
Dalam perjalanan pulang, Santo mengemudikan mobilnya disuruh Bu Ratih pelan-pelan saja karena sudah malam. Ketika sampai setangah perjalanan Bu Ratih melihat dari arah yang berlawanan seorang wanita berlari dengan menggendong anak kecil dan melambaikan tangannya minta tolong.
"Pak Santo, berhenti sebentar. Itu ada wanita yang tengah berlari ketakutan. Coba kita tolong!" ucap Bu Ratih.
"Baik, Bu."
Santo kemudian menghentikan mobilnya, dia lalu turun dan melihat wanita itu. Bu Ratih ikut turun dan menghampirinya.
"Tuan, tolong saya. Tolongin saya, Tuan.!"
"Ibu kenapa, dan mau kemana?" tanya Santo.
"Sa..sayaa., dikejar orang jahat. Tolongin saya, Nyonya." ucapnya lagi sambil melihat ke arah Bu Ratih.
"Baiklah, sekaran Ibu ikut kami, nanti coba ceritakan lebih detail." jawab Bu Ratih.
"Terima kasih, Nyonya."
"Pak Santo, kita bawa Ibu ini pulang kerumah dulu." ucap Bu Ratih sambil membantu wanita itu masuk kedalam mobilnya.
"Baik, Bu."
Bu Ratih akhirnya membawa pergi wanita itu. Dia menyuruh Raka duduk didepan dekat Santo. Bu Ratih dan wanita itu yang di belakang.
"Maaf, Bu. Ada apa sebenarnya dengan, Ibu?" tanya Bu Ratih.
"Saya tadi dikejar orang-orang suruhannya Bos besar. Dia mau ambil anak saya kalau saya tidak bisa melunasi hutang-hutang suami saya." jawabnya sambil menangis.
"Ya ampun, kok bisa gitu. Terus, siapa Bos besar itu, Bu.?"
"Ceritanya, suami saya kan kerja di Bos besar itu jadi tukang pukulnya Bos besar. Lalu suami saya punya hutang dan sampai sekarang belum bisa melunasi hutang-hutangnya tersebut." jawabnya lirih.
"Kenapa mereka mengejar Ibu, sedangkan itu kewajiban suaminya Ibu." jawab Bu Ratih.
Wanit itu kemudian menunduk dan menangis. Anak kecil digendongannya itu tertidur pulas dengan wajah yang tak berdosa. Kemudian wanita itu melihat ke arah Bu Ratih.
"Suami saya sudah meninggal."
Bu Ratih sontak kaget dan trenyuh saat wanita itu menjawab. Dia semakin kasihan dengan wanita disebelahnya ini.
"Maaf, Bu. Saya nggak bermaksud mengingatkan Ibu dengan suami."
"Nggak apa-apa, Nyonya. Suami saya meninggalnya baru sebulan yang lalu." jawabnya.
__ADS_1
Akhirnya mereka sampai rumah. Bu Ratih membantu wanita itu untuk masuk kedalam rumahnya. Ketika mereka masuk rumah, wanita itu tercengang ketika melihat rumah Bu Ratih yang begitu besar.
"Silahkan duduk disini dulu, Bu." ucap Bu Ratih.
Tak lama kemudian Fatma keluar dan melihat ada rame-rame dia kaget. Lalu dia ikut membantu menidurkan bayi itu di atas sofa. Kemudian dia membuatkan minum untuk mereka.
"Bu, ini rumah saya. Sementara Ibu dan anak Ibu bisa beristirahat dulu." ucap Bu Ratih.
"Terima kasih, Nyonya. Anda baik sekali, apa Anda nggak takut karena menolong kami yang baru saja Anda kenal." tanyanya tiba-tiba.
"Kenapa harus takut, niat baik pasti berbuah baik pula. Jika memang ada balik berbuat jahat, biarlah Alloh yang membalasnya." jawab Bu Ratih.
"MashaAlloh.,! beruntung sekali saya ditolong sama Anda. Sudah cantik, baik lagi." ucap wanita itu.
"Oh iya, kita belum kenalan. Nama saya Ratih. Panggil saja Bu Ratih." ucap Bu Ratih.
"Nama saya Rita, Nyonya." jawabnya.
"Oh iya, saya lihat usia Bu Rita jauh dibawa saya. Gimana kalau saya panggil Rita saja. Mulai sekarang panggil saya Mbak saja." ucap Bu Ratih.
"Iya, Mbak." jawabnya lagi.
"Sekarang bawah anak kamu ke kamar dan istirahat. Besok saja kita bahas soal masalahmu." ucap Bu Ratih.
Akhirnya Rita membawa anaknya masuk ke kamar tamu diantar Fatma. Kemudian Bu Ratih masuk ke kamarnya. Dia belum bisa langsung memejamkan matanya. Baru saja dia menolong orang yang ia tak kenal sama sekali. Kenapa hatinya begitu tergugah saat melihat Rita dan anaknya tadi.
