
Keesokan harinya Gavin dan Bu Ratih berkemas. Hari ini mereka pulang ke rumah Gavin karena sekarang Bu Ratih menyandang sebagai Nyonya Gavindra. Mereka berjalan menyusuri lorong hotel menuju lantai bawah.
Setelah checkout, Gavin dan Bu Ratoh menuju parkiran Cafe sambil menunggu dijemput Pak Narto. Gavin memesan kopi dan susu hangat buat istrinya.
"Sayang, kamu mau sarapan apa?" tanya Gavin.
"Aku roti aja, pake selai bluberry" jawab Bu Ratih.
"Aku nasi goreng, pake telor" jawab Gavin sembari memanggil pelayan.
Tak selang lama, pesanannya pun datang. Mereka menikmati sarapan pagi sebelum pulang ke rumah. Canda tawa mengiringi mereka dalam suasana pengantin baru. Wajah keduanya memancarkan sinar yang penuh kebahagiaan.
Mobil jemputan pun tiba, Pak Narto mendekati mereka yang lagi menyantap sarapan pagi. Pak Narto ikut bahagia, ketika melihat majikannya yang lagi memadu kasih.
"Eh., Pak Narto! Sarapan dulu, Pak.?" ucap Gavin ketika melihat kedatangan Pak Narto.
"Saya sudah sarapan, Den. Silahkan dilanjutkan." sahut Pak Narto.
"Bentar, ya Pak?" ucap Bu Ratih.
"Iya, Non. Silahkan!" jawabnya.
Gavin dan Bu Ratih kemudian beranjak dari tempat duduknya. Pak Narto membantu membawakan beberapa tas besar. Kemudian mereka menuju mobil.
Dalam perjalanan menuju rumahnya, Gavin dan Bu Ratih tak henti-hentinya bermesraan. Mungkin aura pengantin baru yang membuat mereka seperti itu. Tak heran memang, karena keduanya sudah menantikan momemt seperti ini.
Sampailah di rumah Pak Indra. Pak Narto membantu mengeluarkan dan membawakan tas masuk ke dalam. Gavin berjalan sambil menggandeng istrinya dengan mesra.
"Aduuuh., pengantin baru sudah datang, Ma.!" seru Mahen yang kebetulan lagi duduk di teras dengan istrinya.
"Ya ampun, kalian dah datang." ucap Kinanti.
Gavin dan Bu Ratih melangkah masuk ke dalam rumah. Di ruang tengah dijumpai Papa dan Mamanya lagi ngobrol-ngobrol. Mereka langsung pasang muka sumringah ketika melihat Gavin dan Bu Ratih sudah berdiri di hadapan mereka.
"Duduk sini, ayo ngobrol-ngobrol dulu." ajak Pak Indra.
Akhirnya Gavin dan Bu Ratih duduk membaur dengan Mama Papanya. Gavin berada didekat Pak Indra, sedangkan Bu Ratih bersebelahan dengan Bu Hesty. Tak lama kemudian Mahen dan Kinan masuk dan ikut nimbrung.
"Gimana setelah jadi pengantin baru?" tanya Pak Indra sambil senyum ke arah Gavin dan Bu Ratih.
"Senenglah, Pa. Namanya juga pengantin baru." jawab Gavin sambil malu-malu.
__ADS_1
"Sekarang kamu sudah punya tanggung jawab, yaitu seorang istri. Bahagiakanlah istrimu. Jangan pernah sia-siakan dia." ucap Pak Indra sembari menepuk pundak Gavin.
"Iya, Pa. Gavin janji akan selalu menjaga dan membahagiakan Ratih." jawab Gavin.
"Oh iya, Nak. Rencana bulan madu kemana?" tanya Bu Hesty.
"Belum tahu, Ma. Pinginnya ke Bali aja, sih. Gak jauh-jauh, soalnya jadwal kantor lagi padat." jawab Gavin.
"Ngak apa-apa, kapan kamu berangkat?" tanya Pak Indra.
"Kalau bisa secepatnya, Pa. Karena cuti Gavin juga mepet." jawab Gavin.
"Gimana kalau besok kalian langsung berangkat,?" tanya Papanya.
"Haa! Gavin belum pesen tiketnya." jawab Gavin.
"Urusan tiket biar Papa aja. Itung-itung hadiah pernikahan. Pokoknya kalian siapkan semuanya, besok langsung terbang ke Bali." tukas Pak Indra.
Gavin dan Bu Ratih sontak kaget bercampur seneng. Gavin spontan memeluk Pak Indra yang duduk di sebelahnya. Mereka semua ikut senang melihatnya.
"Ya sudah, kalian istirahat aja dulu. Apa kalian sudah sarapan?" tanya Bu Hesty.
