
Kasih hanya terdiam mendengar pertanyaan Gavin. Dia kini semakin gugup dan takut ketika Gavin menanyakan hal itu sama dirinya.
Gavin yang melihat sikap Kasih seperti itu jadi kasihan.
"Bukan kenapa-kenapa, Pak. Saya cuma sungkan aja. Karena Pak Gavin adalah atasan saya." jawabnya.
"Kasih, kenapa mesti sungkan. Apa saya menakutan.?" tanya Gavin sembari tertawa.
"Enggak juga, Pak." jawab Kasih yang sekarang disertai senyuman.
"Nah gitu dong, senyum. Masak kalau ketemu saya, wajahmu selalu menciut. Kayak saya mau makan kamu aja." jawab Gavin.
Obrolan diantara mereka terlihat akrab. Kini Kasih sudah nggak kelihatan gugup lagi, dan bersikap sewajarnya.
"Maaf, Pak Gavin. Saya permisi dulu." ucap Kasih.
"Silahkan." jawab Gavin.
Kasih meninggalkan ruangan Gavin dengan sedikit ceria. Nggak seperti sebelumnya dia seperti gugup, takut bahkan bingung dengan dirinya sendiri.
Apa mungkin dia masih menyimpan rasa yang selama ini dia pendam. Rasa yang hanya sebatas kagum dan nggak lebih. Karena dia tahu dirinya itu siapa. Makanya dia sadar diri.
Gavin kembali berkutat dengan laptopnya, dia bekerja seperti biasa. Semenjak Papanya nggak aktif dikantor, dia kini yang menghandle semua pekerjaan kantor.
Tak terasa jarum jam sudah menunjukan pukul setengah satu siang. sudah saatnya makan siang. Dia berdiri dan meninggalakan ruangannya dan menyusuri kantor.
Dia hendak makan siang diluar. Tapi, belum tahu mau makan apa. Ketika dia mau keluar kantor. Gavin melihat Kasih membawa bungkusan hendak menuju pantry. Kasih yang melihat Gavin sedang mengamatinya, lalu mengangguk kemudian dia mendekatinya.
"Apa, Pak Gavin mau dibelikan makan siang?" tanya Kasih.
"Kalau kamu lagi sibuk, sebaiknya nggak usah." jawab Gavin.
"Enggak, Pak. Saya nggak sibuk, kok." jawab Kasih.
"Lah, itu apa yang kamu bawa?" tanya Gavin sambil melirik bungkusan yang dibawa Kasih.
"Oh, ini. Saya baru saja beli nasi bungkus yang dijual didepan kantor ini, Pak." jawab Kasih.
Gavin terdiam sejenak, membayangkan enak kali ya makan nasi bungkus seperti orang kebanyakan. Bathinnya.
"Saya juga mau dong, kayak gitu. Boleh minta tolong dibelikan satu, ya?" tukas Gavin.
Kasih kaget mendengar jawaban dari atasannya itu. Dia minta dibelikan nasi bungkus sama kayak yang dia beli.
"Pak Gavin mau!" seru Kasih.
"Iya, saya mau." jawab Gavin.
"Baiklah, saya belikan sekarang, Pak." jawab kasih sambil berlari meninggalkan Gavin sendiri.
__ADS_1
Gavin terheran melihat karyawannya yang satu ini. Kemarin-kemarin dia sedikit diam dan tertutup. tapi, setelah obrolan tadi pagi, dia sekarang jadi periang dan nggak diam lagi.
Gavin senang dengan perubahan pada diri Kasih, jadi kalau mau minta tolong apa-apa Gavin sendiri juga nggak sungkan karena sikapnya yang diam.
"Anak itu gimana sih, belum saya kasih uang juga sudah hilang." gumam Gavin.
Akhirnya Gavin kembali ke ruangannya dan menunggu Kasih balik dengan pesanannya. Kini dia duduk kembali sambil membayangkan nasi bungkus yang akan dibawakan oleh Kasih.
"Tok...tok...tok..."
Terdengar pintu diketuk dari luar.
"Iya, silahkan masuk." jawab Gavin.
Pintupun terbuka, Kasih masuk dengan membawa nasi bungkus buat atasannya ini.
"Eh.., Kasih,! kamu ini gimana sih, tadi main kabur aja. Kan, saya belum kasih uang kamu buat beli nasi bungkus itu." ucap Gavin.
"Iya, Pak. Maaf, tadi saya lupa karena saking antusiasnya Pak Gavin mau makan nasi bungkus." jawabnya malu-malu.
"Ya sudah, itu nasi punya kamu? tapi, kok ada dua?" ucap Gavin sembari melihat bungkusan yang dibawa Kasih ditangan kirinya.
"Oh ini makan siang saya sama Om Firman, Pak." jawabnya.
"Ya sudah, sekalian makan disini saja temani saya. Enak kali makan nasi bungkus rame-rame." titah Gavin.
"Ayo, panggil Pak Firman. Ajak sekalian makan disini. saya tunggu.!" ucapan Gavin mengagetkan Kasih.
"Siap, Pak!"jawabnya sambil meninggalkan Gavin.
