
Kasih terdiam seribu bahasa. Mukanya tegang lantaran takut atau malu. Dia masih membisu dan nggak berani menatap Gavin. Sedangkan Gavin terus fokus menyetir sesekali melirik kearah Kasih.
"Maaf, Pak. Apa saya harus menjawab sekarang.?" tanya Kasih.
"Kan saya bilang, saya mau nanya kamu terus jawab dengan jujur.!" ucap Gavin.
"Tapi, saya belum bisa menjawab sekarang, Pak. Saya mau menjawab kalau sama-sama ada Bu Ratih. Lagian hari ini saya baru mau membicarakan dengan Ibu saya." jawab Kasih pelan.
"Oke! saya tunggu jawaban kamu." ucap Gavin.
Gak lama kemudian mereka tiba dirumah Kasih. Gavin nggak ikut turun karena sudah siang. Dia berhenti didepan gang, kemudian Kasih turun. Lalu dia pamit sama Gavin.
Gavin melanjutkan perjalanannya menuju kantor. Dia sampai saat ini masih bingung dengan keinginan istrinya yang memilih Kasih untuk jadi istrinya.
Sesampainya dikantor, dia berpapasan dengan Pak Firman didepan yang lagi membersihkan kaca.
"Pak, nanti setelah pekerjaan Pak Firman selesai, temui saya diruangan saya, ya?" ucap Gavin.
"Baik, Pak Gavin. Laksanakan!" jawab Pak Firman.
Gavin kembali melangkah menyusuri koridor, dia berjalan menuju ruangannya. Setelah sampai lantai tiga, dia langsung masuk ruangannya. Dia mendaratkan tubuhnya dikursi kebesarannya.
Gavin membuka komputernya dan memantau semua kerjaannya. Satu persatu dilihatnya data-data pekerjaannya. Disaat dia lagi fokus dalam kerjaannya, tiba-tiba pintunya ada yang mengetuk
"Tok...tok...tok...!"
"Silahkan masuk.!" sahut Gavin.
Pak Firman membuka pintu, kemudian dia duduk dikursi. Kini posisinya duduk berhadapan.
"Ada apa, Pak Gavin memanggil saya.?" tanya Pak Firman.
"Pak, saya mau menanyakan tentang Kasih. Sebagai Pamannya, saya rasa Pak Firman sedikit banyak tahu tentang Kasih dan keluarganya."
"Iya, Pak. Silahkan mau menanyakan apa soal Kasih." ucap Pak Firman.
"Pak Firman tahu nggak, apakah Kasih sudah punya pacar atau belum.?" tanya Gavin.
"Setahu saya sih, dia belum punya teman lelaki, Pak. Dia anaknya pendiam, tidak pernah neko-neko, serta sangat sayang sama keluarganya." jawab Pak Firman.
__ADS_1
"Oh gitu, ya." ucap Gavin.
"Iya, Pak. Dia itu juga penurut dan pekerja keras, kadang Ibunya sangat kasihan sama dia, dulu pas sebelum kerja dirumah Pak Gavin. Dia kan sempat kerja sampingan direstoran jadi tukang cuci piring, padahal sudah dilarang sama Ibunya, tapi, tetap saja dia lakukan." jelas Pak Firman.
"Katanya dulu sempat kursus setelah lulus SMU.?" tanya Gavin.
"Betul, Pak. Dia memang sempat kursus akuntansi, katanya dia kelak pingin kerja kantoran. Tapi, saat Ayahnya meninggal, dia memutuskan untuk berhenti kursus." jawab Pak Firman.
"Oh, jadi dia pingin kerja kantoran, ya Pak?" tanya Gavin.
"Iya, Pak." jawab Pak Firman.
Gavin hanya manggut-manggut saja mendengar penuturan Pak Indra. Memang benar, ternyata Kasih itu gadis yang baik. Pantas istrinya menginginkan dia untuk menjadi calon istri buat dirinya. Batin Gavin.
"Baiklah, Pak Firman. Untuk saat ini sudah cukup. Makasih atas penjelasannya." ucap Gavin.
"Sama-sama, Pak. Maaf, jika ada salah kata." ucap Pak Firman.
"Iya, Pak. Sekarang Pak Firman boleh kembali." titah Gavin.
Pak Firman melangkah meninggalkan ruangan bosnya itu. Kini Gavin sendiri lagi diruangan itu. Dia kembali mengingat apa yang yang diceritakan Pak Firman barusan. Kasih memang benar-benar dari keluarga baik-baik meskipun secara ekonomi dia belum seberuntung dirinya.
Gavin jadi bingung dengan apa yang dirasakannya saat ini. Kenapa dia tiba-tiba merasa iba dan kasihan dengan keluarga Kasih.
Gavin kemudian melanjutkan kerjaanya. Apalagi barusan ada banyak berkas yang harus ditanda tangani.
Kini dikediaman Kasih lagi sibuk membungkusi nasi buat dititipkan ke warung-warung. Kasih dari pagi sudah membantu Ibunya. Kini nanti dia akan membantu menaruh warung langganan Ibunya.
