
..............................
---------Tiga bulan kemudian---------
Hari yang ditunggu-tunggu Gavin dan Bu Ratih tiba. Hari ini adalah pesta pernikahan Gavin dan Bu Ratih. Acara diselenggarakan di Hotel.
Semua keluarga dari pagi sudah berada di hotel, Pak Indra memboking beberapa kamar buat keluarga besarnya dan keluarga besar Bu Ratih. Semua petugas bekerja sesuai dengan bagiannya masing-masing. Gavin sengaja memakai jasa WO yang terkenal.
Untuk seragam buat keluarga Gavin dan Bu Ratih dihandle oleh Bu Hesty dan Kinanti. Cathering diserahkan kepada Irene dan anak buahnya. Sekarang usaha Cathering milik Istrinya Bagas itu sudah lumayan terkenal.
Acara akad dilaksanakan pukul sepuluh pagi, sekarang jam sudah menunjukkan pukul sembilan. Gavin dan Bu Ratih sejak pagi buta sudah dirias untuk acara akad nikah. Pak Indra sekeluarga sudah menunggu ditempat acara. Keamanan juga disiapkan benar-benar. Pak Indra sudah menyewa beberapa orang untuk membantu pihak hotel untuk menangani keamanannya.
Acara akad sebentar lagi dimulai, Penghulu sudah datang dan menempati tempat yang sudah disediakan.
Gavin pun keluar di iringi oleh pengantar pengantin. Sedangkan Bu Ratih masih di dalam. Gavin terlihat Gagah memakai baju warna putih lengkap dengan aksesoris nya.
Saksi-saksi sudah duduk tempatnya. Bagas selaku wali dari pihak perempuan juga sudah berada di tempatnya. Pas jam sepuluh acara akad pun dimulai. Pak penghulu meinstruksikan supaya Gavin dan Bagas berjabat tangan. Dengan lantang Gavin pun akhirnya lancar mengucapkan ijab kobul.
"SAH..!"
"Sah..," semua serentak menjawab.
"Alhamdulilah..," ucapnya. Gavin menghela nafas panjang tanda sudah lega karena hari ini dia sudah resmi menjadi suami Bu Ratih.
Kemudian Bu Ratih keluar. Dia nampak cantik sekali. Kebaya putih yang membalut tubuhnya yang ramping menambah kecantikannya. Dipadu dengan sanggul khas Jawa. Karena keluarga Bu Ratih dari Jogja, maka sesuai kesepakatan acara akad memakai adat Jawa. Ratih duduk disebeleh Gavin.
Mereka bergantian menandatangi buku nikah. Setelah itu Gavin memasangkan cincin nikah ke jari Bu Ratih. Demikian juga sebaliknya. Kemudian Bu Ratih mencium punggung tangan Gavin dan Gavin mengecup kening wanita yang kini sudah sah menjadi Istrinya.
Tamu yang hadir hanya keluarga besar dan teman terdekat aja. Tapi, untuk acara resepsi nanti malam semua teman kerja, dan rekan bisnis dua keluarga diundang semua. Tak terkecuali Seno dan pasangannya. Sejak kejadian dirumah sakit. Hubungan Gavin, Bu Ratih dan Sasha jadi akrab.
Bahkan beberapa kali setelah Seno siuman mereka berkunjung ke rumah sakit. Mereka juga tahu kalau kondisi Seno sedang amnesia. Dan akhirnya Seno dan Sasha memutuskan untuk menikah.
***
Malam pun tiba, resepsi sudah mau dimulai. Beberapa tamu undangan sudah datang dengan pasangan masing-masing. Tampak hadir sosok laki-laki dan perempuan memasuki tempat acara.
Laki-laki itu sedikit berkumis dengan perempuan disebelahnya sedang mengamit lengan laki-laki itu. Jason yang melihat orang itu langsung mengamati gerak-geriknya. Acara memang belum dimulai, mungkin sekitar lima belas menit lagi.
Tapi, berhubung orang tersebut tidak menunjukkan gelagat yang mencurigakan, akhirnya Jason membiarkannya.
Iringan-iringam pengantin mulai memasuki pelaminan.
Mulai dari saudara tertua mempelai laki-laki beserta pasangan, lalu kedua orang tuanya. Disambung saudara tertua mempelai perempuan lalu orang tua. Terakhir kedua mempelai di iringi beberapa pengiring pengantin. Kali ini Gavin dan Bu Ratih memilih gaya modern. Kedua mempelai kehilatan seperti putri dan pangeran.
Yang cowok gagah dan ganteng, yang cewek cantik dan anggun. Kedua mempelai menempati posisinya masing di pelaminan. Acara demi acara berlangsung lancar tanpa halangan suatu apapun. Sampai akhirnya tiba acara makan-makan. Semua tamu undangan dipersilahkan menyalami mempelai.
__ADS_1
"Mas Seno, mau Sasha ambilin minum?" Tanya Sasha.
