BU DOSEN CANTIK

BU DOSEN CANTIK
SEASON DUA Part : 82 (Kasihnya Kasih)


__ADS_3

Kasih langsung melangkah meninggalkan Gavin yang masih berdiri didepan pintu kamar. Dia mendekati Bu Ratih yang duduk diruang tengah. Kini dia duduk diaamping Bu Ratih.


"Maaf, Bu. Tadi, saya pangling liat Pak Gavin kalau pakai baju gitu. Biasanya saya lihat beliau pakai baju kerja." ucap Kasih polos.


"Kasih, saya nggak apa-apa, kok. Meskipun kamu ngobrol sama Pak Gavin, saya nggak keberatan." jawab Bu Ratih.


"Iya, Bu. Saya senang bisa membantu Bu Ratih dan Pak Gavin." jawab Kasih.


Bu Ratih memandangi Kasih dengan senyuman. Dia kagum sama Gadis ini, perjuangannya dalam mencari uang memang kuat. Dia menjadi tulang punggung keluarganya.


"Kasih, kamu boleh sabtu-minggu sesekali pulang kerumah. Toh, hari itu kan Pak Gavin libur. Jadi saya ada temannya." ucap Bu Ratih.


"Iya, Bu. Mungkin kalau ada perlu sesekali saya akan pulang, Bu." jawab Kasih.


Tak lama kemudian Gavin menghampiri mereka berdua yang lagi ngobrol. Kasih yang merasa duduk bersebelahan dengan Bu Ratih, dia tahu diri akhirnya dia pindah ke kursi yang satunya.


"Sayang, gimana keadaannya sekarang. Obatnya nggak lupa diminum, kan?" tanya Gavin.


"Sudah, sayang. Kasih yang membantuku tadi." jawab Bu Ratih.


"Kasih, terima kasih, ya. Kamu telah telaten merawat istri saya." ucap Gavin.


"Sama-sama, Pak. Saya juga senang sekali bisa membantu Anda." jawab Kasih.


Kasih kemudian berdiri meninggalkan pasangan suami istri itu. Dia ke belakang mencari Bibi untuk membantunya.


"Sayang, kapan kamu balik ke rumah sakit buat kontrol?" tanya Gavin.


"Besok, sayang. Biar nanti minta antar Pak Narto saja. Kamu kerja aja nggak apa-apa. Kan sudah ada Kasih." ucap Bu Ratih.


"Tapi, kan Pak Narto dirumah Kak Mahen sekarang?" tanya Gavin.


"Oh iya, ya. Ya sudah terserah kamu saja." jawab Bu Ratih.


"Baiklah, besok kalau waktunya kontrol aku jemput." ucap Gavin.


Tak terasa mereka ngobrol-ngobrol sudah lama. Jarum jam sudah menunjukan pukul tujuh malam. Sudah waktunya makan malam.


Akhirnya Kasih memanggil mereka untuk makan malam. Bibi sudah menyiapkan semua menu diatas meja makan dibantu Kasih. Bu Ratih dan Gavin berjalan menuju meja makan.


"Kasih, kamu sekalian makan disini saja. Oh iya, mulai hari ini dan seterusnya, kalau makan bareng-bareng aja sekalin, ya?" ucap Gavin.


"Baik, Pak Gavin." jawab Kasih.


"Iya, Kasih. Kamu kalau makan disini saja sekalian temani saya." sahut Bu Ratih.


Kasih membantu mengambilkan nasi buat Bu Ratih, lalu dia juga membantu untuk Gavin, baru dirinya. Mereka bertiga menikmati makan malam dengan lahapnya.


"Oh iya, sayang. Kasih ini ternyata dulunya pernah kursus akuntansi, lho!" tukas Bu Ratih.


"Em., yang benar sayang!" jawab Gavin nggak percaya.


"Iya, malahan aku janji akan membantu belajar untuknya." jawab Bu Ratih.


"Itu ide bagus, sayang. Aku setuju sekali." jawab Gavin.


Tak lama kemudian mereka selesai juga makan malamnya. Gavin beranjak dari tempat duduk dan membantu istrinya. Mereka kembali duduk diruang tengah.


Kasih membantu Bibi membereskan meja makan. Lalu membawanya ke dapur untuk dicuci.


"Nggak usah, Kasih. Biar Bibi aja yang mencucinya." tukas Bibi.


"Nggak apa-apa, Bi. Saya nggak ada kerjaan. Bu Ratih minum obat juga nunggu jamnya. Saya nggak enak Bi nganggur. Sungkan." ucap Kasih.


"Kamu memang gadis yang baik dan rajin, Sih. Pantas saja Pak Gavin memintamu untuk menjadi asisten istrinya." ucap Bibi.


"Ah, Bibi bisa aja, Kasih kan malu nih?" jawan Kasih.

