
Bu Ratih terperanjat dari tidurnya. Cahaya mentari yang kuning keemasan sudah mulai menyelinap melalui celah-celah jendela. Dilirknya jam dinding sudah menunjukan pukul enam pagi.
Diliriknya wajah Gavin yang masih tertidur pulas, kemudian dia beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi. Tak lama kemudian Gavin pun terbangun dan melihat disampingnya sudah nggak ada istrinya. Dia teringat semalam dia dan Bu Ratih mencoba mengulang masa-masa saat masih jadi pengantin baru.
Gavin senyum-senyum sendiri kalau mengingat kejadian semalam. Tak selang lama, Bu Ratih keluar dari kamar mandi. Dia terkejut yang mendapati suaminya sudah bangun dan duduk ditepi pembaringan, padahal dia keluar kamar mandi hanya menggunakan handuk yang melilit ditubuhnya sehingga menampakan punggungnya yang mulus.
"Hai sayang.,! sudah bangun ternyata?" seru Bu Ratih.
"Iya, sudah dari tadi pas kamu barusan masuk kamar mandi." jawab Gavin.
"Oh iya.!" jawabnya singkat sembari membuka lemari.
Gavin berdiri mendekati istrinya yang sibuk mencari baju buat ke kampus hari ini. Dipeluknya istrinya dari belakang, dan membuat Bu Ratih terkejut dan hampir teriak.
"Sayaang! udah dong, mandi sana" seru Bu Ratih.
"Aku pingin memelukmu terus, sayang" ucap Gavin sambil menciumi punggung Bu Ratih.
"Sayang.., ayo sudah siang nih!" ucap Bu Ratih lagi.
"Iya, sayang. Habis kamu sih menggoda aku terus" jawab Gavin.
"Ish., itu sih maunya kamu.!" jawab Bu Ratih.
Akhirnya Gavin menuju kamar mandi, Bu Ratih ganti baju kerjanya. Kemudian dia turun ke bawah untuk bersiap-siap.
"Sayang, aku ke bawah dulu, ya.!" teriak Bu Ratih dari luar.
"Oke.!"
.
.
.
Hari ini Bu Ratih ke kampus seperti biasa. Dia masuk ke ruangan Dosen sebelum masuk ke kelas.
Bu Ratih hari ini ngisi kelas cuma satu aja. Jadi nanti dia bisa bantuin suaminya packing.
"Pagi semuanya." sapa Bu Ratih saat tiba di kelas.
"Pagi juga, Bu.!" jawab serempak.
"Baiklah, materi ini lihat Bab lima belas." ucap Bu Ratih sambil membuka bukunya.
Dia menjelaskan satu demi satu secara lengkap. Bu Ratih memang terkenal telaten dan sabar kalau mengajar. Banyak Mahasiswa dan Mahasiswi yang senang sama cara mengajarnya Bu Ratih.
__ADS_1
Setelah panjang lebar menerangkan kepada Mahasiswa dan Mahasiswinya, kini Bu Ratih tinggal mengasih tugas buat mereka.
Jam mengajarnya akhirnya selesai juga. Dia membereskan semua buku-bukunya, setelah itu Bu Ratih kembali ke ruangan Dosen. Jam sudah menunjukan pukul setengah dua belas siang. Waktunya makan siang.
Rencananya Bu Ratih langsung pulang saja, sekalian ijin buat mempersiapkan suaminya besok terbang ke Jepang. Akhirnya dia diperbolehkan langsung pulang tanpa nunggu jam kepulangan.
Dia berencana menyusul Gavin langsung ke kantornya tanpa mengabari dulu. Buat kasih kejutan juga. Dia buka ponselnya untuk memesan taksi. Kemudian dia keluar kampus menunggu taksi didekat pos satpam.
Tak lama kemudian taksi nya datang juga. Lalu menuju ke kantor Gavin. Siang ini lumayan macet, mungkin memang jamnya orang keluar makan siang atapun pulang sekolah.
Sekitar dua puluh menit kemudian sampailah dikantor Gavin. Bu Ratih langsung melangkah masuk ke dalam. Sebagian karyawannya sudah tahu kalau dia istrinya Gavin, jadi saat berpapasan sebagian ada yang menyapanya.
Dalam lift dia banyak berpapasan dengan banyak orang. Kemudian sampailah dia di lantai tiga dimana ruangan Direktur utama berada. Saat pintu lift terbuka, dia kaget karena berpapasan dengan Tiara. Dia mau masuk lift. Tiara juga terkejut dan memandangi Bu Ratih. Bu Ratih hendak menyapa tapi dia buru-buru melengos.
Akhirnya Bu Ratih nggak jadi. Dia dengan santainya melangkah menuju ruangan Gavin. Saat melewati meja Bu Yola, Bu Ratih menyapa dan menanyakan suaminya apa ada didalam.
"Eh Bu Gavin, mau cari Bapak, ya? sapa Bu Yolanda.
"Iya, Bu. Suami saya ada?" tanya Bu Ratih.
