BU DOSEN CANTIK

BU DOSEN CANTIK
Part : 50 (Ketulusan Sasha)


__ADS_3

................................


Pandangan Seno menatap keseluruh ruangan yang serba putih. Ditatapnya satu persatu wajah yang ada di ruangan itu. Lalu dia berkata,


"Kalian, siapa.,?" ucapnya sembari memegangi kepalanya.


Tantenya langsung mendekati Seno, kemudian Dokter juga mencoba menenangkan.


"Seno, ini Tante Fara. Dan itu ada sepupu kesayangan kamu si Vani. Masa kamu nggak ingat.?" teriak Tantenya.


"Maaf, Bu. Tolong, jangan paksa untuk mengingat dulu. Biar saya periksa dulu." ucap Dokter.


Kemudian Dokter memeriksa Seno. Tantenya hanya bisa menangis dan memegangi kakinya.


"Bu, mungkin karena benturan saat kecelakaan, pasien menjadi amnesia. Itu sering terjadi pada korban kecelakaan yang mengalami benturan hebat." terang Dokter.


"Tapi, dia akan sembuh, kan Dok? maksud saya, tidak ada yang berbahaya." tanya Tante Fara.


"Ini sebuah keajaiban, Bu. Padahal pasien sudah hampir sebulan mengalami koma." ucap Dokter.


"Makasih Dok..." ucap Tante Fara.


Dokter kemudian meninggalkan ruangan itu. Seno, masih terdiam dan mencoba kembali mengingat semuanya.


"Mas Seno, nggak ingat siapa saya?" tanya Sasha.


"Iya, Sen. Nak Sasha lah yang sering jagain dan telaten mengajak kamu bicara saat kamu masih terbaring koma." jelas Tantenya.


Seno memandangi Sasha dengan tatapan yang masih nanar, dia sendiri juga bingung kenapa tidak bisa mengingat semuanya. Kemudian dia mencoba meraih tangan Sasha, dengan cepat Sasha mendekatinya.


"Saya nggak kenal siapa kamu, tapi saya merasa kita sudah kenal lama." ucap Seno.


"Kita, memang baru kenal. Kamu mengantarku pulang saat setelah kita ketemu di cafe malam itu." jawab Sasha.


"Terima kasih telah menjaga, saya." jawabnya.


"Iya, Mas. Nggak apa-apa kok." jawab Sasha.


"Jangan tinggalin saya lagi, kamu baik sekali." ucap Seno sambil memegangi tangan Sasha.

__ADS_1


Matanya terlihat berkaca-kaca. Sasha pun jadi terbawa suasana haru. Tanpa sadar bulir bening mengalir di pipinya.


"Iya, aku tidak akan tinggalin kamu, kok." jawab Sasha.


"Saya takut, saya nggak mau sendiri lagi.!" teriaknya sambil memegangi kepalanya.


"Mas, Mas Seno tenang dulu. Sasha akan tetap disini. Tolong, Mas Seno yang tenang, ya?" ucap Sasha seraya membetulkan alat-alat yang sempat berantakan, karena tingkah Seno.


Sasha kemudian memeluknya erat-erat. Keduanya kemudian menangis sambil berpelukan.


Pak Ferry dan Tantenya Seno menjadi terharu melihat pemandangan dihadapannya itu.


"Pak Ferry, saya selaku keluarganya Seno mengucapkan beribu-ribu terima kasih, karena telah menolong dan membantu keponakan, saya." ucap Tante Fara.


"Iya, Bu. Sama-sama." sahutnya.


"Sejak kejadian buruk setahun yang lalu, keluarga Kakak saya jadi nggak peduli dengan Seno." ucapnya lagi.


"Emangnya kenapa, kalau boleh saya tahu." tanya Pak Ferry.


"Seno terlibat kasus penculikan dan tindakan asusila terhadap perempuan yang akan dijodohkan dengannya. Ceritanya berawal dari wanita itu memang dari awal tidak mau dijodohkan dengan Seno, tapi lantaran ambisi untuk menguasai perusahaan Papanya si cewek itu, Kakak saya terus menekan Seno buat tetap menikahinya. Mungkin Seno jengkel juga, karena terus menerus dihadapkan dengan sikap Papanya yang seperti itu. Akhirnya terjadilah malam menyakitkan itu. Seno mungkin juga khilaf dan buntu pikirannya, sampai terjadilah kejadian buruk itu. Dia sempet dipenjara, mungkin Kakak saya juga marah dengan Seno, karena tindakannya yang bodoh itulah, maka perjodohan batal. Akhirnya Seno tidak dipedulikan lagi oleh Kakak saya." terang Tante Fara.


"Oh gitu ceritanya." jawab pak Ferry.


"Terus, Seno sudah nggak aktif lagi di perusahaan, Papanya?" tanya Pak Ferry.


"Kalau, sudah nggak aktif sih, tidak juga Pak. Cuma sekarang dia lagi bantu dikantor cabang." jawabnya.


"Soal kecelakaan ini, apa Papanya tahu?" tanya Pak Ferry.


"Iya, sudah Pak. Saya sudah menghubungi nya." jawab Tante Farra.


"Tante, malam ini biar Sasha yang jagain Mas Seno. Nggak apa-apa kan, Pa?" ucap Sasha.


"Apa nanti tidak merepotkan, Non Sasha?" tanya Tante Farra.


"Nggak Tante, Sasha nggak repot, kok." sahutnya.


"Iya, Bu Fara, nggak apa-apa. Biar Sasha yang jagain Seno." sahut Pak Ferry.

__ADS_1


"Ya sudah kalau begitu, biar ditemani Vani." ucap Tante Fara.


Akhirnya malam itu Sasha dan Vani yang jagain Seno. Jam sudah menunjukkan pukul delapan malam. Pak Ferry dan Tante Fara akhirnya pamit pulang. Sasha kembali duduk didekat Seno.


"Mas Seno mau makam apa?" tanya Sasha.


"Belum lapar, kamu aja yang makan." ucap Seno.


"Mas, kalau kamu nggak mau makan, gimana mau sembuh." ucap Sasha dengan mengusap rambut Seno.


Seno memandangi Sasha yang begitu telaten merawatnya. Dalam hatinya, baik banget gadis ini sampai rela menjaga dan merawatnya dirumah sakit.


Sayangnya Seno belum bisa mengingat semuanya.


Sasha sedikit malu ketika Seno memandanginya terus menerus.


"Mas Seno, kenapa lihatin Sasha begitu?" tanya Sasha.


"Nggak apa-apa. Kamu baik banget." ucap Seno.


"Biasa aja, Mas. Sebagai sahabat, aku wajib membantu." ucap Sasha.


"Oh, ya Vani. Kamu mau makan, ntar Mbak beliin." tanya Sasha ketika melihat Vani yang duduk sambil mainin ponsel.


"Nggak usah, Mbak. Vani nggak laper. Vani mau istirahat aja dulu." jawabnya.


"Ya sudah, kalau begitu." jawab Sasha.


"Sa, tolong, ambilin minum." ucap Seno.


Sasha berdiri mengambil air mineral yang terletak diatas meja.


Kemudian dia membantu Seno untuk minum.


"Ini Mas, minumnya." ucap Sasha sembari memberikan minuman ke mulut Seno.


Tangan Sasha tidak sengaja menyentuh bibir Seno. Tiba-tiba tangan Seno meraih tangan Sasha. Mata mereka beradu tanpa kedip. Seno dengan lembut mencium tangan Sasha.


"Sa, maukah kamu menikah denganku..!"

__ADS_1


...................


Next............(51).


__ADS_2