__ADS_1


Obrolan mereka tak sengaja didengar oleh Gavin saat mau ambilkan istrinya sesuatu. Gavin tersenyum saja. Ketika mendapati asisten rumah tangganya itu, keduanya langsung menoleh.


"Pak Gavin perlu sesuatu?" ucap Bibi.


"Iya, nih. Saya perlu air hangat buat istri saya." jawab Gavin.


"Bu Ratih, kenapa Pak?" tanya Kasih kaget.


"Nggak apa-apa. Dia hanya ingin minum air putih hangat." jawab Gavin.


"Iya, siap Pak. Saya antarkan habis ini. Pak Gavin kembai saja." tukas Kasih.


Gavin tersenyum melihat sikap Kasih yang langsung sigap dan tanggap kalau ada urusannya dengan istrinya. Itu yang dia suka dari Kasih. Orangnya bertanggung jawab sama tugasnya.


Tak lama kemudian dia menuju ruang tengah. Bu Ratih duduk diruang tengah sama Gavin.


"Ini Bu airnya." ucap Kasih sambil menyodorkan segelas air putih hangat.


"Makasih Sih..," ucap Bu Ratih.


"Tadi Bu Ratih mengeluh perutnya sakit, Pak. Cuma setelah saya tanya lagi, sudah mendingan." ucap Kasih.


"Iya, Sih. Ini tadi dia juga ngeluh sakit lagi, makanya saya berinisiatif untuk kasih minum yang hangat." jawab Gavin.


"Sekalian obatmya diminum aja, Bu.?" ucap Kasih.


"Iya, nggak apa-apa. Tolong, kamu ambilkan ditempat biasa, ya?"titah Bu Ratih.


"Baik, Bu." jawab Kasih.


"Sayang, apa sebaiknya nggak kita periksakan ke Dokter soal masalah diperut kamu?" tanya Gavin.


"Nggak usah, sayang. Besok kan waktunya kontrol. Sekalian besok saja nggak apa-apa." jawab Bu Ratih.


"Ya sudah, kalau gitu." jawab Gavin.


Haripun semakim malam, kini Bu Ratih dan Gavin masuk kamar buat istirahat. Kasih membantu Bibi mengecek semua pintu dan jendela. Pak Satpam didepan sudah diinstruksikan sama Bibi buat mengunci pagar karena Tuannya sudah tidak kemana-mana lagi.


Masuklah mereka ke kamar masing-masing. Bibi masuk kamar yang letaknya tak jauh dari dapur. Dan Kasih naik keatas untuk masuk kamarnya.


Setelah masuk kamar, Kasih mulai merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur yang begitu empuk dan nyaman. Dia belum pernah merasakan tidur dengan bantal dan guling yang besar-besar.


Dia menatap langit-langit kamar yang begitu kokoh. Pikirannya melayang jauh ke hal yang dia rasakan sebelumnya. Selama ini dia memang mengagumi sosok Gavindra semenjak kejadian kecelakaan dulu. Dia merasa telah menolong seorang pangeran tampan seperti didongeng-dongeng. Tapi disaat ketemu justru kenyataan itu diluar dugaannya. Maka dikuburnya dalam-dalam pikiran dan perasaan itu. Kini dia ikhlas dan tulus mengabdi untuk membantu mereka.


(****)


Pagi harinya, Gavin berencana langsung kontrol ke rumah sakit. Untuk kantornya dia akan datang agak siangan saja. Dia barusan sudah menelpon sekretarisnya untuk datang terlambat.


Gavin pagi-pagi sekali sudah mengeluarkan mobil Mamanya. Mobil itu jarang sekali dipakai. Kali ini dia memang memakai mobil Mamanya karena dia juga akan mengajak Kasih serta.


Setelah sarapan dan semuanya siap, mereka pun berangkat.


Kasih membawa tas dan keperluan Bu Ratih. Gavin menyetir mobil dengan hati-hati.


Akhirnya sampai juga dia dirumah sakit. Gavin memarkirkan mobilnya, Kasih dan Bu Ratih masuk duluan. Nanti Gavin menyusulnya ke ruangan biasanya.


Ternyata Bu Ratih tidak antri karena dia adalah pasien pertama. Kasih kemudian membawa masuk majikannya itu tanpa menunggu Gavin.


Dokter mulai memeriksa Bu Ratih. Kasih mendampinginya. Bu Ratih juga bilang soal keluhan sering sakit perut. Semua keluhan sudah diutarakan ke Dokter. Dan Dokterpun menerima semua perkataan yang diutarakan Bu Ratih.


Setelah selesai, mereka duduk dikursi. Sedangkan Dokter masih mencuci tangannya, lalu dia membuka ponselnya dan megirim pesan ke seseorang. kemudian dia duduk didepan Bu Ratih dan Kasih.


"Ada masalah dengan perut, saya Dok?" tanya Bu Ratih.


