BU DOSEN CANTIK

BU DOSEN CANTIK
SEASON DUA Part : 111 (Kesediaan Kasih.)


__ADS_3

Gavin melirik jam yang ada di pergelangan tangannya. Tak terasa sudah menunjukan pukul empat sore. Dia harus menjemput Bu Ratih, kalau terlambat kasihan istrinya harus menunggu lama.


Gavin membereskan semua file dan kertas-kertas yang ada dimejanya. Kemudian dia keluar, dilihatnya dimeja Bu Yola, masih ada orangnya.


"Bu Yola, saya pulang duluan, ya. Mau jemput istri saya.!" seru Gavin saat melewati meja Bu Yola.


"Iya, silahkan Pak. Habis ini saya juga mau pulang." jawab Bu Yolanda.


Tapi, saat dia melangkah menuju lift, tiba-tiba ponselnya berdering.


['Hallo, iya sayang.']


['Aku sudah pulang sama Farrel, soalnya tadi pulang jam dua']


['Oh, iya. Ini aku mau pulang.!']


['Oke, hati-hati']


Gavin kembali menutup ponselnya, kini dia sudah sampai lantai dasar. Dia keluar kantor seperti biasa, satpam didepan pintu menanggukan kepalanya menyapa bos nya yang sedang lewat.


Dalam perjalanan pulang, dia harus membicarakan masalah Kasih dengan Bu Ratih. Dia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi dengan tujuan biar cepat sampai rumah.


Gavin memasukan mobilnya digarasi. Kemudian dia langsung masuk rumah. Maunya langsung ke kamar, tapi, di dapur Bu Ratih memanggilnya. Akhirnya Gavin menghampiri istrinya.


"Buat apa, sayang?" tanya Gavin ketika melihat istrinya lagi sibuk didapur.


"Ini aku mau bikin cemilan. Aku diajarin Kasih, lho!" jawab Bu Ratih.


"Oh, kirain apa. Ya sudah, aku mau mandi dulu." ucap Gavin sambil berlalu.


Bu Ratih dan Kasih melanjutkan membuat kue. Kasih memang anaknya telaten. Dia bisa membuat kue kering. Cocok jika dibuat bisnis.


.


.


.


Malam harinya, setelah semua makan malam. Gavin mengajak istrinya ke atas. Mereka duduk-dusuk di Balkon kamar seperti dulu. Memang sejak hamil kemudian keguguran, mereka sudah nggak pernah menempati kamar itu.


"Sayang, aku mau bicara sesuatu." ucap Gavin.


"Iya, kamu mau bicara apa." jawab Bu Ratih.


"Ini soal Kasih." jawab Gavin.

__ADS_1


"Kasih,! emang Kasih kenapa, sayang?" seru Bu Ratih.


"Ternyata, saat makan malam waktu itu, yang membahas tentang siapa yang akan menjadi calon Ibu dari anakku. Kasih kan sudah menjawab kalau dia bilang belum siap." ucap Gavin.


"Iya, memamg. Terus kenapa, sayang?" tanya Bu Ratih.


"Sebenarnya dia sudah mendapat ijin sama Ibunya untuk menerima tawaran kamu. Dia bilang belum bisa memenuhi permintaan kita itu hanya alasan dia saja, karena mungkin takut sama Mama." terang Gavin.


"Jadi, sebenarnya Kasih bersedia nikah sama kamu.!" seru Bu Ratih.


"Iya, sayang. Sebenarnya dia sudah mendapatkan restu dari Ibunya." ucap Gavin.


"Mungkin, kamu benar. Dia takut sama Mama." ucap Bu Ratih.


"Makanya itu, aku mau tanya sama dia." ucap Gavin.


"Tapi, kamu tahu dari mana kalau sebenarnya Kasih bersedia menikah sama, kamu?" tanya Bu Ratih.


"Pak Firman, Office boy dikantor kan pamannya Kasih. Dia cerita sama aku" jawab Gavin.


"Berarti, dia juga tahu kalau Kasih akan dijodohkan sama kamu?" tanya Bu Ratih.


"Iya, dia sudah tahu semuanya." jawab Gavin.


"Mendingan kita panggil saja si Kasih." ucap Bu Ratih.


Kemudian Bu Ratih menuju kamar Kasih yang letaknya berseberangan dengan kamar mereka. Kamar yang ditempati Kasih berjejer dengan satu kamar lagi. Sedangkan kamar Gavin dan Bu Ratih letaknya didepannya bersebelahan dengan tangga yang menghubungkan lantai bawah dan atas.


Kamar Gavin dan Bu Ratih ukurannya memang lebih besar dibandingkan dengan kamar yang ditempati Kasih. Dua kali lipatnya kamar Kasih.


Setelah berhasil memanggil Kasih, mereka berdua menuju balkon kamar Gavin. Kasih jadi tahu dalamnya kamar Gavin yang di atas. Kemudian dia duduk dikursi.


"Kasih, saya mau tanya. Kenapa kamu menolak tawaran istri saya untuk menikah sama saya?" tanya Gavin.


Kasih kaget kenapa tiba-tiba Gavin bertanya seperti ini. Padahal sudah dia lupakan.


"Maaf, Pak. Memang saya belum siap, saja." jawab Kasih.


"Belum siap, apa kamu takut?" tanya Gavin.


"Kasih, sebenarnya nggak usah takut. Kalau memang kamu keberatan nggak apa-apa. Tapi, jika sebaliknya kamu bicara saja." ucap Bu Ratih.


