BU DOSEN CANTIK

BU DOSEN CANTIK
SEASON DUA Part : 105 (Marah besar.!)


__ADS_3

Gavin muncul dari luar ruangan dan masuk dengan tiba-tiba. Tiara kaget dan mukanya jadi tegang. Pak Bima hanya terdiam, sedangkn Pak Indra sendiri masih dengan santainya duduk dikursi.


Gavin mendekati Papanya kemudian dia mencium punggung tangan Papanya. Tiara masih nggak percaya dengan pemandangan dihadapannya kali ini. Berarti memang ini Papanya Gavin. Dia semakin ketakutan, wajahnya memerah.


Ponsel yang tadinya mau dibuat telpon Bu Hesty kini masih digenggamannya. Tak lama kemudian Gavin mendekati Tiara yang masih bengong.


"Untung aku datang, coba itu tadi aku belum kesini. Mau kamu katain apalagi Papaku. Hah.!" seru Gavin dengan nada tinggi.


"Vin, sudah biarin saja. Kalau memang dia nggak percaya nggak apa-apa." ucap Pak Indra.


"Bukan begitu, Pa. Anak ini memang perlu dikasih pelajaran. Kemarin saja sikapnya sama Ratih juga begitu. Dia tidak menganggap istriku sama sekali, itupun kalau nggak Gavin desak, Ratih juga nggak mau cerita sama Gavin. Aku dikasih tahu Bu Yolanda kalau dia masuk ruang ini dengan nggak sopan." jelas Gavin geram.


"Nona Tiara, apa Anda masih berminat bekerja dikantor, saya?" tanya Pak Indra.


Tiara masih diam, kini dia sudah mulai melunak. Wajahnya sudah nggak seperti sebelumnya. Dia mendekati meja Pak Indra.


"Maafin Tiara, ya Om. Tiara nggak tahu kalau memang Om adalah Papanya Gavin. Saya benar-benar nggak tahu." ucapnya memelas.


"Kamu tuh aneh, ya. Meskipun kamu nggak tahu kalau dia Papaku, apa sikapmu seperti itu. Berarti kamu tidak bisa menghormati orang yang lebih tua.!" sahut Gavin.


"Iya, maafkan saya." jawabnya lagi.


"Sudah, Vin. Sekarang Papa mau pulang saja. Kamu yang lanjutkan, jika masih berminat, kasih dia kesempatan. Tapi, jika tidak. Sebaiknya suruh melamar diperusahaan yang lain saja" sahut Pak Indra sambil melangkah pergi.


Pak Bima masih berdiri dan membawa CV nya Tiara. Gavin kini yang ganti duduk dikursi yang tadinya ditempati Pak Indra.


Tiara sedikit lega, karena kini Pak Indra sudah tidak ada disini.


"Vin, tolong kasih saya kesempatan untuk melamar disini." ucap Tiara.


"Tujuan kamu untuk bekerja diperusahaan ini apa?" tanya Gavin.


"Ya pingin bekerja untuk cari uang, Vin. Seperti yang lainnya." jawabnya singkat.


"Apa kamu nggak bohong!" seru Gavin.


"Beneran, Vin." jawab Tiara lagi.


"Terus, kalau memang begitu. Kenapa saat pertama kali kamu datang kesini, sikap kamu seolah-olah kamu itu Bos. Seeanaknya sendiri bersikap.!" ucap Gavin.


Karena emosi, kini Gavin sudah tidak pakai menyebutkan dirinya "saya-Anda" lagi. Kini dia sudah ber "aku-kamu" dalam berkata. Dia sangat geram dan muak dengan sikap gadis ini.

__ADS_1


Dulu dia juga menghadapi perempuan seperti ini tapi tidak separah dia. Dulu Bu. Yolanda nggak se ekstrim ini. Batinnya.


"Vin, sudah dong. Saya kan sudah minta maaf." ucap Tiara.


