BU DOSEN CANTIK

BU DOSEN CANTIK
SEASON DUA Part : 57 (Jakarta again)


__ADS_3

Akhirnya mereka sampai juga di Jakarta. Gavin dan Bu Ratih siap meninggalkan Bandara. Pak Narto sudah berdiri menunggu majikannya.


"Selamat datang kembali, Den Gavin dan Non Ratih" sapa Pak Narto sambil membantu mengangkat barang-barang.


"Pagi, juga Pak Narto." jawab Gavin.


"Pak Narto sudah dari tadi?" tanya Bu Ratih.


"Emggak Non, bari lima belas menit yang lalu, kok." jawab Pak Narto.


Masuklah mereka bertiga ke dalam mobil. Pak Narto mengemudikan mobil dengan santai. Gavin dan Bu Ratih ketiduran, mungkin karena kecapekan.


Sampai juga mereka dirumah, lalu Pak Narto mengeluarkan barang-barang dari bagasi mobil. Gavin dan Bu Ratih melangkah gembira memasuki rumah mereka. Sedangkan penghuni rumah semuanya kumpul di ruang tengah.


"Haii.. akhirnya pengantin baru sudah datang." seru Bu Hesty ketika melihat kedatangan Gavin dan istrinya.


Pak Indra, serta Mahen dan istrinya menyambut kedatangan mereka dengan senyum kegembiraan. Bu Hesty menyuruh anak dan menantunya untuk gabung dengan mereka.


"Gimana, sayang. Bulan madunya menyenangkan bukan?" tanya Bu Hesty kepada menantunya.


"Alhamdulilah, senang Ma. Bisa lepas sejenak dari rutinitas pekerjaan." jawab Bu Ratih.


"Oh iya, Vin. Besok Kakak sudah bisa nempati rumah baru, lho?" seru Mahen.


"Woow.. keren tuh.! ada perayaan dong, Kak?" ucap Gavin.


"Iya, tapi, buat keluarga dekat aja." jawab Mahen.


"Tapi, kita jadi jarang ketemu, dong.?" ucap Gavin sambil mukanya cemberut.


"Aduuuh, rumahnya nggak jauh kok. Paling lima belas menit dari sini." jawab Mahen.


"Tapi, kalau Gavin pingin nginep sana, nggak apa-apa kan, Kak?" tanya Gavin.


"Nggak apa-apa lah. Rumah Kakak terbuka untuk kalian." seru Mahen.


"Gimana, nih. Ada oleh-oleh buat Papa, nggak?" seru Pak Indra.


"Oh iya, Pa. Keasyikan ngobrol jadi lupa sama oleh-olehnya." jawab Gavin.


Akhirnya Gavin dan Bu Ratih mengeluarkan barang belanjaan. Semua kebagian oleh-oleh. Mulai dari Papa Mamanya, Kakak serta Kakak iparnya semua dapat. Bahkan, pembantu dan sopir serta satpam juga kebagian. Gavin memang terkenal santun dan dermawan mewarisi sifat Papanya.


.


.


Sore harinya, Gavin dan Bu Ratih pergi menuju rumah Bu Ratih untuk memberikan oleh-oleh serta mengundang keluarga Bu Ratih dalam acara syukuran rumah baru Kakaknya.


Sampailah mereka dirumah Bu Ratih. Gavin memarkirkan mobilnya di garasi karena malam ini mereka berniat menginap disini.

__ADS_1


Baru saja mereka menginjakan kaki di teras, munculah Winda dari dalam.


"Mama.,! ada Mbak Ratih dan Mas Gavin." teriak Winda dari luar.


Winda langsung menyambut Kakaknya dengan gembira. Membantu membawakan tas yang ditenteng Bu Ratih. Gavin mengacak rambut Adik iparnya dengan tersenyum.


"Mama, Ratih kangen.!" seru Bu Ratih seraya memeluk Mamanya dengan manja.