"Beliau lagi diruangan Pak Bima, Bu. Kalau mau masuk silahkan!" ucap Bu Yola dengan sopan.
Kini sikap Bu Yolanda jauh lebih baik dibandingkan sebelumnya. Makanya dia nggak jadi dimutasi ke divisi lain.
Tak lama kemudian, Gavin datang dengan Pak Galih. Kayaknya mau membicarakan sesuatu.
"Iya, pingin kasih kejutan saja. Kalau memang kamu masih sibuk, aku bisa tunggu disini atau aku langsumg pulang saja." jawab Bu Ratih.
"Oh, jangan! aku sama Pak Galih hanya mau membicarakan keberangkatan kita besok. Setelah itu kita bisa pulang." jawab Gavin.
"Ya sudah, aku tunggu disini dulu, aja." jawab Bu Ratih.
"Oke, tunggu sebentar, ya?" ucap Gavin sambil melangkah masuk diikuti Pak Galih.
"Iya, sayang." jawab Bu Ratih.
Sekitar tiga puluh menit kemudian Gavin keluar diikuti oleh Pak Galih. Kemudian dia pamit ke Bu Yolanda untuk pulang, karena besok pagi-pagi sekali harus terbang ke Jepang.
Akhirnya Gavin dan Bu Ratih meninggalkan ruangan itu menuju parkiran mobil. Saat didalam mobil Bu Ratih dan Gavin ngobrol-ngobrol.
"Kamu kok sudah pulang?" tanya Gavin.
"Iya, tadi aku hanya ngisi satu kelas saja, jadi setengah dua belas aku sudah free. Biasanya kalau ambil istirahat jam dua baru pulang. Ini tadi aku sekalian ijin jadi diperbolehkan pulang." jawab Bu Ratih.
"Maunya kamu pulang cepat-cepat, ya. Biar lekas ketemu aku. Kangeen nih!" seru Gavin meledek.
"Iih.,! mulai deh. Kamu tuh, ya?" jawab Bu Ratih malu-malu.
__ADS_1
"Okelah. Kalau gitu kita lekas pulang dan kita akan kangen-kangenan berdua sebelum aku tunggal seminggu kedepan." ucap Gavin sambil mengerlingkan matanya.
"Iih, apaan sih kamu.!" seru Bu Ratih sambil mencubit pinggang suaminya.
"Tapi, kamu suka, kan?" jawab Gavin sambil tertawa lepas.
Tak lama kemudian, mereka sampai dirumah. Mobil langsung masuk garasi karena sudah tidak mau pergi kemana-mana. Bu Ratih turun mobil sambil diikuti suaminya.
"Bi, Kok sepi?" tanya Gavin sesampainya diruang tengah.
"Tuan sama Nyonya ke rumah Den Mahen. Karena Nyonya sudah kangen Tifany, gitu." jawab Bibi.
"Oh ya sudah, kalau gitu." jawab Gavin.
"Kasih kemana, Bi?" kini giliran Bu Ratih yang bertanya.
"Dia ada dikamarnya." jawab Bibi.
"Oh, ya sudah kalau gitu." jawab Bu Ratih.
Kemudian mereka masuk kamar yang dibawah. Gavin melepaskan jasnya serta dasinya dengan dibantu Bu Ratih.
Gavin memandangi wajah istrinya yang kini sudah berhadapan karena dia membantu melepaskan dasinya.
Wajah Bu Ratih merona kayak kepiting rebus ketika dilihati oleh suaminya tanpa kedip. Gavin semakin menatapnya dengan tatapan yang penuh rasa cinta.
Kini menaruk dagu istrinya hingga wajah Bu Ratih kini mendongak keatas. Gavin mendekatkan wajahnya ke wajah istrinya. Dia mulai mencium kening istrinya. Bu Ratih memejamkan matanya.
Ciuman itu kini turun ke bibir Bu Ratih yang tipis dan merah. Bu Ratih kemudian membalas ciuman itu. Gavin kemudian melepas blazer istrinya lalu membuka satu persatu kancing baju istrinya.
Bu Ratih mulai menikmati tiap sentuhan dan ciuman suaminya. Kini dia juga membalas dengan membuka kancing baju suaminya. Tak lama kemudian mereka berdua menuju tempat tidur untuk menikmati yang namanya surganya dunia.
.
.
.
Sore harinya, mereka baru terbangun sekitar jam empat sore. Bu Ratih dan Gavin masih polos tanpa sehelai benang pun, hanya selimut tebal yang membalut tubuh mereka berdua.
Gavin masih malas-malasan dan memeluk tubuh istrinya. Bu Ratih memasang muka cemberut dan mengerucutkan bibirnya. Semakin bikin gemes suaminya saja.
Ketika mereka becanda, tiba-tiba terdengar suara pintu diketuk.
"Tok..tok..tok..!"
"Den, Den Gavin.!" teriak Bibi dari luar kamar.
__ADS_1
----------------------------------