"Begini, Bu. Keluhan sakit perut Ibu kan masih dibatas wajar, mungkin itu efek dari quret yang baru saja Ibu alami. Dilihat sampai dengan kontrol berikutnya kalau rasa nyeri atau sakit pada perut Ibu masih ada. Nanti saya akan beri tindakan lebih lanjut. Untuk sementara rutin minum obatnya saja." jelas Dokter.


"Baiklah Dok. Saya akan minum terus obatnya." jawab Bu Ratih.

__ADS_1


"Suaminya mana, kok nggak ikut?" tanya Dokter tiba-tiba.


"Suami saya tadi masih memarkirkan mobilnya, Dok. Terus saya masuk ditemani asisten saya." jawab Bu Ratih.


"Bisa saya bicara sama suami Ibu?" ucap Dokter.


"Untuk apa, Dok. Kan tadi tidak ada yang serius dengan perut saya.!" seru Bu Ratih.


"Oh tidak, ini hanya soal ceck up saja. Kalau bisa suaminya harus ikut masuk." jawab Dokter asal.


"Kasih tolong panggilkan Pak Gavin.!" ucap Bu Ratih.


"Baiklah, Bu." jawabnya.


Kasih keluar ruangan untuk memanggil Gavin. Kemudian masuklah Gavin ke ruangan itu. Bu Ratih masih penasaran apa yang akan dibicarakan mereka.


"Silahkan duduk, Pak." ucap Dokter.


"Baik, Dok." jawab Gavin.


Belum sampai bicara, tiba-tiba masuklah seorang perawat. Dia memanggil Bu Ratih untuk diajak keluar. Bu Ratih nurut saja tanpa menaruh curiga sedikitpun.


Kini tinggalah berdua Dokter dengan Gavin.


"Begini Pak, melihat keluhan istri Bapak yang sering mengalami nyeri diperut, biasanya itu ada masalah dengan rahimnya. Kalau nggak kista, miom ataupun tumor. Tapi, saya tadi belum berani bilang ke istri Bapak, takutnya jadi tambah kepikiran. Makanya saya tadi bilang nunggu saat kontrol berikutnya saja. Jika masih sering nyeri, maka akan saya beri tindakan lebih lanjut." jelas Dokter.


"Tapi, istri saya bisa hamil lagi, kan Dok?" tanya Gavin serius.


"Makanya kita lihat nanti, ya Pak. Kalau memang serius dan mengganggu rahimnya, mungkin hanya nunggu mukjizat saja. Tapi, kalau sebaliknya insyaAllah istri Bapak nggak apa-apa." jawab Dokter.


"Makasih Dok, mudah-mudahan tidak ada apa-apa." jawab Gavin.


"Iya, Pak. Amin.." jawab Dokter.


Gavin kemudian meninggalkan ruangan itu dan menuju ruang tunggu. Tak lama kemudian dia melihat Kasih dan istrinya berjalan dari apotik. Ternyata perawat itu tadi memang sengaja disuruh Dokter untuk mengajaknya keluar, karena Dokter akan bicara dengan suaminya.


"Sudah selesai, sayang. Emang ada apa?" tanya Bu Ratih penasaran.


"Nggak ada apa-apa. Sama seperti yang disampaikan sama kamu. Soal keluhan sakit perut. Kalau sampai kontrol selanjutnya masih sakit. Maka akan diberi tindakan lebih lanjut. Begitu kan?" jawab Gavin.


"Iya sih, Dokter bilang begitu tadi." ucap Bu Ratih.


"Ya sudah, ayo kita pulang. Setelah itu aku langsung ke Kantor." ajak Gavin.


Keduanya mengangguk. Kemudian mereka kembali pulang kerumahnya.


Tak lama kemudian sampailah mereka dirumah. Dan Gavin nggak turun karena langsung ke kantor.


Kasih mendampingi Bu Ratih masuk ke rumah. Lalu dia meminta untuk langsung masuk kamar karena capek. Kasih mengantarkan majikannya itu ke kamar, dan membiarkan dia untuk beristirahat.


.


.


.


Sore harinya, saat mandi. Tiba-tiba terdengar teriakan hebat dari dalam kamar mandi. Kasih yang menunggui majikannya itu langsung kaget dan bingung. Mau langsung masuk nggak bisa karena dikunci. Makanya dia hanya menggedor-gedor pintu dari luar.


"Bu, Bu Ratih! tolong buka pintunya, ada apa Bu?" teriak Kasih dari luar.


Sedangkan dari dalam hanya terdengar tangisan Bu Ratih yang nggak berhenti. Kasih lalu menyuruh menunggunya dan minta bantuan pada Bibi. Kemudian masuklah Bibi dan Kasih ke kamar. Mereka sepakat untuk mendobrak. Akhirnya berhasil. Begitu pintu terbuka Kasih dan Bibi menjerit.


"Bu Ratih..,!!


"Non Ratih.,!!


----------------------------------

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2