Tak lama kemudian dia kembali bersama Pak Firman.
Kasih dan Pak Firman duduk membaur dengan Gavin di sofa yang ada diruangan itu.
Kini mereka bertiga dengan lahapnya menikmati makan siang dengan nasi bungkus. Gavin terlihat lahap menyantap nasinya. Kasih yang melihat sikap atasannya itu jadi pingin ketawa sendiri.
Kini Kasih semakin yakin kalau Gavin benar-benar seorang pimpinan yang low profile. Bayangkan, seorang pemimpin perusahaan besar makan siang nasi bungkus karena, mungkin sebelumnya dia belum pernah seperti ini.
Makan siang pun selesai. Kini mereka bertiga ngobrol-ngobrol didalam. Setelah itu Kasih sibuk membereskan bekas makan siangnya itu.
Kemudian Gavin mengeluarkan dompet. Lalu memberikan selembar uang lima puluh ribu rupiah.
"Kasih, ini uang saya buat ganti beli nasi bungkus tadi." ucap Gavin sambil menyerahkan uang itu.
"Ya ampun, Pak Gavin. Uangnya gede amat. Nasinya saja cuma sepuluh ribu." jawab Kasih.
"Apa, sepuluh ribu.?" jawab Gavin.
"Lah emang berapa, Pak. Harganya memang segitu." jawab Kasih.
__ADS_1
"Iya, Pak Gavin. Harga nasi bungkus memang segitu. Tadi, Pak Gavin pake ikan Daging jadi sepuluh ribu. Coba ikan yang lainnya, misal telor apa ayam gitu, nggak sampai sepuluh ribu." kini PakFirman ikut bicara.
Gavin terkekeh mendengar penuturan karyawannya barusan. Memang ekonomis sekali. Mungkin karena itu juga, nasi bungkus menjadi sasaran para karayawan menengah kebawah.
"Ya sudah gini aja. Anggap saja uang ini buat membayar tiga bungkus nasi tadi. Jadi uang Pak Firman dan uang kamu ambil aja." jawab Gavin.
"Tapi, Pak--?" kalimat Kasih belum selesai kemudian Gavin menyelanya.
"Sudah ambil saja, ini perintah.!" ucap Gavin.
"Baiklah, Pak. Terima kasih banyak." jawab Kasih sambil menerima uang dari Gavin.
"Saya juga mengucapkan terima kasih banyak, Pak. Karena sudah ditraktir makan siang." ucap Pak Firman.
Ketika mereka masih ngobrol-ngobrol diruangan itu, tiba-tiba pintu diketuk. Lalu masuklah Bu Yola sekretaris Gavin.
Dia sedikit heran, kenapa diruangan ada Kasih dan Pak Firman. Dan kelihatannya akrab banget ngobrolnya.
"Ada apa, Bu Yola." tanya Gavin.
"Eh, ini Pak. Ada beberapa berkas yang harus Bapak tanda tangani." jawab Bu Yola seraya menunjukan beberapa berkas.
"Oh iya, taruh meja saya saja. Saya masih istirahat.
"Baik, Pak." jawab wanita itu sambil menaruh berkas itu dimeja Gavin.
Bu Yola sempat melihat kearah Kasih dan Pak Firman yang lagi duduk disofa Gavin. Kemudian dia pamit dan keluar ruangan itu.
Setelah selasai makan siang, Kasih dan Pak Firman kembali bertugas seperti biasa. Kini Gavin sendiri lagi diruangannya. Dibukanya berkas-berkas yang dikirimkan sekretarisnya tadi.
Setelah dibaca semuanya, kini dia menandatangani semua berkas-berkas itu lalu menutupnya kembali.
Setelah seharian berkutat dengan pekerjaan, tak terasa hari sudah sore. Jarum jam sudah menunjukan pukul empat sore. Jam kantorpun usai. Gavin membereskan semua yang ada dimejanya.
Kini dia bersiap-siap untuk pulang terus menjemput istrinya dirumah Mamanya. Dia keluar meninggalkan ruangannya menuju parkiran. Dijalan dia bertemu dengan sekretarisnya lagi bicara sama salah satu karyawannya.
"Hey, masak tadi aku lihat Pak Gavin makan nasi bungkus diruangannya ditemani sama Ob." ucap Bu Yola.
"Masa sih, tapi, memang ada yang salah kalau Pak Gavin makan nasi bungkus.?" jawab karyawan itu.
"Ya nggak juga sih. Tapi, kok mau-maunya sih makan sama Ob, secara dia kan pemimpin perusahaan. Kalau aku sih nggak banget.!" tukasnya.
Gavin hanya geleng-geleng kepala saja ketika mendapati kelakuan sekretarisnya itu. Masih saja nggak berubah. Sombong dan suka memandang orang dari segi statusnya.
Kini Gavin nggak langsung pulang, dia menuju ke ruangan Pak Bima, jika masih ada orangnya, Gavin akan membahas soal Bu Yolanda. Tapi, jika sudah pulang, maka dia akan membahasnya besok saja.
----------------------------------
Bersambung.....
__ADS_1