BU DOSEN CANTIK

BU DOSEN CANTIK
SEASON DUA Part : 80 (Asisten baru)


__ADS_3

Kasih tidak langsung menjawab pertanyaan Gavin. Dia terpaku dan menatap Gavin tanpa kedip. Belum pernah dibayangkan olehnya bakal masuk rumah seorang Gavindra yang dulu bahkan sampai sekarang ia kagumi.


Gavin masih mengamati gadis didepannya ini. Dia heran kenapa anak itu diam saja dan nggak mau jawab apa yang Gavin tanyakan.


"Hallo, Kasih.,!" seru Gavin sambil tanganmya digoyang-goyangkan tepat didepan muka dia.


Gadis itu terperanjat dari lamunannya. Kemudian dia tersenyum seakan dipaksa.


"Emm., iya kalau memang Pak Gavin menghendaki demikian, saya bisa apa. Kan, saya kerja ikut Pak Gavin." jawabnya polos.


"Apa perlu aku minta ijin ke Ibumu?" tanya Gavin.


"Nggak perlu, Pak. Nanti biar saya sendiri yang bilang sama Ibu, saya." jawabnya.


"Ya sudah, mulai besok kamu langsung kerja dirumah saya." sahut Gavin.


"Secepat itu, Pak?" tanya Kasih.


"Memang saya butuh secepatnya. Hari ini istri saya pulang dari rumah sakit." jawab Gavin.


"Baiklah, Pak. Besok saya mulai kerja dirumah Pak Gavin." jawab Kasih.


"Sekarang kamu boleh kembali, oh iya, tolong, panggilkan Pak Firman." titah gavin.


"Baik, Pak." jawab Kasih.


Kemudian Kasih meninggalkan ruangan Gavin. Kini dia kembali sibuk dengan kerjaannya. Tak lama kemudian, Pak Firman datang.


"Pak Gavin memanggil, saya?" tanya Pak Firman.


"Iya, Pak. Silahkan duduk.!" titah Gavin.


"Makasih Pak..," jawabnya.


"Begini Pak. Saya kan membutuhkan asisten buat istri saya. Berhubung keadaan mendadak, dan saya juga bingung mau cari kemana, akhirnya saya putuskan Kasih saja yang menjadi asisten istri saya. Menurut Pak Firman gimana?" tanya Gavin.


"Kalau saya, sih itu terserah Pak Gavin saja. Kasih anaknya baik kok. Dan pasti bisa jadi asisten istri Bapak." jawab Pak Firman.


"Emm., begitu, ya Pak. Kira-kira boleh nggak sama Ibunya, jika Kasih saya ajak kerja dirumah saya.?" tanya Pak Firman.


"Tentu saja boleh, Pak. Nanti saya bantu bicara sama Kakak saya." jawaban Pak Firman kini bagai angin surga buat Gavin. Setidaknya, pasti Kasih di perbolehkan sama Ibunya. Jadi Gavin nggak susah-susah cari orang lain.


"Ya sudah kalau gitu, Pak. Mulai besok Kasih sudah mulai kerja dirumah saya." ucap Gavin.


"Baik, Pak. Kalau sudah tidak diperlukan lagi, saya permisi." ucap Pak Firman.


"Oh iya, silahkan. Makasih Pak Firman." ucap Gavin.


"Sama-sama, Pak." jawabnya.


Seketika Pak Firman meninggalkan ruangan Gavin. Dan kini Gavin kembali bergelut dengan kertas-kertas itu.


kemudian terdengar ponsel Gavin bergetar.


"Drrttt...ddrrrt.."

__ADS_1


'Sayang, ini aku sudah persiapan pulang, tapi, kamu nggak usah jemput aku. Karena Mas Bagas sudah ada disini. Kamu lanjutin kerjaan kamu aja,'


'Oh ya sudah kalau, gitu. Hati-hati sayang. Love you.'


'Love you too.'


Gavin sedikit lega, karena Bagas sudah jemput istrinya. Setidaknya Gavin nggak bolak-balik. Hari ini dia mau beresin pekerjaannya yang menumpuk. Biar, besok sedikit longgar.


Jam kantorpun usai. Gavin ingin cepat-cepat pulang untuk bertemu istrinya. Dia memberesi meja kerjanya sebelum pulang kantor. Kemudian diraihnya kunci mobil dan tas kerjanya.


Dia menutup pintu ruangannya dan melangkah keluar. Saat didepan meja Bu Yolanda, Gavin berpapasan dengan Kasih. Mungkin dia hendak membereskan gelas yang ada diruangannya.


"Oh iya, Kasih. Besok pagi-pagi, kamu saya jemput. Jadi, siap-siap, ya?" ucap Gavin.


"Baik, Pak." jawab Kasih datar.


Kemudian Gavin kembali melangkah meninggalkan Kasih yang masih berdiri dihadapan Bu Yolanda.


"Kasih.,! emangnya kamu mau diajak Pak Gavin kemana, kok dia jemput kamu?" tanya Bu Yola heran.


"Oh itu, Pak Gavin mau saya menemani istrinya." jawabnya asal. Sebelum ditanyai macem-macem, dia langsung pergi.


.


.


.


Malam ini, Bu Ratih ditemani Gavin dikamar. Dia baca buku sambil sandaran pada kepala tempat tempat tidur. Nggak enak kalau hanya tiduran aja. Dia ingin bergerak, tapi masih belum boleh. Mungkin satu atau dua hari lagi dia sudah boleh aktivitas meskipun hanya sekedar jalan-jalan ketaman rumah atau duduk diteras.


