BU DOSEN CANTIK

BU DOSEN CANTIK
SEASON EMPAT Part : 246 (Ketulusan)


__ADS_3

Cindy terkejut mendengar jawaban Bu Ratih. Setelah itu Bu Ratih menceritakan sedikit masa lalunya. Cindy sangat salut dengan pengorbanan Bu Ratih.


"Bu Ratih sangat luar biasa, begitu tulus dan ikhlas menerima semua anak-anak Pak Gavin." ucap Cindy.


"Karena saya hanya ingin berbagi kebahagiaan dengan orang lain, supaya kelak saya dimudahkan dalam segala urusan." jawab Bu Ratih.


Tak lama kemudian Cantika mendekati mereka berdua, "Ma, Cantik cari kemana-mana ternyata ada disini. Itu di panggil Papa."


"Baiklah, Nak. Oh iya Nak Cindy silakan dilanjut menikmati hidangan yang ada." ucap Bu Ratih.


"Baik Bu."


Sedangkan di meja sebelumnya masih kumpul semuanya. Zahra duduk berdua dengan Gazi lalu yang laiannya masih di tempat masing-masing.


"Bie, aku boleh tanya sesuatu?" tanya Zahra.


"Iya silakan sayang.!"


"Kenapa Cindy tadi pergi saat melihat kita semua kumpul disini?" tanya Zahra.


"Tadi dia hanya nggak mau mengganggu kita saja. Dia nggak ngerti kalau kalian merencanakan surprise party buat aku disini. Awalnya sih dia mau kasih aku ucapan selamat, kan dia tahu kalau aku hari ini ulang tahun. Berhubung sudah ada kamu dan keluargaku, dia pergi. Lalu aku disuruh Mama panggil dia, kan nggak enak nanti dilihat pengunjung kayak lagi bertengkar aja." jelas Gazi.


"Dia sangat mencintai kamu, Bie."


"Zahra, aku tahu dia cinta sama aku. Tapi, aku enggak sayang. Dan aku hanya cinta sama kamu aja." jawab Gazi.


"Aku percaya kalau kamu cinta sama aku. Tapi, aku juga wanita jadi tahu bagaimana perasaan dia saat ini." jawab Zahra sambil tersenyum.


"Sudahlah sayang, yang penting kita baik-baik saja. Kita saling percaya satu sama lain." ucap Gazi.


"Oh iya, kira-kira Mama kamu tadi bicara apa ya sama Cindy.?"


"Aku nggak tahu, kan dia mahasiswa nya Mama. Siapa tahu soal kampus." jawab Gazi.


"Iya juga ya." jawab Zahra.


Keduanya saling pandang satu sama lain, mereka kelihatannya sangat bahagia sekali. Bu Ratih hanya bisa tersenyum memandanginya dari jauh.

__ADS_1


(***)


Satu bulan setelah acara ulang tahun Gazi, terdengar kabar kalau Cindy masuk rumah sakit karena jantungnya kambuh. Gazi di telpon Sarah disuruh langsung ke rumah sakit.


Dengan kecepatan tinggi, Gazi mengemudikan mobilnya menuju rumah sakit yang dibilang Sarah. Setelah dia tanya sama recepsionis akhirnya dia menuju IGD karena masih ditangani.


"Untung kamu segera datang. Dari tadi dia panggilin nama kamu, akhirnya Kakak bawa kesini." ucap Sarah dengan panik.


"Dia kenapa Kak? Apa jantungnya lagi.?"


"Kayaknya sih iya, soalnya dia mengeluh dadanya sakit sama susah nafas." jawab Sarah.


"Maafkan Gazi Kak, karena tadi habis antar Zahra ke tempat kerja."


"Nggak apa-apa. Kakak ngerti kok."


Mereka bersua menunggu didepan IGD. Dan tak lama kemudian dokter keluar dengan wajah yang kurang enak dipandang. Dalam hati Gazi terasa nggak enak ketika melihat raut wajahdokter itu.


"Gimana adik saya dok.?" tanya Sarah.


"Maaf, kami sudah berusaha. Tapi hasilnya nihil. Sekarang adik Mbak bertahan dengan alat bantu medis, tapi jika dilepas maka dia tidak akan tertolong. Hanya mujizat dari Tuhan saja yang bisa menolongnya. Dan sekarang saya serahkan sama keluarga saja gimana enaknya. Tetap dipasang alat bantu seperti ini nggak apa-apa, cuma belum tahu sampai kapan. Kalau memang keluarga mengikhlaskan, ya terpkasa kami lepas." jelas dokter.


"Tidaaaaak..!!!" kini Gazi ikut teriak.


Sedangkan dokter hanya menepuk pundak Gazi dan Sarah lalu melangkah pergi. Kini Gazi hanya bisa menenggelamkan wajahnya ke dinding rumah sakit. Meskipun awalnya dia tidak suka dengan sikap Cindy yang urakan. Tapi, setelah dia mengenal lebih dekat Cindy ternyata anaknya baik.


