BU DOSEN CANTIK

BU DOSEN CANTIK
SEASON EMPAT Part : 249 (Melepasmu)


__ADS_3

Gazi meyakinkan Zahra bahwa bagaimanapun juga dia tidak akan melupakannya dan mengingkari janjinya untuk menikah dengan Zahra.


Ketika mereka brtiga lagi ngobrol diluar kamar, tiba-tiba Gavin keluar dengan wajah yang panik. "Gazi, Mama ayo lihat itu Cindy anfal lagi.!"


Seketika mereka bertiga masuk ke ruangan itu kembali. Begitu juga dengan Zahra dia juga ikut masuk melihat kondisi Cindy.


Ketika mereka sampai di dalam, terlihat Cindy sedang ditangani dokter. Gazi dan Sarah hanya bisa berdiri dengan tatapan panik. Tak lama kemudian keadaanya sudah kembali stabil, Cindy perlahan membuka matanya.


"Zahra.,!"


Dia bersuara memanggil Zahra dengan pelan. Perlahan Zahra mendekat dan kini sudah berdiri disamping Gazi.


"Dan kamu Gazi,!" kini dia menoleh kearah Gazi dengan suara yang nyaris tak terdengar.


"Iya, Cin."


"Kalian mendekatlah kepadaku," ucapnya berbisik.


Seketika Gazi dan Zahra mendekat ke arah Cindy yang masih terbaring lemah. Lalu mereka berdua mendekatkan wajahnya ke wajah Cindy.


"Zahra, kamu lebih berhak mendapatkan Gazi, karena memang kamulah cinta sejatinya. Maafkan aku, karena sempat merebut Gazi dari kamu. Tapi, untuk selanjutnya saya kembalikan Gazi sama kamu," ucap Cindy sambil memegang tangan Zahra.


"Ssstt, sudahlah.. Sekarang kamu nggak usah banyak bergerak dulu," jawab Zahra.


"Gazi, kamu jaga diri baik-baik. Kamu bahagiakan Zahra seperti kamu janji membahagiakan aku," ucap Cindy sambil berbisik di telinga Gazi.


Setelah dia membisikan kalimat itu, lalu perlahan dia mencoba memegang wajah Gazi, namun belum sampai menyentuh wajahnya, tiba-tiba tangannya jatuh dan monitor icu nya pun berhenti.


Semua panik apalagi Sarah dia sudah nggak bisa menahan air matanya yang jatuh. Dokter langsung bergegas memeriksanya lagi dibantu seorang perawat. Tapi, tak lama kemudian dokter telah melepas semua alat-alat bantu yang melekat pada tubuh Cindy.


"Dok, kenapa dilepas semua? Gimana keadaan istri saya, dok,!" seru Gazi dengan matanya yang sudah mulai merah.


"Maaf Mas Gazi, Mbak Cindy sudah istirahat dengan tenang. Jadi, maaf karena Tuhan berkehendak lain meskipun kami sudah berusaha," ungkap dokter itu.


Gazi terkejut dan kaget, spontan dia menoleh kearah Cindy yang kini sudah terbaring kaku diatas tempat tidur rumah sakit. Sarah seketika berteriak dan memeluk adiknya sambil menangis.


Gazi menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Dia menyandarkan tubuhnya di dinding. Perlahan Bu Ratih mendekati anaknya itu dan memeluknya.


"Kamu yang sabar, Cindy lebih baik seperti itu karena dia tidak akan merasakan sakit lagi," ucap Bu Ratih.


"Aku belum bisa menjadi suami yang baik buat dia, Ma. Padahal cinta dia tulus sama Gazi," jawab Gazi.

__ADS_1


"Mungkin jodoh kalian cuma sampai disini saja. Dan ingat pesan dia sebelum meninggal, kamu harus membahagiakan Zahra," ucap Bu Ratih.


Zahra kemudian mendekati Gazi dan Mamanya. Dia memegang lengan Gazi dan tersenyum. "Sabar, ya,?" ucapnya.


