BU DOSEN CANTIK

BU DOSEN CANTIK
.SEASON DUA Part : 103 (Debat, lagi!)


__ADS_3

Bu Hesty melongo setelah mendengar jawaban yang diutarakan Menantunya. Dia nggak percaya kenapa menantunya ini mempercayakan suaminya menukah dengan asistennya.


"Kamu nggak salah, Tih.!" seru Mamanya.


"Iya, Ma. Saya percaya sama Kasih. Dia pasti akan bisa menerima persyaratan dari saya, Ma." jawab Bu Ratih.


"Tapi, apa sudah kamu pikir matang-matang. Ini yang bakal jadi istri suamimu Kasih lho. Kamu tahu sendiri dia siapa, kan? Apa Gavin tahu tentang ini?" ucap Bu Hesty.


"Gavin sudah tahu, Ma. Kita hanya tunggu jawaban dari Kasih sendiri." jawab Bu Ratih.


Bu Hesty memegang pelipisnya dan menyandarkan tubuhnya ke sofa. Dia mungkin masih nggak percaya dengan keinginan menantunya ini. Padahal dia sudah berencana mau menikahkan Gavin sama Tiara.


"Mama kenapa, Ma?" tanya Bu Ratih sambil mendekati mertuanya.


"Mama nggak kenapa-napa, kok. Tolong, antarkan Mama kekamar, nanti kita bahas lagi masalah ini. Mama sedikit pusing." jawab Bu Hesty.


"Baik, Ma. Mari.,!" ucap Bu Ratih sambil membantu Mama mertuanya ke kamarnya.


.


.


.


Malam harinya saat makan malam, semuanya berkumpul dimeja makan. Bibi dibantu si Kasih menyiapkan semua makan malam untuk majikannya.


Bu Hesty memandang ke arah Kasih yang tengah sibuk didepannya.


Setelah itu, kedua asisten rumah tangga itu kembali kebelakang. Tapi, sebelum sampai mereka melangkah, tiba-tiba Pak Indra memanggil Kasih.


"Kasih,! kamu ikut makan sini," seru Pak Indra.


Kemudian Kasih balik dan duduk ditempat dia biasanya. Dia nggak berani mengangkat wajahnya karena dia tahu kalau Bu Hesty dari tadi memperhatikan dirinya.


"Kan sudah saya, bilang. Kalau setiap kita makan bersama dimeja makan, kamu tetap ikut temani menantu, saya.!" ucap Pak Indra.


"Baik, Pak.!" jawabnya.


Kemudian mulailah mereka untuk makan. Kasih membantu Bu Ratih mengambilkan makanan buat suaminya, setelah itu buat Bu Ratih sendiri.


Setelah itu dia membantu Bu Hesty dan Pak Indra. Awalnya Bu Hesty menolak bantuan yang diberikan oleh Kasih, namun Pak Indra lah yang memgijinkan Kasih untuk membantu mengambilkan makanan buat dia dan istrinya.


Gavin dengan lahap menikmati makanannya, demikian pula Pak Indra. Bu Hesty dengan pelan menikmati makanan ini. Kok ada yang beda dengan sayur sop ini, nggak seperti biasanya. Batinnya.


Kemudian dia minta tolong Kasih untuk memanggilkan Bibi. Dia mau nanya kok tumben rasanya sayur sop ini nggak seperti biasanya.


Tak lama kemudian Kasih kembali bersama Bibi. Sedangkan Pak Indra dan yang lainnya heran kenapa Bibi kok dipanggil.

__ADS_1


"Bi, sayur sopnya kok nggak seperti biasanya, ya." tanya Bu Hesty.


"Emang kenapa, Nyonya. Nggak enak ya?" tanya Bibi.


Wajah Kasih dan Bibi tegang. Apalagi Kasih dia sedikit ketakutan, karena dialah yang masak sayur sop kali ini.


"Enggak kok. Sayurnya malah enaak banget. Bukannya yang sebelum-sebelumnya nggak enak. Cuma yang ini lebih mantap." puji Bu Hesty.


Mereka berdua lega rasanya ternyata nggak ada yang perlu dikawatirkan. Kasih dan Bibi tersenyum.


"Itu tadi yang bikin sayur sop nya, Mbak Kasih, Nya!" ucap Bibi.


Bu Hesty membulatkan matanya. Dia nggak percaya seorang Kasih bisa memasak sayur sop dengan rasa yang nggak kalah dengan masakan hotel bintang lima.


"Benar, Sih. Ini kamu yang masak?" tanya Bu Hesty.


"Iya, Bu. Saya tadi membantu Bibi didapur, maaf kalau saya lancang." jawab Kasih.


"Enggak, nggak masalah, kok. Saya suka dengan masakan kamu yang ini." jawab Bu Hesty.


"Makasih, Bu. Saya senang jika Bu Hesty senang dengan masakan, saya." ucap Kasih.