Gazi menangis karena bagaimanapun saat ini statusnya adalah pacar Cindy. Laki-laki yang begitu Cindy cintai dan kagumi. Meskipun awalnya dia hanya menerima Cindy lantaran penyakitnya, tapi dia tidak menyangkal kalau Cindy benar tulus mencintainya.


"Zi, ayo kita lihat Cindy ke dalam.!" ajak Sarah.


Gazi nggak menjawab dan dia hanya menuruti saja apa yang Sarah bilang. Keduanya langsung masuk menemui Cindy yang kini terbaring tak berdaya dengan bantuan alat medis yang melekat di tubuhnya.


Mata Gazi tertuju pada gadis yang kini terbaring lemah tak berdaya. Wajah yang kini hanya bisa dia pandangi karena penyakit yang membuat dia menjadi seperti ini. Perlahan Gazi menyentuh wajah Cindy yang kini terlihat pucat.


Dia memperhatikan dari ujung kepala sampai ujung kaki. Alat medis yang kini menempel pada tubuhnya hanyalah sebagai perantara supaya mesin pasien monitor masih berjalan.


"Cin, kamu harus kuat. Aku janji jika kamu sembuh, aku akan menuruti semua keinginanmu. Aku mohon bertahanlah." ucap Gazi sambil mencium tangannya.

__ADS_1


"Iya Cin, itu Gazi ada di sebelah kamu. Jadi tolong kamu harus kuat ya, dia akan selalu menemani kamu." kini Sarah ikut bersuara.


Tapi sayang Cindy tidak merespon semua apa yang diucapkan Gazi dan Sarah. Dia hanya terdiam dan matanya tetap terpejam. Tapi, dari sudut matanya mengalir air bening.


Gazi melihat itu langsung sontak menoleh kearah Sarah. Kemudian dia kembali menatap Cindy yang masih terbaring.


"Cin, aku tahu kamu pasti mendengar semua apa yang aku katakan. Jadi kamu harus bertahan. Aku yakin pasti setelah hujan selalu ada pelangi." ucap Gazi.


Sarah terharu melihat apa yang dilakukan Gazi terhadap adiknya itu. Bagaimanapun Gazi perhatian sama adiknya. Dia salut meskipun hubungan Gazi dengan adiknya itu termasuk special kasus.


Tak lama kemudian dokter masuk untuk melihat keadaan Cindy. "Dok, tadi dia merespon denhan meneteskan airmatanya.!" ucap Sarah.


"Oh iya nggak apa-apa. Perkembangan yang lumayan bagus. Tapi kita juga nggak bisa menjanjikan yang lebih, semuanya terserah kehendak Tuhan." jawab dokter.


"Tapi adik saya masih bisa diselamatkan kan, dok?" tanya Sarah.


"Kita hanya bisa berdoa dan berusaha saja Mbak, selebihnya kita serahkan sama Tuhan." jawab dokter.


"Ya Tuhan, sembuhkanlah adikku. Dia masih muda dan dia ingin sekali menikah dengan laki-laki yang dia cintai." ucap Sarah sambil membelai wajah Cindy.


Gazi sontak menoleh kearah Sarah setelah mendengar apa yang dikatakan Sarah barusan. Ternyata Cindy ingin menikah dengan laki-laki yang dia cintai. Gazi kini merasa punya tanggung jawab yang harus dia tunaikan pada Cindy.


Tiba-tiba mata Cindy terbuka perlahan, tangannya bergerak sampai selang yang menempel di tangannya bergerak. Lalu dia melihat kearah Gazi yang masih menemaninya. Kemudian dia tersenyum sambil berusaha tangannya menyentuh wajah Gazi.


"Cindy, kamu sudah siuman! Alhamdulilah., Kamu jangan banyak bergerak dulu. Aku yakin kamu pasti sembuh."ucap Gazi sambil memegang tangan Cindy.


Dokter lalu mendekat untuk melihatnya. Sarah sedikit lega karena adiknya sekarang sudah siuman. Kini dia hanya bisa membuka matanya tapi belum bisa bicara sepenuhnya. Hanya dengan isyarat saja.


"Mbak Sarah, adik Anda termasuk pasien yang luar biasa. Dia bisa bertahan dalam kondisi yang sudah parah. Ini mujizat dari Tuhan. Jadi, sekarang kita lihat perkembangannya saja." ucap dokter.


"Iya dok. Makasih karena sudah berusaha buat adik saya." ucap Sarah.


"Mas Gazi, kehadiran Anda sangat penting bagi pasien. Jadi jangan sekali-kali mengecewakan bahkan meninggalkan dia." ucap dokter.


"Baiklah dok, saya akan menemani Cindy sampai dia sembuh." jawabnya.


Gazi tadi sudah menelpon Mamanya untuk mengajak Zahra ke rumah sakit. Mungkin saat inilah waktunya bilang sama Zahra soal hubungannya dengan Cindy.

__ADS_1


---------------------------


Bersambung....


__ADS_2