
Hari ini Bu Ratih masuk kuliah seperti biasa, dia diantar Santo ke kampus bareng anaknya juga ke sekolah. Keseharian yang selalu dilakukan dengan keceriaan dan penuh semangat. Dalam dirinya selalu tertanam jiwa belajar, belajar dan belajar.
Sesampainya di kampus Bu Ratih langsung masuk kelas seperti biasa. Dia langsung menuju kursi yang telah disediakan. Waktu kuliah tinggal beberapa menit kedepan dan ia gunakan untuk sekedar melihat ponsel dan browsing sesuatu yang ia butuhkan.
Semua teman-temannya perlahan memasuki ruang kelas satu-persatu. Sekitar sepuluh menit kemudian datanglah Dosen pengajar. Hari ini Bu Ratih waktunya mata kuliah Satistika ekonometrika.
Prof. Arif adalah Dosen mata kuliah tersebut yang terkenal sedikit cerewet meskipun laki-laki. Dia selalu menanyakan hal-hal yang paling kecil dan selalu detail dalam setiap memberikan materi. Bu Ratih justru senang karena dengan itu dia menjadi faham sampai ke akar-akarnya.
"Selamat pagi.,!" sapanya.
"Selamat pagi, Prof.,!" jawabnya serempak.
"Hari ini saya akan melanjutkan materi yang saya sampaikan minggu lalu. Dalam mata kuliah statistika ekonometrika ini menjelaskan tentang pengetahuan, kemampuan dan ketrampilan dalam penggunaan teknis statistik untuk menganalisis tentang masalah-masalah bisnis dalam membantu pihak menejemen dalam proses pengambilan keputusan yang menyangkut fungsi-fungsi bisnis." jelas Prof Arif dengan tegas.
"Maaf, Prof. Saya mau tanya.?" ucap Bu Ratih.
"Iya, silahkan saudari Ratih." jawab Prof Arif.
"Apakah nanti akan dibahas satu persatu topik pembahasan tersebut, Prof.?" tanya Bu Ratih.
"Pertanyaan yang bagus. Iya, nanti akan saya jelaskan satu persatu topik pembahasannya. Kira-kira ada yang tahu topik bahasan apa saya yang mencakup soal materi saya kali ini." ucap Prof Arif.
"Saya mohon ijin untuk mencoba menjawabnya, Prof." sahut Bu Ratih.
"Baik, silahkan Saudàri Ratih." jawab Prof Arif.
"Kalau tidak salah topik bahasan tersebut meliputi Probabilita, pengujian hipotesis dan statistik non parametik." jawab Bu Ratih.
"Bagus, jawaban yang luar biasa. Tapi, masih ada banyak lagi topik yang akan dibahas dan salah satunya yang disebutin Saudari Ratih barusan." ucap Prof Arif.
"Makasih Prof.,!"
"Apa ada yang mau menambahi?" tanya Prof lagi.
"Maaf, Prof. Saya mencoba akan menambahi." sahut Pak Didit.
"Iya, silahkan."
__ADS_1
"Kalau nggak salah analisis deret berkala, analisis faktor, analisis diskriminan serta analisis cluster itu juga bagian dari topik pembahasan materi itu, ya Prof.?" jawab Pak Didit.
"Yuupps, betul.,! itu juga bagian dari topik pembahasan kita nanti." jawab Prof Arif.
Tanya jawab itu berlangsung kurang lebih satu jam. Sampai akhirnya Prof Arif menjelaskan apa yang menjadi pembahasan kali ini. Bu Ratih kelihatan yang paling menonjol diantara yang lainnya. Itu terlihat disetiap obrolan dan pembahasan dia selalu menjawab apa yang dipertanyakan oleh Prof Arif.
Tak terasa tiga jam sudah terlampaui, tandanya mata kuliah nya Prof Arif segera berakhir. Jarum jam sudah menunjukan pukul sebelas siang. Setelah Prof Arif pergi meninggalkan ruang kelas, kini mereka yang berada di ruangan kelas ngobrol sendiri-sendiri.
Begitu juga dengan Bu Ratih dan Bu Aliyah temannya. Mereka terlibat obrolan serius. "Bu Aliyah, gimana soal insiden mahasiswa yang mau percobaan bunuh diri tempo hari itu.?" tanya Bu Ratih tiba-tiba.
