
....................
Tak selang beberapa lama, Mamanya Bu Ratih tiba di rumah sakit. Dia berjalan dengan tergesa-gesa. Dibukanya pintu ruangan itu. Kemudian dia menghampiri Bu Ratih yang saat itu masih nangis dipelukan Gavin.
Setelah melihat kedatangan Mamanya Bu Ratih akhirnya melepaskan pelukannya. Tumpahlah air mata mereka berdua. Bu Ratih memeluk erat Mamanya. Begitu pula dengan Mamanya, dia memeluk Bu Ratih dengan dekapan seorang Ibu.
"Mama.,! Ratih takut, Ma."
"Tenang sayang, Mama disini. Kamu tenang, ya?"
"Tapi, Ratih kotor, Ma.! Ratih nggak berhasil menjaga kehormatan Ratih.!"
"Ssttt..! sudah, Mama sudah tahu. Mas mu tadi sudah telfon Mama."
"Maafin Ratih, Ma. huaaa..! pecah sudah tangisan Bu Ratih. Mamanya juga ikut menangis melihat penderitaan putrinya ini. Gavin dan Bagas ikut larut dalam kesedihan itu.
"Sabar ya, Nak.? kita semua akan melindungi kamu."
"Iya,Tih. Bener kata Mama, kamu harus kuat dan tidak boleh putus asa. Kami semua disini sayang sama kamu." sahut Bagas.
"Tapi, Mas. aku malu, karena keadaanku seperti ini. Masa depanku hancur gara-gara si Seno sialan."
"Kata siapa masa depanmu hancur, sayang. Aku kan sudah bilang, kalau aku akan tetap setia dan menjaga kamu." ucap Gavin dengan menggenggam tangan Bu Ratih.
"Tapi, Vin. Aku kan__" belum sampai Bu Ratih melanjutkan kalimatnya, telunjuk Gavin sudah mendarat ke bibir Bu Ratih.
"Ssstt..! sudahlah sayang, nggak usah dilanjutkan lagi." ucap Gavin.
Gavin kemudian memeluk Bu Ratih. Semua yang ada di kamar terharu melihat Gavin dan Bu Ratih.
"Sayang, aku pamit pulang dulu, ya?"! Ucap Gavin.
"Iya, makasih,Vin."
Gavin kemudian pamit sama Bagas dan Mamanya. Dia melangkah gontai menyusuri koridor rumah sakit. Dalam hatinya memang masih belum bisa terima dengan apa yang telah dilakukan Seno terhadap kekasihnya itu. Tapi semuanya telah terjadi.
.
.
Setelah sampai di rumah, dia langsung masuk kamar. Mama Papanya hanya melihat saja. Mungkin Gavin perlu waktu untuk diajak bicara.
"Ma, Papa kasihan melihat Gavin." ucap Papanya.
"Iya, Pa. Mama juga. Padahal dia sangat mencintai Ratih. Mama ingat bagaimana dia cerita ke Mama waktu mendekati Ratih.
"Tapi, Mau gimana lagi, Ma. Papa juga sudah berusaha untuk menggagalkan, tapi keberuntungan tidak berfihak kepada kita. Seno yang licik itu sudah memperdaya Ratih, calon menantu kita." Terang Pak Indra.
__ADS_1
"Pa, ini berandai-andai saja, ya? toh kita juga belum bicara dengan Gavin. misal Gavin tetep bersikukuh untuk sama Ratih, gimana menurut Papa?" tanya Mamanya.
"Kalau, Papa sih, semuanya Papa serahkan sama Gavin. Dia sudah dewasa, pastinya sudah bisa mengerti mana yang baik atau tidak." jawab Pak Indra dengan bijak.
Kedua orang tua Gavin memang baik. Dia nggak pernah memandang orang dari status sosial ataupun masa lalunya.
Meskipun Papanya terkenal sebagai raja saham dan disegani semua orang, tapi beliau begitu bijak dalam menyikapi segala permasalahan yang ada. Begitupun masalah yang dihadapi Gavin soal Bu Ratih. Dia bakal tetap menyetujui hubungan anaknya dengan kekasihnya itu.
Baginya, kebahagiaan anak yang utama. Pak Indra adalah sosok yang sayang keluarga. Dia akan melakukan apa saja untuk anaknya, asalkan yang dilakukan ltu tidak salah.
.
.
.
Keesokan harinya dirumah sakit, Bu Ratih sudah dipindahkan ke ruang perawatan. Mamanya ada disitu. Bu Ratih sudah mendingan dibanding kemarin. Dia memang sudah keliatan enakan, tapi mukanya tidak menampakan sedikitpun kecerahan. Sering melamun, kadang tiba-tiba menangis. Mungkin dia masih trauma dengan kejadian yang menimpah dirinya. Mamanya tak henti-hentinya menghibur Bu Ratih. Menenangkan dengan kalimat yang menghibur.
"Nak,! apa mau Mama belikan sesuatu.?"
"Ratih, nggak mau apa-apa, Ma."
"Sayang, kamu itu harus makan. Biar badan kamu segera pulih dan fit lagi. Kamu harus kuat, ya?"
