
Setelah dinanti-nanti akhirnya liburan telah tiba. Gavin dan keluarganya berencana pergi ke Jakarta untuk kumpul sama orang tua dan keluarganya. Mereka bersiap-siap sudah dari kemarin.
Hari ini ini mereka berangkat pagi-pagi sekali. Gavin dan keluarganya mengendarai mobil ke Jakarta, dia mengajak Santo supaya bisa gantian menyetir. Babysitternya sementara diliburkan.
.
.
.
JAKARTA
Ketika sore hari jam tiga mereka sudah sampai di Jakarta. Bu Hesty dan Pak Indra senang sekali dengan kedatangan anak, menantu serta cucu-cucunya. Kebetulan semuanya sudah kumpul karena memang sudah direncanakan sebelumnya.
Disamping untuk liburan, Bu Ratih juga mau ada perlu ke kampusnya dimana dia mengajar. Saat sudah dirumah, semuanya ngumpul dirumah Pak Indra.
"Selamat datang yang dari Jogja." seru Mahen didepan pintu.
Kemudian keduanya berpelukan dan melepas rindu. Semua ada Papa Mamanya Gavin, keluarga Mahen lengkap dengan kedua anaknya. Para cewek-cewek dan anak-anak langsung masuk kedalam. Giliran cowok-cowok pada ngumpul di ruang tamu.
"Gimana Vin kabarnya Jogja?" tanya Pak Indra.
"Sejauh ini baik-baik, Pa. Gavin beruntung ada Pak Fajar, dia yang selalu membantu Gavin." jawabnya.
"Iya memang, Fajar anaknya baik. Dia ikut sama Papa kerja di hotel itu sejak dia masih bujang. Dan sekarang anaknya sudah satu." ucap Pak Indra.
"Oh iya, Vin. Pak Bima kapan hari masuk rumah sakit, lalu dia bulan depan mau resign, karena sudah nggak kuat, ada masalah di ginjalnya. Jadi dia harus beristirahat." sahut Mahen
"Ya ampun, Pak Bima, Kak! dia orang baik dan loyal. Dia selalu membantu aku saat di kantor." jawab Gavin.
"Iya, Vin. Dia mungkin sudah tua juga. Jadi waktunya istirahat." jawab Mahen.
"Iya, waktu Papa masih aktif dikantor dulu, Pak Bima sudah ada.Dia senior dikantor Papa." kini Pak Indra ikut menimpali.
"Oh iya, Vin. Anak kamu yang cewek itu cantik." ucap Papanya.
"Iya, Pa. Itu rejeki buat Gavin dan Ratih, Pa." jawab Gavin.
"Saat Papa mendengar kabar dari Ratih waktu itu, jujur hati Papa senang banget. Karena selama ini Papa juga memikirkan Suatu saat Raka pasti tanya soal adik. Secara Tifany juga sudah punya Brian." ucap Pak Indra.
"Iya, Pa. Ratih saat itu juga langsung senang karena rejeki itu datang tiba-tiba." jawab Gavin.
__ADS_1
Semuanya berlanjut ngobrol-ngobrol dan makan bersama. Semuanya kumpul di meja makan. Cantik pintar banget, dia nggak rewel sama sekali. Saat digensong Bu Hesty pun diam dan nggak rewel.
Bu Ratih tersenyum saat semuanya berkumpul seperti sekarang. Dia beruntung sekali hidup ditengah-tengah orang-orang yang penuh kasih. Tuhan begitu baik kepadanya, karena dia saat ini merasakan bahwa kehidupannya sangatlah lengkap.
"Anak-anakku, meskipun kalian tidak lahir dari rahim Mama, tapi Mama sudah merasa bahwa kalian telah lahir dari rahim Mama sendiri. Mama bangga punya kalian, Mama janji pada diri Mama sendiri bahwa Mama akan membimbing dan mengantarkan kalian menjadi orang yang suksea dan mandiri" batin Bu Ratih.
Tiba-tiba, Gavin menghampiri istrinya yang dari tadi berdiri agak menjauh dari yang lainnya.
"Kamu kenapa disini?" tanya Gavin sambil memeluk istrinya dari belakang"
"Eh, kamu sayang. Ngagetin saja." ucap Bu Ratih.
"Kamu kenapa diam disini, kenapa nggak gabung sama yang lain?" ucap Gavin sambil menatap wajah istrinya itu.
Bu Ratih tersenyum ketika Gavin menatapnya seperti itu. Lalu dia mengibaskan tangannya didepan muka Gavin sehingga membuat Gavin mengakhiri tatapannya ith
"Aku lagi memandangi dua malaikat kecilku itu, andai saja nggak ada mereka, apa jadinya aku, sayang." ucap Bu Ratih.
