo sudah kirim pesan kalau sudah sampai didepan." ucapnya.
"Raka antar kedepan, ya Pa."
"Nggak usah, sini aja kalian."
kemudian Gavin meninggalkan Dara dan Raka. Tak lupa kedua anak mud aitu menyalami Gavin layaknya kepada orang tuanya.
__ADS_1
Kini Gavin menyusuri lorong rumah sakit menuju depan. Dan akhirnya ketemu Pak Santo.
Dalam perjalanan pulang Gavin hanya terdiam didalam mobil. Dia menangis dalam hatinya karena mengingat kejadian barusan. Dengan dia mendonorkan darahnya kepada Gazi dan kebetulan sama, itu sudah satu bukti kalau Gazi memang darah dagingnya sendiri.
"Ya Tuhan, jadi aku punya anak laki-laki satu lagi. Dia begitu tampan mirip Raka. Sudah hampir dua puluh tahun aku nggak bertemu dengannya, sekali ketemu dia dalam keadaan kecelakaan seperti ini. Aku adalah Ayah yang bodoh, kenapa selama ini dia sampai nggak tahu kalau masih punya anak satu lagi. Kasih, kenapa kamu tidak bilang kalau saat itu kamu hamil. Pantas saja setelah menghilang hampir sepuluh bulan kamu langsumg menggugat cerai aku. Apa mungkin kamu menunggu kamu melahirkan Gazi dulu.
Gazi..iya, kenapa aku nggak peka dengan arti dari nama Gazi. Gazi sama dengan Gavin dan Kasih. Ya Tuhaaaan.,,!! kenapa bisa begini??" tanpa sadar Gavin berteriak dalam mobil.
Santo langsung mengehentikan mobilnya karena dia kaget melihat majikannya seperti itu. "Maaf, Pak Gavin nggak apa-apa Pak?" tanya Santo.
Gavin nggak menjawab pertanyaan Santo, dia masih histeris dan menangis karena kejadian ini. Santo kemudian mendekati majikannya itu.
"Pak Gavin. Pak,!"
Seketika Gavin menoleh dan mendapati Santo sudah disebelahnya. Kemudian dia mengusap air matanya karena dia malu kalau sampai ketahuan Santo kalau dia habis menangis. Tapi, tetap saja Santo tahu karena Gavin baru saja teriak histeris.
"Maaf Pak Santo. Saya hanya kasihan saja dengan yang dialami temannya Raka." ucapnya bohong.
"Iya, Nggak apa-apa Pak. Kalau sekarang Pak Gavin sudah tenang, kita lanjutkan perjalanan lagi. Sudah dekat rumah, kok Pak." ucap santo.
"Iya, lanjutkan saja."
Akhirnya Santo melanjutkan perjalanan pulang ke rumah. Nggak sampai setengah jam mereka akhirnya sampai juga.
Setelah mobil masuk, Gabin langsung turun dan masuk kedalam. Ternyata Bu Ratih belum tidur karena masih menunggu kabar dari suaminya.
Ketika melihat wajah suaminya berubah sedih dan matanya sedikit sembab lantaran habis menangis, Bu Ratih sedikit kawatir ada apa ini sebenarnya.
"Pa, gimana kabar gazi.?"
Gavin menoleh kearah istrinya lalu memeluknya erat sambil menangis.
"Ma, ternyata benar Gazi adalah anakku. Aku ternyata punya anak laki-laki lagi, Ma." teriak Gavin dalam pelukan Bu Ratih.
"Ya ampun, Pa. Mama nggak salah dengar ini?" tanya Bu Ratih.
Gavin melepaskan pelukannya, dan kini mereka saling berhadapan satu sama lain. Bu Ratih melihat dari sorot mata suaminya kalau dia memang sangat sedih sekali.
"Ma, tadi Papa sudah melakukan tugas Papa sebagai Ayah kepada Gazi. Dia lagi membutuhkan darah dan harus segera dioperasi, saat itu keluarganya nggak ada karena belum datang, akhirnya Papa yang mengambil alih tugas itu. Papa yang menanda tangani persetujuan operasi serta mendonorkan darah buat Gazi." jelas Gavin sambil terisak.
"Papa sudah melakukan hal yang benar. Mama bangga sama Papa." ucap Bu Ratih sambil memegang wajah suaminya itu.
"Papa begitu bodoh karena nggak menyadari kalau masih punya anak lagi." ucapnya lagi.
"Papa nggak salah, karena Papa juga nggak tahu. Semuanya yang lebih tahu adalah Kasih. Kita tinggal minta penjelasannya sama dia." ucap Bu Ratih.
"Iya, Ma. Aku akan minta penjelasan sama Kasih kenapa sampai tidak memberi tahu kalau Gazi adalah anakku." ucap Gavin.
"Tapi, Mama sampai lupa. Papa tahu dari kalau dia anak Kasih.?" tanya Bu Ratih.
"Awalnya Papa masih belum yakin meskipun golongan darah Papa sama dengan Gazi, karena orang lain aja juga bisa kebetulan mempunyai golongan darah yang sama. Tapi, yang membuat Papa yakin adalah, setelah Papa tanya sama Dara siapa nama Ibunya Gazi. Dan dia menjawab namanya adalah Kasih." jelas Gavin.
"Ya ampun, Pa. Mama sampai gemetar mendengar kabar ini. Ternyata Raka punya adik. Dan mereka sudah kenal satu sama lain." ucap Bu Ratih dengan wajahnya berbinar.
"Aku harus mengambil tindakan atas masalah ini, Ma?" ucap Gavin sambil matanya menatap tajam kedepan.
__ADS_1
--------------------------------
Bersambung...