Disaat Bu Ratih lagi berbincang dengan Mamanya. Gavin muncul tiba-tiba.
"Wa'alaikumsalam..," Mamanya berucap.
Kemudian Gavin menyalami Mamanya Bu Ratih. Sementara Bu Ratih hanya tersenyum dikit.
"Tih, gimana keadaan kamu, sekarang? lebih enakkan?" tanya Gavin.
"Masih lemah, Vin. Aku merasa hidup aku sudah tidak ada gunanya lagi." jawab Bu Ratih lirih. Tak terasa bulir bening menetes dari sudut matanya. Seketika itu Gavin mengusapnya.
"Sudahlah, sayang. Kamu jangan bicara seperti itu terus. Semangat aja, biar badan dan fikiran kembali fresh." jawab Gavin.
"Kamu memang baik, Vin. aku beruntung mendapatkan pria seperti kamu. Tapi sekarang aku merasa kalau aku terlalu berlebihan jika masih tetap mengharap pria seperti kamu." jawab Bu Ratih.
"Sudahlah sayaang, jangan bahas itu lagi. Kamu harus menatap kedepan dan menjadi Bu Ratih yang dulu. Aku bisa menerima kamu apa adanya." ucap Gavin.
"Iya, Ratih. Kamu jangan bilang seperti itu terus, kasihan Gavin jadi sedih." suara Pak Indra tiba-tiba muncul dari balik pintu. Mama Papa Gavin ikut menjenguk Bu Ratih ke rumah sakit.
Kemudian mereka bersalaman dengan Mamanya Bu Ratih. Mereka sengaja masuk belakangan karena nunggu situasinya tepat.
"Pak Indra, Tan.." ucap Bu Ratih sambil berusaha untuk bangun. Tapi Gavin melarangnya.
"Sudah Tih, kamu tiduran aja. Aku tadi berangkat bareng mereka. Mama pingin lihat keadaan kamu." ucap Gavin.
__ADS_1
"Kamu cepet sehat, biar bisa beraktivitas kembali, ya Tih?" seru Mamanya Gavin.
"Iya, Tan. Makasih telah menjenguk Ratih." jawabnya.
"Oh ya, soal Seno kamu jangan pikirin. Kemarin saya juga sudah bicara sama Bagas, untuk kerjasama di perusahaan kalian itu bisa dibatalkan sepihak karena ada suatu hal yang urgent. Kasus yang kamu alami ini adalah salah satunya. Soal saham dan sebagainya nanti saya yang urus. Nanti saya akan bicara lagi sama Bagas. Jadi sekarang kamu Ratih, dan keluarga kamu, nggak usah kawatir kalau perusahaan kalian bakal bangkrut." terang Pak Indra.
"Makasih Pak, saya dan keluarga saya berutang budi sama Pak Indra." sahut Mamanya Bu Ratih.
"Jangan bicara seperti itu, Bu. Saya melakukan ini karena tulus ingin membantu dan mempertahankan perusahaan Papanya Ratih biar bisa tetep berdiri.
Soal kemarin dengan Seno, anggap aja perusahaan kalian ketemu dengan investor yang licik." jelas Pak Indra.
"Makasih, ya. Pak Indra." sahut Bu Ratih.
"Iya, Sama-sama." jawab Pak Indra.
"Oh ya, Tih. Pernikahan Kak Mahen tinggal bentar lagi lho. Jangan lupa buat fitting baju pengiring sama Gavin." seru Bu Hesty.
"Iya, Tan. Saya usahakan." jawab Bu Ratih.
Kemudian mereka pamit pulang. Gavin beserta Mama Papanya meninggalkan ruangan itu. Kini Bu Ratih kembali berdua dengan Mamanya.
Ketika mereka lagi berbincang, masuklah seorang Dokter perempuan.
"Maaf, gimana keadaannya sekarang. Apa yang dirasakan saat ini.?" tanya Dokter itu.
"Sudah mendingan, Dok. Tinggal pusing sedikit." jawab Bu Ratih.
"Oke. Saya kesini cuma mau bilang aja, hari ini sudah boleh pulang. Tapi jangan lupa minum obatnya secara rutin." ucap Dokter.
"Terima kasih, Dok." jawab Mamanya.
"Sama-sama, Bu." sahutnya.
Akhirnya Bu Ratih pulang juga. Dia dijemput Bagas. Bu Ratih langsung masuk kamar. Dia sekarang sering sekali melamun. Untuk aktivitasnya di kampus dia minta cuti. Untuk memulikan stamina dan mental memang butuh waktu.
.
.
.
Sudah sebulan Bu Ratih tidak beraktivitas di kampus. Selama cuti Bu Ratih kesibukannya hanya membaca buku, makan, dan ngobrol sama Mama dan Adiknya.
Untuk kegiatan yang mengharuskan dia keluar rumah memang belum bisa dia lakukan. Seperti hari ini Bu Ratih hanya ngobrol di ruang tengah ditemani Mamanya. Tiba-tiba Bu Ratih merasakan perutnya nggak enak, mual dan kepalanya sedikit pusing. Dia langsung berlari ke kamar mandi.
"Hueeek, hueeek..!!
__ADS_1
Next.................(22)