"Maaf, Bu. Memang saat saya pulang dulu itu sudah bilang sama Ibu saya. Tapi, sebelum saya bilang. Ternyata Ibu saya lebih dulu bilang bahwa ada duda yang sudah berumur mau melamar saya. Tentunya saya kaget mendengar omongan Ibu saya. Tak lama kemudian orang itu datang ke rumah saya untuk menanyakan hal tersebut. Tentu saja saya menolaknya. Dia seumuran Bapak saya Bu, saya nggak mau. Lalu Ibu saya bilang, kalau saya menolak lamaran laki-laki itu pamali, dan takutnya saya sulit jodoh. Langsung saja saya kaget, apa benar mitos seperti itu. Tapi, untungnya laki-laki itu baik. Jika memang saya sudah punya calon atau kekasih, dia bersedia mundur. Akhirnya saya bilang kalau saya sudah punya calon, supaya dia lekas pergi. Dan akhirnya dia setuju dan nggak membahas soal itu lagi. Kemudian saya bilang sejujurnya siapa calon yang saya maksud tadi. Toh, memang awalnya saya juga mau membicarakan ini sama Ibu saya. Awalnya Ibu kaget dan mencoba untuk menyuruh saya kembali memikirkan lamaran duda tadi. Tapi, saya tetap nggak mau, mendingan saya menerima tawaran Bu Ratih dari pada harus menikah sama orang tua." jelas Kasih sambil meneteskan air mata.


Gavin dan Bu Ratih saling pandang. Bingung harus senang apa sedih setelah mendengar penjelasan dari Kasih.

__ADS_1


"Dengan kata lain, kamu bersedia Sih?" tanya Bu Ratih.


Kasih mengangguk pelan, tanpa berani menatap wajah kedua majikannya itu.


"Oh iya, Sih. Tadi siang saya sudah bicara sama Om kamu, Pak Firman. Dia bilang sama saya, bahwa Pak Hardi duda yang kamu maksudkan itu kembali menawarkan untuk melamar kamu. Karena, duda itu bilang karena kamu nggak kunjung dilamar oleh calon kamu itu." jelas Gavin.


"Apa,! Pak Hardi mau melamar saya lagi." seru Kasih panik.


"Iya, Sih. Sekarang gimana menurut kamu. Jika kamu bersedia menerima tawaran istri saya, berarti kamu tolak lamaran dari duda tua itu." tanya Gavin.


"Baiklah, Pak, Bu Ratih. Saya bersedia menikah dengan Pak Gavin." jawab Kasih tegas.


"Bersedia menerima segala konsekuenainya. Karena nantinya jika kalian menikah dan punya anak, maka hak asuh anak itu jatuh sama saya dan Pak Gavin. Soal kehidupan kamu selanjutnya nggak apa-apa masih tetap menjadi istri suami saya, secara administrasi memang anak itu nantinya menjadi anak saya dan Gavin. Tapi, kesehariannya masih tetap sama, kamu bisa merawatnya." terang Bu Ratih.


"Iya, Bu. Saya sanggup menerima persyaratan itu semua." jawab Kasih.


Bu Ratih tersenyum sambil matanya berkaca-kaca mendengar jawaban dari Kasih. Satu sisi dia senang, karena suaminya akan mempunyai keturuanan. Satu sisi dia harus rela berbagi suami sama wanita lain.


"Sayang, aku sudah penuhi permintaan kamu. Dan Kasih pun menerima nya. Sekarang kamu jawab, kamu ikhlas dan rela kah jika kami berdua menikah?" tanta Gavin sambil memandang wajah istrinya lekat-lekat.


"Iya, sayang. Aku dengan ikhlas mengijinkan kamu menikahi Kasih.!" jawab Bu Ratih tegas.


Gavin langsung memeluk istrinya, sebenarnya dia nggak menginginkan hal ini. Tapi, justru istrinya lah yang memintanya. Kasih menangis melihat pasangan suami istri itu berpelukan.


"Baiklah. Setelah aku pulang dari Jepang. Kita akan membahasnya lagi." jawab Gavin.


"Kasih, makasih atas kesediaan kamu menikah dengan Pak Gavin. Saya berharap lebih sama kamu, berikan keturuan buat suami saya. Karena, saya tidak bisa memenuhi itu semua." ucap Bu Ratih sambil memeluk Kasih erat-erat.


"Iya, Bu. Saya menerima tawaran Bu Ratih bukan punya maksud apa-apa. Murni saya mau membantu Bu Ratih karena selama ini Bu Ratih sudah baik sama saya dan keluarga saya. Sudah bersedia membiayai sekolah adik saya." jawab Kasih sambil meneteskan airmata.


Tanpa sepengetahuan Gavin sejak Kasih menjadi asistennya di awal kehamilannya dulu, dia memang yang mengambil alih soal menanggung biaya sekolah adiknya. Karena dia kasihan sama Kasih yang harus banting tulang sendirian membiayai kebutuhan hidup keluarganya.


"Kalau memang sudah tidak ada yang dibicarakan lagi, Kasih permisi dulu." ucap Kasih.


"Iya, silahkan." jawab Bu Ratih.


Kini Gavin dan Bu Ratih kembali berduaan dibalkon. Mereka mengenang saat-saat pertama kali menikah. Dikamar inilah mereka memadu kasih sampai mereka sama-sama terbawa ke sebuah dimensi yang berbeda.


Malam ini Gavin ingin mengulanginya kembali seperti malam itu. Gavin memeluk erat istrinya dari belakang. Kemudian dia membalikan badan istrinya yang kini posisinya menjadi berhadapan. Dipeganginya pipi mulus istrinya dengan kedua pipinya yang halus.


Gavin mendekatkan wajahnya kewajah istrinya. Kini Gavin mulai menciumi wajah istrinya, kemudian dia membisikan ke telinga istrinya.


"Sayang, kita lanjutin didalam, yuk" bisik Gavin sambil memeluk istrinya.


---------------------------------

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2