BU DOSEN CANTIK

BU DOSEN CANTIK
SEASON DUA Part : 96 (Saling memaafkan)


__ADS_3

Gavin mengangguk pelan mendengar omongan istrinya. Kemudian mereka keluar siap-siap berangkat.


Dalam perjalanan kekampus Gavin sengaja mempercepat laju maobilnya biar tidak terlambat.


Saat sampai dikampus, Bu Ratih hanya minta turun diluar saja biar nanti nggak muter lagi. Setelah pamit sama suami dan Papa mertuanya, Bu Ratih langsung berjalan menuju kampus dan Gavin melajukan mobilnya ke rumah sakit.


Saat kakinya kakinya memasuki pelataran kampus, dia dipanggil seseorang. Spontan Bu Ratih menoleh dan menghentikan langkahnya. Ternyata Farrel yang memanggilnya tadi.


"Kak, Ratih. Tunggu.!" seru Farrel.


"Eh, kamu Rel, tumben bawa mobil.?" tanya Bu Ratih.


"Iya, sudah selesai dari bengkel." jawabnya singkat.


"Kakak tadi siapa yang antar, Mas Gavin.?" tanyanya lagi.


"Iya, Gavin sekalian ke rumah sakit." ucap Bu Ratih.


"Siapa yang sakit!" tanya Farrel.


"Bu Hesty, Mamanya Gavin." jawab Bu Ratih.


"Lho, Kak. Emang sakit apa?" tanya Farrel.


"Sakit typus." jawab Bu Ratih.


"Semoga lekas sembuh, ya Kak.!" ucap Farrel.


"Iya, Rel. Makasih.!" jawab Bu Ratih.


Kemudian sesampainya diruangan Dosen. Bu Ratih mendapati Pak Reyhan saja yang ada didalam. Yang lainnya belum nampak. Dia mencoba menyapa sekedar berbasa basi.


"Selamat pagi, Pak Reyhan.!" seru Bu Ratih.


"Selamat pagi juga, Bu." jawab Pak Reyhan singkat.


Pak Reyhan menjawab salam Bu Ratih dengan anggukan dan senyum. Selama ini Bu Ratih jarang sekali ngobrol sama Pak Reyhan. Bu Ratih mencoba untuk memulai pembicaraan.


"Pak Reyhan asli Jakarta?" tanya Bu Ratih basa-basi.


"Iya, Bu. saya asli Jakarta. Tapi, dulu saya pernah tinggal di Surabaya pas setelah menikah." jawab Pak Reyhan pelan.


"Maaf, sekarang semua keluarga pindah ke Jakarta.?" tanya Bu ratih.


"Enggak, Bu. Saya sudah divors sama istri. Makanya saya pindah ke Jakarta kembali ke orang tua saya." jawab Pak Reyhan.


"Maaf, Pak. Saya nggak bermaksud mengingatkan Bapak." ucap Bu Ratih.


"Nggak apa-apa, Bu. Santai saja.!" jawab Pak Reyhan.


Tak lama kemudian datanglah Dosen yan lain. Satu persatu akhirnya ngumpul. Mereka ngobrol seperti biasa sebelum masuk ngajar. Bu Ratih juga begitu, setelah Bu Silvi datang, mereka akhirnya ngobrol juga.


.

__ADS_1


.


.


Ditempat lain, tepatnya dirumah sakit. Gavin dan Pak Indra sedang menunggui Bu Hesty. Sedangkan Kasih sudah pulang dengan naik taksi. Karena hari ini Pak Narto libur.


"Ma, gimana keadaan Mama sekarang?" tanya Gavin.


"Sudah enakan, Vin. Cuma badan Mama masih lemas." jawab Bu Hesty.


"Ma, Maafin Gavin, ya. Pas malam itu gavin terlalu keras sama Mama." ucap Gavin sambil memegang tangan Mamanya.


"Iya, Nggak apa-apa, Vin. Mama juga minta maaf, karena sudah melukai perasaan istri kamu." jawab Bu Hesty.


"Iya, sekarang kita jangan ada salah faham lagi." sahut Pak Indra.


"Ma, Gavin sempat membahas sama Ratih soal apa yang Mama inginkan." ucap Gavin.


"Maksud kamu, apa?" tanya Mamanya.


"Iya, soal Mama yang ingin cucu dari Gavin.!" jawab Gavin.


"Apa yang kau bicarakan, Vin.?" kini Pak Indra ikut bicara.


"Ratih ternyata mengijinkan Gavin untuk menikah lagi. Dia juga memikirkan kesehatan Mama." jawab Gavin.


"Apa.! Ratih bilang semua itu?" tanya Pak Indra.


"Masha Allah, terbuat dari apa hati anak itu. Begitu mulianya." ucap Pak Indra.


"Ya ampun, Mama jadi nggak enak, Vin. Mama harus berbuat apa untuk menebus kesalahan Mama sama dia." ucap Bu Hesty.


"Tapi, Ratih minta persyaratan, Ma. Katanya misal Gavin menikah lagi dan punya anak. Maka anak itu akan menjadi hak asuh Gavin dan Ratih." jawab Gavin.


"Tapi, Vin. Apa ada wanita yang menerima persyaratan itu." tanya Pak Indra.


"Belum tahu, Pa." jawab Gavin.


