BU DOSEN CANTIK

BU DOSEN CANTIK
SEASON DUA Part : 90 (Masuk kerja)


__ADS_3

Sasha sontak lemas, dia hampir saja terjatuh, tapi Gavin dengan sigap menahannya dari belakang. Kalau bukan dia siapa lagi laki-laki disitu untuk menahan badan Sasha. Untungnya Bu Ratih itu orangnya pengertian, jadi tidak ada rasa cemburu sedikitpun ketika suaminya membantu Sasha.


Perempuan paru baya yang tak lain adalah Tantenya Seno, kini dia nampak terkejut dan histeris. Bu Ratih mencoba menenangkan Tantenya itu. Sedangkan Pak Indra dan Bu Hesty membantu menenangkan Sasha.


Setelah semuanya lebih tenang, keluarga disuruh urus keperluan untuk jenazah. Gavin membantu untuk mengurusnya. Setelah semuanya melihat jenazah Seno dikamar jenazah, keluarga menunggu untuk kepulangan.


(****)


Hari ini pertama kalau Bu Ratih masuk ngajar setelah tuga bulan cuti. Kemarin seharian capek banget, habis menjenguk keponakan, lalu melayat ke pemakamannya Seno, baru pulang sore harinya.


"Sayang, nanti aku habis drop kamu dikampus, aku mampir ke kantor cabang, mau ngasih berkas ke Pak Joko dari Kak Mahen." ucap Gavin.


"Ya ampun sayang, itu apa malah nggak muter-muter. Kantor Kak Mahen mana, kampusku mana. Mending aku pakai taksi saja.!" jawab Bu Ratih.


"Jangan.! kamu nggak boleh ke kampus sendiri. Nggak apa-apa aku antar.!" seru Gavin.


Saat mereka ngobrol dimeja makan, tiba-tiba bel berbunyi. Seketika Kasih berjalan keluar dan membukakan pintu. Lalu Kasih masuk diikuti oleh pemuda.


"Bu Ratih, ada yang mencari." ucap Kasih.


Bu Ratih seketika menoleh, lalu matanya berbinar pertanda senang sekali.


"Farrel.! tumben kamu pagi-pagi kesini.?" tanya Bu Ratih.


"Tadi aku habis dari rumah Kak Irene, lalu Tante Rahma nitipin ini buat Kak Ratih." jawab Farrel sembari menyerahkan bungkusan kepada Bu Ratih.


"Oh makasih, apaan ini?" gumam Bu Ratih lirih sambil membuka bungkusan itu.


"Ayo Rel, ikut sarapan sekalian.!" seru Gavin.


"Aku sudah sarapan dirumah Tante Rahma." jawab Farrel sambil mendaratkan tubuhnya dikursi.


"Oh rendang..! kesukaanku ini." seru Bu Ratih sembari tersenyum.


"Buat bekal aja, sayang. Biar nanti makan siang kamu nggak usah susah cari makan." ucap Gavin.


"Benar juga, sayang. Kasih, ini tolong, siapkan buat bekal saya." titah Bu Ratih.


"Baik, Bu." jawab Kasih pelan.


"Kak, itu siapa? asisten Kak Ratih?" tanya Farrel sambil mengangkat sebelah alisnya.


"Hemm., kenapa, kamu naksir? terus Vanya gimana?" tanya Bu Ratih.


"Soal Vanya, Farrel nggak tahu Kak. Aku sudah mencoba mengalah dan menjalani hubungan ini supaya kedepannya bisa baik. Tapi, Kak Ratih tahu sendiri, kan. Vanya itu anaknya gimana?" jawab Farrel sambil cemberut.


"Iya, juga sih. Yang sabar aja. Nanti pasti ada jalan keluarnya." jawab Bu Ratih.


"Sayang, kamu berangkat sama Farrel aja, ya? Aku langsung ke kantor Kak Mahen." ucap Gavin.


"Iya, sayang. Aku sama Farrel aja. Kamu ati-ati, ya sayang.!" jawab Bu Ratih sambil mencium tangan suaminya.

__ADS_1


"Tapi, aku bawa motor, Mas. Nggak apa-apa kalau Kak Ratih aku bonceng pakai motor." sahut Farrel.


"Jangan, dia kan baru masuk. Kamu bawa mobil Mas Gavin saja. Nanti aku pakai mobil Mama." jawab Gavin.


"Nggak apa-apa, Mas." tanya Farrel.


