
Bu Ratih kaget, tasnya jatuh dan buku-buku yang ada di dalamnya seketika keluar. Orang menabraknya tadi juga nggak kalah kagetnya. Dia membantu memunguti buku yang jatuh.
Bu Ratih masih bingung siapa laki-laki muda didepannya ini. Dia perhatikan laki-laki tersebut ketika dia sibuk membantunya memunguti bukunya. Pakaiannya rapi, tapi Bu Ratih masih belum tahu siapa dia.
"Maaf Bu, saya tadi keburu jadi nggak tahu kalau Anda mau masuk ruangan. Oh iya, kenalkan saya Farrel, saya anak magang dikampus ini dibagian tata usaha." ucapnya seraya mengulurkan tangannya kearah Bu Ratih.
"Oh iya, nggak apa-apa. Saya Bu Ratih, Dosen akuntansi disini." jawab Bu Ratih sambil membalas uluran tangan Farrel.
"Ya sudah, saya permisi dulu, Bu Ratih." jawab Farrel.
"Iya, silahkan." jawab Bu Ratih.
Bu Ratih kemudian masuk ruangan Dosen. Lalu dia ke ruangan tata usaha untuk menemui Pak Anwar. Diketuknya pintu ruangan itu dan Pak Anwar mempersilahkan masuk.
"Silahkan duduk Bu Ratih." ucap Pak Anwar.
"Pak, mengenai undangan Seminar, ini kenapa harus saya, ya Pak?" tanya Bu Ratih.
"Oh itu, sebenarnya Seminar itu hanya Seminar biasa, kok Bu. Setiap Universitas mendapat undangan. Sebagai formalitas saja biar kampus kita ada perwakilan. Berhubung Dosen-Dosen yang lain nggak mau, jadi saya minta tolong Bu Ratih. Saya rasa nggak memakan waktu lama, kok Bu. Mungkin setengah hari sudah selesai." terang Pak Anwar.
"Saya sih, sebenarnya nggak keberatan. Cuma, suami saya sekarang kan lagi sakit, takutnya kalau Seminar biasanya memakan waktu sampai berhari-hari dan itu diluar kota." ucap Bu Ratih.
"Oh itu tidak, Bu. Seminar itu dikota ini juga kok. Di Gedung serbaguna salah satu Sekolah Menengah Atas disini. Saya rasa tidak lama." jawab Pak Anwar.
"Ya sudah kalau begitu, Pak. Saya bersedia mewakili kampus ini." jawab Bu Ratih sambil menyalami Pak Anwar.
"Iya, Bu. Terima kasih.!" jawab Pak Anwar.
Baru saja Bu Ratih berdiri dan mau beranjak dari tempat duduknya, tiba-tiba si Farrel masuk dan hampir saja bertabrakan lagi.
Kali ini Bu Ratih bisa melihat wajah laki-laki muda ini dengan jelas. Farrel pun tersenyum dan menundukan badannya tanda memberi hormat. Bu Ratih pun membalasnya dengan senyuman pula.
Kemudian Bu Ratih keluar dan meninggalkan Farrel dan Pak Anwar diruangan itu. Farrel kemudian duduk dimejanya.
"Oh iya, Farrel. Apa sudah kamu kasihkan Pak Rustam berkas yang dari saya, tadi?" tanya Pak Anwar.
"Sudah, Pak." jawabnya.
***
Diruangan Dosen Bu Ratih duduk sambil buka ponselnya. Dikirimnya pesan ke Gavin.
'Sayang, apa kamu sudah makan?'
'Sudah, barusan dibantu Mama. Kamu sendiri sudah makan, belum?'
'Belum, ini mau ke kantin. Habis isi kelas.'
'Ya sudah, kamu makan dulu, nanti sakit lho sayang.'
'Baiklah Bosque..,'
'Hati-hati, love you.'
'Love you too.'
Bu Ratih memasukan ponselnya kembali. Kini dia masih duduk-duduk dimejanya. Kemudian dia ingat sesuatu, diambilnya undangan Seminar tadi. Lalu dibacanya.
__ADS_1
Dia kaget, ini ada tulisannya wajib mengirimkan minimal dua orang perwakilan setiap kampusnya. Lah kok Pak Anwar tadi nggak bilang kalau dua orang. Lah satunya siapa. Bathin Bu Ratih.
Tapi, sudahlah. Kali ini Bu Ratih nggak ambil pusing dia ke Seminar itu sama siapa, yang penting tujuan dia hanya satu, mewakili kampusnya untuk mengikuti Seminar itu.
Bu Ratih berjalan menuju kantin guna makan siang, dia pesan soto ayam satu sama es teh manis. Bu Ratih ambil tempat duduk yang kosong.
Sambil menunggu pesanan datang, dia membuka-buka poselnya. Tak di sadarinya kalau ada yang menyapanya.
"Boleh gabung disini, Bu.?" suara itu membuat Bu Ratih mendongak dan sedikit kaget. Lalu Bu Ratih tersenyum.
"Oh silahkan, kursi ini kosong, kok!" jawabnya.
Kemudian Farrel duduk dihadapan Bu Ratih. Lalu dia memulai ngobrol-ngobrol.
"Sudah pesan makanannya.?" tanya Bu Ratih.
"Sudah, Bu.! Oh iya, Kata Pak Anwar Bu Ratih yang mewakili kampus untuk ikut Seminar.?" tanya Farrel.
"Iya, saya yang ikut. Tapi, Pak Anwar nggak bilang kalau itu minimal dua orang. Lah nanti saya sama siapa?" ucap Bu Ratih.
Lalu Farrel tersenyum, kini dia membetulkan duduknya biar pas. Tak lama kemudian pesanan mereka datang. Ternyata Farrel pesan soto ayam juga.
