
Minggu sore Gavin langsung berangkat ke Bandung. Dia sengaja nggak pakai sopir meskipun Papanya sudah menawari. Karena, di Bandung belum tahu sampai kapan, jadi mendingan berangkat sendiri.
Bu Ratih sudah menyiapkan sejak pagi semua keperluan suaminya selama di Bandung. Kini dia mengantarkan suaminya ke depan.
Di depan sudah menunggu Pak Indra dan Bu Hesty. Gavin berhenti untuk berpamitan sama kedua orang tuanya.
"Kamu sudah siap, Nak?" tanya Pak Indra.
"Sudah, Pa. Gavin siap berangkat, nih!" jawabnya.
"Ya sudah, kamu hati-hati di sana, ya?" kini Bu Hesty menimpali.
"Sayang, aku berangkat dulu, ya?" ucap Gavin seraya mencium kening istrinya.
Gavin kemudian menyalami kedua orang tuanya. Lalu menuju mobilnya sambil diikuti istrinya dibelakang. Barang-barangnya semua masuk bagasi.
Tak lama kemudian dia mulai melajukan mobilnya meninggalkan halaman rumahnya. Bu Ratih kembali masuk ke rumah setelah mobil suaminya hilang di balik pagar.
Gavin mengendarai mobilnya dengan santai. Cuaca sore hari begitu mendukung sekali buat perjalanan ke Bandung. Diputernya lagu guna menemaninya dalam perjalanan.
Dirumah Pak Indra, Bu Ratih kembali menuju kamarnya. Dia membaringkan tubuhnya diatas tempat tidur. Pikirannya melayang ke masalah yang dihadapi suaminya. Itu, tender pertama Gavin ketika dia mulai masuk ke dunia bisnis.
Memang selama ini Gavin dan Pak Indra selalu saling bantu, tapi, tetap saja itu membuat dirinya harus bertanggung jawan. Mudah-mudahan masalah proyek yang di Bandung segera terselasaikan. Bathin Bu Ratih.
*****
Malampun tiba, Bu Ratih merasa gelisah karena suaminya belum menelpon sama sekali. Ponsel Gavin tidak aktif saat Bu Ratih mencoba menghubunginya. Tidak mungkin kalau jam segini Gavin belum sampai Bandung.
Jarum jam sudah menunjukan pukul delapan malam. Sedangkan Gavin berangkat sudah dari jam empat sore. Seharusnya sudah sampai dari tadi.
Bu Ratih mondar-mandir sendiri di dalam kamar dengan memegangi ponselnya. Kembali dia duduk ditepi tempat tidur dan melihati ponselnya.
Kemana aja sih, sayang kok sampai jam segini belum kasih kabar juga. Bathinnya.
Akhirnya dia mencoba merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur. Ponsel diletakan diatas nakas. Kini, pandangannya tertuju pada langit-langit kamar yang begitu kokoh.
Tak lama kemudian, berderinglah ponselnya. Dengan semangat dia langsung beranjak dan meraih ponsel yang di atas nakas itu.
Dilihatnya ada tulisan "my hubby"
"Halo, sayang. Maaf, baru bisa hubungi soalnya tadi ponselku mati, jadi di charger dulu." ucapnya dari seberang sana.
"Ya ampun, sayang. Aku nunggu sampai jamuran tahu, syukurlah kamu nggak apa-apa." jawab Bu Ratih sambil cemberut padahal Gavin tidak bisa melihatnya.
"Iya, sayang. Sekali lagi maaf, ya. Tadi aku nggak langsung ke hotel. Aku ke rumah orangnya Papa dulu. Ngobrol sebentar baru aku cari hotel yang dekat dengan lokasi proyek."
"Kamu sudah makan, kan?"
"Iya, sudah tadi sama orangnya, Papa."
__ADS_1
"Ya sudah kalau gitu. Jaga kesehatan, lho sayang?"
"Iya Bu Dosen cantik."
"Kamu nih, mulai deh gombalnya."
"Biarin, kan sekarang Bu Dosen cantik sudah jadi Nyonya Gavindra."
Terdengar suara tertawa lepas dari ujung telepon. Bu Ratih juga tertawa ketika suaminya mulai ngebanyol. Obrolan sepasang suami istri itu terus berlanjut sampai nggak terasa jam sudah menunjukan pukul sepuluh malam.
"Sayang, sudah malam, nih. Udahan dulu, ya. Besok harus ke lokasi proyek."
"Iya, sayang. Kamu hati-hati disana, ya?"
"Siap Bu Dosen cantik."
"I love you, suamiku."
"Love you too istriku, muaach."
"Bye..muaach"
Bu Ratih menutup ponselnya lalu meletakannya di atas nakas. Kini, dia bisa tidur nyenyak karena baru saja suaminya menelpon. Nggak terasa akhirnya dia tertidur.
******
Kegiatan di kampus berjalan seperti biasa. Bu Ratih mengajar di kelas Vanya seperti tempo hari. Mata kuliah disampaikan ke semua Mahasiswa dan Mahasiswinya dengan lancar dan tidak ada halangan satu pun. Mereka semua bisa menangkap semua materi yang diberikan Bu Ratih.