Gavin mencium punggung tangan mertuanya itu. Kemudian dia duduk di ruang tengah. Bu Ratih dan Mamanya mengikuti duduk.


"Gimana, Nak. Bulan madunya lancar.?" tanya Bu Rahma.


"Alhamdulilah, Ma. Lancar, Ratih dan Gavin menikmati bulan madu kami dengan indah." jawab Bu Ratih.


"Oh iya, Ma. Ini kami bawain oleh-oleh buat keluarga disini." sahut Gavin.


"Oh, terma kasih, Nak." jawab Mamanya.


Kemudian Gavin mengeluarkan barang-barang yang ada di dalam tas. Bu Ratih membantu Gavin mengeluarkan.


"Winda, panggil Mas mu sama Mbak mu" ucap Bu Rahma.


"Baik, Ma." jawab Winda seraya melangkah menuju kamar Kakaknya.


Tak lama kemudian Bagas dan istrinya muncul dan bergabung dengan mereka. Sekarang semua ngumpul diruang tengah sambil melihati oleh-oleh.


Tanpa mereka sadari hari sudah gelap, Bu Rahma mulai menyiapkan makan malam dibantu Irene dan Bu Ratih. Setelah satu jam kemudian akhirnya selesai juga. Bu Ratih membantu Kakak iparnya memindahkan makanan ke meja makan.


Malam pun tiba, Gavin dan Bu Ratih beranjak menuju kamarnya buat istirahat. Ini kali pertama bagi Gavin tidur dirumah mertuanya. Bu Ratih membuka kamarnya yang telah beberapa hari ia tinggalkan.


Gavin mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan. Bu Ratih hanya tersenyum manis ketika mendapati suaminya yang begitu terhipnotis dengan suasana kamar.


Kamar Bu Ratih memang tak sebesar kamarnya, cuma kali ini dia begitu terkesima melihat tatanan yang ada di kamar itu. Semuanya begitu tertata rapi dan bagus. Selain tempat tidur, meja rias serta lemari, disitu juga ada rak yang khusus buat naruh beberapa koleksi buku-buku.


Gavin menghampiri rak tersebut, matanya menjelajahi semua isi rak. Diambilnya salah satu buku yang tertata rapi di rak tersebut, kemudian membukanya. Matanya memperhatikan lembar demi lembar buku itu. Lalu di kembalikannya ke tempatnya.


Kemudian Gavin menghampiri istrinya yang duduk di tepi tempat tidur. Dia meraih tangan istrinya kemudian mengecup punggung tangannya seraya berucap, "Kamu, wanita terhebatku setelah Mamaku."


Bu Ratih menyambut genggaman tangan suaminya. Kemudian ganti sekarang tangan suaminya yang dicium. "Aku bangga sekali sama kamu, sayang."


"Aku baru tahu kalau istriku ini adalah pecinta buku. Kamu, sudah baca semua buku-buku ini?" tanya Gavin.


"Iya sudah, sayang. Sebaian hanya novel biasa saja, kok. Aku memang tidak pernah cerita kalau aku punya koleksi buku yang lumayan. Sebagian itu buku-buku waktu aku ambil study S2 aku di Jepang. Berhubung otak istrimu ini sedikit encer, jadi biaya semua kuliahku S2 ditanggung pihak Kampusku. Tadinya, aku ngajar di kampusku di Jogja, berhubung keluargaku pindah ke Jakarta, karena usaha Papaku disini perkembangannya lumayan, jadi semua keluarga diboyong. Dulu sebelum aku ngajar dikampus dimana kamu kuliah, aku ngajar dikampus lain." jelas Bu Ratih.


"Semakin cinta aku sama kamu, sayang. Ternyata istriku ini selain cantik, tapi juga pinter." ucap Gavin sambil mencubit hidung istrinya.


