BU DOSEN CANTIK

BU DOSEN CANTIK
SEASON TIGA Part : 206 (Gazi sadar)


__ADS_3

Raka sudah membayar deposit ke bagian administrasi untuk Gazi.


"Oh, jadi kamu sudah dari sana?" tanya Gavin.


"Iya, Pa. Tadi Raka lewat depan bagian administrasi lalu keingat pesan suster kemarin malam. Ya sudah Raka bayar." jawabnya santai.


"Kasih, itu sudah dibayar sama Raka, jadi kamu nggak usah kesana lagi." ucap Bu Ratih.


Kasih masih terdiam dengan menatap Raka. Bu Ratih memaklumi dengan sikap Kasih yang seperti ini lantaran memang Raka anak kandungnya. Kemudian Raka mendekati Kasih dan Mamanya terus menyalami Bu Ratih dan Kasih.


"Selamat sore, Tante. Saya Raka teman kampusnya Gazi." ucapnya.


"Oh, iy..ya. Saya Kasih Bundanya Gazi." jawabnya sambil tersenyum.


Gavin dan Bu Ratih saling pandang. Sedangkan Kasih masih memandangi Raka. Demikian juga dengan Raka sesekali melirik kearah Kasih.


Tak lama kemudian Dokter keluar. "Maaf sebelumnya, saya hanya mengabari kalau operasinya berjalan dengan lancar dan pasien juga dalam keadaan stabil. Tinggal tunggu siuman saja." ucap Dokter.


Semua yang disitu berucap syukur dengan keadaan Gazi. Gavin dan Bu Ratih langsung berpegangan tangan dan saling pandang. Wajah Kasih berseri-seri karena tidak bisa membohongi bahwa saat ini dia senang sekali.


"Apa saya boleh melihatnya, Dok?" tanya Kasih.


"Boleh, asalkan jangan sampai mengganggu pasien." jawab Dokter.


Kasih kemudian masuk tanpa menoleh kanan kiri dan orang-orang disekitarnya. Dia sangat senang sekali karena Gazi akhirnya bisa melewati masa kritisnya.


Gazi hanya terbaring lemah dengan dibantu alat-alat medis yang masih melekat ditubuhnya. Kasih hanya bisa memandangi wajah anaknya itu dengan tatapan terharu.


Gavin dan Bu Ratih hanya bisa memandangi Gazi yang masih terbaring. Sedangkan yang lainnya juga memandangi Gazi dengan tatapan yang sayu dan sedih.


Tak lama kemudian tangan Gazi bergerak perlahan, seketika Kasih langsung membulatkan matanya dan tersenyum senang. Dia kemudian langsung memeluk anaknya dengan senang.


"Sayang, ini Bunda, Nak?" ucap Kasih.


"Zi, ini Nenek juga ada disini."


Gazi kemudian membuka matanya. Dia mengedarkan pandangannya keseluruh ruangan dan mulai mengabsen satu persatu siapa yang ada di dalam ruangan tersebut.


Kemudian dia kembali menatap Bundanya yang masih memegang tangannya erat sekali. Lalu dia tersenyum kearah Kasih.


"Bun, Gazi dimana ini.?"


"Kamu dirumah sakit, Nak. Kemarin kamu mengalami kecelakaan." jawab Kasih pelan.

__ADS_1


"Oh iya, Gazi ingat sekarang. Waktu itu aku dari rumah teman Gazi bareng sama Dara dan Tyo." Gazi berucap menceritakan kejadian.


"Kamu jangan banyak bicara dulu, Zi." kini Pak Fajar ikutan bicara.


"Gazi sudah nggak apa-apa, kok Om."


Lalu pandangannya beralih pada Gavin dan Bu Ratih dan tersenyum, demikian juga dengan Gavin dan Bu Ratih membalas dengan senyuman juga. Setelah itu dia melihat Raka berdiri disamping Dara.


"Dara, kamu nggak apa-apa.?"


"Nggak apa-apa, Zi." jawab Dara.


"Kak Raka,!"


"Iya, Zi. Kakak ada disini." jawab Raka sambil mendekati Gazi.


Kasih heran kenapa mereka begitu akrab, apakah insting seorang saudara sudah mereka rasakan. Melihat kedua pemuda dihadapannya ini membuatnya dia tidak bisa menahan air matanya. Buru-buru dia keluar kamar sambil menangis.


Gavin dan Bu Ratih saling pandang ketika melihat Kasih keluar sambil menangis. Sedangkan Gazi sedikit bingung dengan sikap Bundanya barusan. Dia mengernyitkan alisnya tanda kebingungan.


"Zi, sudah kamu istirahat saja. Nenek akan disini menjaga kamu."ucap Neneknya.


"Bunda kenapa menangis, Nek?" tanya Gazi heran.


Bu Ratih keluar dan mencoba untuk melihat Kasih. Gavin masih didalam kamar dengan yang lainnya.


"Sih, sudah tenangkan diri kamu. Gazi nanyain kamu itu,lho?" ucap Bu Ratih.


