
Gavin menuju ruangan Pak Bima. Dan ternyata sudah pulang. Akhirnya kini memutuskan pulang dan menjemput istrinya. Biar permasalahan si Yolanda diurus besok aja.
Setelah menjemput istrinya, Gavin kembali melajukan mobilnya untuk kembali kerumahnya. Bu Ratih melihat tampang suaminya yang sedikit cemberut. Pasti ada apa-apa dikantor.
Bu Ratih mencoba menghibur suaminya dengan mengajaknya bicara dan becanda. Sedikit berhasil sih, cuma sedikit. Gavin memang tak bisa menyembunyikan sesuatu.
Setibanya dirumah, Gavin dan Bu Ratih melangkah masuk rumah seperti biasa. Kini mereka berdua berada dikamar.
Bu Ratih sudah mandi dari rumah Mamanya tadi, karena orang hamil kalau mandi terlaulu sore itu pamali.
"Sayang, langsung mandi sana, gih.! bau." ucap Bu Ratih sambil memegang dada suaminya.
"Hemm., masa sih bau," jawab Gavin sambil mencubit hidung istrinya.
"Nggak bau, kok sayang. Cuma dede nya ini lho pingin lihat Ayahnya lekas mandi biar tambah ganteng." jawab Bu Ratih manja.
"Yang pingin liat Ayahnya ganteng, sebenarnya Bundanya apa dedenya.?" jawab Gavin sembari mengerlingkan matanya.
"Hmm, kalau itu sih.., dua-duanya kali, ya?" jawab Bu Ratih sambil mencubit perut suaminya.
"Ya sudah, aku mandi dulu, ya sayang." jawab Gavin sambil melangkah ke kamar mandi.
Bu Ratih tersenyum senang, karena suaminya sudah terlihat seperti biasanya. Dia bingung dengan cara apa mau menghibur suaminya biar nggak stress mikirin urusan kerjaan.
Tak lama kemudian Gavin keluar kamar mandi dengan hanya memakai handuk untuk menutupi bagian bawah saja, sehingga bagian atasnya terlihat begitu sempurna. Tubuh yang jangkung lengkap dengan garis-garis bagian perut menambah keseksiannya.
Gavin yang mendapati istrinya sedang memperhatikan dirinya dengan ekspresi yang takjub sampai nggak menyadari kalau Gavin kini sudah didekatnya dengan jarak beberapa senti.
Bu Ratih kaget ketika mendapati suaminya yang sudah memeluknya. Tangan Gavin kini memegang kedua pipi istrinya lalu dengan lembut mencium bibir istrinya yang ranum. Bu Ratih memejamkan matanya dan membalas ciuman suaminya dengan lembut. Kejadian itu berlangsung lama sampai- sampai mereka nggak menyadari kalau kini tubuhnya sudah berada didekat tempat tidur.
Bu Ratih akhirnya tersadar dan mencoba menyudahinya. Gavin mendekatkan dahinya dengan dahi istrinya. Keduanya tersenyum dan Gavin melepaskan pelukannya. Dia melangkah mengambil baju dilemari. Bu Ratih duduk di tepi tempat tidurnya sambil memperhatikan suaminya berpakaian.
Setelah selesai, keduanya akhirnya keluar dan duduk di ruang tengah. Semenjak pindah ke kamar dilantai bawah, kini mereka sering duduk diruang tengah karena jaraknya yang dekat.
"Sayang, kamu tahu nggak, sekretaris aku yang sombong itu, masa dia bikin ulah lagi." ucap Gavin tiba-tiba.
"Apa.! bikin ulah gimana maksud kamu, sayang?" jawab Bu Ratih.
__ADS_1
"Tadi, ketika mau pulang, aku mendapatinya dia lagi bergosip sama karyawan yang lain. Dia ngomongin kalau aku ini pimpinan apa, yang mau-maunya makan nasi bungkus sama Ob.?" jelas Gavin.
"Masa dia bicara seperti itu.? emang kenapa kalau kamu makan nasi bungkus, sayang?" ucap Bu Ratih.
"Makanya itu juga, nasi bungkus itu kan hanya istilahnya saja. Misal aku makan nasi padang terus dibungkus juga sama aja kan.?" tukas Gavin.
"Terus, emangnya kamu makan sama siapa.?" tanya Bu Ratih.
"Tadi itu ceritanya aku mau makan diluar, tapi, bingung mau makan apa. Setelah itu aku berpapasan sama Kasih yang baru saja beli nasi bungkus buat makan siangnya. Dia menawarkan untuk dibelikan makan siang juga. Dan akhirnya aku pingin dibelikan nasi bungkus juga sama kayak punya dia. Lalu aku ajak aja sekalian makan siang bareng-bareng diruanganku. Aku suruh panggil Pak Firman sekalian, jadilah kita makan nasi bungkus rame-rame." jelas Gavin.
"Sayang, kamu memang pimpinan yang sederhana, bisa membaur dengan semua karyawan kamu. Aku bangga sama kamu." jawab Bu Ratih.
"Makanya itu, orang kalau berfikirnya jernih dan bijak. Maka akan berpendapat seperti kamu. Bukan kayak Yola sombong itu.!" ucap Gavin kesal.
"Sudah sayang, kamu sabar aja. Mungkin dia memang sifatnya seperti itu." ucap Bu Ratih menghibur.