Semua yang ada dimeja makan ikut lega dengan reaksi Bu Hesty. Nggak tahu kenapa akhir-akhir ini dia sering sensi. Mudah marah dan sedikit gegabah.


Bu Hesty memandangi Kasih dari atas sampai bawah. Sedangkan Kasih jadi sedikit gugup kenapa Bu Hesty memperhatikannya dirinya.


"Oh iya, Pa. Mumpung semuanya kumpul disini. Mama mau membicarakan sesuatu." ucap Bu Hesty.


"Mama mau bilang, kalau Ratih sudah kasih ijin Gavin untuk menikah lagi.!" ucap Bu Hesty.


"Apa.! apa benar itu, Tih?" tanya Pak Indra nggak percaya.


"Iya, Pa. Ratih sudah mengijinkan Gavin untuk menikah lagi." jawab Bu Ratih.


"Apa kamu sudah pikir matang-marang.!" tanya Pak Indra.


"Sudah, Pa." jawabnya singkat.


"Baiklah kalau kamu sudah setuju. Terus, kamu sendiri gimana, Vin?" tanya Pak Indra.


"Gavin sama Ratih sudah membuat keputusan bersama, Pa. Kita sepakat siapa yang akan menjadi calonnya." jawab Gavin.


"Emang siapa wanita yang kalian tunjuk.?" ucap Pak Indra.


Gavin dan Kasih saling pandang. Kemudian Bu Ratih menoleh kearah Ibu mertuanya. Bu Hesty menoleh juga. Bu Ratih sedikit takut. Tapi, akhirnya dia bicara juga.


"Maaf, sebelumnya Pa. Ratih dan Gavin sepakat kalau Kasih lah yang akan menjadi calonnya." ucap Bu Ratih pelan.

__ADS_1


Kasih yang berdiri disebelah Bibi langsung menunduk. Pak Indra kaget dengan ucapan menantunya itu.


"Kamu sudah siap menerima segala konsekuensinya jika suamimu nanti menikahi wanita lain?" tanya Pak Indra.


"Siap, Pa." jawab Bu Ratih.


"Kamu sendiri gimana, Vin. Apa kamu juga setuju kalau Kasih lah yang akan menikah denganmu?" tanya Pak Indra.


"Gavin setuju, Pa. Karena itu pilihan istri Gavin. Kalau misal bukan pilihan dia, Gavin menolak." jawab Gavin.


"Mama, gimana. Setuju apa nggak?" tanya Pak Indra.


Bu Hesty terdiam. Dia nggak berani menjawab. Pak Indra mengernyitkan keningnya. Dia memandangi istrinya yang kayak bingung.


"Apa Mama punya calon sendiri buat Gavin,?" tanya Gavin.


"Mama sebenarnya punya calon buat Gavin." jawab Bu Hesty.


"Emang siapa calon Mama?" tanya Gavin.


"Tiara.!"


"Apa.! Gavin nggak mau." jawab Gavin dengan nada tinggi.


"Kenapa, Vin. Kamu kan belum kenal dia" ucap Mamanya.


"Pokoknya Gavin nggak mau. Kalau Mama masih maksa Gavin untuk nikah sama Tiara. Mending Gavin nggak usah nikah saja. Biar nanti Gavin sama Ratih adopsi anak." jawab Gavin seraya meninggalkan meja makan.


"Gavin, tunggu.!" panggil Pak Indra.


Kemudian Gavin nggak jadi pergi. Dia kembali duduk dikursinya lagi.


"Vin, kalau kamu memang nggak setuju dengan pilihan Mama, nggak apa-apa. Papa juga setuju kalau Kasih yang jadi istrimu." jawab Pak Indra.


"Papa gimana sih, Pa. Kemarin kan Mama bilang kalau Tiara yang akan jadi calonnya Gavin." ucap Bu Hesty ketus.


"Terus kalau anaknya nggak mau, gimana?" tanya Pak Indra lagi.


"Tapi, kan--" Bu Hesti belum sampai menyelesaikan kalimatnya, Pak Indra sudah menyelanya.


"Sudah, sudah..! kalau memang mereka menginginkan Kasihlah yang akan menjadi ibu dari cucu kita nanti. Kita harus setuju. Karena itu hak dia. Hormatilah kebesaran hari Ratih yang sudah mengijinkan Gavin menikah lagi. Kita justru harus berterima kasih sama Ratih, berkat keputusan terberatnya ini kita akan mempunyai penerus Indra wijaya." jelas Pak Indra.


"Makasih Pa..," ucap Bu Ratih.


"Iya, Nak. Sama-sama.! Sekarang saya mau bertanya sama Kasih. Apakah kamu bersedia jika menikah dengan anak saya.?" tanya Pak Indra.


Kasih terdiam. Dia nggak berani langsung bicara. Bu Hesty menatapnya tajam sehingga membuatnya sedikit ketakutan.

__ADS_1


-----------------------------------


Bersambung....


__ADS_2