"Nggak lah, ini kuncinya. Mobilnya sudah aku keluarin." jawab Gavin.


Kemudian dia menuju lemari hias diruang tengah. Diambilnya kunci mobil Mamanya yang biasa juga dia pakai.


Gavin kemudian keluar meninggalkan Farrel dan istrinya.


Tak lama kemudian Kasih mengantarkan bekal buat majikannya itu. Setelah siap semuanya, mereka akhirnya berangkat ke kampus. Farrel takjub melihat mobil sebagus ini. Dia belum pernah menyetir mobil sport seperti ini.


"Kak, mobilnya keren. Baru kali ini, Farrel naik mobil seperti ini." ucap Farrel.


"Iya, ini mobil Gavin semenjak dia masih kuliah. Dulu waktu pedekate sama Kakak dia pakai mobil ini." jawab Bu Ratih.


Farrel mengemudikan mobil itu dengan pelan. Maklum takut ada yang lecet, nggak ikut punya. Batinnya.


Bu Ratih hanya tersenyum saja melihat tingkah Farrel yang lucu.


Sesampainya dikampus, Farrel memarkirkan mobilnya diparkiran. Setelah mereka berdua keluar mobil, mereka berjalan menuju kampus.


Bu Ratih masuk ruangan Dosen. Dan ketika masuk teman sesama Dosen senang sekali karena Bu Ratih sudah aktif lagi ngajar. Apalagi Bu Silvi dia paling dekat dengan Bu Ratih waktu dikampus.


"Ya ampun, Bu Ratih.,! saya senang banget Bu Ratih sudah sembuh dan ngajar lagi. Kangen nih, Bu!" seru Bu Silvi sambil memeluk Bu Ratih kegirangan.


Akhirnya semua teman sesama Dosen menghampiri Bu Ratih untuk mengucapkan selamat atas kembalinya dia ngajar dan sembuh setelah tiga bulan cuti karena habis operasi.


Bu Ratih sangat senang dengan lingkungan kampus, orang-orangnya ramah, baik dan seperti keluarga. Sebelum ngajar, Bu Ratih ngobrol-ngobrol dengan Bu Silvi.


"Bu Ratih, saya sudah mendengar kabar soal Bu Ratih, setelah Bu Ratih keguguran yang dulu itu, saya selalu tanya kabar sama Farrel. Sampai mendengar musibah kalau Bu Ratih harus diangkat rahimnya karena sesuatu hal." ucap Bu Silvi sambil memegangi tangan Bu Ratih.


"Iya, Bu. Nggak apa-apa. Saya sudah ihklas menerima cobaan ini. Memang awalnya berat, tapi makin kesini saya sudah bisa menerima." jawab Bu Ratih.


"Iya Bu, saya yakin Bu Ratih pasti mampu melewati ini semua." ucap Bu Silvi.


"Oh iya, waktu saya cuti. Siapa yang mengisi mata kuliah akuntansi.?" tanya Bu Ratih.


"Oh itu, ada Dosen baru, Bu. Namanya Reyhan, dia masih muda, paling seumuran sama Bu Ratih. Dia nanti juga ngajar akuntasi sama dengan Bu Ratih. Kan Bu Ratih tahu sendiri, Bu Ratih selama ini sendirian ngajar akuntansi." jelas Bu Silvi.


"Okey, Bu. Makasih infonya..," jawab Bu Ratih.


Akhirnya mereka menyudahi obrolannya, karena jarum jam sudah menunjuk angka tujuh. Bu Ratih belum tahu jadwalnya apa masih seperti sebelumnya, atau dirubah. Karena sudah ada dua Dosen akuntansi.


Pak Anwar masuk ke ruangan Dosen untuk memberikan jadwal baru buat Bu Ratih. Dia menyerahkan selembar kepada Bu Ratih. Dia membaca dengan teliti setiap tulisan yang ada dikertas itu. Dia tersenyum lega, karena dia akan mengajar dikelas yang sama seperti sebelumnya. Cuma sekarang jumlah kelasnya dikurangi, mungkin karena sudah ada Dosen tambahan.


Bu Ratih merasa senang, karena jam kelasnya agak berkurang, karena selama ini dia memang padat banget jadwalnya. Apa mungkin juga ini kebijakan pihak Kampus karena kondisi Bu Ratih paskah operasi, jadi nggak berani membuat Bu Ratih capek.


