BU DOSEN CANTIK

BU DOSEN CANTIK
SEASON TIGA Part : 187 (Fatma keterlaluan)


__ADS_3

"Fatma, mau kamu apain suamiku.!"


Seketika Fatma menoleh dan terkejut dengan kedatangan Bu Ratih. Dia sontak berdiri dan menjauh dari Gavin. Bu Ratih masih menatap Fatma yang kini menundukan wajahnya.


Bu Ratih mendekati suaminya lalu membangunkannya. Tapi, Gavin diam saja saat Bu Ratih menggoyangkan tubuhnya. Lalu dia mendapati sebuah gelas yang berada di atas meja. Kemudian Bu Ratih mengambil gelas tersebut lalu menciumnya.


"Ini minum apaan, kamu kasih obat ke minuman suamiku.!" seru Bu Ratih.


Fatma nggak mau jawab dan dia hanya menundukan kepalanya tanpa berani menatap Bu Ratih.


"Kenapa kamu nggak jawab, kamu apaain suamiku, hah,!" kini suara Bu Ratih lebih tinggi.


Dari atas tiba-tiba Santo muncul dan mendekati majikannya itu. Kemudian dia menyalakan lampu dapur dan lampu dekat TV. Kini dia bisa melihat ada apa sebenarnya yang terjadi.


"Bu Ratih, ini ada apa?" tanya Santo.


"Tolong, kamu lihat Pak Gavin. Dia tidur beneran apa tidur karena pengaruh obat.?" ucap Bu Ratih.


Seketika Santo mendekati Gavin dan melihatnya. Dia membangunkannya seperti yang dilakukan Bu Ratih tadi. Tapi, tetap saja Gavin diam dan nggak kebangun sama sekali.


"Ini kayaknya obat tidur, Bu. Pak Gavin kena pengaruh obat tidur.?" ucap Santo.


"Apa, obat tidur.?"


"Maaf, Bu. Apa yang sebanarnya terjadi dengan Pak Gavin.?" tanya Santo.


"Saya pergoki dia lagi memeluk Pak Gavin." jawab Bu Ratih sambil menatap tajam pada Fatma.


"Apa, Mbak Fatma keterlaluan. Jadi dugaan saya selama ini benar. Saya sering memergoki Mbak Fatma diam-diam memperhatikan Pak Gavin. Awalnya saya nggak mau berfikiran negatif, bahkan tadi saya juga memergoki dia senyum-senyum sendiri karena telah mencium aroma tubuh Pak Gavin saat dia terjatuh. Hampir saja saya laporkan dia ke Budhe Rahayu, tapi saya takut. Akhirnya Bu Ratih memergoki sendiri." jelas Santo.


Bu Ratih mendekati Fatma, sedangkan Fatma mulai menangis terisak karena malu campur takut.


"Fatma, aku nggak nyangka kamu melakukan ini. Apa salahku sampai kamu tega berbuat ini sama aku. Kamu itu sahabatku, teman sebangkuku saat sekolah, jadi aku anggap kamu seperti saudaraku. Makanya aku ngajak kamu kerja disini supaya kita tetap bersama-sama, dan juga aku nggak mau kalau hidup kamu jadi nggak tentu arah. Kadang kerja ikut sana, ikut sini, pontang-panting kerja untuk menghidupi kamu sendiri. Tapi, apa balasan kamu. Kamu diam-diam menyukai suamiku." jelas Bu Ratih sambil menagis.


"Tih, maafin aku. Sungguh aku khilaf. Aku begini karena aku iri sama kamu yang hidupnya bisa sempurna karena punya suami yang baik dan kaya. Jadi, maafin aku, ya Tih." ucap Fatma sambil berlutut dihadapan Bu Ratih.

__ADS_1


Bu Ratih spontan langsung menjauhkan dirinya dari Fatma. Dia nggak menjawab apa-apa lantaran sudah terlanjur sakit hati sama Fatma. Santo yang melihat majikannya itu jadi kasihan.


Akhirnya Gavin terbangung dari tidurnya. Dia membuka mata lantas mengedarkan pandangannya kesekitar. Dia mendapati istrinya, Fatma dan Santo. Spontan dia bangun dan duduk di kursi itu.


"Ada apa ini, kok rame-rame?" tanya Gavin heran.


Mereka nggak ada yang menjawab, Bu Ratih masih nangis dan Fatma posisinya masih duduk di lantai. Sedangkan Santo masih berdiri di samping Bu Ratih.


"Pak Santo, ada apa sebenarnya ini?" tanya Gavin lagi.