"Enggak usah, sayang. Nanti, Mas ambil sendiri." jawab Seno sembari membantu duduk Sasha yang dari tadi berdiri.
"Mas, Sasha pingin ke toilet bentar, ya?" ucap Sasha.
"Mau, Mas antar?"
"Nggak usah."
Sasha melangkah meninggalkan Seno yang berdiri sendiri. Tak lama kemudian Bagas mendekati Seno yang lagi berdiri sendiri.
"Apa kabar Sen," ucap Bagas sembari mengulurkan tangannya.
"Eh..iya, aku baik. Maaf, kamu siapa?" tanya Seno yang dari tadi melihati Bagas dari atas sampai bawah.
Bagas ngerti kalau Seno sekarang amnesia.
"Sen, aku Bagas. Teman kamu dulu saat kita masih bekerja sama dulu. Aku ikut prihatin ketika mendengar kabar kamu kecelakaan. Aku sudah menikah, sekarang istriku lagi hamil baru sebulan." jelas Bagas.
"Oh iya, selamat, ya. Istriku belum hamil. Kami menikah baru sebulan yang lalu." jawab Seno.
Tak lama kemudian Sasha datang dan mendekati Seno dan Bagas.
"Ini istri kamu, Sen?" tanya Bagas.
Akhirnya Sasha dan Bagas berkenalan.
"Aku Kakaknya Ratih, istri Gavin." ucap Bagas.
Mereka kemudian ngobrol-ngobrol. Sedangkan para undangan masih banyak. Kini tiba acara santai, nyanyi-nyanyi dan dansa. Para tamu undangan dipersilahkan untuk dansa dengan pasangannya masing-masing.
Kedua mempelai pun juga dipersilahkan untuk turun melantai.
Gavin menuntun Bu Ratih mengikuti pasangan yang lainnya.
Dengan mesranya Gavin kemudian memeluk istrinya dan mulai ikut alunan musik
"Sayang, akhirnya kamu menjadi istriku, juga." ucap Gavin sembari membelai rambut istrinya.
"Iya, sayang. Kamu sekarang adalah suami dari Ratih si Bu Dosen cantik." sahut Bu Ratih seraya mencubit pinggang Gavin.
"Nyonya Gavin, sekarang mulai genit nih?" ucap Gavin.
"Kan sudah halal." sahutnya.
__ADS_1
"Aku bahagia banget, sayang. Hari ini kita disatukan dalam ikatan yang sakral." ucap Gavin.
"Sama, sayang. Aku juga bahagia banget." sahut Bu Ratih.
Mereka berdua larut dalam rasa bahagia yang tiada tara. Setelah sekian lama keduanya menunggu hari bahagia ini. Malam kian larut dan suasana semakin romantis.
Alunan musik kian menambah kemesraan semua yang lagi berdansa. Gavin tak henti-hentinya mencium kening istrinya. Rasa bahagia tidak bisa disembunyikan dari kedua mempelai. Bu Ratih pun tak segan-segan mendaratkan ciuman di pipi suaminya.
Ditempat lain, Seno lagi bersama istrinya. Sasha menggandeng lengan Seno. Tiba-tiba Seno mengeluhkan sakit di kepalanya.
Dia meringis kesakitan sembari memegangi kepalanya. Sasha nampak kawatir, lalu mencoba menyuruh Seno untuk duduk.
"Mas Seno, tunggu dulu disini, Sasha ambilkan minum. Sasha melangkah mengambil minum.
Dari memgambil minum buat Seno, Sasha berpapasan dengan Gavin dan Bu Ratih.
"Sa, kamu kok tergesa-gesa, kenapa?" tanya Gavin.
"Emm..anu, Mas Gavin. Suamiku mengeluh kepalanya sakit." Jawab Sasha sembari melangkah.
Gavin dan Bu Ratih pun mengikuti Sasha.
Terlihat Seno masih duduk dengan mukanya menahan sakit. Sasha kemudian mendekati suaminya itu. Lalu membantu untuk meminum air mineral itu.
"Sa, apa nggak dibawa ke rumah sakit, aja?" tanya Gavin.
"Nggak usah, Mas. Dia nggak mau." jawab Sasha seraya memegangi tubuh Seno.
"Aaaaarrgh.., sakit banget, sayang. Aku nggak kuat." teriak Seno kemudian dia pingsan.
"Ayo, kita bawa ke rumah sakit, Sa!" ucap Bu Ratih.
"Tapi, Mbak"
"Nggak apa-apa, sudah bawa ke rumah sakit aja." sahut Gavin.
Tapi, ketika mereka berdebat mau dibawa atau nggak, tiba-tiba tubuh Seno bergerak dan dia membuka matanya. Sasha seketika berbinar ketika melihat suaminya kembali sadar.
Seno masih memegangi kepalanya. Dilihatnya orang berada disekitarnya saat itu. Ditatapnya dari Sasha, Gavin dan Bu Ratih.
Kemudian dia mengernyitkan dahinya.
"Ratih.,!".
......................................
__ADS_1
Next.................(52).