Dia kemudian masuk dikelas seperti biasa. Mahasiswa dan Mahasiswi nya begitu antusias karena Dosen kesayangannya kini telah masuk ngajar lagi. Vanya juga senang karena Dosen idolanya sekarang sudah masuk.

__ADS_1


Hari ini dibuat Bu Ratih sesantai mungkin, karena dia nggak ingin Mahasiswa dan Mahasiswi nya bosan dan capek. Materi diberikan seperti biasa laku diadakan sesi tanya jawab. Bu Ratih banyak duduk saat ngajar kali ini, nggak seperti biasanya yang selalu keliling ke tempat duduk anak didiknya.


Saat jam kuliah dikelas itu selesai, Bu Ratih mengakhiri materinya dan berkemas untuk keluar. Vanya melihat Bu Ratih yang sibuk dengan buku-bukunya dia langsung membantunya. Bu Ratih tersenyum kearah Vanya.


Setelah selesai, dia kemudian keluar dan menuju ruangan Dosen. Dia berjalan santai sambil melihat suasana kampus yang sudah lama dia tinggal cuti. Saat di jalan yang hendak menuju ke ruang Dosen, dia berpapasan dengan seorang laki-laki yang belum pernah dia temui sebelumnya.


Laki-laki itu diam dan hanya mengangguk sambil senyum. Setelah itu dia berjalan dengan langkahnya yang tegap menuju kelas.


"Apa itu Dosen baru yang dimaksud Bu Silvi.?" Batin Bu Ratih.


Bu Ratih nggak terlalu banyak mikir, dia kemudian masuk ke ruangan Dosen. Bu Ratih kemudian duduk dan membuka ponselnya, dia jenuh kemudian coba chat sama suaminya.


Tak terasa hari sudah beranjak siang.


Diliriknya jarum jam sudah menunjukan pukul dua belas. Berarti dia duduk-duduk diruangan itu kurang lebih sekitaran dua jam. Diambilnya bekal yang ada ditasnya. Lalu dia beranjak berdiri menuju kantin untuk membeli minum sambil ikut makan disitu.


.


.


.


Jam kuliah akhirnya selesai. Bu Ratih menunggu Farrel untuk pulang. Dia duduk didekat pos satpam seperti biasa kayak dia nunggu dijemput Gavin.


Saat duduk santai, dia menangkap sosok laki-laki yang tadi dikampus. Apa itu Dosen baru yang bernama Reyhan seperti kata Bu Silvi.


Laki-laki itu berdiri disamping mobil sedan warna putih. Tapi, kok ada Vanya, apa hubungannya sama laki-laki itu. Tak lama kemudian keluarlah laki-laki dewasa dengan tubuh yang tinggi dan atletis, yang tak lain adalah Pak Keanu, Papanya Vanya.


Bu Ratih semakin bingung dengan ini. Semenjak dia cuti jadi banyak ketinggalan banyak hal soal orang-orang itu. Dia nanti pasti akan mengorek keterangan sama Farrel. Dia pasti tahu. Batinnya.


Pak Keanu melihat kearah Bu Ratih. Kemudian dia menghampiri Bu Ratih yang duduk sendiri didekat pos satpam.


Tak dipedulikannya Vanya sama pemuda tadi yang masih berdiri disamping mobil.


Vanya hanya melongo saja, ketika melihat Papanya yang ngeloyor pergi menemui Bu Ratih.


"Bu Ratih nunggu jemputan.,?" tanya Pak Keanu setibanya didekat Bu Ratih.


Bu Ratih nggak langsung jawab, dia hanya terdiam sambil menatap Pak Keanu yang kini sudah berdiri dihadapannya. Semenjak makan bareng diwarung soto betawi dulu, baru kali ini dia bertemu dengan Pak Keanu. Ada yang beda dengan penampilannya saat ini. Dia terlihat lebih muda. Apa karena potongan rambutnya yang berubah. Batinnya.


---------------------------------


Bersambung....


*Hayoo.... siapa tadi yang kangen dengan Pak Keanu sang Duda keren, ini dia orang nya muncul dengan penampilan yang lebih muda. Dia lama nggak muncul karena habis potong rambut di Amerika. (hahahhaaa)


Likenya jangan pelit donk. Biar aku UP nya lebih banyak lagi.Karena ceritanya masih panjang dan lama...


Love kalian semua


Author*.,

__ADS_1


__ADS_2