Meskipun kini penghasilan Kasih lebih besar dibandingkan kerja jadi office girl, tapi, tetap aja Ibunya nggak mau sombong dan tetap menjalani pekerjaannya sebagai penjual nasi bungkus.
Setelah membantu Ibunya menitipkan semua nasi bungkus itu ke warung-warung, kini Kasih kembali kerumahnya dan ngobrol-ngobrol.
"Sih, kamu libur berapa hari?" tanya Ibunya.
"Bu Ratih ngasih libur tiga hari, Bu. Makanya Kasih pulang." jawab Kasih.
"Oh ya udah, berarti nanti bisa bantuin Ibu seperti ini." ucap Ibunya.
"Iya, Bu. Tenang saja. Nanti pasti bantuin Ibu." jawab Kasih sambil senyum-senyum.
__ADS_1
"Oh ya, Sih. Ngomong-ngomong gimana kabar majikanmu itu setelah mengalami musibah seperti itu.?" tanya Ibunya.
Kasih nggak langsung menjawab pertanyaan Ibunya. Dia terdiam seolah enggan menjawab pertanyaan ini. Karena apa, pasti ujung-ujungnya mengingatkan dia soal permintaan Bu Ratih.
"Kabarnya ya baik, Bu. Kini dia sudah kembali beraktivitas seperti biasa." jawab Kasih.
"Syukurlah kalau gitu. Ibu ikut senang. Kasihan kalau melihat nasibnya. Sebagai sesama wanita, Ibu pasti bisa merasakan betapa sedihnya hati majikanmu itu.
Oh ya, Sih. Ibu mau bilang sesuatu sama kamu. Tapi, tolong janji sama Ibu, kamu jangan marah dulu, ya.?" tanya Ibunya.
"Kenapa Kasih harus marah, Bu. Emangnya Ibu mau bilang apa?" tanya Kasih balik.
"Kamu tahu Pak Hardi yang punya toko sembako di seberang jalan. Dia kemarin bilang sama Ibu, kalau dia mau mempersunting kamu.?" ucapan Ibunya membuat Kasuh langsung syok.
Dia tidak bisa bicara apa-apa, hanya terdiam dan lemas. Bagaimana nggak kaget, secara Pak Hardi adalah duda yang sudah berumur. Justru pantas jadi Ayahnya. Memang dia terkenal kaya ditempat tinggalnya. Dan Ibunya memang kadang suka ngebon ditokonya kalau buat bahan jualan habis.
Tapi, Kasih nggak menyangka kalau laki-laki itu punya niatan seperti itu.
"Bu, Apa Ibu punya hutang sama Pak Hardi.?" tanya Kasih.
"Ada, Sih. Tapi, ini nggak ada hubungannya sama itu. Misalnya Ibu nggak punya hutangpun dia memang punya niatan melamar kamu dari dulu. Tapi, Ibu kembalikan lagi sama kamu, Nak. Pak Hardi orangnya baik, dia juga memintamu dengan baik-baik." jelas Ibunya.
"Iya, Bu. Kasih juga mengerti akan hal itu. Tapi, apa Ibu tega sama Kasih misal nanti Kasih jadi menikah sama dia.?" tanya Kasih.
"Iya juga, sih Nak. Dia sudah tua dan pantas jadi Ayahmu." jawab Ibunya.
"Makanya itu Bu, tolong bilangin sama Pak Hardi, Kasih nggak mau." ucap Kasih.
"Tapi, Ibu harus jawab apa, Nak. Sedangkan Pak Hardi sudah mengirimi Ibu beberapa kebutuhan bahan buat jualan. Kamu lihat beras sama gula dan minyak goreng yang didapur itu, semuanya dari Pak Hardi. Sudah Ibu tolak tapi, tetap saja dia memaksa dan menyuruh karyawannya mengantarkan ke rumah." jelas Ibunya sambil menangis.
"Maaf Bu, Kasih sebenarnya nggak bermaksud menentang Ibu. Tapi, untuk masalah ini Kasih benar-benar nggak bisa, Bu." jawab Kasih sambil memeluk Ibunya.
"Ibu ngerti perasaan kamu, Nak. Tapi, Ibu sungkan sama Pak Hardi. Apalagi dia dulu teman akrab Ayahmu. Ibu benar-benar bingung. Apalagi sampai saat ini kamu juga belum ada tanda-tanda punya teman cowok. Ibu takut kalau kamu masih menyimpan cinta sama pangeran impianmu itu." jawab Ibunya seraya melepaskan pelukannya.
"Bu, Kasih memang pernah punya rasa dengan pangeran impian Kasih. Tapi, disaat Kasih tahu dia sudah punya istri, Kasih sudah menguburnya dalam-dalam rasa cinta itu, karena bagi Kasih cinta itu nggak harus memiliki, yang penting dia bahagia Kasih pun ikut bahagia." jawab Kasih.
"Tapi, apa perasaan itu nggak tumbuh lagi, secara kalian sekarang hidup satu atap.?" tanya Ibunya.
"Emang siapa pangeran impian Kasih, Bu.!" sahut seseorang dari luar.
__ADS_1
---------------------------------
Bersambung...