
Raka kaget karena halaman disamping disulap begitu rupa. Bu Ratih yang melihat Raka melongo melihat kearah tempat itu kini tersenyum.
Kemudian Raka menoleh kearah Mamanya dan tersenyum. "Kenapa, Nak." ucap Bu Ratih.
"Mama yang menyiapkan ini semua?" tanya Raka.
"Semuanya, Kak. Semua yang sayang sama kamu, semua melakukan ini." jawab Bu Ratih.
Tak lama kemudian muncul Cantik dan Papanya, disusul Dara dan Budhe Rahayu. Raka semakin bingung, karena dia merasa dikerjain semuanya. Bu Ratih hanya tersenyum disamping anak sulungnya itu.
Tak lama kemudian Gazi datang membawa kue ulang tahun besar sekali. Suasana semakin haru bercampur gembira. Kini semuanya berkumpul dihalaman samping.
Gazi meletakan kue itu dimeja yang sudah disediakan, kemudian dia dosuruh ambil kue yang ada di mobil Raka.
"Ka, mana kunci mobilmu?" tanya Dara.
"Ada di atas meja."
"Zi, tolong ambilin kue yang ada di mobil Raka." titah Dara.
Tak lama kemudian Gazi masuk kembali membawa kotak berisi kue ulang tahun juga. Lalu Gazi meletakannya disamping kue yang dia belikan tadi.
Gazi lalu menyalami Bu Ratih dan Gavin. Dia mencium tangan mereka, dan disaat dia menyalami Gavin, langsung saja laki-laki dewasa itu memeluk pemuda itu. Suasana akhirnya sedikit terharu karena Gavin dan Gazi berpelukan.
Perlahan pelukan itu dilepaskan, kini mereka melanjutkan lagi acara surpprise party buat Gazi itu.
"Kak, semua ini rencana adik dan kita semua yang disini. Cantik, Dara, Gazi dan semuanya ikut andil dalam acara ini." jelas Bu Ratih.
"Ya ampun, jadi tadi Mama telpon Dara juga bagian dari skenario." tukas Raka.
"Iya, sayang. Memang Dara sengaja biar dijemput sama Cantik." jawab Bu Ratih.
"Raka, selamat ulang tahun, ya Nak. Semoga kamu panjang umur, tetap sehat, cepet lulus dan sayang sama keluarga." ucap Gavin sembari memeluk Raka penuh haru.
"Iya, sayang. Mama juga ucapkan selamat ulang tahun, panjang umur dan baik-baik menyertai kamu semua." kini Bu Ratih berucap sambil memegang pipi Raka lalu memeluknya.
Akhirnya satu persatu satu mereka yang hadir disitu mengucapkan selamat ulang tahun buat Raka. Cantik memeluk Kakaknya beserta memberikan kado buat Kakaknya itu.
Gazi juga nggak mau ketinggalan, dia mengucapkan selamat ulang tahun buat Kakaknya yang kini tengah berulang tahun.
__ADS_1
"Kak, selamat ulang tahun, ya. Semoga sukses kedepannya." ucap Gazi sambil memeluk Raka.
"Makasih, ya Dek. Sekarang aku punya dua adik. Kamu sama Cantik kedua adikku yang aku sayang." ucap Raka.
Gavin mendekati kedua anak laki-lakinya itu. Dia lalu ikut memeluk kedua jagoannya itu.
"Papa harap, kalian rukun semua. Nggak boleh bertengkar dan yang penting, kalian harus saling membantu." ucap Gavin.
"Iya, Pa." ucap Raka.
"Iya, Pa." kini Gazi ikut menjawab.
Bu Ratih tersenyum dan matanya berkaca-kaca. Cantik yang mengetahui Mamanya bersedih langsung saja dia memeluk Bu Ratih. Suasana haru biru hadir lagi. Semuanya jadi ikut baper.
"Ayo sudah, sekarang kita mulai tiyp lilinnya." sahut Gavin.
"Eiitss, tunggu dulu Pa. Ada yang ketinggalan, nih.!" ucap Cantik sambil melirik kearah Dara.
Gavin yang melihat Dara berdiri sambil menundukan kepalanya, dia langsung ingat kalau Dara memberikan ucapan selamat ulang tahun buat Raka. Seketika Gavin langsung bergeser memberikan jalan agar Dara memberikan ucapan selamat.
Dara tampak malu ketika Cantik berkata seperti itu, kini dia mendekati Raka yang masih berdiri ditempatnya. Matanya menatap Raka tanpa kedip. Memang sejak dekat Dara, Raka merasa kalau Dara adalah teman dekat yang special.