"Oh.. aku tahu! apa kamu bersikap seperti itu apa karena Mama mau menjodohkan kamu sama aku!" tanya Gavin to the point.


Tiara nggak berani menjawab. Memang sebenarnya dia bekerja disini hanya untuk mendekati Gavin. Bu Hesty telah menelpon untuk berencana menjodohkannya dengan anaknya, karena istrinya yang nggak bisa kasih keturunan.


"Kamu kok bilang begitu, sih Vin." ucap Tiara.


"Lah terus aku harus bilang apa? kamu belum jadi Nyonya saja sikapmu sudah kayak yang punya perusahaan ini. Apalagi kalau beneran jadi Nyonya pemilik perusahaan ini. Karyawan disini bisa lari semua.!" tukas Gavin.


"Vin, tolong. Saya nggak bermaksud demikian. Mungkin Mama kamu saja yang berencana seperti itu. Saya memang pingin kerja disini, karena perusahaan ini adalah perusahaan property yang terkenal." ucapnya bohong.


Gavin memperhatikan Tiara yang masih kekeh ingin bekerja disini. Akhirnya Gavin mencoba kasih kesempatan buat dia, siapa tahu dia bisa berubah. Batin Gavin.


"Baiklah, aku kasih kamu kesempatan lagi, dengan catatan sikap dan tingkah laku kamu benar-benar harus dirubah. Dan sekarang kamu ikut sama Pak Bima." ucap Gavin.


"Makasih Vin..," ucapnya.


"Pak Bima, tolong urus dia. Nanti sementara taruh dia sebagai asisten Pak Bima saja dulu. Sambil menunggu divisi apa yang perlu ditambah personilnya." titah Gavin.


"Baik Pak Gavin. Siap laksanakan!" jawab Pak Bima.


Akhirnya Mereka pun keluar dari ruangan Gavin. Kini dia sendiri duduk dan masih nggak habis fikir kok ada perempuan seperti Tiara. Kenapa justru Mamanya ingin banget menjodohkannya dengan Tiara. Batinnya.


Ditempat yang berbeda. Dikediaman Pak Indra. Bu Hesty minta tolong Kasih untuk memijit punggungnya yang tiba-tiba pegal-pegal. Kasih dengan hati-hati memijit punggung majikannya itu. Dia nggak mau gegabah dalam bersikap, karena kejadian semalam menjadikan dirinya agak kaku menghadapi Nyonya besar.


"Kasih, kenapa semalam kamu menolak untuk dijadikan istri Gavin. Apa kamu nggak suka sama anak saya?" tanya Bu Hesty.


"Maaf, Bu Hesty. Kasih nggak punya fikiran begitu. Kasih hanya belum siap saja. Nggak berani, karena takut kalau Kasih ini nantinya jadi orang yang nggak tahu diri. Kasih ini hanya seorang asisten rumah tangga, nggak pantas saja, Bu." jawab Kasih pelan.


Kasih terpaksa bicara bohong sama Bu Hesty, padahal dia sudah dikasih ijin sama Ibunya jika Gavin menjadikannya istri kedua. Kasih hanya takut saja sama Bu Hesty, dia nggak setuju jika Gavin menikahinya.


Tak lama kemudian datanglah Pak Indra. Dia pasang muka marah. Dia langsung menuju ruang tengah, dan melihat istrinya yang lagi dipijit sama Kasih. Pak Indra semakin kesal dengan sikap istrinya yang lama-lama ngelunjak.


"Kasih, tolong tinggalin kami berdua. Dan satu kali lagi pesan saya. Jika istri saya minta pijitin kamu lagi, kamu jangan mau. Karena itu bukan kerjaan kamu. Kamu bisa panggilkan tukang pijit saja." ucap Pak Indra.


"Baik, Pak.!" jawab Kasih.


