
Bu Ratih mencoba melihat siapa yang datang, dan meninggalkan Gavin dan Gazi. Ketika sampai teras Bu Ratih kaget siapa yang datang.
"Kasih,!"
"Mbak, Ratih.!"
Keduanya seketika berpelukan, Kasih menangis dipelukan Bu Ratih. Mereka sejenak terhanyut dalam suasana haru. Perlahan Kasih melonggarkan pelukannya. Dan kini mereka berdiri berhadapan.
"Mbak, maaf aku lancang main kerumah Mbak Ratih." ucap Kasih.
"Ya nggak apa-apa, Sih. Rumah ini terbuka buat siapa saja termasuk kamu." jawab Bu Ratih.
"Kemarin aku ditelpon mertuaku, katanya hari ini ada pesta uang tahun Raka, dia bilang dikasih tahu sama Gazi." ucap Kasih.
"Iya, Adiknya yang bikin acara ini. Katanya mau bikin surpprise buat Kakaknya." jawab Bu Ratih.
"Oh iya, Mbak. Gazi ada disini?" tanya Kasih.
"Iya, dia juga ada disini." jawab Bu Ratih.
"Mbak, dia masih ngambek sama aku gara-gara aku kasih tahu yang sebenarnya. Aku kesini aja dia nggak tahu." jawab Kasih.
"Mungkin hanya emosi sesaat aja. Oh iya, kamu nyampe Jogja jam berapa?" tanya Bu Ratih.
"Tadi siang jam dua, lalu aku telpon Bram minta alamat Mbak Ratih. Mampir ke Ibu bentar ternyata Gazi sudah kesini duluan." jawab Kasih.
"Sini duduk dulu, sampai lupa nggak aku suruh duduk, saking senangnya ngobrol." ajak Bu Ratih.
"Mbak, ini aku bawain kado buat Raka, tapi kira-kira dia mau terima nggak ya?" tanya Kasih sambil mengeluarkan kadonya.
"Ya jelas mau lah, Sih. Dia anaknya pintar kok. Setelah aku sama Gavin menceritakan yang sebenarnya dia juga mengerti. Dan dia bilang suatu saat kalau main kerumah di Jakarta dia mau mampir ke rumah kamu." jelas Bu Ratih.
"Iya, Mbak. Dia memang baik, nurun keluarga Pak Indra." jawab Kasih.
"Ayo kita bergabung dengan yang lainnya di samping.!" ajak Bu Ratih.
Kasih nggak lekas beranjak, dia masih diam saja duduk dikursi ruang tamu. Bu Ratih kemudian menggandengnya untuk masuk dan bergabung dengan yang lainnya.
Kasih berjalan dibelakang Bu Ratih, dia nggak berani menampakan wajahnya. Ketika sudah sampai diteras samping, disitu masih ada Gavin dan Gazi yang masih mengobrol.
"Permisi, Mama minta waktunya sebentar. Mama kedatangan tamu yang jauh-jauh dari luar kota yang ingin bergabung dalam pesta ini." ucap Bu Ratih lantang.
__ADS_1
Kasih masih sembunyi dibalik dinding yang memisahkan ruang tengah dan teras samping.
"Siapa, Ma?" teriak Raka.
"Iya, Ma. Siapa sih?" sahut Cantik.
Gazi hanya diam saja karena dia sekarang berdiri disamping Gavin. Sedangkan Bu Ratih masih berdiri dengan senyum yang manis. Kemudian dia menoleh ke belakang lalu dipanggilnya Kasih.
"Ayo sini, gabung dengan mereka." ajak Bu Ratih.
Kasih perlahan menampakan wajahnya, dia berjalan sambil menatap kearah mereka yang berada di halaman samping rumah. Gazi terkejut karena Bundanya ada disini. Gavin pun demikian, dia terkejut karena Kasih mantan istrinya sekarang berada dirumahnya.
Raka dan cantik melongo karena kaget dengan kedatangan Kasih, terlebih lagi Raka. Gelas yang dia pegang sampai jatuh kebawah karena saking kagetnya dengan kedatangan Kasih.
"Bunda,!" serunya pelan.
"Ayo, Raka. Ini Bunda Kasih datang khusus dari Jakarta untuk menghadiri pesta kamu ini lho." seru Bu Ratih.
"Ayo, Kak. Samperin Bunda Kasih. Ayo dong, Kak.!" kini Cantik ikut membujuk Raka.
"Gazi, ayo dong sayang. Bundanya datang kok malah diam saja. Ayo anak-anak Mama nggak boleh gitu, harus nurut ama Mama." ucap Bu Ratih dengan nada yang lembut.
Kasih masih berdiri dan menunggu kedua anaknya mendekat. Seketika Raka dan Gazi memeluk Bundanya. Tangis mereka pun pecah, Kasih sampai terisak karena bisa memeluk Raka. Hampir dua puluh tahun lebih dia nggak bertemu Raka.
