
Nggak terasa liburan di Jakarta selesai sudah. Hari ini Gavin dan keluarganya balik ke Jogja. Cantik kebetulan juga sudah sembuh dari panasnya. Gavin mengajak pulang ke Jogja lantaran pekerjaannya yang sudah menanti.
Gavin berangkat pagi sekali supaya sampai Jogja nggak kemalaman. Setelah berpamitan kepada Papa dan Mamanya, akhirnya mereka berangkat juga.
.
.
.
Ditempat lain, tepatnya dirumah Kasih kini lagi sibuk sendiri-sendiri untuk melakukan aktivitasnya.
"Bun, aku besok ke Jogja, ya?" ucap Rahman tiba-tiba.
"Ada apa, Mas. Apa Ibu menelpon kamu?" tanya Kasih penasaran.
"Aku ada urusan sama teman aku. Dia mau nawarin aku sembako, katanya harga disana miring. Kan lumayan untungnya, sayang." jawab Rahman.
"Apa nggak sama aja, Mas. Belum biaya angkutnya ke Jakarta berapa." jawab Kasih.
"Tapi, kan belum dilihat juga, kalau nanti setelah aku kalkulasi nggak komper sama biaya angkutnya ya nggak aku ambil." jawabnya lagi.
"Terserah kamu lah.,!" jawab Kasih sewot.
"Kamu marah?" tanya Rahman.
"Nggak, kok."
Kasih agak curiga kenapa tiba-tiba pingin ke Jogja. Padahal sebelumnya dia paling anti kalau diajak ke Jogja dengan alasan malas. Dia mencoba untuk berfikir positif saja.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
♥JOGJA♥
Akhirnya setelah menempuh perjalanan jauh, rombongan Gavin dan keluarganya tiba juga di Jogja. Santo memarkirkan mobilnya dihalaman rumah, lalu membantu mengeluarkan barang-barang dari bagasi.
Raka dan Cantik kelelahan sampai akhirnya mereka melanjutkan tidurnya di kamar. Fatma membantu membawa barang-barang kedalam rumah.
"Fat, tolong kamu taruh barang-barang ditempatnya semula. Yang dalam tas merah itu pakaian kotor anak-anak tadi waktu diperjalanan tolong pisahkan." titah Bu Ratih.
"Iya, Tih."
"Oh iya sayang, tolong ambilin aku minum, ya?" ucap Bu Ratih yang duduk masih sambil gendong Cantik.
"Iya, sayang."
__ADS_1
Tak lama kemudian Gavin kembali sambil membawa air putih. Gavin membantu meminumkan ke Bu Ratih.
"Makasih, sayang."
"Sama-sama., kamu istirahat saja, Cantik biar aku yang angkat ke kamar." ucap Gavin.
"Iya, makasih."
Gavin mengambil Cantik dari gendongan Bu Ratih. Kemudian mereka masuk kamar untuk beristirahat.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Keesokan harinya, Gavin berangkat kerja seperti biasa. Karena Bu Ratih masih libur kuliah, jadi dia masih bisa menjaga anak-anaknya. Meskipun demikian, dia tidak meliburkan babysitternya karena mungkim dia akan membutuhkan tenaganya.
"Susi, hari ini kamu ikut saya ke Mall, ya. Kebetulan mau ada yang saya beli." tukas Bu Ratih.
"Iya, Bu."
"Kalau sudah selesai makan, kita berangkat." jawab Bu Ratih.
Sekitar pukul sembilan pagi, Bu Ratih berangkat ke Mall dengan mengajak Cantik dan babysitternya. Dia menyetir sendiri karena biar lebih santai.
"Bu, Susi senang kalau lihat Bu Ratih. Kayak mengidolakan Bu Ratih." ucap Susi tiba-tiba saat diperjalanan.
"Ah, kamu bisa saja, Sus. Saya ini apa, orangnya ya seperti ini." jawab Bu Ratih.
"Kamu juga wanita luar biasa, Sus. Disaat diluar sana anak-anak seusia kamu lagi sibuk belajar, kamu sudah mencari uang sendiri." jawab Bu Ratih.
"Tapi, saya kan nggak sekolah kayak mereka." ucap Susi.
"Nggak apa-apa, Sus. Sekarang itu yang penting, lakukan yang menurut kamu baik." jawab Bu Ratih.
