BU DOSEN CANTIK

BU DOSEN CANTIK
SEASON EMPAT Part : 221 (Teman baru)


__ADS_3

Bara tidak langsung menjawab, dia hanya menatap Cantik lalu mengangguk pelan. "Iya, adikku meninggal tiga tahun yang lalu."


"Oh maaf, Kak. Cantik nggak bermaksud mengingatkan sama adik Kakak." ucap Cantik.


"Nggak apa-apa. Kakak hanya keinget saja. Sekarang Kakak sudah tidak punya saudara lagi." ucap Bara.


"Kalau boleh saya tahu, meninggalnya karena apa.?" tanya Cantik.


"Dulu dia kecelakaan di sekolahnya, dia jatuh dari tangga lalu kena kepalanya. Akhirnya pendarahan di otaknya. Tapi, akhirnya nggak bisa diselamatkan." jawab Bara dengan matanya mengembun.


Cantik yang melihat Bara semakin sedih, dia nggak akan meneruskan pertanyaannya. Kini dia mengajak Bara turun supaya dia nggak teringat dengan adiknya.


"Kak, anterin Cantik pulang, ya. Susah sore nih." ajak Cantik.


"Oke, maaf ya, Kakak sampai lupa."


"Iya, nggak apa-apa."


Akhirnya keduanya masuk mobil lalu mereka meninggalakan tempat itu. Dalam perjalanan menuju rumah Cantik, mereka sedikit bicara.


"Tik,"


"Iya, Kak!"


"Kamu mau nggak jadi adik Kakak.?" tanya Bara.


Cantik menoleh kearah Bara yang masih fokus menyetir, dia nggak menyangka kalau Bara mau menganggapnya sebagai adik.


"Mau banget, Kak. Biar Kakak Cantik bertambah satu orang lagi jadi tiga orang. Cantik kan punya dua Kakak laki-laki." jawab Cantik.


"Baiklah kalau begitu."

__ADS_1


Akhirnya tak lama kemudian mereka sampai juga di rumah Cantik. Bara memarkirkan mobilnya dihalaman rumah Cantik.


"Masuk dulu, Kak.!"


"Iya,"


"Cantik mau panggil Mama dulu, ya.?"


Tak lama kemudian Cantik keluar dengan Bu Ratih. Bara seketika berdiri lalu tersenyum dengan Bu Ratih.


"Bu Ratih, Apa kabar.?" sapa Bara.


"Sebentar, kamu kan mahasiswa yang pernah ikut pertukaran mahasiswa ke Thailand dulu.?" tanya Bu Ratih.


"Iya, Bu. Saya Bara" jawab Bara.


"Oh iya, kamu SEMBARA PRATIKNO mahasiswa Design Grafis, kan.?" tanya Bu Ratih.


"Iya benar, Bu." jawab Bara.


"Iya, Nak. Waktu itu kan kumpul semua dekan untuk menyeleksi mahasiswa mana yang masuk kriteria." jawab Bu Ratih.


"Oh gitu, pantesan Mama kenal." jawab Cantik.


"Nak Bara kok bisa mengantarkan Cantika Pulang.?" tanya Bu Ratih.


"Iya, Bu. Tadi kami ketemu dikampus, katanya dia lagi menunggu Kakaknya, tapi ternyata Kakaknya masih menyelesaikan tugas. Akhirnya saya anterin pulang." jelas Bara.


"Oh gitu, terima kasih ya Nak Bara telah mengantarkan Cantik." ucap Bu Ratih.


"Iya, Bu. sama-sama."

__ADS_1


"Nak Bara jangan pulang dulu. Sekalian nunggu makan malam aja." ucap Bu Ratih.


"Nggak usah Bu. Nanti ngerepotin." jawab Bara.


"Nggak apa-apa, Kak." sahut Cantik.


"Iya, Nak. Disini aja dulu." ucap Bu Ratih lagi.


"Baiklah kalau begitu, saya akan disini." jawab Bara.


"Ya sudah, tunggu disini aja dulu. Ibu lanjutkan ke dapur dulu." ucap Bu Ratih.


"Iya, Kak. Cantik ke kamar dulu. Nanti Papaku yang akan temani dulu." ucap Cantik.


"Baiklah.,"


Bara duduk diruang tamu sendirian, sedangkan Cantik ke kamarnya. Tak lama kemudian Gavin keluar untuk menemani Bara.


"Selamat sore,?" sapa Gavin.


"Oh selamat sore juga, Om." jawab Bara sambil menyalami Gavin.


"Temannya Cantika.?" tanya Gavin.


"Oh iya, Om. Saya kakak tingkatnya." jawab Bara.


"Oh jadi satu jurusan beda tingkat." tanya Gavin lagi.


"Iya, Om. Kami satu jurusan." jawab Bara.


"Kok bisa kenal dengan anak saya.?"

__ADS_1


-------------------------------


Bersambung....


__ADS_2