"Maafkan aku, Mbak. Aku terlalu cengeng. Saat melihat Raka dan Gazi berpelukan dan memanggil Kakak hati ini rasanya nggak karuan." jawab Kasih.


"Raka dan Gazi memang sebelumnya sudah kenal, dan Gazi manggil Raka dengan sebutan Kakak lantaran Raka Kakak tingkatnya." ucap Bu Ratih.


"Iya, Mbak. Saya faham akan hal itu. Terus aku harus bilang apa sama mereka berdua." ucap Kasih.


"Nggak usah jawab apa-apa. Biarkan tetap seperti ini saja." tukas Bu Ratih.


Tak lama kemudian, disaat Kasih dan Bu Ratih lagi ngobrol. Tiba-tiba datang seorang laki-laki dengan seorang perempuan. Kasih terkejut dengan kedatangan mereka.


"Mas Rahman," gumamnya.


"Bun, gimana keadaan Gazi?" tanya Rahman.


Kasih nggak langsung menjawab tapi dia langsung memegang tangan suaminya lalu mengajaknya sedikit menjauh.

__ADS_1


"Gazi tidak apa-apa. Dia sudah baikan. Dan aku minta sama kamu, Mas. Disini ada Mas Gavin dan istrinya, aku harap kamu jangan bicara macam-macam sama mereka. Biar masalah ini aku selesaikan sendiri dan kamu jangan ikut campur.!" tukas Kasih tegas.


"Iya, cuma ijinkan aku untuk melihat Gazi." ucapnya pelan.


"Silahkan." jawab Kasih.


Kemudian Rahman masuk diikuti istri mudanya masuk kedalam kamar Gazi. Semua yang ada diruangan itu spontan kaget karena kedatangan Rahman dan istri mudanya.


Gavin menatap kearah Rahman dan istrinya saat mereka masuk ke kamar. Rahman sempat menatap kearah Gavin yang berdiri tak jauh dari tempat tidur Gazi.


"Ayah.,!"


"Gazi, Kamu kok bisa seperti ini. Apa yang kamu rasakan sekarang." tanya Rahman sambil memeluk Gazi.


"Gazi sudah nggak apa-apa, kok, Yah." jawabnya.


"Rahman,! kenapa kamu baru datang. Kemana saja kamu kemarin saat Ibu telpon?" tanyanya.


"Iya, maaf Bu. Fardhan lagi nggak enak badan juga. Ini saja habis kami bawa ke Dokter." jawab Rahman.


Tak lama kemudian Kasih dan Bu Ratih masuk dan bergabung disitu. Lalu dia mendekati Gazi yang masih terbaring, kemudian dia memeluk serta menciumi keningnya.


"Kamu jangan sakit-sakit lagi, ya Nak. Jangan bikin kawatir Bunda. Sekarang Bunda ini sendirian, di Jakarta harus mengurus kerjaan, jadi nggak bisa mememani kamu terus." ucap Kasih.


Ucapan Kasih itu memang sekilas seperti menyudutkan seseorang. Mungkin juga untuk Rahman suaminya yang sekarang memang waktunya lebih banyak bersama istri mudanya.


Tak lama kemudian, Gavin mendekati Kasih dan Gazi. Semua yang ada disitu hanya melihat apa yang akan dilakukan Gavin. Terlebih Bu Ratih, dia nggak tahu apa yang hendak dilakukan suaminya itu.


"Sih, kalau nggak keberatan. Ijinkan Gazi tinggal bersama aku dan Ratih. Selama di Jogja ini dia kan memang hanya bersama Neneknya saja, kalau tinggal sama aku dan Ratih, dia akan banyak temannya. Ada Raka dan Cantik serta aku dan Ratih. Tapi itu kalu kamu mengijinkan." ucap Gavin tiba-tiba.


Kasih langsung berdiri dan menatap kearah Gavin dengan lekat. Lalu dia menarik tangan Gavin dan mengajaknya keluar ruangan.


"Mas,! kamu kok bisa-bisanya bilang seperti itu didepan Gazi. Apakah kamu ingin dia tahu semua kebenarannya." ucap Kasih keras.


"Apa kamu bilang, aku melakukan ini karena murni memang aku Ayah kandungnya, selain itu aku kasihan sama dia yang harus tinggal sama mertua kamu yang sudah tua juga. Apalagi dia sekarang habis sakit. Tapi, aku tidak egois, dan aku tidak memaksakan. Cuma aku hanya kecewa saja sama kamu." jawab Gavin keras.


"Tapi tindakan kamu ini akan membuat dia jadi curiga." Kasih terus menjawab.


"Curiga apa, kalau kita nggak bilang apa-apa sama dia, pasti dia nggak akan curiga. Mungkin dia mengira apa yang aku lakukan ini karena aku orang tuanya Raka yang notabene sekarang sudah menjadi sahabat dekatnya. Bukan faktor yang lain." ucap Gavin.


Kasih jadi menurunkan emosinya, apa yang di bilang Gavin menurutnya ada benarnya juga. Sekarang Gazi adalah sahabatnya Raka di kampus. Wajar jika dia menawarkan hal itu sama dirinya.


--------------------------------

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2