"Maafin, Gazi ya Bunda. Karena selama ini mendiamkan Bunda." ucap Gazi.
"Iya nggak apa-apa, Nak. Bunda maklum itu. Bunda juga minta maaf karena telah membuat kamu kecewa." jawab Kasih sembari mencium kening Gazi.
Lalu kemudian Kasih ganti menoleh kearah Raka, dia tersenyum dan mencium keningnya juga.
"Raka, Bunda juga minta maaf ya, karena keadaanlah yang membuat Bunda jauh dari kamu. Mama Ratih dan Bunda sama aja, kalian tetap anak-anak Bunda kok. Sekali lagi maafkan Bunda, ya Nak?" ucap Kasih sambil membelai wajah Raka.
"Iya, Bun. Raka tetap sayang sama Bunda. Tapi, Raka nggak bisa tinggal sama Bunda, Raka tetap sama Mama Ratih saja." ucap Raka sambil menangis.
"Iya, Nak. Bunda ngerti, kok. Karena memang kamu tempatnya disini sama Papa Gavin dan Mama Ratih." jawab Kasih.
Bu Ratih dan Gavin ikut menangis melihat keharuan yang terjadi antara Raka dan Kasih. Terlebih Bu Ratih, dia menangis dipelukan Gavin saat melihat Ibu dan Anak itu.
Yang ada disitu semua jadi terharu karena melihat mereka. Setelah Kasih dan kedua anaknya itu melepas rindu. Kini semuanya melanjutkan ke acara ulang tahunnya Raka.
"Okey, sekarang kita nggak boleh sedih lagi. Karena hari ini adalah acara ulang tahunnya Kak Raka, kadi semuanya harus gembira dan nggak boleh bersedih." teriak Cantik.
__ADS_1
Akhirnya semuanya bergabung jadi satu untuk melanjutkan acara tersebut. Kasih ditarik sama Raka dan Gazi untuk menikmati makanan yang telah disediakan. Mereka akhirnya lupa akan kesedihannya, kini semuanya bergembira sambil menikmati makanan yang ada.
Raka mendekati Kasih dan menyuaokan kue ulang tahunnya, karena hanya dia saja yang belum kebagian kue ulang tahunnya.
"Oh iya, sayang. Bunda ada sesuatu buat kamu." ucap Kasih sambil menyerahkan bungkusan kado.
"Boleh Raka buka sekarang, Bun.?" tanya Raka.
"Iya, sayang. Silakan buka saja." jawab Kasih.
Raka membuka kado yang barusan Kasih berikan kepadanya. Ketika bungkusan itu sudah terbuka, alangkah senangnya Raka ketika melihat isi dari kado tersebut.
"Woow, jaket.,!" seru Raka.
"Iya, sayang. Bunda bingung mau kasih kamu apa. Pastinya kamu sudah punya semuanya. Maka Bunda belikan jaket saja buat kamu pakai ke kampus." jelas kasih.
"Ya ampun, Bun. Ini sudah bagus dan cukup buat Raka. Sangat bagus, Raka suka banget. Makasih, ya Bun." ucap Raka sembari mencium pipi Bundanya.
"Iya, Nak. Sama-sama." ucap Kasih.
"Oh iya, Bun. Nginap sini ya. Kan masih kangen." ucap Raka tiba-tiba.
Kasih kaget karena tiba-tiba Raka bilang seperti itu sama dirinya. Dia nggak enak kalau sampai nginep disini, karena dia dan Gavin sudah cerai dan tidak ada ikatan apapun kecuali anak.
"Sayang, maaf bukannya Bunda nggak mau. Tapi, Bunda tidur dirumah Nenek aja, kalau kamu masih kangen, beaok kita bisa jalan-jalan bareng." jawab Kasih.
"Tapi, Bun. Nggak apa-apa, semalam saja tidur disini, nanti kita tidur bertiga sama Gazi. Iya Bun, pliisss.,!" ucap Raka memohon.
Kasih diam nggak bisa jawab apa-apa. Karena bagaimanapun dia nggak enak kalau harus menginap disini. Perlahan Kasih memegang tangan Raka.
"Raka, tolong ngertiin posisi Bunda, ya. Besok saja kamu yang nginap dirumah Nenek. Kita tidur bareng sama Gazi." jawab Kasih pelan.
Raka mengangguk meskipun dengan muka yang ditekuk. Akhirnya dia menyetujui kalau Bundanya nggak bisa nginap dirumahnya.
Raka pamit untuk bergabung lagi dengan Dara dan Gazi. Kini Kasih berdiri sendiri memandangi anak-anaknya yang sedang bersendau gurau.
"Sih, kenapa kamu nggak mau menginap disini.?"
---------------------------------
Bersambung...
__ADS_1