BU DOSEN CANTIK

BU DOSEN CANTIK
SEASON TIGA Part : 179 (Masalah baru)


__ADS_3

Gavin lalu memandang Pak Fajar. Dia kemudian memyuruh karyawannya tadi untuk kembali dan dia melanjutkan obrolannya dengan Pak Fajar.


"Kok bisa seperti itu, Pak. Bukannya itu sudah menjadi hak milik pihak hotel?" tanya Gavin.


"Iya, Pak. Sebentar, saya cek ke lapangan dulu."


"Ayo, saya harus ikut untuk melihat situasinya." ucap Gavin.


Kemudian Gavin dan Pak Fajar keluar ruangan lalu menuju tempat pembagunan resort. Ternyata ada banyak orang disana berkumpul menuntut pengembalian tanah yang katanya menjadi hak salah satu warga.


"Maaf, sebenarnya ada apa ini!" seru Gavin.


"Maaf, Pak. Kami disini mewakili salah satu warga yang merasa bahwa tanah ini masih menjadi hak milik dia." ucap salah satu warga yang hadir disitu.


"Kenapa dia nggak sendiri yang datang, malah menyuruh Anda?" tanya Gavin balik.


"Karena dia sudah menghibahkannya kepada warga guna dibangun fasilitas umum untuk warga setempat." jawabnya.


"Maaf sebelumnya, Pak. Saya pemilik sah Hotel dan Resto ini. Memang saya mendapatkan dari orang tua saya, yang sebelumnya pemilik sah ini. Soal tanah ini sengketa apa nggak, terus terang saya nggak tahu menahu soal itu. Yang jelas, saya punya bukti-bukti sah atas kepemilikan ini semua dan semuanya saya simpan. Kalau memang Anda sekalian merasa kurang puas, silahkan bisa menuntut, dan saya akan serahkan semua ini pada pengacara saya. Saya harap, jangan sampai Anda sekalian membuat keributan disini dan mengganggu para pekerja saya. Terima kasih." jelas Gavin dengan lantang.


Semua yang hadir disitu diam tanpa berani membantah sama sekali. Pak Fajar tersenyum melihat ketegasan bosnya ini. Perlahan warga satu persatu meninggalkan tempat itu. Kemudian akhirnya tinggal para pekerja proyek dan karyawan hote.


"Ya sudah, Bapak-bapak. Maaf atas ketidak nyamanan Bapak-bapak dalam bekerja kali ini, sekarang kalian bisa melanjutkan pekerjaan kalian lagi." ucap Gavin.


"Pak Gavin, Anda hebat Pak. Semua warga akhirnya bisa bubar hanya dengan satu penjelasan." ucap Pak Fajar.


"Saya bicara apa yang seharusnya saya bilang, Pak. Kalau mereka nggak puas biar saja mereja menuntut." ucap Gavin.


"Saya rasa semua ini ada yang memprovokatori, Pak." sahutnya.


"Jelas ada. Mereka nggak mungkin berani kalau nggak ada yang mendalangi." jawab Gavin.


"Siapa, ya Pak.?"


"Saya juga nggak tahu, dan saya nggak mau berprasangka dulu. Biarkan saja, Pak. Saya yakin kalau semua hanya gretakan saja." jawab Gavin.


Ahkirnya Gavin dan Pak Fajar kembali ke dalam. Semua pekerja kembali mengerjakan pekerjaannya kembali. Semua masalah kalau dihadapi dengan kepala dingin pasti akan membuahkan jawaban yang tenang dan damai.

__ADS_1


Gavin diajarkan Papanya untuk selalu tenang dalam memyikapi setiap masalah. Seorang pemimpin itu harus terlihat tegas biar anak buahnya merasa terayomi. Harus juga bisa sabar dan tidak mudah emosi biar tidak akan menimbulkan keributan sehingga para karyawan merasa aman. Dan yang penting juga, harus jujur.


Sesampainya diruangannya, Gavin kembali duduk dan menatap lagi laptopnya. Hari ini satu masalah bisa dia lewati dengan tenang dan lancar.


.


.


.


Ditempat yang berbeda, Bu Ratih habis menyelesaikan satu mata kuliah. Dia kini tinggal menunggu satu kelas lagi. Nggak terasa ujian semester sudah didepan mata. Lambat laun dia bisa melalui tahapan dalam perkuliahannya.


"Bu Ratih, Prof Arif tadi saat memberikan materi kuliah, dia selalu memuji Bu Ratih." ucap Bu Aliyah tiba-tiba.