Dia ingin kalau kedepannya dia sudah siap segalanya, dia tidak akan berpacaran namun langsung menikahi Dara. Demikian juga dengan Dara, mereka berdua memang sepakat temanan dulu saling jaga hati satu sama lain. Nanti kalau memang siap semua, mereka langsung menikah tanpa ada kata pacaran lagi.
"Ka, selamat ulang tahun, ya. Semoga apa yang kamu cita-citakan lekas terkabul." ucap Dara.
Raka tersenyum menatap Dara, dia memang sangat mengagumi gadis ini, tapi untuk ke jenjang yang lebih serius, Raka ingin semuanya nanti kalau sudah pas dan siap semuanya.
Raka meraih punggung Dara lalu menarik tubuh Dara ke pelukannya. Dara kaget karena selama dekat Raka, baru kali ini dia dipeluk oleh Raka. Di depan orang tua dan lainnya.
"Makasih, ya Ra. Kamu memang sahabat yang setia. Selalu ada buat aku dimana saja dan kapanpun." jawab Raka setengah berbisik di telinga Dara.
"Baiklah, sekarang kita mulai tiup liin dan potong kuenya." ajak Cantik.
Acara tiup lilin dan potong kue pun berlangsung meriah, Raka memberikan potongan kue pertama buat Mama dan Papanya. Lalu Adik-adiknya dan terakhir buat Dara.
Lalu mereka semua menikmati hidangan yang sudah disediakan. Raka menjadi bulan-bulanan adik-adiknya dan Dara. Wajahnya yang penuh dengan coklat akibat ulah mereka.
Acarapun sudah berjalan hampir satu jam. Ini mereka tengah santai dan ngobrol-ngobrol. Gavin mencoba mendekati Gazi yang kebetulan dia lagi ambil minum. Gazi kaget saat dia membalikan badannya setelah ambil minum dia mendapati Gavin sudah berdiri dihadapannya.
__ADS_1
"Zi, Papa boleh bicara sebentar." ucap Gavin.
Gazi memganggukan kepalanya, "Iya Pa." jawabnya.
"Kita kesana," ajak Gavin sambil menunjuk kursi di teras samping rumah.
Gavin berjalan diikuti oleh Gazi. Kini mereka berdua duduk bersebelahan.
"Zi, Papa minta maaf ya, kalau selama ini kamu nggak pernah dapat kasih sayang Papa." ucap Gavin.
"Nggak apa-apa, Pa. Aku faham akan hal itu. Semuanya bukan salah Papa, kok." jawab Gazi.
"Papa kecewa sama Bundamu. Seandainya saat itu dia bilang, mungkin Papa tidak akan menanda tangani gugatan cerai Bundamu." ucap Gavin.
"Gazi nggak nyangka, kalau Kak Raka adalah Kakak kandung Gazi, Pa. Dari awal aku ketemu Kak Raka, dia memang selalu membantu Gazi. Seperti ada yang mendekatkan kita, Pa. Kak Raka baik sekali." jelas Gazi.
"Itu namanya ikatan batin Adik dan Kakak. Bagaimanapun juga kalian berdua saudara kandung satu Ayah dan Ibu. Kamu dan Kak Raka adalah anak Papa dan Bunda Kasih." jelas Gavin.
"Tante Kasih sangat baik dan sayang sama Kak Raka, ya." ucap Gazi.
"Kamu juga berhak mendapat kasih sayangnya Mama Ratih. Mulai sekarang, kalau panggil Mama Ratih saja. Dia juga Mama kamu." ucap Gavin.
"Apa boleh kalau Gazi panggil Mama juga."
"Iya lah boleh, kamu sudah dianggap anaknya sendiri oleh Mama Ratih." jawab Gavin.
"Makasih, Pa."
"Iya, sayang. Oh iya, gimana kabar Bunda?" kini Gavin mencoba menanyakan soal Kasih.
"Gazi masih kecewa sama Bunda. Tapi, Gazi tetap sayang kok. Cuma Gazi saat ini hanya kecewa saja sama Bunda." jawab Gazi.
"Tapi, sayang. Kasihan Bunda kalau kamu diemin terus. Kan bagaimanapun juga dia Ibu kamu." jawab Gavin.
"Iya, Pa. Nanti Gazi juga minta maaf sama Bunda." jawab Gazi.
Ketika mereka semua yang lagi menikmati makan di pesta uang tahun Raka, tiba-tiba Santio mendekat dan bilang kalau diluar ada tamu seorang wanita dari Jakarta.
-------------------------------
__ADS_1
Bersambung...