BU DOSEN CANTIK

BU DOSEN CANTIK
SEASON TIGA Part : 156 (Pulang malam)


__ADS_3

Akhirnya selesai juga ketemu klien. Gavin melirik jam tangan yang ada di pergelangan tangannya. Sudah hampir pukul sembilan malam. Baru kali ini dia kerja lembur sampai pulang selarut ini.


"Pak Gavin, sebaiknya Anda pulang duluan saja. Nanti saya yang pulang belakangan nggak apa-apa." ucap Pak Fajar.


"Nggak apa-apa, Pak. Biar saya tahu gimana kerja lembur sampai malam." jawab Gavin.


"Nanti Pak Gavin ditungguin istri Bapak." ucap Pak Fajar lagi.


"Saya sudah hubungi istri saya, kok. Jadi Pak Fajar nggak perlu kawatir." tukas Gavin.


Setelah semua tamu kembali ke kamar mereka menginap, Gavin dan Pak Fajar lalu memutuskan untuk pulang. Gavin langsung meluncur menuju mobilnya dan pergi meninggalkan Hotel.


Dalam perjalanan pulang, Gavin masih nggak percaya kerja di bidang seperti ini akan memakan waktu pribadinya seperti ini. Tapi, dia tidak akan menyesali karena memamg ini sudah tanggung jawabnya.


Tak lama kemudian akhirnya Gavin nyampe rumah juga. Dia memencet bel pagar rumahnya, setelah itu Santo keluar untuk membukakannya. Lalu Gavin memasukan mobilnya ke garasi.


Dia masuk rumah dan langsung masuk ke kamarnya. Dilihatnya Bu Ratih sudah tidur. Gavin memandangi istrinya dengan tatapan penuh kelembutan kemudian dia mencium kening istrinya.


Bu Ratih lalu kebangung, dia membuka matanya lalu mengucek matanya sambil menguap. "Jam berapa ini, Pa.?"


Gavin melihat ke pergelangan tangannya, "Jam sepuluh, Ma. Maaf aku pulangnya malam banget."


Bu Ratih tersenyum kemudian meraih tangan suaminya lalu menciumnya. "Nggak apa-apa, Pa. Aku ngerti kok."


"Makasih, ya. Kamu pengertian banget."


"Ya sudah, bersih-bersih dulu sana, biar aku buatin teh hangat." ucap Bu Ratih.


"Makasih, sayang."


Bu Ratih keluar kamar menuju dapur untuk membuatkan teh hangat buat Gavin. Dia kasihan melihat suaminya yang kerja sampai malam begini. Tapi, mau gimana lagi, ngurus Hotel memang tidak sama dengan kerja kantoran seperti sebelumnya.


Sekitar sepuluh menit kemudian Gavin keluar kamar dan sudah segar. Dia menuju meja makan guna menunggu istrinya yang lagi buatin teh untuknya.


Bu Ratih kemudian ikut duduk dimeja makan sambil membawakan teh untuknya.


"Diminum dulu, Pa.!"


"Makasih, Ma." jawab Gavin sambil meminum teh tersebut.

__ADS_1


Bu Ratih memandangi suaminya tanpa kedip, dia begitu melihat kelelahan disetiap sudut wajahnya. Gavin yang memergoki istrinya sedang memperhatikannya langsung tersenyum.


"Kenapa, Ma. Kok ngeliatin Papa seperti itu?" tanya Gavin.


"Nggak apa-apa, Pa. Kamu pasti capek ya. Mau aku pijitin?" tanya Bu Ratih.


"Nggak usah, aku nggak apa-apa, kok." jawab Gavin.


"Kerja mengurus Hotel beda dengan bermain tender dan saham, ya Pa?" tanya Bu Ratih sambil senyum.


"Kurang lebih seperti itu, Ma. Cuma kalau mengurus Hotel itu berasa kita itu liburan dan senang-senang." jawab Gavin.


"Kenapa bisa seperti itu, Pa.?"


"Gimana kita nggak liburan, sehari-harinya di Hotel, meskipun ada officenya. Tidak menutup kemungkinan harus ke lapangan untuk mengecek. Pas kalau ada acara seperti pagelaran ataupun event apa pameran yang diadakan di Hotel, apa kita nggak berasa sedang menonton acara tersebut." ucap Gavin.


"Iya, juga sih Pa."


