
..................................
Diam-diam ada yang memperahatikan obrolan Pak Indra, Gavin serta Bu Ratih. Orang itu kemudian meninggalkan tempat itu dan menyelinap ke kerumunan para tamu undangan yg sedang menikmati makanan. Dia kemudian menghilang keluar entah kemana.
Ditempat semula, Pak Indra mengajak Gavin dan Bu Ratih untuk bergabung dengan yang lainnya. Bu Ratih melayani Gavin untuk mengambilkannya makanan. Semua keluarga berkumpul jadi satu dan mengobrol.
"Bagas, gimana proyek, kita? pembangunan hotelnya sudah berapa persen?" tanya Pak Indra.
"Alhamdulilah, Pak. Sampai saat ini kira-kira sudah hampir tujuh puluh persen." jawab Bagas.
"Bagus. Mudah-mudahan cepat selesai." ucap Pak Indra.
"Iya, Pak." jawab Bagas.
Tak lama kemudian, Jason. Orang suruhan Pak Indra masuk mendekati Pak Indra.
"Pak, tadi ada tamu laki-laki agak mencurigakan. Dia keluar dari rumah dengan tergesa-gesa." ucap Jason.
"Maksud kamu, apa!" seru Pak Indra.
"Iya, Pak. Dia memakai kaca mata, dan berkumis. Sempet saya tanyain, 'ada yang bisa dibantu', Pak? Dia menjawab 'nggak ada, saya mau pulang' gitu aja, Pak?" terang Jason.
"Tapi, di dalam nggak ada insiden apa-apa. Semuanya berjalan lancar." jawab Pak Indra.
"Tapi, anehnya dia kayak habis nangis?" ucap Jason lagi.
"Nangis? tapi, sudahlah. Mungkin dia tamu keluarganya Bu Rahma." jawab Pak Indra.
"Baiklah, Pak. Saya kembali ke depan." ucap Jason.
"Kamu sama Ramon sudah Makan? kamu gantian jaga, ajak Pak Narto sekalian makan." ucap Pak Indra.
"Iya, Pak." jawab Jason.
Kemudian Jason melangkah keluar meninggalkan Pak Indra sendiri. Tak lama kemudian, Gavin mendekati Papanya.
"Ada apa, Pa? kok Pak Jason menemui, Papa.?" tanya Gavin.
"Tadi, ada tamu yang aneh. Dia keluar dari rumah dengan tergesa-gesa, dan dia juga habis nangis. gitu!" ucap Pak Indra.
"Haa.! tapi siapa, ya Pa?" tanya Gavin balik.
"Papa juga nggak tahu, Vin." jawab Pak Indra.
__ADS_1
"Sudahlah, Pa. Yang penting dia nggak mengganggu kita." jawab Gavin.
Tak lama kemudian pihak Fotografer memanggil guna sesi foto keluarga. Pak Indra dan Gavin mengikuti fotografer itu. Semua anggota keluarga bergantian foto dengan senang. Nampak bahagia terpancar dari wajah mereka.
Sesuai kesepakatan pernikahan Gavin dan Bu Ratih selenggarakan empat bulan lagi. Karena itu kemauan Pak Indra sendiri.
Malam pun semakin larut, pesta pertunangan Gavin dan Bu Ratih berakhir sudah.
Keluarga Gavin kembali ke rumah, para undangan juga pulang semua. Kini tinggal keluarga Bu Ratih yang sibuk membereskan semuanya.
****
Hari ini Gavin ada jadwal kunjungan kerja ke Bandung. Dia memakai mobil kantor. Dalam perjalanan, Gavin mengeluarkan ponselnya.
'Sayang, aku hari ini ada kunjungan kerja di Bandung. Kamu baik-baik dirumah, ya?'
'Iya, sayang. Kamu ati-ati, ya?'
'Iya, sayang. Makasih'
'Sama-sama, sayang'
Kembali ponsel dimasukkan kantongnya. Gavin ke Bandung berdua dengan bagian marketing. Mungkin rencana di Bandung hanya tiga hari saja.
"Bu, Ratih!" teriak seseorang yang melihat Bu Ratih keluar dari perpustakaan. Seketika Bu Ratih berhenti dan menoleh ke arah sumber suara itu.
"Pak, Anwar? ada apa, ya Pak?" tanya Bu Ratih.
"Maaf, Bu. Saya mencari Bu Ratih kemana-mana, ternyata ada di sini. Itu di kantor ada tamu yang mencari Bu Ratih." jawab Pak Anwar.