"Maaf, Pak. Apa Pak Gavin masih ingat, sebelum tidur disini apa Pak Gavin minum sesuatu?" tanya Balik Santo.


Gavin memegang kepalanya yang terasa sedikit berat. Dia mencoba mengingat sesuatu. Lalu akhirnya dia ingat sesuatu.


"Saya tadi kebangun haus dan minum ke dapur. Lalu di dapur masih ada Fatma yang juga kebetulan ambil minum. Lalu saya ditawari teh hangat, awalnya saya menolak karena saya ingin minum air putih. Tapi, dia sudah siap dengan tehnya, mungkin awalnya dia bikin teh buat dirinya sendiri. Akhirnya saya mau, dia menyuruh saya menunggu disini. Setelah itu saya meminum teh bikinan dia." jelas Gavin.


"Kamu nggak merasakan apa-apa, sayang?" kini Bu Ratih menimpali pertanyaan.


"Setelah itu kepalaku terasa berat dan mataku sedikit panas pingin tidur. Lalu aku nggak tahu lagi." jawab Gavin.


"Apa,! terus siapa yang kasih saya obat tidur?" tanya Gavin.


Bu Ratih dan Santo saling pandang, kemudian mereka ganti menoleh kearah Fatma yang duduk dilantai.


"Mbak, sebaiknya Mbak Fatma bilang sendiri sama Pak Gavin." tukas Santo.


"Apa maksudnya ini?" Gavin semakin penasaran.


"Fatma, tolong kamu jelasin ke suamiku apa yang terjadi." titah Bu Ratih.


Fatma perlahan berdiri dan mencoba memberikan penjelasan tentang kejadian barusan. Kini dia sudah berani menatap wajah orang-orang yang disitu.


"Maaf, sebelumnya kalau memang saya salah. Pak, Gavin. Sebenarnya saya lah yang menaruh obat tidur dalam minuman Bapak." jawabnya sambil menundukan wajahnya.


"Apa, kamu sudah gila, ya.!" ucap Gavin.

__ADS_1


"Maafkan saya, Pak. Saya khilaf." jawab Fatma sambil menangis.


"Nggak usah menangis.! tangisanmu nggak akan mampu menolongmu dari kesalahan." seloroh Gavin.


"Tolong, Pak, Ratih. Saya minta maaf. Sekali lagi saya minta maaf yang sebesar-besarnya." ucap Fatma dengan memohon.


"Sebentar, saya mau tanya. Apa tujuanmu memberi obat tidur pada minuman saya.?" tanya Gavin.


"Saya nggak bermaksud apa-apa, Pak." jawabnya bohong.


"Nggak mungkin, kamu pasti punya maksud. Jelaskan kenapa kamu melakukan itu.?" sekali lagi Gavin bertanya dengan nada tinggi.


Fatma tidak mau menjawab, malah dia menangis tersedu-sedu. Bu Ratih sebenarnya kasihan sama dia, tapi bagaimanapun juga dia tetap salah.


"Maaf, Pak Gavin kalau saya menyela pembicaraan Bapak dengan Mbak Fatma. Tapi, saya hanya mau menyampaikan apa yang sudah saya lihat sendiri." ucap Santo.


"Coba jelaskan ada apa, Pak Santo."


"Maaf sebelumnya jika salah salah. Sudah lama sekali kejadiannya, waktu awal-awal Mbak Fatma kerja disini. Saya memergoki dia lagi memperhatikan Pak Gavin yang sedang duduk di ruang tengah sendiri. Awalnya saya nggak mau keburu menyimpulkan apa yang saya lihat. Tapi, yang paling parah justru tadi malam, saya memergoki dia lagi senyum-senyum sendiri dan bicara sendiri kalau dia suka banget dengan aroma tubuh Bapak. Saya rasa kalau Mbak Fatma menyukai Pak Gavin." jelas Santo.


"Ya ampun.! kok bisa-bisanya kamu melakukan ini." ucap Gavin.


"Maafkan saya, Pak." ucap Fatma.


"Mulai besok, kamu jangan kerja lagi disini. Bawa semua barang-barang kamu dan besok saya akan kasih pesangon dan gaji terakhir kamu.!" tukas Gavin.


"Tapi, Pak. Saya mau kerja apa kalau saya dipecat?" jawab Fatma.


"Saya nggak mau tahu, mulai besok kamu segera meninggalkan rumah saya, dan saya nggak mau melihat wajahmu yang menjijikan itu.!" tukas Gavin sambil melangkah ke kamar.


Bu Ratih akhirnya mengikuti suaminya yang masuk kamar. Santo juga demikian. Dia naik ke kamarnya dan meninggalkan Fatma sendirian.


----------------------------------


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2