
"Zi, Kak Sarah mohon kabulkanlah kali ini saja. Supaya Cindy bisa bahagia!"
Gazi bingung karena dia harus menjaga perasaan Zahra. Tapi, kalau melihat keadaan Cindy saat ini Gazi tidak tega melihatnya. Setelah dipikir-pikir, akhirnya Gazi menjawab semua dan dia mengajak Sarah untuk keluar ruangan sebentar.
"Kak, Gazi mau menuruti apa yang Cindy minta, tapi tolong ini menjadi rahasia kita saja karena saya nggak mau kalau masalah ini sampai kedengaran orang lain apalagi pacar saya." jawab Gazi.
"Iya Kak Sarah janji, Zi. Yang penting tolong buat adik saya bisa merasakan kebahagiaan sebentar saja." jawab Sarah.
Akhirnya Gazi mendekati Cindy yang masih terbaring. Tangannya mencoba memegang tangan Cindy yang ada infusnya.
"Cin, iya aku mau menjadi pacar kamu. Tapi, kamu harus janji sama aku kalau kamu harus sembuh dan kembali beraktivitas." ucap Gazi sambil memandangi wajah yang lemah.
Karena keadaan Cindy masih belum pulih, dia hanya diam dan matanya kembali tertutup. Dia tertidur disaat ditinggal Sarah dan Gazi ngobrol di luar tadi.
Perlahan matanya terbuka lalu melihat kearah Gazi dan Sarah. Kemudian dia tersenyum karena tahu kalau Gazi menemaninya.
"Kamu jangan banyak bergerak dulu, yang penting sekarang sehat dulu." ucap Gazi.
"Zi, kamu mau kan jadi pacarku, nggak apa-apa dech aku jadi yang kedua asalkan aku bisa menjadi pacarmu." ucap Cindy sambil matanya berkaca-kaca.
Gazi menatap mata Cindy dengan lembut kemudian dia tersenyum. Perlahan dia memberanikan diri mencium kening Cindy.
"Iya, aku mau. Yang penting kamu harus semangat untuk sembuh." ucap Gazi.
Sontak mata Cindy berbinar karena gembira, begitu juga dengan Sarah dia tidak bisa menahan air matanya karena melihat adiknya tersenyum bahagia.
__ADS_1
"Makasi Zi, aku bahagia sekali karena telah menjadi pacar kamu. Aku janji akan berubah menjadi yang lebih baik." jawab Cindy.
"Ya sudah, kalau gitu aku pulang dulu ya. Aku tadi belum bilang sama Mama kalau kesini. Nanti dicariin karena aku tadi habis antar Kak Raka ke bandara." ucap Gazi sembari menggenggam tangan Cindy.
"Iya sayang, silakan. Aku akan disini sama Kak Sarah. Makasih ya karena telah mengantarku ke rumah sakit." jawab Cindy.
"Oh iya, mobil kamu masih di cafe aku, biar nanti aku suruh orang mengantarkan ke rumah kamu.!" ucap Gazi sambil mengambil jaketnya yang tadi dia letakan di kursi.
"Nggak usah repot-repot, biar saja disana. Nanti kan ada teman kamu itu, suruh dia bawa aja dulu." jawab Cindy.
Sarah membuka tasnya Cindy dan memberikan kunci mobil ke Gazi. Cindy tersenyum kearah Gazi dan mengangguk supaya Gazi menerima kunci yang diberikan oleh Sarah.
"Baiklah, aku sekarang pamit ya. Kamu harus sehat dan semangat untuk sembuh." ucap Gazi sambil memegang kepala Cindy.
Gadis itu mengangguk dengan semangat seolah dia merasa jadi wanita yang paling bahagia di dunia. Matanya tak lepas dari laki-laki pujaannya itu.
"Her, bingung aku. Hari ini aku telah memutuskan keputusan yang sulit. Aku telah mengkhianati Zahra." ucap Gazi sambil dia memegang kepalanya.
"Maksud kamu,?"
"Cindy itu sakitnya parah, kata dokter dia nggak boleh mikir yang berat-berat dan harus menuruti apa yang menjadi keinginannya." jawab Gazi.
"Emangnya dia sakit apa.?"
"Jantungnya bengkak, terus tadi Kakaknya bilang ke aku kalau dia sering mengeluh sakit di dadanya." jawab Gazi.
__ADS_1
"Ya ampun, kalau jantung memang rawan Zi, lalu maksud kamu telah menghianati Zahra itu apa.?" tanya Heru.
"Aku telah menerima cintanya, dari tadi dia kan minta aku menjadi pacarnya, meskiun jadi yang kedua dia mau, lalu aku nggak tega saat dia memohon sambil wajahnya memelas. Apalagi Kakaknya juga meminta aku untuk membahagiakannya walau hanya sebentar." jelas gazi.
"Ya ampun Zi, cobaanmu kok begitu sulit. Padahal kan kamu sama Zahra saling mencintai." jawab Heru.
"Ya nanti aku akan kasih pengertian sama Zahra, dia pasti bisa terima. Aku yakin kalau Zahra nggak akan marah. Awalnya aku mau menyembunyikannya, tapi setelah aku pikir mendingan aku cerita saja." jelas Gazi.
"Iya betul itu, mendingan kamu cerita saja, dari pada dia tahu dari orang lain." jawab Heru.
"Iya Her, nanti aku akan coba cerita sama dia." jawab Gazi pelan.
Akhirnya keduanya memutuskan untuk meninggalkan rumah sakit, lalu menuju cafe lagi. Tak butuh waktu lama mereka akhirmya sampai juga di cafe. Gazi langsung membelokan mobilnya setelah Heru turun.
"Her, tolong aku nitip mobilnya Cindy ya.?"
"Baik boss,!!"
Gazi melajukan kembali mobilnya ke jalan raya menuju rumahnya. Dalam perjalanan dia banyak melamun dan memikirkan apa yang telah dia putuskan barusan. Dia sangat mencintai Zahra tapi dia jadian sama cewek lain.
Keadaan yang mendesak Gazi untuk menerima Cindy menjadi kekasihnya. Kalau bukan karena dia sakit mana mungkin Gazi mau menerima cewek urakan seperti Cindy.
Tapi hari ini status urakan yang biasa disandang Cindy langsung hilang jika melihat keadaannya kali ini. Sekarang dia terbaring tak berdaya di atas tempat tidur rumah sakit.
"Cindy, aku janji akan membantu kamu untuk sembuh dan menjadikanmu menjadi perempuan yang berguna." ucap Gazi pelan.
__ADS_1
--------------------------------
Bersambung....