BU DOSEN CANTIK

BU DOSEN CANTIK
SEASON DUA Part : 74 (Kehamilan Bu Ratih)


__ADS_3

Sejak istrinya positif hamil, Gavin sangat-sangat protektif terhadap Bu Ratih. Apalagi kata Dokter kandungan Bu Ratih lemah jadi, riskan sekali terjadi apa-apa. Sempat Gavin menyarankan untuk mengundurkan dari kerjaannya, tapi, Bu Ratih menolak. Karena pekerjaan sebagai Dosen adalah sebuah anugerah.


Akhirnya Gavin mengijinkan tetap ngajar asalkan bisa jaga diri dan tidak terlalu memforsir pekerjaannya. Karena dia tahu sifat istrinya ini adalah type orang yang mencintai pekerjaannya, jadi loyal dengan pekerjaannya.


Sejak istrinya hamil, dia sekarang pindah ke kamar yang dilantai bawah. Kamar dirumahnya memang ada enam kamar. Tiga diatas, tiga lagi dibawah. Dulu sebelum hamil memang kamar Gavin letaknya diatas sendiri. Yang dua sengaja kosong, cuma kalau ada keluarga dekat nginap aja biasanya menempati kamar itu.


Sedangkan dibawah ada tiga kamar itu terdiri dari kamar utama Pak Indra dan istrinya, kamar Mahen, lalu satu lagi kamar tamu.


Kini kamar tamu disulap menjadi kamar mereka sementara selama kehamilan. Biar tidak naik turun.


Seperti halnya hari ini di Kampus, Bu Ratih mengajar seperti biasa. Berhubung Farrel sekarang sudah menjadi bagian dari keluarga, dia membantu memantau Bu Ratih selama di kampus, dan tentunya dibantu si Vanya.


"Bu Ratih mau dibelikan apa.?" tanya Vanya ketika mendapati Bu Dosennya yang lagi duduk di perpustakaan.


"Nggak usah, Van. Bu Ratih sudah bawa air mineral dari rumah." jawab Bu Ratih.


Tak lama kemudian Farrel datang dengan membawakan roti sobek buat Bu Ratih.


"Kak Ratih, ini Farrel belikan roti. Biar Dedek bayinya nggak laper.?" ucap Farrel. Sejak kejadian itu kini Farrel memanggil Bu Ratih dengan sebutan "kak".


"Makasih Farrel., kamu baik banget. Mbak Ratih nggak laper. Tadi sudah minum susu." jawab Bu Ratih.


Bu Ratih senyum-senyum ketika melihat sikap yang ditunjukan oleh Farrel dan Vanya. Dia merasa beruntung karena telah dianugerahi orang-orang seperti mereka. Dalam hatinya dia berucap banyak terima kasih pada Tuhan karena menganugerahi keluarga yang sangat baik.


Keluarga Bu Ratih kini telah menanti kelahiran bayi tiga sekaligus. Anak Bagas, Mahen dan yang terakhir tentunya Anaknya. Usia kandungan kedua Kakaknya memang sudah besar. Irene menginjak tujuh bulan sedangkan Kinanti enam bulan.


Sedangkan dia sendiri kandungannya baru menginjak enam lima minggu. Saat hamil kini Bu Ratih mudah lelah dan kadang sering nyeri pada punggungnya. Dia begitu menjaga kehamilannya ini.


Selepas jam kuliah selesai, Bu Ratih seperti biasa menunggu suaminya menjemput dia duduk didekat pos satpam. Kini dia ditemani pak satpam yang lagi bertugas disitu.


Tak lama kemudian, datanglah Gavin menjemput. Setelah dia memarkirkan mobilnya. Gavin keluar mobil dan mendekati istrinya.


"Sore, Pak. Apa kabar?" sapa Gavin pada satpam itu.


"Hai Mas Gavin. Apa kabar? Wuaah keren sekarang sudah kerja kantoran.!" seru Pak satpam.


"Iya, Pak. Harus rajin bekerja cari uang yang banyak, bini lagi hamil, jadi semangat cari uangnya." jawab Gavin sambil ketawa.


Bu Ratih ikut tertawa saat Gavin bicara seperti itu. Suaminya ini ada-ada saja.


