
Bu Ratih dan Gavin tersenyum melihat anak sulungnya yang tumbuh menjadi laki-laki dewasa dan patut dibanggakan.
Raka yang merasa diperhatikan Mama dan Papanya jadi malu.
"Mama sama Papa kok segitunya ngelihatin Raka.?"
"Hehe., emang kenapa? Mama lho ngelihatin kamu sekarang kok sudah dewasa, ganteng serta sayang sama keluarganya. Padahal terasa baru kemarin aja kamu itu sekolah TK." jawab Bu Ratih.
"Ish, Mama bisa aja.!"
"Oh ya Ma, Cantik sama Gazi mana.?" tanya Gavin.
"Cantika biasa, menemani Bara di kantornya bikin desain. Katanya ada project bikin iklan minuman kaleng." jawab Bu Ratih.
"Oh iya, biarin saja. Itung-itung Cantik belajar gimana bisnis di advertising dan design itu seperti apa. Papa lihat Bara itu anaknya baik dan pintar. Papa suka anak itu." jawab Gavin.
"Iya Pa, Raka juga sependapat dengan Papa. Bara orangnya kreatif dan ulet. Gazi sempat cerita soal penggarapan cafenya Gazi." sahut Raka.
"Oh iya, ngomong-ngomong soal Gazi. Anak itu diam-diam sudah punya pacar, ya?" ucap Gavin.
"Iya, padahal selama ini dia nggak pernah terlihat jalan dengan cewek. Tapi, nggak apa-apalah namanya juga sudah dewasa." jawab Bu Ratih.
"Nggak apa-apa, Ma. Dia kan juga sudah dewasa." sahut Raka.
"Iya juga sih, Mama lihat Zahra anaknya juga sopan dan cantik lagi." jawab Bu Ratih.
"Oh iya, rencana opening cafe nya kapan?" tanya Raka.
"Kemarin Gazi bilang itu kalau nggak besok ya lusa" jawab Gavin.
"Okey, berarti Raka masih bisa hadir." jawab Raka.
Obrolan mereka bertiga terhenti ketika ponsel Gavin berdering. Gavin berdiri agak menjauh menerima telpon tersebut.
"Hallo, ada apa Nak.?"
"Pa, tolongin Cantik."
"Loh, kamu kenapa, Nak?"
"Cantik lagi sama Kak Bara, terus diserang orang. Sekarang Cantik di pertigaan dekat pom bensin. Cepatan Pa. Ini Kak Bara sendirian ngadepin orang itu.!"
__ADS_1
"Baik!"
Gavin buru-buru menutup ponselnya lalu menghampiri Raka dan Bu Ratih. "Kak, ikut Papa sekarang. Bara dan Cantik diserang orang tak dikenal.!"
"Apa.,!" seru Bu Ratih.
"Iya, Pa. Tunggu Raka ambil mobil dulu."
"Hati-hati, Pa, Kak.,!"
Gavin ambil jaket dan dompetnya, sedangkan Raka mengeluarkan mobilnya. Sedangkan Bu Ratih ikut panik tapi Gavin menyuruhnya dirumah saja.
Raka dan Gavin meluncur menuju alamat yang ditunjukan Cantika. Raka mengendarai mobilnya dengan kecepatan yang lumayan tinggi karena biar cepat sampai lokasi.
Sekitar dua puluh menit kemudian akhirnya mereka sampai juga ditempat kejadian. Setelah mobil berhenti seketika Gavin meloncat dari dalam mobil dan menuju tempat dimana sudah memangku Bara.
"Kak, Bara. Buka mata kamu. Jangan tidur dulu. Hiks...hiks..!"
"Cantik.,!"
"Adek,!"
"Papa, Kak Raka. Tolongin Kak Bara."
Raka mengemudikan mobilnya Bara, sedangkan Cantik duduk dengan memangku kepala Bara yang pelipisnya banyak mengeluarkan darah.
Cantika tak henti-hentinya menangis sambil membelai wajah Bara. Gavin melihat anaknya yang begiti mengkawatirkan laki-laki yang sekarang sedang terkapar yak berdaya.
Sesampainya di rumah sakit, Raka yang sudah sampai duluan langsung membantu mengeluarkan tubuh Bara. Disana sudah ada yang perawat yang menyambut kedatangan mereka.
"Suster, tolongin anak saya!" seru Gavin.
"Baik, Pak. Biar kami yang menangani. Sekarang Bapak siaokan administrasinya lalu tunggu di luar IGD!" ucap Perawat itu.
"Raka, kamu ke kasir urus depositnya. Pakai ini saja.!" ucap Gavin sambil mengeluarkan card lalu diberikan pada Raka.