"Menurut kabar terakhir anaknya sudah dibawa ke rumah sakit, kasusnya ternyata dia itu depresi soal orang tuanya yang broken home." jawab Bu Aliyah.
"Ya ampun, rata-rata kasus anak broken home selalu begitu. Kadang kalau salah pergaulan malah parah." ucap Bu Ratih.
"Iya, Bu. Ada juga tetangga saya mengalami hal sama dengan kasus ini. Orang tuanya itu berpisah karena posisi Ibunya anak itu ternyata istri kedua. Karena suatu hal yang mengharuskan Ibunya anak itu minta cerai karena dia sudah nggak tahan menjadi istri kedua. Ya sekarang dia hidup sama Ibunya saja, sedangkan Ayah hidup bahagia dengan istri pertamanya." ucap Bu Aliyah.
Degh,!
Hati Bu Ratih bagai kesambar petir saat Bu Aliyah menceritakan soal tetangganya itu. Kasusnya hampir mirip dengan dirinya dan Kasih. Cuma bedanya kini anak istri kedua ikut dirinya dan suaminya. Bu Ratih nggak sampai mikir sejauh itu, untung saja Kasih nggak punya anak lagi selain Raka, misal Kasih punya anak lagi dari suaminya, berarti dia akan mengalami ha yang sama dengan kebanyakan anak-anak korban broken home.
"Bu, Bu Ratih,!" panggil Bu Aliyah.
"Oh, iya, Bu. Maaf saya keenakan mendengar cerita Bu Aliyah sampai bengong." jawab Bu Ratih.
"Oh iya, Bu. Adik saya kan mau menikah, terus saya kebagian mencarikan gedung dan catheringnya. Saya tahu dari Pak Didit kalau suami Ibu punya Hotel dan Restoran. Kira-kira bisa nggak dibantu untuk mencarikan tempat dan catheringnya?" ucap Bu Aliyah tiba-tiba.
"Oh bisa, Bu. Nanti saya sampaikan ke suami saya. Dibuat hari, tanggal dan bulan berapa nanti Bu Aliyah kasih tahu saya. Kirim pesan saja nggak apa-apa." jawab Bu Ratih.
"Siap, Bu Ratih. Nanti saya hubungi Bu Ratih lagi." ucap Bu Aliyah.
Nggak terasa mereka ngobrol-ngobrol sampai jam istirahat datang. Akhirnya mereka berdua melanjutkan obrolannya di kantin sekalian makan siang.
.
.
.
__ADS_1
Gavin dan Pak Fajar sudah selesai membuat konsep dan terobosan baru buat mengembangkan usaha Hotel dan Resto nya. Setelah meeting tempo hari, semua sudah menjalankannya tugasnya dengan baik. Pak Alex kini sedikit tenang karena dia bekerja diantara orang-orang kuat pemilik Hotel dan Resto ini.
Seperti halnya siang ini, Gavin dan Pak Fajar makan siang bareng direstoran. Mereka makan siang sambil ngobrol soal Hotel. Selama pembangunan resort yang ditargetkan sebelum akhir tahun sudah selesai, maka kini dia akan menyiapkan program-program baru untuk menyambut liburan akhir tahun, natal dan tahun baru.
Disaat mereka lagi ngobrol-ngobrol ponsel Gavin berdering, dilihatnya istrinya yang menelpon.
"Hallo, Ma. Ada apa?"
"......"
" Dibuat kapan.?"
"......"
"Oh, gitu. Oke-oke., nanti aku lihatkan jadwalnya, soalnya banyak yang boking."
"....."
"Oke, Ma. Siap."
Gavin menutup kembali ponselnya lalu dia tersenyum kearah Pak Fajar.
"Pak, barusan istri saya mengabari, kalau adiknya temannya mau pesan tempat buat nikah sekalian cateringnya." ucap Gavin dengan mata yang besinar.
"Woow, keren itu, Pak. Hotel kita nantinya semakin dikenal banyak masyarakat." jawab Pak Fajar.
"Betul itu, Pak. Nggak sia-sia kita selalu putar otak buat planing-planing dan program yang selalu memberikan inovasi buat kemajuan Hotel dan Resto ini."
"Pak, Pak Fajar.,!" teriak Pelayan restoran dari jauh sambil berlari.
"Ada apa kamu teriak-teriak.?"
"Pak, Pak Alex dipukuli orang nggak dikenal?" ucapnya sambil ngos-ngosan.
---------------------------------
Bersambung...
__ADS_1