"Iya, benar Mas. Tapi, saya dulu nggak nyangka lho kalau Mas Gavin jadi menikah sama Bu Ratih." ucap Pak satpam.


"Iya, Pak. Cinta mati saya sama Bu Dosen satu ini. Semenjak ada dia, saya jadi rajin kuliah, hehehe.!" tukas Gavin terbahak.


"Mas Gavin mah dari dulu idolanya cewek-cewek." ucap Pak satpam.

__ADS_1


"Tapi yang penting kan sekarang nggak salah pilih istri." ucap Gavin sambil melirik kearah Bu Ratih.


Bu Ratih mengerucutkan bibirnya. Gavin tetap percaya diri dengan wanita pilihannya sekarang.


"Ayo pulang, sayang. Saya sudah capek, nih.!" seru Bu Ratih.


"Oh iya, iya sayang. Maaf, keenakan ngobrol sama pak satpam jadi lupa." jawab Gavin.


Keduanya lalu berpamitan sama Pak satpam itu. Lalu berjalan menuju mobilnya. Gavin membukakan pintu buat istrinya. Kemudian dilajukannya mobilnya meninggalkan pelataran kampus.


"Sayang, gimana ngajar hari ini. Kamu capek nggak?" tanya Gavin.


"Iya capek, sih. Tapi, sedikit. Tadi Farrel dan Vanya nemani aku saat istirahat. Farrel membelikan aku roti, katanya biar dedek bayinya nggak lapar, Kak." ucap Bu Ratih sambil tertawa.


"Dia perhatian banget sama ponakannya." ucap Gavim sambil terus matanya fokus kejalan.


"Aku beruntung sekali karena dikelilingi keluarga yang menyayangiku." ucap Bu Ratih.


Tak terasa akhirnya mereka sampai juga dirumah. Gavin memarkirkan mobilnya di halaman seperti biasa. Dia membantu istrinya membukakan pintu mobil. Lalu masuklah mereka kedalam rumah.


Gavin begitu telaten dan sabar menjaga istrinya yang lagi hamil. Kadang Bu Ratih sendiri merasa tidak enak, karena suaminya itu benar-benar protektif lantaran kehamilannya ini lemah.


Setelah masuk kamar, Bu Ratih langsung membaringkan tubuhnya ditempat tidur. Gavin membantu menggantikan bajunya. Herannya lagi, semenjak hamil, Bu Ratih kalau pulang ngajar jadi malas mandi. Bawaannya langsung pingin rebahan.


"Sayang, kamu nggak keberatan kan, jika tidur disofa. Aku pingin tiduran yang tempatnya harus luas." ucap Bu Ratih dengan wajah yang memohon kayak anak kecil.


Gavin yang mendengar ucapan istrinya itu jadi pingin ketawa sendiri. Dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Lalu tersenyum kepada istrinya.


"Iya, sayang. Nggak apa-apa. Mungkin anak kita pinginnya tidur dengan Bundanya aja. Jadi, Ayahnya ngalah tidur di Sofa." jawab Gavin sambil mengelus perut istrinya yang masih rata, karena memang usia kehamilannya masih muda.


Gavin memandangi wajah istrinya yang mulai tertidur pulas. Tak terasa bahwa wanita yang ada dihadapannya kini telah mengandung anaknya. Wanita yang dulu dengan susah payah dia dapatkan.


"Sayang, tetaplah jadi wanita terhebatku. Jadilah ibu dari anak-anakku. Dan jadilah temanku bicara disaat aku butuh tempat untuk bercerita." ucap Gavin sembari membelai rambut istrinya.


Bu Ratih masih tergolek dalam tidurnya. Gavin masih setia duduk dipinggir tempat tidur sambil memandangi wajah istrinya. Istri yang usianya empat tahun lebih tua darinya. Tapi, bagi Gavin usia nggak masalah yang penting hatinya dan perasaannya yakin akan pilihannya.


Gavin akhirnya menuju sofa untuk membaringkan tubuhnya yang mulai lelah dan ngantuk. Tak terasa, akhirnya Gavin tertidur juga.