"Apa kamu sudah siap, Vin. Menikah dengan wanita lain yang tidak kamu cintai.?" tanya Bu Hesty.


"Makanya itu, Ma. Apa Gavin sanggup melakukannya." ucap Gavin.


"Kamu harus bisa, Vin. Jika istri kamu bisa mengijinkan kamu menikah lagi, yang secara dia pasti terluka, masa kamu nggak bisa melakukan hanya karena kamu tidak mencintainya.!" tukas Pak Indra.


"Iya juga, Pa. Gavin jadi bingung dengan semua ini, mau nggak mau Gavin harus bisa." jawab Gavin sambil menyandarkan tubuhnya dikepala sofa


"Ya sudah, lain kali kita bahas lagi soal ini. Yang penting sekarang permasalahan ini sudah menemukan titik terang." ucap Pak Indra.


Mereka akhirnya melanjutkan obrolan dengan topik yang berbeda. Bu Hesty sudah nampak ceria, tidak seperti sebelumnya. Apa mungkin ini juga gara-gara omongan dari Gavin soal persetujuan Bu Ratih soal menikah lagi.


.


.

__ADS_1


.


Sore harinya, Bu Ratih nggak mau dijemput karena dia mau pulang sama Farrel. Biar Gavin tidak bolak-balik. Akhirnya sampailah Bu Ratih dirumahnya.


Bu Ratih langsung masuk kamar diikuti oleh Kasih. Dia menyiapkan semua keperluan Bu Ratih. Seperti biasa, Kasih menunggu majikannya itu mandi. Dia duduk dikamar sendiri.


Tak lama kemudian, Keluarlah Bu Ratih dari kamar mandi. Kasih sudah menyiapkan obat dan vitamin yang akan diminum. Kini giliran menyisir rambut Bu Ratih, Kasih melakukannya dengan lembut dan penuh kesabaran.


Bu Ratih yang melihat ketelatenan Kasih jadi terbesit suatu ide. Tapi, apa ide ini akan berdampak baik atau sebaliknya. Dilihatinya wajah Kasih dari balik cermin. Memang gadis itu sangat anggun dan manis. Pakai hijab dan selalu santun.


"Kasih, kira-kira saya boleh minta tolong sama kamu, gak.?" tanya Bu Ratih.


"Iya, Bu. Kasih bisa bantu Bu Ratih apa.?" jawab kasih.


"Emm.., tapi permintaan saya ini berat. Apa kamu sanggup melakukannya.?" tanya Bu Ratih.


"Kalau selama saya mampu, saya pasti akan melakukannya buat Bu Ratih.!" jawab Kasih.


"Ini juga menyangkut masa depan kamu, lho.!" seru Bu Ratih.


"Iya, Bu. Selama saya sanggup. Saya akan melakukannya." jawab Kasih.


"Menikahlah dengan suami saya.!" ucap Bu Ratih seraya dia menoleh kearah Kasih.


Kasih sontak kaget, sisir yang ada digenggamannya pun terjatuh ke lantai. Dia terperangah dan tidak bisa berkata apa-apa. Baginya ucapan majikannya itu bagai petir disiang bolong. Dia harus senang apa sedih. Meskipun dia pernah jatuh hati sama Gavin. Tapi, dia tidak akan egois untuk mendapatkan cinta laki-laki pujaannya itu dengan begini.


Cinta dia ke Gavin murni tak bersyarat. Dia sudah bahagia jika melihat Gavin bahagia. Meskipun sekarang dia hidup satu atap dengan Gavin. Tapi, dia murni bekerja untuk merawat istrinya yang habis dioperasi.


Bu Ratih yang mendapati asistennya itu jadi terdiam seribu bahasa langsung memeluknya. Bu Ratih jadi nggak tega karena telah minta tolong sama dia. Tapi, dia sudah terlanjur mengatakan hal itu.


Belum tentu juga dia menyukai Gavin, mungkin juga dia sudah punya laki-laki yang dia cintai.


"Kasih., maafkan ya, kalau saya mengatakan ini sama kamu. Saya bingung harus minta tolong sama siapa. Sedangkan saya mau jika suamiku menikah lagi, setidaknya dengan wanita baik-baik.!" ucap Bu Ratih.


"Bu, saya ngerti masalah Bu Ratih seperti apa. Tapi, tolong jangan segegabah ini memutuskan sesuatu. Saya ini siapa, Bu. Kok bisa-bisanya Bu Ratih mempercayakan ini semua sama, saya.?" tanya Kasih.


"Justru saya mengerti kamu ini siapa, maka saya meminta tolong ini sama kamu. Kamu nggak harus menjawabnya sekarang, kamu juga harus memikirkannya matang-matang. Bila perlu, kamu juga harus meminta pertimbangan dengan keluarga kamu." ucap Bu Ratih.


"Tapi, Bu. Saya takut, karena ini akan menyangkut dengan Tuan dan Nyonya besar. Apa kata mereka jika Bu Ratih meminta saya untuk menikah dengan Pak Gavin.!" ucapnya.


"Aku tidak setuju.!!!"


-----------------------------------


Bersambung....


**Maap, ye. Part ini sangat pendek. Karena author nya lagi nggak enak badan..


Tapi, jangan lupa like dan vote nya, biar semangat ngetiknya dan semakin seru ceritanya..*


Love you all..


Author*.,

__ADS_1


__ADS_2