"Siap, Bu Dosen cantik.!" seru Gavin sambil melangkah meninggalakn istrinya.


Bu Ratih hanya senyum-senyum saja disaat mendapati suaminya yang selalu bertingkah kocak. Tak lama kemudian Gavin datang dengan membawa laptop istrinya.


Bu Ratih kemudian membuka laptop itu dan mulailah jari-jarinya menari diatas keyboard. Setelah selesai, Bu Ratih kembali menutup laptop itu lalu menaruhnya diatas nakas.


Gavin masih saja fokus dengan remote TV dan menonton acara kesukaannya. Bu Ratih melirik suaminya yang dari tadi melototin layar televisi.


"Sayang, kamu lagi liatin acara apa, sih. kok serius amat.?" tanya Bu Ratih.


"Eh ini lho sayang. Berita di televisi, biasa perampokan." jawab Gavin.


"Sudah, matikan saja. Sini peluk aku.!" ucap Bu Ratih.


Gavin lalu mematikan televisinya. Dia tersenyum melihat istrinya yang manja. Direngkuhnya kepala istrinya lalu diletakan dipundaknya.


"Sayang, kamu nggak apa-apa, kan jika kita ditunda untuk punyak anak?" tanya Bu Ratih.


"Ya ampun, sayang. Kamu ini ngomong apa sih. Melihat kamu sehat seperti ini aja aku sudah senang. Soal anak, kalau memang kita sudah dipercaya pasti bakal punya sayang.!" jawab Gavin.


"Makasih atas pengertiannya, sayang." jawab Bu Ratih.


"Oh iya, aku sudah menemukan orang yang pas buat jadi asisten kamu." ucap Gavin.


"Siapa, sayang. Dan kamu dapat dimana?" tanya Bu Ratih beruntun.

__ADS_1


"Sudah, besok saja. Kamu pasti setuju.!" tukas Gavin.


"Baiklah bosque.." jawab Bu Ratih.


"Ya sudah, sekarang kita istirahat dulu. Besok aku harus jemput orang itu."ucap Gavin.


Mereka akhirnya menutup matanya dan beristirahat. Bu Ratih tertidur sambil memeluk tubuh suaminya. Malam semakin larut, dan angin malam yang dinginpun mulai menyusup ke celah-celah jendela.


(***)


Pagi ini, kebutuhan Bu Ratih masih dilayani oleh Bibi. Mulai dari menemani mandi dan sarapan masih dilayani Bibi. Meskipun didapur masih ada kerjaan. Pesan Gavin untuk pagi ini dia harus mendahulukan keperluan istrinya. Habis itu dia boleh kembali ke dapur.


"Makasih Bi..," ucap Bu Ratih.


"Iya, Non. Sama-sama." jawab Bibi.


Kemudian Bibi kembali ke dapur untuk menyelesaikan kerjaannya. Bu Hesty sudah mempersiapkan sarapan Pak Indra. Sedangkan Gavin, pagi-pagi sekali tadi sudah berangkat menjemput Kasih.


Setibanya dirumah Kasih, Gavin dipersilahkan masuk oleh Ibunya. Sedangkan Kasih sendiri masih siap-siap dan berkemas, karena dia akan tinggal dirumah Gavin.


"Makasih, lho Bu sudah mengijinkan Kasih untuk kerja dirumah saya.?" ucap Gavin.


"Iya, Pak Gavin. Saya juga ikut senang karena sudah bisa bantu Pak Gavin." jawab Ibunya.


Tak lama kemudian, Kasih keluar dengan membawa tas. Gavin tersenyum melihat Kasih yang sudah siap.


"Kamu sudah siap, Kasih?" tanya Gavin.


"Sudah, Pak." jawabnya.


"Ya sudah, kalau gitu kita berangkat." ucap Gavin.


Kemudian Gavin pamit sama Ibunya Kasih. Demikian juga dengan Kasih dia mencium punggung tangan Ibunya.


"Kamu hati-hati kerja dirumah orang. Yang patuh dan jangan macam-macam." ucap Ibunya.


"Iya, Bu. Kasih juga akan selalu menjenguk Ibu dan Adek." jawabnya.


Ibunya mengangguk dan melepaskan kepergian putrinya itu untuk bekerja dirumah Gavin. Keduanya masuk mobil dan kemudian melajulah mobil itu menuju rumah Gavin.


Tak lama kemudian, sampailah mereka dirumah. Gavin memarkirkan mobilnya lalu membantu Kasih untuk membuka pintu mobil. Kasih jadi nggak enak.


Gavin berjalan masuk ke rumahnya, diikuti oleh Kasih. Dia terperangah melihat rumah segede gedung olah raga. Mata Kasih menyusiri setiap sudut rumah. Sampai diruang tengah dia melihat Pak Indra lagi duduk-duduk. Kasih langsung membungkukan badannya tanda hormat. Demikian Pak Indra juga membalas senyuman Kasih.


Setibanya dikamar, Kasih melihat wanita muda yang terbaring lemah diatas tempat tidur. Kasih berdiri dibelakang Gavin sehingga Bu Rtaih tidak bisa melihat wajahnya.


Bu Ratih menoleh kearah Gavin yang sudah berdiri disamping tempat tidur. Gavin tersenyum kemudian memegang tangan istrinya.


"Sayang, ini aku sudah bawakan asistem buat menemani dan merawat kamu.!" seru Gavin sambil dia menggeser badanya segingga kini Bu Ratih tahu siapa yang datang bersama suaminya itu.


"Kasih.,!!"


---------------------------------


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2