BU DOSEN CANTIK

BU DOSEN CANTIK
SEASON EMPAT Part : 234 (Diterima)


__ADS_3

Semua yang ada di restoran itu serempak berteriak, terima..terima. Dara sampai tidak bisa berkata-kata. Air mata tak terasa sudah menetes dipipinya yang mulus.


Kemudian Dara mencoba membetulkan letak berdirinya supaya lebih nyaman lagi, lalu dia menatap wajah Raka dengan lekat sambil menganggukan kepalanya, "Iya, aku bersedia,!"


"Wooow kereen Mas Raka..!"


"Selamat Mas.,!"


Semua yang ada disitu ikut gembira dengan diterimanya lamaran Raka. Para karyawan restoran dan hotel yang rata-rata kenal sama Raka langsung bersorak gembira dan bertepuk tangan.


Raka kemudian memasangkan cincin ke jari manis Dara, dan Dara pun menerima lalu keduanya saling berpelukan. Tak lama Raka melepaskan pelukannya dan mencium kening Dara.


"Baiklah semua teman-teman yang ada disini, saya ucapkan terima kasih karena telah berpartisipasi dalam acara kecil ini yang serba dadakan. Karena saya ingin saat saya kembali ke Jepang nanti, Dara sudah resmi jadi tunangan saya." ucap Raka dengan tegas.


"Sama-sama Mas Raka, saya selaku chief disini sangat senang bisa membantu Mas Raka." sahut salah satu dari mereka.


"Iya, Pak. Sekali lagi saya ucapkan banyak terima kasih, setelah ini semua yang hadir di restoran ini saya bebaskan alias gratis.!" teriak Raka.


"Wooooow horee.. keren Mas,!"


"Iya..iya.. saya juga berterima kasih, untuk masalah biaya, nanti berurusan dengan saya." ucap Raka.


"Tapi, Mas. Kenapa harus bayar, kan restoran ini milik Papa Mas Raka.?"


"Kita harus profesional, kalau saya tidak bayar, nanti laporan kalian gimana. Bisa kena tegur Papa, loh!" ucap Raka.


"Oh iya, Mas." jawabnya.


Akhirnya acaranya pun selesai. Kini Raka duduk kembali di mejanya dengan Dara. Keduanya kelihatan senang apalagi Dara dia merasa saat ini sudah lega dengan hubungannya dengan Raka. Meskipun awalnya mereka memang tidak pacaran hanya teman dekat, namun kali ini dia mantap untuk melamar Dara.


"Ka, apa kamu sudah tahu keluargamu soal ini tadi?'


Raka pun menggeleng, "Tidak,!"


"Kok gitu.?"


"Memangnya kenapa, keluargaku sudah tahu kedekatan kita. Jadi mereka itu tidak akan marah atau melarang soal lamaran ini. Toh, ini juga bukan lamaran yang resmi ada keluarga, ini hanya sebagai tanda keseriusan aku sama kamu. Nanti kalau setelah aku selesaikan studiku, baru aku meminta orang tuaku melamar kamu." jelas Raka.

__ADS_1


"Iya juga sih, aku juga harus selesaikan skripsiku. Nanti setelah kita sama-sama kelar kuliah, baru kita lanjutkan yang lebih serius." jawab Dara.


"Iya, Sayang.,"


"Idiih, udah berani panggil sayang, nih!"


"Kan sudah diterima, dulu belim berani panggil sayang kan belum resmi pacaran. Hehehe.," jawab Raka sambil terkekeh.


"Iya..iya, baiklah calon imamku.!" jawab Dara sambil menatap wajah Raka tanpa kedip.


"Kamu ternyata ngegemesin, ya.?"


"Baru tahu, ya? Wueeek.,!" jawab Dara sambil menjulurkan lidahnya.


"Ya ampun, Dara.. kamu kalau gitu tambah cantik. Kalah Selena gomez, hahaha.!" jawab Raka dengan tawanya yang lepas.


"Raakaaa.,! Kamu tuh, ya.!" jawab Dara sambil mencubit pinggang Raka.


"Aaaww sakit, tahu.!"


Kedua insan yang lagi dimabuk asmara itu kini lagi bercanda sampai nggak menghiraukan kalau sebenarnya mereka lagi ditempat umum. Berhubung pengunjung restoran tadi ditraktir Raka, jadi mereka hanya tersenyum saja.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Keesokan harinya, tepatnya sore hari Raka sedang duduk-duduk bersama Mama dan Papanya di ruang tengah. Kini dia berbicara soal rencana setelah lulus.