Tidak ada rasa takut dalam hatinya bakal dijahati atau dia menipu. Saat ini dia yakin kalau perempùan itu orang baik. Jadi nggak ada sedikitpun terlintas pikiran bahwa dia orang jahat. Akhirnya nggak terasa dia tertidur juga.
(***)
Pagi harinya, berhubung hari minggu. Jadi semua ada dirumah. Rita ternyata sudah bangun dan lagi duduk sambil menggendong anaknya.
"Sudah bangun, kamu?" tanya Bu Ratih.
"Sudah, Mbak."
"Anak kamu sudah dibuatin susu?" tanya Bu Ratih.
"Sudah, Mbak. Barusan sudah saya buatin susu." jawabnya.
"Sekarang gimana rencana kamu. Apa disini kamu nggak punya saudara?" tanya Bu Ratih.
"Iya, Mbak. Gini, saya di Jogja nggak punya saudara. Saya asli Manado, nikah sama suami yang asli Solo. Di Jogja kami dulu ngontrak karena suami kerja ikut Bos besar. Kemarin malam itu kenapa saya sampai dikejar, ya seperti yang sudah saya bilang kemarin, mereka ingin mengambil anak saya sebagai ganti hutang-hutang suami saya." jawabnya.
__ADS_1
"Ya ampun, kurang ajar benar. Usia berapa anak kamu ini?" tanya Bu Ratih.
"Sekarang jalan lima bulan, Mbak."
"Jadi, saat Ayahnya meninggal dia masih empat bulanan gitu." ucap Bu Ratih.
"Iya, Mbak. Saya juga bingung harus kemana, karena saya sudah nggak punya siapa-siapa lagi." jawab Rita.
Bu Ratih sedikit bingung, dia bisa saja menampungnya sementara sambil menemukan jalan keluarnya, tapi dia harus membicarakan dengan Gavin dan Budhenya. Karena dia disini juga pendatang.
"Gini saja, saya akan mengijinkan kalian tinggal disini buat sementara, sambil saya mencarikan jalan keluarnya. Saya juga harus melapor ke Pak RT buat status kamu disini. Dan, saya juga punya Budhe yang tinggal disini, saya akan rundingkan dulu." jawab Bu Ratih.
"Iya, Mbak. Makasih banyak atas bantuannya. Maaf, kalau saya merepotkan.
"Sudah, nggak apa-apa, kok." jawab Bu Ratih.
"Saya bisa cari kerja, Mbak. Asalkan saya ada tempat tinggal." ucap Rita.
"Tapi, anak kamu masih kecil. Kamu mau kerja apa?" tanya Bu Ratih lagi.
"Apa aja, yang sekiranya bisa saya kerjakan dengan membawa anak." jawab Rita sambil mukanya memelas.
"Kamu kok sempet-sempetnya bawa tas dan keperluan anak kamu. Apa memang kamu sudah niat akan pergi dari rumahmu?" tanya Bu Ratih.
"Iya, Mbak. Memang saya sudah prepare sebelumnya. Saat saya ada yang kasih info kalau Bos besar itu mau mengambil anak saya buat membayar hutang suami saya, itu sudah saya siapkan kalau sewaktu-waktu mereka datang. Kemarin malam anak buahnya kerumah, tapi saya pergi lewat belakang, dan lari sampai ke jalan raya lalu ketemu Mbak Ratih." jelas Rita.
"Kita perlu lapor Polisi, nggak?" tanya Bu Ratih.
"Nggak usah, Mbak. Nanti ceritanya tambah panjang. Gimana kalau saya dituntut balik buat bayar hutang. Saya nggak punya uang." jawab Rita.
"Tapi, kira-kira mereka apa nggak akan mencari kamu?" tanya Bu Ratih lagi.
"Saya rasa nggak, Mbak. Jogja kan luas, InshaAllah mereka nggak akan mengejar lagi." jawab Rita.
Ketika mereka berbincang-bincang, tiba-tiba anaknya terbangun dan menangis. Ternyata anaknya perempuan. Semalam dia tidur dan Bu Ratih nggak sempat nanya atau melihat kalau anak bayi itu laki-laki apa perempuan, dan ternyata perempuan cantik lagi. Bu Ratih langsung terpesona dengan anak kecil itu.
Tangannya yang mulus langsung mengusap kening dan pipi bayi itu. Dia begitu takjub dengan makhluk kecil tak berdosa ini. Rita yang melihat kelembutan dalam diri Bu Ratih saat membelai wajah anaknya langsung terharu.
"Mbak Ratih, aku tahu kamu wanita baik dan keibuan. Mungkin jika anakku diasuh oleh wanita seperti kamu pasti nantinya jadi anak yang kuat dan baik seperti kamu, Mbak." ucap Rita dalam hati.
---------------------------------
Bersambung...
__ADS_1