Kini Gavin dan Cantik menunggu diluar IGD. Cantika menangis dipelukan Papanya karena kawatir keadaan Bara. Dia nggak mau Bara kenapa-kenapa. Karena sebenarnya dia sayang sama Bara.
"Cantik, coba kamu ceritakan sama Papa. Gimana kronologi kejadiannya.?"
"Kak Bara kan mau antarkan Cantik pulang, lalu mampir pom bensin. Tapi, ketika keluar dari pom tiba-tiba dari belakang langsung ada dua orang menghadang pakai motor. Mereka menggedor-gedor pinti mobil nyuruh kami keluar, tapi Kak Bara menyuruh Cantik tetap di mobil, sedangkan dia keluar. Makanya Cantik langsung hubungi Papa tadi.
__ADS_1
Sedangkan Kak Bara menghadapi sendiri dua orang tersebut, daan ketika posisi Kak Bara sudah kepepet dan limbung, mereka akhirnya pergi. Lalu Cantik keluar untuk melihat kondisinya Kak Bara. Tak lama kemudian Papa datang itu tadi." jelas Cantika sambil menangis.
"Apa Bara punya musuh.?"
Sejenak Cantika terdiam dan mengingat apa Bara punya musuh di kampus. Tapi, kalau dilihat dia anaknya nggak neko-neko.
"Kayaknya nggak punya, Pa." jawab Cantika.
"Kalau nggak punya musuh kenapa dia diserang. Kalau mau niat merampok kenapa juga mobil dan barang-barang masih utuh. Firasat Papa sih ada yang sengaja ini Bara celaka.!" jelas Gavin.
Cantika jadi ingat kejadian tempo hari soal dirinya juga dijebak sama gank nya Vera. Apa ini ada hubungannya dengan itu. Batinnya.
"Pa, kapan hari Cantik mengalami kejadian yang sangat memalukan di kampus. Tapi, akhirnya bisa selamat karena Kak Bara juga menolongku. Cantik di jebak sama gank cewek yang bernama Vera. Cantik dimasukan toilet sama seorang laki-laki lalu dikunci dari luar. Singkat cerita pokoknya mereka ingin bikin Cantuk malu lalu berurusan sama pihak kampus. Tapi, untung Kak Bara membantu Cantik menjelaskan fan akhirnya komplotan genk Vera mengaku kalau Vera lah dalang dari semua ini. Setelah itu Cantik dengar kabar kalau gank Vera dihukum sama dekan. Lah, soal Kak Bara ini tadi, takutnya balas dendam mereka.!" jelas Cantik.
Gavin manggut-manggut mendengarkan cerita Cantika. Keterangan Cantika barusan bisa juga ada hubungannya dengan kejadian barusan.
Tak lama kemudian dokter keluar memberitahukan keadaan Bara. "Keluarga pasien.?"
"Iya, saya keluarganya." jawab Gavin.
"Keadaan pasien tidak begitu mengkawatirkan. Dia hanya luka memar saja, sama pelipisnya kayaknya terbentur ringan tapi nggak ada yang dikawatirkan." jelas dokter tersebut.
"Alhamdulilah, dok. Berarti pasien nggak perlu perawatan yang khusus, misal operasi atau apa gitu, dok.?" tanya Gavin kawatir.
"Nggak ada, Pak. Dia juga sudah siuman. Silakan sudah boleh dijenguk.!" ucap dokter.
Akhirnya dokter mempersilakan masuk Gavin dan Cantika. Tak lama kemudian Raka datang dan ikut masuk kedalam ruangan itu.
Bara sudah sadar dan kini kepalanya di perban karena di pelipisnya tadi sempat mengeluarkan darah karena benturan. Ketika Cantika masuk dengan keluarganya, dia langsung bangun.
"Sudah..sudah, jangan bangun nggak apa-apa.!" ucap Gavin.
"Makasih ya Om, karena telah membawa Bara kesini." ucapnya.
"Sudah jangan dipikir soal itu. Yang penting sekarang kamu sehatkan dulu badan kamu." jawab Gavin.
"Iya, Om. Cantik kamu nggak apa-apa, kan.?" kini dia menoleh kearah Cantika.
"Nggak apa-apa, Kak. Syukurlah Kak Bara nggak apa-apa. Cantika kawatir sekali tadi." jawab Cantika.
"Ya sudah, kamu buat istirahat dulu saja biar Om keluar bentar." ucap Gavin sambil keluar, lalu dia memberi kode sama Raka untuk keluar dan sengaja membiarkan mereka berdua saja.
__ADS_1
-----------------------------
Bersambung...