BU DOSEN CANTIK

BU DOSEN CANTIK
Part : 41 (Ketulusan hati Gavin)


__ADS_3

............................


Gavin tidak membalas pesan tersebut, masih diingat siapa pemilik nomor ini. Selama ini yang panggil dirinya dengan sebutan "Mas Gavin" hanya Winda Adik Ratih. Bathinnya. Tapi, kalau dia nggak mungkin. Akhirnya Gavin membalasnya.


'Maaf, ini siapa'


'Masa lupa, Mas.'


'Maaf, tolong Anda jangan berbeli-belit'


'Sabar atuh, Mas Gavin.'


'Tolong, siapa Anda!'


'Aku Sasha, Mas.'


Gavin, terbelalak. Dia nggak nyangka kalau Sasha anaknya Pak Ferry berani chat dia.


'Apa, maksud Anda chat saya, malam-malam?'


'Pingin aja, masa nggak boleh.'


'Maaf, saya tidak ada waktu.'


'Galak amat sih!'


Gavin langsung memblokir nomor tersebut. Kembali dia meletakkan ponselnya diatas nakas. Dalam hening malam ini pikirannya sangat kacau. Dia berdiri melangkah keluar menuju balkon. Dia berdiri dipinggir sambil pegangan pagar balkon.


Diamatinya langit malam ini yang begitu indah dengan ditemani bintang-bintang. Dia tersenyum melihat ke atas sana. Begitu setianya para bintang-bintang itu terhadap langit, sampai selarut inipun mereka masih menghiasi langit itu. Sungguh luar biasa ciptaan Tuhan satu ini.


Gavin duduk di kursi dengan pandangan yang masih menatap langit.


Dalam hatinya mengatakan, apa dia harus mengatakan masalah ulah Ferry terhadap Papanya apa enggak. Dia tidak ingin membuat Papanya menjadi ikut kepikiran. Jika tidak dikatakan, tentunya Papanya akan tahu juga. Gavin merenung demgan menopang dagu. Tanpa disadari ada yang menghampirinya.


"Kamu, belum tidur, Vin?" suara yang nggak asing itu kini terdengar jelas. Gavin sontak menoleh kaget.


"Papa.! kenapa Papa naik? Kaki Papa kan belum sembuh betul?" teriak Gavin seraya menyambut dan membantu Papanya untuk duduk.


"Papa, sudah tidak apa-apa, Nak?" sahutnya.


"Tapi, Papa kenapa naik, kalau memang ada perlu sama Gavin, kan tinggal panggil aja." ucap Gavin dengan berjongkok dihadapan Papanya sambil memijit-mijit kaki Papanya.


"Kamu, duduk aja. Papa mau bicara." ucap Pak Indra.

__ADS_1


Kemudian Gavin berdiri lalu duduk di kursi.


"Ada apa, Pa?" tanya Gavin.


"Apa, kamu ada masalah? sehingga kamu mendadak mau melamar Ratih?" tanya Pak Indra.


Gavin spontan kaget, wajahnya berubah. Dia mau bohong, tapi selama ini dia nggak pernah ada yang ditutup-tutupi sama Papanya. Sementara Pak Indra memperhatikan sikap Putranya yang berubah.


"Emm..Begini, Pa. Memang Gavin ada sesuatu yang mengharuskan Gavin segera melamar Ratih. Waktu Papa di Semarang, Ferry maulana menagih soal proyek yang di Bali. Dan Gavin sudah menjajikan kalau besok akan segera Gavin urus semuanya.


Tapi, bukan itu saja Pa. Putrinya Ferry maulana, dia suka sama Gavin. Dan anak buah Papa yang Gavin suruh mengawasi gerak-gerik Ferry maulana juga melaporkan kalau Ferry akan melakukan apa saja supaya Putrinya bisa mendapatkan Gavin.


Setelah itu esok harinya, Mas Bagas kasih kabar kalau Seno mau bebas. Gavinpun berunding sama Mas Bagas gimana solusinya. Akhirnya Gavin putusin untuk segera melamar Ratih." jelas Gavin.


Pak Indra manggut-manggut mendengarkan cerita Gavin. Kemudian dia menarik nafas panjang.


"Tindakkan kamu sudah tepat, Nak. cuma soal Seno, Papa masih heran. Kok bisa secepat itu bisa bebas. Tapi, kamu jangan kawatir. Biar Papa yang urus soal seno. Kamu tetap pada rencana awal.


Soal Putrinya Ferry, Papa rasa bukan masalah yang serius, selama kamu bisa menjaga diri dan waspada." terang Pak Indra.


"Iya, Pa. Makasih nasehatnya..," ucap Gavin.


"Iya, sayang. Kamu harus menjadi laki-laki yang tangguh, tahan dengan segala macam ujian. Jangan pantang menyerah selama kamu masih berdiri dengan bermodalkan kebenaran dan Ridho Allah, Papa yakin, semua bisa dilalui." ucap Pak Indra.


"Iya, Nak. Sekarang kamu istirahat, Papa juga mau istirahat." ucap Pak Indra.