"Kok, Tante? kan sekarang kamu sudah resmi jadi istrinya Gavin." seru Pak Indra.
"Eh iya, Mama. Kebetulan kami sudah sarapan di hotel." jawab Bu Ratih dengan malu-malu.
"Iya nggak apa-apa. Kalau gitu kalian istirahat aja. Gavin, ajak istrimu masuk ke kamarmu." ucap Bu Hesty.
"Baik, Ma." jawab Gavin seraya menggandeng tangan istrinya untuk naik ke kamarnya.
Keduanya naik ke atas dengan senyum bahagia. Terlihat ketika keduanya selalu menampakan kemesraan satu sama lain. Pak Indra dan yang lainnya ikut tersenyum, ketika melihat sepasang suami istri tersebut.
Gavin membuka pintu kamarnya, sedangkan Bu Ratih disampingnya hanya tersenyum melihat suaminya. Seketika pintu dibuka.
Krieett..
Pamandangan yang luar biasa tampak dihadapan mereka berdua. Gavin kini terkejut ketika melihat kamarnya yang disulap menjadi sebuah kamar seorang Raja. Hiasan terpasang di seluruh penjuru kamar, tempat tidurnya yang serba putih dihiasi bunga-bunga. Mawar warna merah dan putih bertaburan. Di salah satu sisi dinding terpasan tulisan SELAMAT MENEMPUH HIDUP BARU.
Gavin mendekati Bu Ratih yang masih takjub dengan kejutan ini. Dia merasa bahagia sekali, karena keluarga Gavin menyambutnya dengan penuh kehangatan. Matanya berkaca-kaca melihat semua ini. Gavin yang melihat istrinya hendak menangis, serta merta meraih tubuhnya dan ditenggelamkan di dadanya.
"Kamu bahagia, sayang?" ucap Gavin sambil mengecup kening istrinya.
__ADS_1
"Bahagia banget, aku beruntung punya suami kamu, sayang." jawab Bu Ratih seraya mempererat pelukannya.
"Aku juga beruntung punya istri, kamu. Aku sayang kamu, istriku.!" seru Gavin.
"Aku juga sayang sama kamu, suamiku." jawab Bu Ratih.
Keduanya kembali terhanyut dengan suasana romantis. Didukung dengan dekorasi kamar yang begitu indah nan menawan. Semakin erat Gavin memeluk istrinya. Kemudian wajahnya berhadapan tanpa jarak. Hidung Gavin menempel dengan hidung Bu Ratih. Lalu turun kebawah. Bibir Gavin menyentuh lembut bibir istrinya.
Kemesraan itu berlanjut diatas ranjang. Keduanya kembali terhanyut kedalam suasana pengantin baru. Ketulusan cinta mereka akhirnya mengantarkan keduanya dalam ikatan yang suci.
Saat malam menjelang. Gavin duduk-duduk di balkon kamarnya. Tak lama kemudian Bu Ratih menghampirinya dengan membawakan teh hangat buat suaminya. Gavin tersenyum ketika melihat istrinya yang semakin cantik.
Dengan tatapan yang mesra, Gavin memperhatikan Bu Ratih tanpa kedip. Begitu indahnya makhluk Tuhan satu ini. Gumamnya.
Setelah mengetahui suaminya begitu memperhatikan dirinya, Bu Ratih mendekati Gavin dan memeluknya.
"I love you, suamiku." ucap Bu Ratih seraya membisikan ke telinga suaminya.
Gavin tersenyum mendengar ucapan mesra dari istrinya itu. Dengan hangat dia mempererat pelukannya sambil membisikkan sesuatu.
"Love you to, istriku." jawab Gavin dengan lembut.
Kembali kebersamaan mereka tidak ada yang bisa mengganggu. Bu Ratih duduk dipangkuan suaminya yang lagi duduk dikursi. Tangan Gavin memeluk erat pinggang istrinya. Sedangkan Bu Ratih melingkarkan tangannya di leher suaminya. Udara malam yang dingin mengantarkan mereka yang lagi dimabuk asmara.
Cahaya pagi masuk melewati celah jendela. Bu Ratih membuka semua gorden yang ada dikamar itu. Dilihatnya Gavin masih tidur dengan selimut yang setengah menutupi tubuhnya. Kemudian Bu Ratih berjalan menuju tempat tidur dan duduk disebelah suaminya.
Kemudian dengan mesranya dia bangunkan suaminya.
"Selamat pagi, suamiku." ucap Bu Ratih sembari mencium pipi Gavin.
............................
Gimana ini, dilanjut nggak. like dan vote nya jangan lupa ya.?
biar Author nya cemungut ngetiknya..
thanks buat semua pembaca setia Bu Dosen cantik.
dukungan kalian adalah energi buatku untuk terus menulis cerita ini.
Love for all..
__ADS_1