"Ah Bu Aliyah bisa saja, jangan berlebihan dong. Bisa besar kepalan nih" jawab Bu Ratih sambil menyunggingkan senyuman.


"Tapi benar lho, Bu. Bu Ratih ini memang hebat. Sudah cantik, baik, pintar pula." puji Bu Aliyah.


"Makasih, Bu. Tapi, saya merasa saya ini juga nggak ada apa-apanya. Bu Aliyah juga baik, pinter dan penyayang." ucap Bu Ratih.


"Ah Bu Ratih jangan mengada-ada, dong. Saya kan jadi malu. Hehehe" jawab Bu Aliyah sambil tersenyum.


"Lumayan, Bu. Kita bisa kumpul keluarga walaupun cuma tiga hari." ucap Bu Aliyah.


"Iya, Bu. Saya juga bisa menghabiskan waktu bersama anak-anak." jawab Bu Ratih.


Mereka terus ngobrol seputar kuliah dan keluarganya. Bu Ratih terlihat senang saat menceritakan keluarganya sama Bu Aliyah. Dia begitu menyayangi keluarganya dan sangat care terhadap keluarganya.


.


.


.


Saat pulang kampus, Bu Ratih dijemput Santo seperti biasa. Setelah sampai rumah, dia sedang mendapati Cantik lagi digendong babysitternya. Senyuman sumringah Bu Ratih terlihat ketika dia menatap wajah putri kecilnya.


"Anak Mama dah bangun, nih." ucapnya sambil memegang pipi Cantik.

__ADS_1


"Baru saja Non Cantik bangun, Bu. Dia pintar sekali, nggak pernah rewel maupun nangis." ucap Susi.


"Dia memang anak pinter, Sus. Beruntung sekali saya punya anak sepintar Cantik." jawab Bu Ratih.


"Den Raka masih tidur, Bu. Tadi pas pulang dari sekolah, dia langsung makan lalu sekarang tertidur di kursi ruang tengah." jawab Susi.


"Baiklah, saya bersih-bersih dulu, ya Sus. Tolong, jagain dulu Cantik." jawab Bu Ratih.


"Baik, Bu."


Bu Ratih masuk kamarnya kemudian dia bersih-bersih badan dulu. Sekitar dua puluh menit dia sudah selesai lalu keluar kamarnya. Cantik lagi main ditemani babysitternya.


"Bu Ratih makan aja dulu, Non Cantiknya juga lagi maen." ucap Susi.


"Iya nanti saja sekalian nunggu Pak Gavin. Saya masih kenyang tadi di kampus makan nasi uduk sama teman saya." jawab Bu Ratih.


"Bu Ratih ini hebat, ya. Sudah cantik, awet muda dan di usia yang seperti saat ini masih mau melanjutkan kuliah." ucap Susi.


"Mumpung masih diberi kesempatan untuk terus belajar, Sus. Jadi, kita gunakan waktu itu dengan sebaik-baiknya." jawab Bu Ratih.


"Iya, Bu. Lain dengan saya. Masih muda tapi nggak pernah mengenyam pendidikan setinggi Bu Ratih." ucap Susi sambil nenunduk.


"Sus, jangan patah semangat. Belajar itu nggak mengenal usia. Saat kita dikasih kesempatan untuk belajar saat diusia sudah nggak muda lagi, nggak apa-apa. Terus saja belajar." jawab Bu Ratih.


"Iya, Bu. Saya sebenarnya ingin melanjutkan sekolah sampai sekolah menengah atas saja, biar buat bekal melamar pekerjaan pendidikan SMU masih sedikit dipertimbangkan dibanding ijazah SMP. Tapi, mau gimana lagi saya nggak punya biaya buat lanjutin sekolah." ucap Susi.


"Kamu yang sabar, suatu saat kamu pasti bisa melanjutkan sekolah." jawab Bu Ratih.


Ketika mereka ngobrol-ngobrol, si sulung bagun dan menghampiri Mamanya yang lagi duduk-duduk santai.


"Eh, si Kakak sudah bangun. Sini, Nak sama Mama!" ucap Bu Ratih sambil memeluk Raka.


"Bu Ratih begitu beruntung, punya dua anak yang lucu-lucu. yang cowok ganteng, yang cewek cantik. Pas banget, ya Bu." ucap Susi.


"Iya, Sus. Makasih."


"Andai kamu tahu, kedua anakku ini tidak pernah lahir dari rahimku sendiri. Keduanya itu lahir dari rahim ibunya masing-masing. Memang aku sangat beruntung, mempunyai kedua malaikat kecil ini." ucap Bu Ratih dalam hati.

__ADS_1


---------------------------------


Bersambung...


__ADS_2