Gavin menuntun Papanya untuk menuruni anak tangga. Sampai di bawah, Papanya kemudian masuk kamar. Gavin kembali naik menuju kamarnya untuk istirahat.


.


.


Keesokan harinya sepulang kantor dia menjemput Bu Ratih di kampus karena mau beli cincin dan keperluan lainnya. Berhubung mereka sibuk, jadi belanjanya dilakukan setelah pulang beraktivitas. Gavin dan Bu Ratih menuju Mall guna membeli cincin.


Sesampainya di toko emas, mereka masuk dan disambut oleh pelayan toko tersebut. Akhirnya mereka sudah menemukan yang cocok. Lalu mereka menuju ke sebuah butiq buat mencari baju buat lamaran itu. Berhubung lamarannya mendadak dan hanya untuk keluarga saja, mereka memilih baju yang sederhana. Bu Ratih memilih kebaya modern warna biru muda. Gavin memilih batik lengan panjang senada dengan bawahan Bu Ratih.


Setelah selesai mereka berdua berjalan menuju sebuah restoran padang untuk mengisi perut.


Setelah memesan, mereka mengobrol sambil menunggu pesanan datang.


"Sayang, nggak apa-apa kan kalau acara tunangan kita ini, dilakukan secara sederhana saja?" tanya Gavin.


"Nggak apa-apa, sayang. Aku justru senang seperti ini." jawab Bu Ratih.

__ADS_1


"Makasih sayang...," ucap Gavin.


"Tapi, aku mau tanya. Kenapa kamu kok mengajukan acara tunangan, kita?" tanya Bu Ratih.


"Ceritanya panjang. Kalau aku cerita kamu nggak usah kepikiran, ya? Mas Bagas kasih tahu aku, kalau Seno sebentar lagi bebas. Tapi, belum tahu berita itu benar apa tidak. Makanya aku berencana segera melamar kamu. Buat waspada aja, jika dia masih terobsesi sama kamu." ucap Gavin pelan-pelan.


Bu Ratih wajahnya seketika berubah, ada rasa takut terpancar dari raut mukanya yang ayu. Gavin seketika langsung menggenggam tangannya, mencoba memberi semangat dan perlindungan.


"Sayang, kamu tenang saja. Kamu aman dan kamu jangan lemah. Anak buah Papa sudah aku perintahkan untuk mengawasi semua aktivitas kamu. Aku juga sudah bayar orang untuk mencari info soal kebenaran berita soal Seno." ucap Gavin sambil terus menggenggam tangan kekasihnya itu.


"Iya, sayang. Aku percaya sama kamu. Tapi, aku jadi teringat kala itu. Aku akan tenang selama ada kamu." ucap Bu Ratih lirih.


"Iya, kamu harus tenang dan kuat." jawab Gavin. Makanan pun datang, kemudian mereka menikmati makanan yang sudah dipesan.


Setelah selesai, Gavin membayar ke kasir kemudian mengajak Bu Ratih meninggalkan restoran itu. Mereka masih berjalan-jalan ke penjuru Mall itu untuk mencari apa yang mereka butuhkan. Gavin menangkap sesorang yang nggak asing. Perempuan berhijab itu kenapa berada di Mall ini. Segera Gavin mendekati perempuan itu.


"Kasih.! kamu ngapain disini?" teriak Gavin kearah gadis itu.


"Pak, Gavin! eng..anu, Pak. Saya selepas kerja dikantor Bapak, saya langsung kerja sebagai tukang cuci piring di restoran itu." ucap Kasih sambil menunjuk sebuah restoran siap saji.


"Ya ampun, Kasih. Apa kamu nggak capek? kapan hari kamu juga berjualan nasi bungkus ditaman.?" tanya Gavin.


"Sudah tidak jualan lagi, Pak. Makanya saya cari tambahan untuk kerja disini." ucap Kasih sambil menunduk.


Gavin menoleh kearah Bu Ratih. Mereka merasa iba dengan kehidupan Kasih. Kemudian Gavin mengeluarkan dompet dan mengambil beberapa lembar uang ratusan ribu, kemudian diberikan ke Kasih.


"Tolong, ini diterima. Jangan menolak, anggap saja ini perintah dari atasanmu. Sampaikan ini kepada ibu kamu. Buat membeli keperluan dirumah. Jadi, harap kamu terima ini." ucap Gavin tegas.


Kasih masih ragu-ragu, dia menoleh kearah wanita disebelah Gavin. Bu Ratihpun memberikan senyuman dang mengangguk pelan.


"Terima kasih, Pak. Ini saya terima." ucap Kasih.


"Iya, Sama-sama. Kamu hati-hati, jaga kesehatan jangan sampe kecapek'an." ucap Gavin.


"Iya, Pak." jawab Kasih.


Baru saja Gavin akan pamitan untuk langsung pulang, sebuah teriakan mengagetkan ketiganya.


"Kasih..!!


.............................


Next...................(42).

__ADS_1


__ADS_2