"Makasih Bu...," ucap Bu Ratih.
Lalu keduanya menyantap makan siang dengan lahapnya. Sesekali Farrel mencuri pandang kepada Bu Ratih. Tapi, buru-buru dia mengalihkan pandangannya saat Bu Ratih menatapnya.
"Kamu sudah lama magang disini?" Bu Ratih mencoba mengalihkan sikap Farrel dengan mengajaknya bicara.
"Iya, Bu. Sudah tiga bulanan saya magang disini.!" jawabnya.
"Oh iya, tapi, saya jarang melihat kamu. Atau memang saya terlalu sibuk.?" tukas Bu Ratih.
"Oh gitu, pantesan saya jarang lihat." ucap Bu Ratih.
"Bu Ratih sendiri sudah lama ngajar di kampus ini.?" tanya Farrel balik.
"Sudah lama, sudah hampir dua tahunan." jawab Bu Ratih.
"Enak ya, masih mudah sudah menjadi Dosen.!" ucapnya.
"Ih, siapa bilang masih muda, saya sudah mau tiga puluh tahun." jawab Bu Ratih asal.
"Masa Bu.! Tapi, kayak umur dua limaan." celetuk Farrel.
"Kamu bisa aja, Rel." jawab Bu Ratih.
"Pasti suami Bu Ratih senang punya istri cantik dan awet muda seperti Bu Ratih." sahut Farrel.
"Itu sih biasa saja, suamiku mencintaiku apa adanya diriku." jawab Bu Ratih.
Lama-lama mereka keliatan akrab. Ngobrol seperti sudah kenal lama. Farrel anaknya supel dan mudah bergaul.
"Kamu sendiri umur berapa?" tanya Bu Ratih.
"Saya juga sudah tua, umur saya dua puluh tiga tahun, Bu.!" jawabnya.
"Hemm.., gitu kok sudah tua, itu namanya masih muda." jawab Bu Ratih sambil tertawa.
__ADS_1
"Tapi belum punya pacar, Bu. Hehe.." ucap Farrel sambil cekikikan.
"Tenang saja, di kampus banyak cewek-cewek cantik. Nanti pasti ada yang nyantol satu.!" tukas Bu Ratih.
Disaat mereka asyik ngobrol-ngobrol, tiba-tiba Vanya muncul dihadapan mereka.
"Bu Rat..ih.!" ucap dia terbata ketika melihat ada cowok dihadapannya.
Mata Vanya dan Farrel bersirobok, mereka berdua masing-masing terpana satu sama lain. Bu Ratih hanya geleng-geleng kepala saja mendapati dua anak muda dihadapannya ini.
Kemudian Bu Ratih berdehem, lalu keduanya spontan menunduk, apalagi Farrel dia kelihatan malu.
"Hai Vanya, ayo gabung sini. Kamu, sudah makan, sayang?" tanya Bu Ratih.
"Sudah, Bu. Tadi Vanya mencari Ibu ke perpustakaan, ternyata disini." jawab Vanya.
"Oh ya, kenalin Vanya, ini Kak Farrel. Dia magang dikampus ini. Farrel, kenalin ini Vanya. Mahasiswi saya." ucap Bu Ratih
Kemudian keduanya lalu bersalaman dan menyebutkan nama masing-masing. Vanya kemudian duduk.
"Vanya, soal mata kuliah kamu yang ketinggalan, nanti Bu Ratih pinjami bukunya, kamu fotocopy kan sendiri." ucap Bu Ratih.
"Iya Bu," jawab Vanya.
"Maaf, kalau boleh saya bantu untuk menyalinkan bukunya. Kemarin saya juga dapat kerjaan dari Pak Rustam buat bantuin Mahasiswanya." tanya Farrel.
"Itu ide bagus, Rel! gimana Van, biar nanti bukunya Ibu kasih Farrel aja, ya?" ucap Bu Ratih.
"Iya, Bu. Vanya nurut Bu Ratih aja." jawabnya pelan.
"Ya sudah, besok saya bawakan bukunya, nanti kamu yang urus, ya Rel?" ucap Bu Ratih.
"Oh iya, Bu. Saya lupa. Besok Seminarnya sama saya. Pak Anwar bilang gitu. Saya lupa tadi mau bilang. Gara-gara bicara soal umur yang sudah tua. Hahaha.." ucap Farrel sambil tertawa.
"Iya Rel, kamu atur saja. Saya tinggal berangkat." jawab Bu Ratih.
"Saya permisi dulu, ya. Mari Bu Ratih, Vanya." ucap Farrel sambil meninggalkan mereka berdua.
"Gimana, Van. Kak Farrel ganteng, nggak?" ucap Bu Ratih tiba-tiba.
"Ih.., Bu Ratih bisa aja." jawab Vanya dengan malu-malu.
Keduanya tersenyum lalu meninggalkan kantin. Mereka menuju tempatnya masing-masing. Bu Ratih sekarang berada diruangan Dosen lagi menunggu jam kepulangan.
***
Jam kepulangan pun tiba. Bu Ratih mau menelpon Taxi untuk pulang. Tapi, tiba-tiba Vanya memanggilnya.
"Bu Ratih, ayo bareng Vanya.!" seru Gadis itu.
Bu Ratih bingung mau jawab apa. Kenapa sih anak ini selalu bersikap seperti ini. Kalau nolak nggak enak. Kalau nggak nolak, takutnya ada apa-apa. Akhirnya Bu Ratih menolak secara halus.
"Maaf, Van. Ibu dijemput suami." jawabnya bohong.
"Oh ya sudah kalau gitu, Vanya duluan ya, Bu!" seru Vanya dari dalam mobil.
-----------------------------------
__ADS_1
Bersambung.......