"Iya juga sih, tapi, aku masih ingat bagaimana ekspresi dia saat bicara itu. Katanya "kalau aku sih, nggak banget makan nasi bungkus ditemani Ob", siapa yang nggak geram melihatnya." jawab Gavin.
"Terus, apa tindakan kamu selanjutnya.?" tanya Bu Ratih.
"Aku akan berbicara sama Pak Bima. Mungkin aku akan mutasi dia ke bagian lain." jawab Gavin.
"Makasih sayang, atas dukungan dan pengertiannya. Kamu memang baik, hati kamu sangat lembut, bahkan sama orang yang tadi pagi sudah bentak-bentak kamu pun, kamu masih punya rasa kasihan." jelas Gavin.
"Nggak baik menyimpan dendam, bisa jadi penyakit. Mending biarkan saja dia berulah, nanti pasti kan ada balasannya tersendiri." ucap Bu Ratih bijak.
Gavin yang mendengar ucapan istrinya seperti itu, jadi tambah sayang dan kagum sama dia. Sudah cantik, ramah baik hati pula. Dia memeluk pundak istrinya dan meletakan kepala istrinya kepundaknya. Mereka berdua kelihatan mesra dan harmonis.
(*****)
Keesokan harinya Gavin beraktivitas seperti biasa, setelah mengantar istrinya ke kampus, dia langsung menuju kantornya. Setelah sampai dikantor, dia langsung memarkirkan kendaraannya di tempat biasa.
Saat berjalan menuju ruangannya, dia sudah mendapati sekretarisnya itu duduk di mejanya. Gavin menoleh dan dia membungkukan badannya beri hormat, Gavin membalas dengan senyuman.
Dia mendaratkan tubuhnya dikursi kerjanya seperti biasa. Dilihat jam menunjukan pukul delapan. Dibukanya benda pipih dihadapannya itu. Kemudian menekan tombol ON dan barulah muncul semua jenis data.
Gavin melototin laptop itu dengan serius. Dia kini membuka bagian data setiap divisi, lalu dia perhatikan kira-kira divisi mana yang perlu dikasih satu personil lagi.
__ADS_1
Dia lalu tersenyum, karena sudah menemukan divisi yang tepat buat Bu Yolanda. Kemudian ditutupnya kembali laptop dan dia beranjak keluar ruangannya.
"Bu Yola, kalau ada yang mencari saya, tolong, bikin janji dulu. Saya ada urusan sedikit dengan HRD. Jadi, jangan diganggu." ucap Gavin saat melewati meja sekretarisnya itu.
"Siap, Pak!" jawab Bu Yola.
Kini Gavin berjalan menuju ruangan Pak Bima. Letaknya memang nggak begitu jauh karena sama-sama satu lantai. Diketuknya pintu kemudian dia masuk.
"Pagi, Pak Bima." sapa Gavin sambil mengulurkan tangannya untuk bersalaman.
"Iya, Pagi juga Pak Gavin. Ada yang bisa saya bantu." jawab Pak Bima seraya membalas uluran tangan atasannya itu.
"Begini, Pak. Soal Bu Yolanda sekretaris saya itu, gimana kinerjanya menurut Pak Bima. Memang dia susah melewati masa training. Cuma progesnya dia bagus, nggak?" tanya Gavin.
"Iya, Pak Gavin. Saya sendiri juga bingung. Kalau saya lihat sih, masih biasa-biasa saja. Kerjaan juga dia belum begitu banyak, secara sebelumnya Pak Indra memang tidak pernah memakai sekrtaris. Beliau memutuskan memakai sekretaris kan lantaran dia mau pensiun dan mungkin biar Pak Gavin ada patnernya gitu. Selain itu juga, kebetulan teman Pak Indra merekomendasikan dia lantaran itu keponakan teman Pak Indra itu." jelas Pak Bima.
"Maka dari itu, Pak. Saya sudah memutuskan tidak akan memakai sekretaris lagi. Dan saya berniat memindahkan dia ke divisi lain." tukas Gavin.
"Itu terserah Pak Gavin, saja. Misal Pak Gavin nggak pakai sekretaris juga nggak apa-apa. Atau Pak Gavin minta diganti orangnya saja.?" tawar Pak Bima.
Tawaran Pak Bima boleh juga, misal kalau nggak pakai sekretaris, gimana kalau dia pas banyak kerjaan apa nggak kewalahan juga. Dia akan mempertimbangkan apa yang disarankan Pak Bima.
"Saran Pak Bima boleh juga, cuma apa harus merekrut karyawan baru?" tanya Gavin.
"Kalau itu saya rasa nggak usah, Pak. Kita tukar saja dengan divisi lain." jawab Pak Bima.
"Bagus juga, itu nanti Pak Bima saja yang atur." jawab Gavin.
"Baiklah, Pak. Nanti saya yang atur." ucap Pak Bima.
"Oke, Pak. Saya rasa sudah cukup. Nanti saya tunggu kabar selanjutnya. Saya permisi dulu, Pak." ucap Gavin.
"Iya, Pak Gavin. Secepatnya saya info." jawab Pak Bima.
Gavin melangkah meninggalkan ruangan HRD. Dia berjalan menuju ruangannya kembali. Dalam hatinya kini dia sedikit plong, karena dia tidak akan lagi kerja dengan sekretaris yang sok itu.
----------------------------------
__ADS_1
Bersambung........