"Ssstt..,! kamu jangan bilang seperti itu. Kamu hebat, kamu pintar, bahkan kamu winner dihatiku. Jadi, kamu itu wanita terhebatku setelah Mama." ucap Gavin.
"Kamu baik sayang, aku juga beruntung punya suami seperti kamu." ucap Bu Ratih.
"Jangan tinggalin aku, ya sayang. Apapun keadaanku." ucap Bu Ratih.
"Nggak lah, sayang. Aku akan menjaga kamu dan anak-anak." jawab Gavin.
Malam pun tiba, Raka tidur dikamarnya yang diatas. Bu Ratih dan Gavin serta Cantik tidur dikamar Bu Ratih yang dulu. Mereka pun akhirnya beristirahat.
(****)
Hari ini Gavin mengajak keluarga kecilnya untuk jalan-jalan. Dia mau mengajak anak-anaknya bermain di arena bermain di Mall saja.
Setibanya di arena bermain, Bu Ratih mendampingi putrinya setiap naik mainan. Mereka terlihat bahagia sekali dengan senyuman yang selalu mengembang.
Ketika dirasa cukup, akhirnya mereka menyudahi permainannya dan istirahat disebuah restoran dan makan siang sekalian.
"Kak, kamu mau pesan apa?" tanya Gavin pada Raka.
"Mi goreng special aja, Pa."
"Kalau gitu, Papa juga ah."
__ADS_1
"Mama juice saja, Pa. Soalnya masih kenyang." ucap Bu Ratih.
"Dede Cantik makan apa, Ma?" tanya Raka.
"Dede Cantik makan pendamping Asi, Kak. ada bubur, ada buah-buahan dan lain sebagainya. Tapi, saat ini Mama hanya bawakan buah-buahan saja. Nanti saja dirumah baru makan bubur." jelas Bu Ratih.
"Oh gitu, ya Ma." ucap Raka.
"Kakak Raka kalau sudah besar mau jadi apa, ya kira-kira?" tiba-tiba Gavin melontarkan pertanyaan itu.
"Raka pingin bangun gedung bertingkat, Pa. Asyik kali ya kalau bisa bikin gituan." ucap Raka polos.
"Sip.,! nggak apa-apa, Nak. Itu juga pekerjaan hebat dan mulia. Sekolah yang pintar biar kalau besar bisa kayak Opa Indra." ucap Gavin.
"Iya, Pa. Opa lho perusahaannya banyak. Ada dimana-mana." jawab Raka polos.
"Iya sayang. Opa Indra memang pebisnis handal. Papa saja kalah handal sama Opa Indra." sahut Bu Ratih sambil nyengir kearah Gavin.
"Hemm, nyindir Papa, nih. Iya-iya, memang Papa akui, kalau Opa Indra memang pebisnis yang handal." jawab Gavin.
Nggak terasa sambil ngobrol, makanannya sudah habis. Mereka nggak langsung beranjak, karena masih ingin duduk-duduk sambil melanjutkan ngobrol-ngobrol.
Saat Gavin menyeruput minumannya, matanya menangkap laki-laki yang pernah dia ketahui saat bersama Kasih ke restoran dulu. Tapi, kenapa kok bersama wanita lain. Sedangkan itu bukan Kasih. Tapi, Dito pernah bilang kalau Kasih sudah menikah lagi dan punya anak.
"Ma, kamu lihat laki-laki yang berjalan dengan merangkul perempuan itu. Yang berjalan kesini." ucap Gavin.
"Iya, lihat. Emangnya ada apa?" tanya Bu Ratih balik.
"Itu kan suaminya Kasih, Ma. Laki-laki itu yang aku bilang saat itu kalau lagi sama Kasih direstoran. Tapi, kenapa sekarang dia sama perempuan lain?" tanya Gavin.
"Iya, juga ya, Pa. Kasihan Kasih dong, Pa. Kalau dia selingkuhannya gimana? tanya Bu Ratih.
"Iya, Ma. Tapi, itu kan bukan urusan kita lagi, Ma. Biarlah mereka yang menyelesaikannya." jawab Gavin.
"Iya, Pa."
"Kasih, seandainya kamu tahu akan hal ini, pasti kamu akan sakit hati. Mudah-mudahan Tuhan akan tetap bersamamu dan melindungimu. Bagaimanapun juga, kamu adalah Ibu dari anakku." ucap Gavin dalam hati.
-----------------------------------
Bersambung..
__ADS_1