Dipenghujung Bu Ratih mengajar dikelas itu, Vanya bertanya mengenai mata kuliah yang sebelumnya dia belum mengikuti. Sama Bu Ratih dijawab, nanti akan memberikan secara privat kepadanya.
Jam makan siangpun tiba. Bu Ratih menuju kantin untuk mengisi perutnya. Setelah memesan dia langsung mencari tempat duduk yang kosong.
Tak menyadari kalau Vanya telah ikut duduk di sampingnya.
"Hai Bu Ratih. Vanya boleh gabung sini, kan?" ucapnya manja.
"Iya, boleh dong. Silahkan duduk sini.!" seru Bu Ratih seraya menunjuk tempat di sisinya.
"Bu, Vanya boleh tanya sesuatu, nggak sama Bu Ratih.?" ucap gadis itu malu-malu.
"Maaf sebelumnya, ya Bu. Bu Ratih sudah menikah apa belum?" pertanyaan Vanya membuat Bu Ratih mau kesedak. Kemudian dia tersenyum dan menepuk pundak Vanya.
"Kenapa kamu, bertanya seperti itu.?" ucap Bu Ratih.
"Karena Bu Ratih cantik, pasti orang cantik cepat nikahnya?" ucap Vanya polos.
"Ya ampun, Vanya. Belum tentu juga kali. Buktinya Bu Ratih baru menikah sebulan yang lalu. Padahal saat ini usia Ibu sudah masuki dua puluh tujuh tahun." jelasnya.
"Wuaaah, terlambat saya, Bu." ucapnya lirih.
__ADS_1
"Maksud kamu, apa Van?" kini Bu Ratih dibikin bingung dengan kalimat Vanya.
"Tadinya mau saya jodohin dengan Papa saya, Bu." kalimat itu keluar dari mulut gadis sepolos Vanya.
"Hemm.., maaf, emang Mama kamu kemana?" tanya Bu Ratih.
"Mama saya sudah meninggal, Bu." jawabnya sambil matanya berkaca-kaca.
Bu Ratih yang melihat Vanya yang tiba-tiba jadi melo, dengan cepat dia meraih pundak gadis itu lalu memeluknya. Vanya merasa lega sekali berada dalam pelukan Bu Ratih. Dia menumpahkan semua air matanya dalam pelukan Bu Ratih.
"Maafin Ibu, ya Vanya. Nggak tahu kalau Mamamu sudah meninggal. Jadi Ibu tidak sengaja membuka luka lamamu." ucap Bu Ratih sambil membelai rambut Vanya.
"Iya, nggak apa-apa, Bu. Vanya aja yang cengeng tidak bisa menahan emosi." jawabnya.
"Ya sudah, sekarang dilanjut makannya. Nanti keburu nggak enak." ucap Bu Ratih.
"Iya, Bu." jawabnya.
Bu Ratih masih terbawa dalam kalimat Vanya tadi. Kenapa dia sampai berkata seperti itu. Apa itu karena dia sudah merindukan sosok seorang Ibu, atau hanya menyenangkan Papanya saja. Bathinnya.
Setelah obrolan tadi siang di kantin. Hubungan Vanya dan Bu Ratih semakin akrab. Bu Ratih selalu merespon baik setiap keluh kesah gadis itu. Dan menjadi pendengar yang baik.
Jam kuliah sudah selesai, semua berhamburan keluar ruangan. Demikian juga dengan Vanya, dia mencoba mencari seseorang. Dilewatinya ruangan Dosen sembari matanya menyebar keseluruh ruangan. Tapi, yang dicarinya nihil.
Vanya berjalan menuju pelataran kampus. Dia menunggu jemputan seperti biasa dengan duduk di kursi dekat pos satpam. Dia duduk sudah sepuluh menit tapi, Papanya belum muncul juga.
Tak lama kemudian, Bu Ratih berjalan dan menuju ke arah Vanya. Ketika menyadari bahwa Bu Ratih menghampirinya, seketika muka Vanya berubah.
"Belum dijemput, Van?" tanya Bu Ratih.
"Belum, Bu. Mungkin masih dalam perjalanan." jawabnya.
Tak lama kemudian munculah sedan warna putih masuk kepelataran kampus. Vanya seketika senang karena Papanya sudah datang menjemput. Laki-laki itu keluar dari mobilnya dan menghampiri Vanya dan Bu Ratih.
Pak Keanu tersenyum memberi hormat pada Bu Ratih. Sebaliknya Bu Ratih pun membalas dengan senyuman.
"Ayo, sayang kita pulang." ajak Papanya.
"Ayo, Pa. Tapi.., bolehkah Bu Ratih pulang bareng kita?" kalimat Vanya spontan membuat Bu Ratih dan Pak Keanu saling tatap karena kaget.
"Nggak usah, Van. Ibu naik Taxi aja!" jawab Bu Ratih.
"Nggak apa-apa, Bu. Biar sekalian jalan, jadi Bu Ratih nggak nunggu-nunggu lagi." sahut Vanya.
"Ayo Bu Ratih, bareng kita aja. Biar Bu Ratih cepat tiba dirumah Bu Ratih." kini Pak Keanu ikut bicara.
-----------------------------------
Bersambung.......
__ADS_1