Tak lama kemudian mereka sampai juga di Mall. Bu Ratih dan Susi serta Cantik keluar mobil setelah itu mereka masuk ke dalam Mall. Bu Ratih kemudian ke bagian baju anak kecil.
Setelah muter-muter mencari barang yang dibutuhkan, akhirnya Bu Ratih mengajak Cantik dan babysitternya untuk makan di salah satu restoran siap saji yang ada di Mall itu.
"Susi, kamu benar nggak mau saya beliin baju?" tanya Bu Ratih.
"Nggak usah, Bu. Makasih." jawabnya.
"Oh iya, kamu itu aslinya berapa saudara, Sus?" tanya Bu Ratih.
"Saya dua bersaudara, Bu. Kakak saya sudah menikah dan ikut suaminya." jawab Susi.
"Lalu orang tua kamu?" tanya Bu Ratih lagi.
__ADS_1
"Masih ada dua-duanya. Bapak saya hanya sebagai tukang becak di Malioboro. Ibu saya hanya Ibu Rumah tangga biasa." jawab Susi.
"Kamu disini kost?" tanya Bu Ratih.
Gadis itu mengangguk pelan sambil menunduk. Bu Ratih jadi kasihan kalau dia disini kost, berarti uang dia juga buat bayar kost. Dia salut sama gadis ini.
"Susi, mulai sekarang apa kamu mau tinggal dirumah saya, dari pada uang kamu buat bayar kost." ucap Bu Ratih.
"Yang benar, Bu. Apa saya nggak salah dengar?" jawabnya antusias.
"Iya, kebetulan dibelakang ada satu ruangan, awalnya dipakai Pak Santo, lalu Pak Santo saya siruh tidur dikamar atas sekalian jagain Raka. Tapi, dibelakang itu ruangannya bersih, kok. Karena sebelumnya sudah dibersihkan Pak Santo." jelas Bu Ratih.
"Iya, Bu. Saya mau, Bu.!"
"Baiklah, nanti saya akan omongin sama Pak Gavin." jawab Bu Ratih.
Ketika Bu Ratih dan Susi ngobrol di restoran itu, tiba-tiba Bu Ratih menatap seseorang yang lagi berjalan sambil membawa tas.
"Bukankah itu laki-laki yang Gavin bilang kemarin saat di Jakarta. Berarti itu suaminya, Kasih! kenapa dia kok ada di Jogja. Kayaknya dia baru saja sampai, tasnya saja masih dibawa." ucap Bu Ratih dalam hati.
"Bu, Bu Ratih itu lagi ngelihatin apa, sih?" tanya Susi.
"Itu kayaknya suaminya teman saya, Sus." jawab Bu Ratih sambil menunjukan seseorang terhadap Susi.
Laki-laki itu berdiri seperti menunggu seseorang. Tak lama kemudian datanglah seorang perempuan dan juga membawa tas. Mereka ngobrol sebentar lalu masuk ke dalam restoran dimana Bu Ratih juga makan.
Mereka memilih meja tepat disamping meja Bu Ratih, jadi obrolan mereka sangatlah jelas didengar.
"Sayang, maafin aku, ya. Aku terlambat, kamu jadi menunggu." ucap perempuan itu.
"Nggak apa-apa, kok. Aku tadi juga baru sampai. Kita nanti langsung cari hotel yang dipinggir kota saja, pemandangannya bagus. Pas buat kita foto-foto." jawab laki-laki itu.
"Oh iya, untung kita berangkat dari Jakarta sendiri-sendiri. Kalau tidak tadi gimana, aku satu pesawat dengan tetangga aku." jawab perempuan itu.
"Aku juga, kemarin istriku juga sempat nanya-nanya, kok tumben aku ke Jogja. Aku jawab saja kalau ada urusan sama temanku soal harga sembako." ucap laki-laki itu.
"Hahaha, kamu ini bisa saja alasannya." jawab perempuan itu sambil membetulkan rambutnya.
"Selesai makan kita langsung chek-in ke hotel saja. Aku capek, mau istirahat ditemani kamu. Aku kangen banget sama kamu, Baby." ucap laki-laki itu sambil mencubit pipi perempuan itu.
Bu Ratih yang mendengar obrolan mereka sangatlah kaget, berarti Kasih selama ini dibohongi sama suaminya.
"Kasihan kamu, Sih. Kamu punya suami kok tabiatnya seperti itu." ucap Bu Ratih dalam hati.
----------------------------------
__ADS_1
Bersambung...