"Kamu jangan tinggalin aku, ya,?" jawab Gazi sembari memegang tangan Zahra.


"Iya, sekarang ayo kita urus jenazah Cindy," ajak Zahra.


Sarah kini digandeng oleh Bu Ratih, sedangkan Gazi dan Zahra mengurus segala keperluan Cindy. Gavin membantu Bu Ratih membawa pulang Sarah dulu buat menyiapkan semua keperluan di rumah.


(***)


Setelah seminggu setelah meninggalnya Cindy, Gazi kini sudah kembali beraktivitas di kampus da cafe nya. Setelah tujuh hari berturut-turut dia ngurusi pengajian meninggalnya Cindy.


Sore hari kali ini dia tiba di cafe sedikit telat. Heru masih ada jaga dengan Fitri. Sedangkan nanti dia jaga sama Jaka.


"Zi, aku turut berduka cita, ya? Aku nggak nyangka dan kaget saat tahu dar Fitri kemarin. Jadi aku nggak sempat kesana sedangkan cafe kan nggak mungkin tutup," ucap Heru saat Gazi duduk di ruangan biasanya.


"Iya nggak apa-apa. Aku memang nggak bilang siapa-siapa, bahkan soal pernikahanku dengan Cindy. Baru kemarin itu aku pas telpon Fitri," jawab Gazi.


"Ya sabar, InshaAllah Cindy tenang sudah di sana."


"Iya, makasih."


"Iya Her, makasih ya sudah bantu Jaka jaga cafe. Seharusnya kan waktunya giliranku jaga, aku tinggal."


"Sudahlah Zi, ini juga cafe kamu. Aku disini juga kamu yang gaji," jawab Heru.


"Sstt, jangan bilang gitu. Bagaimanapun juga kita ini patner kerja. Meskipun secara modal aku yang tanggung, tapi konsep dan ide kan kamu," ucap Heru.


"Sudahlah kenapa jadi bahas beginian, sih. Hehe."


"Alhamdulilah akhirnya kamu bisa tersenyum juga. Aku senang melihatnya," ucap Heru.


"Maksih sudah mensupport aku."


"Oke, sama-sama. Aku balik dulu."


"Iya hati-hati.


Kini Gazi masih duduk di ruangannya itu, dia masih kepikiran soal Cindy. Cintanya begitu kuat terhadap dirinya sampai dibawa mati. Gazi nggak nyangka kalau Cindy akan menjadi istrinya.

__ADS_1


"Maaf Mas Gazi, di luar ada Mbak Zahra mau laporan soal jualan kuenya," ucap Jaka.


"Suruh masuk aja, aku masih ingin disini."


"Baik, Mas."


Tak lama kemudian Zahra masuk ke ruangan dan duduk di depan Gazi sambil membawakan teh hangat.


"Minum dulu, Zi. Biar badanmu anget," ucapnya.


"Makasih ya sayang.?"


"Kamu sudah makan,?" tanya Zahra.


"Sudah tadi sebelum berangkat kesini makan, kok."


"Oh ya sudah, kalau belum aku buatin di belakang."


"Makasih ya sayang, kamu baik banget."


"Sudahlah jangan bicara seperti itu. Karena itu memang sudah kewajibanku, Bie."


"Sayang, kamu masih mau nggak menerimaku dengan status duda,?" tanya Gazi.


"Ya ampun Bie, kenapa nggak mau. Kan yang penting nikahnya sama kamu," jawab Zahra.


"Baiklah kalau begitu, berarti kamu nggak apa-apa."


"Duda tapi masih perjaka, hehe."


"Kamu itu bisa aja."


"Kalau gini kan kamu jadi ketawa. Dari tadi diem mulu," sahut Zahra.


Tiba-tiba ponsel Gazi bergetar. Lalu dia membuka pesannya.


"Bunda,!" gumamnya.


"Zi, kalau kamu nggak sibuk, bisa nggak kalau ke Jakarta sebentar. Bunda mau ada perlu."


----------------------------

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2