Gavin kemudian menghempaskan tubuhnya diatas kasur. Dia nampak lelah karena belum sempet istirahat semenjak kepulangannya dari Bali.


Bu Ratih membiarkan suaminya yang akhirnya ketiduran. Kini dia membereskan beberpa pakaian yang ia bawa untuk dimasukkan ke dalam lemari. Ada beberapa potong pakaian suaminya yang sengaja dibawa untuk jaga-jaga jika menginap disini.

__ADS_1


Dipandanginya wajah suaminya yang terlihat lelah. Wajah dimana kali pertama dia ketemu disaat dia berangkat kuliah sambil berlarian karena mengejar waktu yang sebentar lagi habis. Bu Ratih tersenyum manis ketika teringat masa-masa itu.


***


Bu Ratih terperanjat kaget melihat jam di dinding sudah menunjukan pukul tujuh pagi. Cahaya mentari pagi menyusup masuk lewat jendela dan menimbulkan hawa hangat seantero kamar.


Bu Ratih bergegas ke kamar mandi. Sedangkan suaminya masih dibiarkan tertidur. Setelah selasai mandi, kemudian dia berpakaian. Berhubung hari ini hari terakhir dia ambil cuti, jadi hari ini masih santai.


"Sayang, ayo bangun. Sudah siang, nih.! bisik Bu Ratih ke telinga suaminya.


Seketika Gavin membuka matanya dan mendapati istrinya yang sudah cantik dan wangi. "Kamu, sudah bangun.?"


"Aku sudah bangun dari tadi, sayang. Sekarang kamu bangun dan mandi, aku ke bawah dulu liat Mama masak apa?" ucap Bu Ratih sambil mengelus pipi suaminya.


Gavin mengangguk pelan seraya menyentuh pipinya yang bekas tangan istrinya itu. Bu Ratih melangkah keluar kamar dan menghilang dibalik pintu.


"Ma, sekarang masak apa?" tanya Bu Ratih setibanya di dapur.


"Ini mau bikin sayur asem sama pepes." sahut Bu Rahma dengan tangan yang masih sibuk diatas meja dapur.


"Mas Bagas sama Winda sudah berangkat?" tanya Bu Ratih.


"Sudah, tadi mereka Mama bikinin nasi goreng buat sarapan." sahutnya.


"Mbak Irene kemana, Ma?" tanyanya lagi.


"Mbak mu tadi pagi dapat telepon dari rumah sakit, kalau ibunya perlu sesuatu." jawab Bu Rahma.


"Oh iya, ibunya Mbak Irene kan dirawat, gimana perkembangannya, ya?" gumam Bu Ratih.


Selama ini memang nggak terdengar kabar dari mertua Kakaknya itu. Selama menikah dengan Bagas, semua biaya dan biaya perawat yang jaga dari Bagas dan Irene. Untung saja usaha cathering Irene sekarang berkembang pesat. Kini dia sudah punya kantor dan tempat produksi meskipun masih kecil-kecilan.


Jadi, masalah biaya perawatan ibunya bisa dibilang nggak begitu menyusahkan.


Irene adalah sosok yang kuat menghadapi semua cobaan hidup, mungkin karena itulah Bagas jadi jatuh cinta. Cuma yang masih misterius adalah, kemana Ayah Irene selama ini? dari pertama kenal dia bilang Ayahnya sudah mggak mau urusi ibunya yang penyakitan.


"Sayang, sayang!" teriak Gavin dari atas sambil berlarian.


"Ada apa, sayang?" tanya Bu Ratih pada suaminya.


"Mas Bagas barusan telpon, karena telpon kamu nggak kamu angkat." ucap Gavin.


"Iya, poselku aku charger terus aku silent." jawab Bu Ratih.


"Mas Bagas telpon, kalau Ibunya Mbak Irene kritis.!"


Bersambung......


Jangan lupa koment, like dan vote nya, ya...

__ADS_1


love you all.


Author..


__ADS_2