"Siapa, ya Pak?" tanya Bu Ratih balik.
"Kurang tahu, Bu. Orangnya laki-laki." jawab Pak Anwar.
"Iya, sudah. Saya kesana Pak. Makasih." ucap Bu Ratih.
Ia melangkah menuju kantor, dalam hatinya siapa yang mencarinya. laki-laki. Mas Bagas kah.
Sesampainya di kantor, Bu Ratih menemui orang itu. Ketika tahu siapa yang menemuinya kali ini, Bu Ratih hampir saja membalikkan badan, tapi orang itu keburu berbicara.
"Ratih., aku mohon jangan pergi, dulu. Aku mau bicara sebentar." ucap laki-laki itu.
Bu Ratih masih berdiri dan diam dengan wajah ketakutan. Dia menatap laki-laki itu penuh amarah. Sampai-sampai matanya berkaca-kaca.
__ADS_1
"Jangan takut, Tih. Tolong, duduklah sebentar." ucapnya.
"Kamu, ngapain kesini? bukannya kamu dipenjara?" ucap Bu Ratih.
"Iya, aku dapat penangguhan. Tiap tiga hari sekali wajib lapor." ucap Seno. laki-laki itu ternyata Seno.
"Tolong, kalau sudah gak ada kepentingan, kamu pergi dari sini." ucap Bu Ratih ketus.
"Aku mau bicara, tapi nggak disini. Pulang ngajar aku jemput, aku tunggu diluar." ucap Seno.
"Nggak usah, bicara disini aja. Aku habis ini masih ada kelas, satu jam." jawab Bu Ratih.
"Iya, nggak apa-apa. Aku tunggu, kumohon Tih. Untuk yang terakhir kalinya ijinkan aku bicara berdua sama kamu." ucap Seno memohon.
Bu Ratih diam sejenak memikirkan apa yang baru saja Seno ucapkan. Terakhir kali, berarti setelah ini dia nggak bakal ganggu kehidupannya lagi. Bathinnya.
"Baiklah, kali ini saja. Tunggu diluar, sejam lagi aku keluar." jawabnya.
"Makasih Tih..." jawab Seno.
.
Sejam kemudian Bu Ratih keluar kampus. Dan ternyata benar, Seno menunggu didalam mobil. Setelah tahu Bu Ratih mendekati mobilnya, Seno buru-buru membukakan pintu buat Bu Ratih.
"Kita, bicara disini saja. Aku nggak mau kemana-mana." ucap Bu Ratih.
"Kenapa, Tih. Kamu nggak percaya sama aku, lagi?" tanya Seno.
"Bukan begitu, aku sekarang ada yang anter jemput. Liat itu, mobil warna hitam. Itu khusus antar jemput aku ke kampus. Dia dibayar Gavin untuk aku." jawab Bu Ratih sembari menunjuk mobil yang diujung sendiri.
"Oh gitu, maaf, aku lupa kalau kamu sekarang calon istrinya Gavin." sahut Seno sambil menunduk.
"Iya, sekarang bicara saja. Aku nggak punya banyak waktu." ucap Bu Ratih.
"Aku menemui kamu, untuk minta maaf atas kejadian kala itu. Aku bener-bener menyesal karena telah berbuat jahat sama kamu. Selama dipenjara, aku banyak merenung, seandainya saat itu aku nggak terbakar emosi dan bisa berfikir lebih baik lagi, mungkin kita bisa menikah. Meskipun kita dulu dijodohkan, tapi aku nggak bisa bohongin hati kecilku, kalau sebenernya aku sayang sama kamu, Tih. Berhubung aku orangnya mudah emosi, jadi apa-apa aku hadapi dengan marah. Aku juga sudah tahu, kalau kamu baru saja tunangan sama Gavin. Jujur aku cemburu, tapi aku sadar diri kalau aku nggak punya hak atas diri kamu. Kalau kamu bahagia, aku juga bahagia, Tih." terang Seno.
Bu Ratih seketika kaget mendengar pengakuan Seno barusan. Yang tadinya dia mau marah saja kalau lihat mukanya Seno. Kini dia jadi kasihan.
Dalam jeruji penjara banyak merubah Seno kejalan yang benar. Seno terlihat berkaca-kaca. Bu Ratih lalu mengalihkan pandangannya kearah lain. Dia tidak mau kebawa suasana.
"Baiklah, aku maafin kamu. Tapi setelah itu jangan ganggu kehidupanku dan Gavin.
"Makasih Tih..." ucap Seno.
__ADS_1
Next................(44).