Kemudian Kasih melangkah meninggalkan suami istri itu. Dia kembali menuju belakang untuk membantu Bibi seperti biasa. Kasih jenuh, jika Bu Ratih sudah berangkat kerja. Dia pasti nganggur, makanya sering membantu Bibi masak.

__ADS_1


"Ma, kenapa sih Mama selalu gitu sama Kasih.?" tanya Pak Indra.


"Emang kenapa sih, Pa. Mama kan nggak ngapa-ngapain Kasih. Hanya minta tolong pijitin punggung Mama saja." jawab Bu Hesty kesal.


"Mama bisa panggil tukang pijit. Biasanya juga gitu. Kenapa sekarang jadi Kasih yang disuruh pijitin." sahut Pak Indra.


"Papa jangan lebay, dong. Kasih aja nggak keberatan." jawabnya lagi.


"Iya, nggak keberatan karena dia takut dan nggak enak sama Mama.!" jawab Pak Indra.


"Kenapa harus nggak enak. Memang disini dia digaji buat kerja. Ya nggak salah Mama dong!" jawab Bu Hesty.


"Tapi, ingat. Siapa yang gaji dia. Gavin kan? dia itu asistennya Ratih, Ma. Bukan pembantu yang bisa disuruh sembarangan." jawab pak Indra.


"Papa ini kenapa, sih Pa. Datang-datang kok langsung marah-marah. Salah Mama apa?" tanya Bu Hesty.


"Salah Mama itu banyak. Sekarang Mama sudah banyak berubah, selalu memaksakan kehendak sendiri. Apa-apa diputusin sendiri. Dan selalu mimirkan diri sendiri tanpa memikirkan perasaan orang lain." jelas Pak Indra.


"Papa kok bisa bilang seperti itu, tega Papa." ucap Bu Hesty.


"Tega kenapa, memang Mama sekarang banyak berubah. Gara-gara ngadepin anak teman Mama itu, pagi ini Papa hampir kena strok.!" ucap Pak Indra.


"Papa sudah ketemu sama Tiara. Gimana menurut Papa anaknya. Cantik, kan?" ucap Bu Hesty ceria.


"Mama itu sebenarnya tahu nggak sih, anak Handoko itu seperti apa?" tanya Pak Indra.


"Mama tahu lewat foto saja. Kalau kesehariannya Mama nggak tahu. Tapi, kata Handoko dia anaknya baik dan ramah, kok." ucap Bu Hesty.


"Ramah dari hongkong.! wanita seperti itu yang Mama banggakan dan akan dijodohkan dengan Gavin." jawab Pak Indra.


"Tapi, dia kan anaknya Handoko teman Mama, dan Mama sudah janji mau menjodohkan dia sama Gavin." jawab Bu Hesty.


"Papa nggak setuju kalau dia yang menjadi istri dan Ibu dari cucu kita nanti, mendingan Kasih kemana-mana. Dia anaknya sopan santunya luar biasa, dan yang jelas dia bisa menghormati orang yang lebih tua.!" jelas Pak Indra.


"Jadi, Papa lebih setuju kalau si Kasih lah yang menikah dengan Gavin.?" tanya Bu Hesty.


"Iya, Papa setuju Kasih menikah dengan Gavin. Dari kemarin-kemarin kan memang Papa setuju. Tapi, disaat Kasih menjawab belum bisa, Papa menghargainya. Dan Papa juga ingin tahu seperti apa Tiara yang Mama banggakan itu. Tapi, ternyata dia anaknya nggak masuk sama kriteria menantu seorang Indra wijaya." jelas Pak Indra.


"Tapi, Kasih kan nggak setuju, Pa." ucap Bu Hesty.


"Dia kemarin bilang belum siap, bukan nggak setuju. Dan Papa rasa dia bilang belum siap itu mungkin karena Mama sudah punya calon lain, jadi dia nggak mau. Tapi, Papa akan bicara sama dia." jawab pak Indra.

__ADS_1


---------------------------------


Bersambung.....


__ADS_2