(****)


Hari ini Bu Ratih ijin nggak masuk, karena harus check up kandungannya. Gavin sengaja mengajak istrinya ke kantor dulu baru ke rumah sakit, karena itu permintaan Bu Ratih sendiri.


Setelah siap, Gavin dan Bu Ratih berangkat. Mobil telah dipanasi Pak Narto jadi, Gavin tinggal memakainya.


Perjalanan ke kantor nggak begitu lama, butuh setengah jam untuk sampai kantor Gavin. Bu Ratih hari ini tampak cantik dengan memakai dress selutut warna navy lengan pendek dengan dipadu sepatu flat warna hitam. Tak lupa tas kecil ditangannya. Kemudian rambut diikat satu ala kuncir kuda, sehingga memperlihatkan lehernya yang jenjang menambah keanggunannya.

__ADS_1


Setelah sampai kantor, dan memarkirkan mobilnya seperti biasa. Kemudian dia turun dan menggandeng istrinya.


Kehadiran mereka menjadi pusat perhatian semua para karyawannya. Bu Ratih tak henti-hentinya menebarkan senyum setiap bertemu dengan karyawan suaminya.


Tiba dilantai dimana ruangan suaminya berada. Gavin berjalan diikuti istrinya. Ketika hampir sampai ruangannya, Gavin dipanggil Pak Bima.


"Sayang, kamu masuk aja dulu, itu tempatnya sudah dekat. Aku ke ruangan Pak Bima bentar." seru Gavin sambil menunjukan ruangannya.


"Baik, sayang. Aku kesana dulu." ucap Bu Ratih.


Bu Ratih melangkah menuju ruangan suaminya. Dilihatinya seluruh penjuru tempat itu. Ada tulisannya "Direktur utama" dia membuka pintu itu dan masuklah Bu Ratih ke ruangan suaminya.


Dilihatinya semua yang ada diruangan suaminya itu. Kemudian dia menuju meja kerja suaminya. Didapati ada beberapa foto diatas meja itu. Foto keluarga lengkap dengan orang tuanya dan Kakaknya. Kemudian matanya menangkap sebuah pigura kecil yang isinya adalah foto Gavin bersama dia.


Diamatinya foto itu sembari tersenyum kecil. Matanya sedikit berkaca-kaca ketika melihati foto itu. Ada rasa senang karena sehari-harinya suaminya bekerja dengan memandangi fotonya.


Disaat lagi asyik memandamgi foto dimeja kerja suaminya. Tiba-tiba pintu dibuka dan dia pikir adalah suaminya, tapi, yang masuk malah seorang perempuan dengan pakaian kerja.


Bu Ratih memandangi perempuan itu dari atas hingga bawah dengan pandangan yang sedikit terganggu, karena pakaian perempuan itu begitu minim dibagian bawahnya.


Perempuan itu balik memandangi Bu Ratih dari atas sampai bawah dengan pandangan sedikit nggak suka. Dia masih melihati kearah Bu Ratih.


"Maaf, Anda siapa? berani-beraninya masuk ruangan Pak Gavin tanpa seijin saya.?" tanya perempuan itu dengan ketus.


"Maaf, saya masuk kesini juga atas ijin beliau.!" jawab Bu Ratih santai.


"Tapi, tetap saja kalau mau masuk harus ijin sama saya." jawabnya nyolot.


"Kamu pasti sekretarisnya Pak Gavin.?" ucap Bu Ratih.


"Kalau memang iya, kenapa?" jawabnya lagi.


Bu Ratih semakin yakin kalau ini memang adalah sekretaris suaminya. Karena Gavin pernah bilang kalau sekretarisnya ini agak songong. Kemudian dia tersenyum melihat kearah perempuan itu.


"Maaf kalau saya tadi masuk tanpa ijin Anda. Karena, pada saat saya masuk kesini, meja Anda masih kosong. Terus, saya harus ijin sama siapa?" jelas Bu Ratih.


"Setidaknya Anda tunggu dikursi, dan nggak masuk seenaknya gini.! Paham!!" ucapnya dengan nada tinggi.


Tanpa disadari kalau ada seseorang masuk, karena pintunya dari tadi kebuka jadi, nggak perlu diketuk dulu.


"Jangan pernah bentak dia..!!"


-----------------------------------


Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2