"Kak, kira-kira kamu lulus berapa tahun lagi.?" tanya Bu Ratih.


"Raka usahakan secepatnya, karena Raka ambil dua tahun." jawab Raka.


"Kamu sudah dihubungi sama Om Mahen apa belum.?" tanya Gavin.


"Belum, Pa. Soal apa.?"


"Soal besok kamu setelah lulus kuliah langsung ke Wijaya Group." ucap Gavin.


"Loh, Pa. Kan ada Kak Tifani sama Brian.?"

__ADS_1


"Iya, Kak Tifany mau menikah dan ikut suaminya ke Belanda, jadi dia nggak mungkin terus memimpin Wijaya's Group. Mungkin setelah itu kamu bisa menggantikannya. Brian itu nggak minat dunia bisnis, dia cenderung ke kegemarannya yaitu main bola." jawab Gavin.


"Ya nggak apa-apa, Pa. Nanti setelah lulus Raka akan gantikan Kak Tifany." jawab Raka.


"Sip, kamu harus siap. Karena bagaimanapun juga kamu adalah cucu pertama laki-laki Indra wijaya, jadi kamu harus bisa menggantikan kepemimpinan Wijaya's Group." jawab Gavin.


"Iya, Kak. Kamu harus siap menggantikan memimpin perusahaan Kakek. Karena perusahaan iti dibangun dengan susah payah dan dari nol sampai sesukses sekarang." sahut Bu Ratih.


"Iya Ma. Raka pasti siap" jawab Raka.


"Oh iya, setelah lulus apa kamu nggak langsung berniat menikahi Dara lalu kamu bawa ke Jakarta.?" tanya Gavin tiba-tiba.


Degh,!


Raka kaget karena Papanya tiba-tiba menanyakan hal itu. Bu Ratih juga tersenyum melihat kegugupan anaknya itu. Karena bagaimanapun mereka juga pernah muda.


"Raka maunya gitu, Pa. Lamaran sekalian menikah." jawab Raka.


"Okey, nggak apa-apa. Papa dan Mama juga setuju." jawab Gavin.


"Oh iya, Raka mau bilang. Semalam Raka dan Dara sudah komitmen setelah Raka lulus langsung menikahinya. Makanya semalam Raka membawa Dara ke restoran hotel Papa dan secara simbolis kami berdua berjanji untuk masing-masing saling menjaga hati." jelas Raka.


"Wuaaah anak Papa ini memang sudah siap benar nih. Hebat kamu, Kak. Papa bangga sama kamu. Kenal perempuan satu langsung membawanya ke jenjang ke lebih serius." jawab Gavin.


"Secara tidak langsung kamu sudah melamar Dara.?" tanya Bu Ratih.


"Ya hanya sekedar tanda saja, Ma. Supaya Dara nggak menunggu kepastian dari Raka." jawab Raka.


"Benar itu, Kak. Meskipun kalian memang awalnya nggak pacaran, tapi Dara itu perempuan, pasti juga berharap kepastian. Karena apa, selama kamu belum berangkat ke Jepang, kalian kan selalu kemana-mana berdua. Kadang orang tuanya juga pasti tanya, kalian itu pacaran apa nggak. Kok anak perempuannya kamu ajak kemana-mana. Pasti gitu kan, Ka.?" jelas Bu Ratih.


"Iya, Ma. Raka faham kok." jawabnya.


"Bagus, anak Mama harus bisa bertanggung jawab dengan apa yang sudah menjadi keputusannya. Laki-laki itu dimata perempuan yang dilihat hanyalah tanggung jawabnya. Karena apa, tanggung jawab itu mewakili semuanya. Tanggung jawab dalam segi materi, kasih sayang dan lain sebagainya." jelas Bu Ratih.


"Iya Ma. Raka janji akan membahagiakan istri dan anak Raka nanti." jawab Raka.


"Ya Allah, nggak terasa anakku sudah dewasa dan mau menikah. Sebentar lagi aku sudah punya menantu dan cucu. Alhamdulilah atas umur dan kesehatan yang Engkau berikan kepadaku sampai aku bisa melihat anakku menikah." ucap Bu Ratih dalam hati.

__ADS_1


------------------------------


Bersambung...


__ADS_2