"Seperti hari ini, aku kedatangan tamu yang menjadi langganan Hotel. Dan perusahaan dia ingin menyelenggarakan event dan pagelaran busana di Hotel kita, meeting sambil cek lokasi sampai menjamu makan malamnya saja, berasa aku sedang berlibur. Hehehe" ucap Gavin sambil terkekeh.


"Iya juga, kan sehari-hari bergelut disekitaran Hotel. Meskipun kamu di office, tapi setidaknya tiap hari akan bertemu bermacam-macam orang." jawab Bu Ratih.


Bu Ratih mengangguk pelan, kemudian mereka masuk kamar untuk istirahat. Raka sudah dari tadi tidur dikamarnya. Demikian juga dengan Santo setelah mengunci semua pintu dan jendela, dia langsung masuk ke kamarnya untuk beristirahat juga.


(***)


-------Satu bulan kemudian------


Pagi ini Gavin hendak pergi ke Semarang untuk mengecek restorannya yang kebetulan juga ada. Sekalian dia melihat lokasi proyek bersama Pak Ramon. Bu Ratih sudah menyiapkan segala keperluan suaminya untuk beberapa hari kedepan.


"Ma, selama aku tinggal ke Semarang, mending suruh Budhe dan Pakde tidur sini nemani kamu." ucap Gavin saat sarapan.


"Iya, Pa. Aku juga punya pikiran seperti itu." jawab Bu Ratih.


"Raka, selama Papa tinggal ke Semarang, Raka jangan nakal dan jagain Mama, ya?" ucap Gavin sambil mengacak rambut anak semata wayangnya itu.


"Siap, Pa.!" jawabnya sambil mengacungkan jempol kearah Gavin.


Bu Ratih yang melihat keakraban Ayah dan anak itu tersenyum simpul.

__ADS_1


"Ya Allah, aku bahagia sekali karena Engkau telah memberiku dua jagoan dihadapanku saat ini. Karena mereka berdualah aku bisa bertahan sampai sekarang. Andai tidak ada mereka, mungkin aku tidak akan sekuat ini." ucap Bu Ratih dalam hati.


Setelah itu Gavin berdiri dan hendak berangkat. Dia berjalan kedepan menuju mobilnya, Santo sudah membawakan barang-barang Gavin dan memasukannya ke bagasi.


"Ma, Raka. Papa berangkat dulu, ya. Kalian dirumah jaga diri baik-baik." ucap Gavin seraya mencium pipi anak dan iatrinya.


"Iya, Pa. Papa juga hati-hati dan jaga diri baik-baik." jawab Bu Ratih.


"Pa, jangan lupa oleh-olehnya, ya.?" kini Raka ikut menimpali.


Gavin mengacungkan jempol dan tersenyum lebar. Kemudian masuk ke dalam mobil lalu pergi meninggalkan pelataran rumahnya.


Sekarang Bu Ratih giliran mengurus Raka, dia hari ini libur kuliah. Makanya dia bisa mengantarkan Raka sekolah.


"Raka, ayo sayang kita berangkat.!" seru Bu Ratih.


"Iya, Ma."


"Pak Santo, hari ini biar saya yang mengantarkan Raka sekolah. Pak Santo jaga rumah saja. Kalau mau makan semuanya sudah saya sediakan dimeja." ucap Bu Ratih.


"Iya, Bu. Oh iya, nanti kalau calon pembantu yang Ibu pesan datang saya harus gimana?" tanya Santo.


"Kamu panggil Budhe Rahayu saja." jawab Bu Ratih.


"Baik, Bu."


Kemudian Bu Ratih dan Raka masuk mobil. Santo membantu mengawal Bu Ratih sampai ke luar pagar. Lalu dia malajukan mobilnya menuju sekolah Raka. Dalam perjalanan dia ajak ngobrol Raka seperti biasa. Sambil bercanda dan ketawa-ketawa.


Tak terasa akhirnya sampai juga di sekolah Raka. Bu Ratih memasukan mobilnya dihalaman sekolah. Kemudian dia keluar diikuti Raka.


"Ma, Raka masuk dulu, ya?" ucap Raka sambil mencium punggung tangan Mamanya.


"Iya, Nak. Hati-hati. Belajar yan rajin, ya." ucap Bu Ratih sambil mencium kedua pipi anaknya.


Bu Ratih masih memperhatikan anaknya masuk kedalam kelas. Dia tersenyum melihat Raka yang sudah tumbuh besar. Sebentar lagi dia masuk ke sekolah menengah pertama.


---------------------------------


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2