
Semua yang ada di tempat kejadian tiba-tiba terdiam dan menoleh kearah suara tersebut. Cantika kaget karena pemilik suara itu adalah Bara.
Bara yang berjalan mendekati Cantika dan yang lainnya pasang muka tegang seolah ingin marah. Perlahan tangannya meraih tangan Cantika dan menggenggamnya dengan erat.
"Maaf, Bu Arin. Saya nggak percaya kalau Cantika melakukan hal yang memalukan ini. Saya percaya sama dia, pasti ini ada kesalah pahaman saja. Jika memang benar terbukti Cantika bersalah, saya akan menjadi taruhannya, dan saya siap di DO jika perkataan saya salah." ucap Bara dengan tegas.
"Kak,!" seru Cantika.
"Sssttt,,! kamu diam saja, Dek.!" jawab Bara.
"Kamu apa-apaan Bara. Kamu iu mahasiswa teladan dan pilihan. Kamu juga berprestasi dan sudah mendekati semester akhir, kenapa kamu bisa bicara seperti itu. Ini nggak main-main lho.,!" jawab Bu Arin.
"Justru saya juga nggak main-main dengan omongan saya, Bu. Sekarang saya minta kasus ini di proses sesuai peraturan yang ada. Saya sanggup membuktikan kalau semua ini adalah salah faham semata, saya rasa Cantika ini adalah korban dari ketidak puasan seseorang atas prestasi yang dia peroleh. Bu Rain juga pasti bisa menangkap apa maksud dari perkataan saya." jelas Bara.
"Baiklah, masalah ini akan saya urus sendiri. Dan kalau memang Cantika bersalah, kamu harus siap dengan konsekuensinya." ucap Bu Arin.
"Siap, Bu. Pegang omongan saya.!" jawab Bara.
"Baiklah, sekarang Cantika, kamu serta Bara. Ikut Ibu ke ruangan Dosen. Untuk yang lannya saya mohon bubar." ucap Bu Arin.
Cantika heran kenapa Bara sampai segitunya membelanya. Kini mereka berempat menuju ruangan Bu Arin.
Dalan perjalanan menuju ruangan Bu Arin Bara melihat mahasiswi yang tadi bertabrakan dengannya yang mengabarkan kalau ada yang sengaja dikunci di toilet.
"Tunggu.,!" teriak Bara saat melihat gadis itu.
Mahasiswi yang dipanggil Bara itu akhirnya berhenti. Kemudian Bara mendekatinya dan sejenal menatapnya.
"Maaf, kamu tadi bukannya yang berlari sambil berteriak bilang ada yang terkunci di toilet.?" tanya Bara.
Gadis itu mengangguk, "Iya, Kak.!"
"Kamu boleh ikut kami, supaya lebih jelas bagaimana kejadian di toilet tadi.?" ucap Bara.
__ADS_1
Cantika ingat, dia adalah mahasiswi yang menyapanya di toilet tadi. Akhirnya gadis itu mau setelah sedikit dipaksa Bara.
Sesampainya di ruangan Bu Arin, mereka semua berdiri dan menghadap kearah Bu Arin semua. Cantika, Bara, laki-laki yang disekap bersama Cantika serta gadis yang dipanggil Bara kini berdiri berjajar didepan meja Bu Arin.
"Maaf, kamu namanya siapa, dan kamu juga namanya siapa?" tanya Bu Arin pada mahasiswi dan laki-laki itu.
"Saya Fika, Bu. Anak menejemen semester satu." jawab gadis itu.
"Saya Jefry, Bu. Anak menejemen juga, tapi saya semester empat." jawab laki-laki itu.
"Baiklah, sekarang saya ingin Cantika menceritakan kronologi kejadiannya." ucap Bu Arin.
"Baik, Bu. Awalnya saya pergi ke toilet dan ternyata masih antri. Lalu saya menunggu. Setelah itu si Fika datang juga untuk mengantri, saya disapa sama dia dan malah kita sempat ngobrol. Ketika kami berdua ngobrol tiba-tiba ada segerombolan cewek-cewek masuk sambil menggiring si Jefry itu masuk ke toilet cewek.
Saat saya melihat dia di buly, otomatis saya menegurnya, tapi cewek-cewek itu nggak terima dan ngatain saya ini pacarnya lah, kok membela si Jefry ini.
Terang saya bantah karena saya mggak kenal sama Jefry ini. Mereka terus memojokan saya dan mengatakan kalau saya adalah pacarnya Jefry, kami sempat beradu mulut dan salah satu dari mereka malah mendorong saya dan Jefry kedalam toilet. Begitu, Bu.!" jelas Cantika.
"Baiklah, argumen kamu saya terima. Dan sekarang, Jefry apa benar yang dikatakan sama Cantik.?" ucap Bu Arin.
"Jefry, sekali lagi Ibu tanya sama kamu, apa benar yang dikatakan Cantika itu, kaalu kalian itu dikerhain sama cewek-cewek itu.?" tanya Bu Arin dengan nada tinggi.
"Emm, be..ner, Bu." jawab Jefry pelan.
Bara akhirnya bernafas lega, apa yang dikatakan Cantika memang benar. Dia menatap Cantika sembari tersenyum. Lalu Bu Arin menatap ke arah Fika.
"Kamu Fika, tadi kan kamu yang menginfomarsikan kalau ada orang yang sengaja di kunci di toilet. Berarti kamu tahu, lalu apa benar yang dikatakan Cantika tadi.?" tanya Bu Arin lagi.
"Iya, Bu. Saya langsung mencari bantuan malah saya sempat bertabrakan dengan Kakak ini dijalan. Saya panggil petugas cleaning service untuk membuka toilet tersebut." jawab Fika.
"Sekarang, sudah jelas kan permasalahannya, tapi saya masih harus menemukan otak dari kejadian ini. Saya harap kamu Jefry, katakan siapa yang dalang dari semua kejadian ini.?" tanya Bu Arin.
Jefry masih diam dan nggak langsung menjawabnya, dia hanya memandang ke arah Cantika lalu beralih ke Bara. Kemudian dia menunduk lagi dan diam.
__ADS_1
"Jefry, kamu dengar apa yang saya katakan, kan.!" tanya Bu Arin dengan nada tinggi.
"I..iyaa.. Bu. Saya dengar." jawabnya terbata.
"Kaalu dengar kenapa nggak kamu jawab, malah diam saja." ucap Bu Arin.
"Saya tadi disuruh sama Vera.!" jawabnya dengan lancar.
"Apa, Vera.,!" Seru Bara.
"Vera lagi,!" sahut Cantika.
"Kenapa dengan Vera. Apa kalian punya masalah dengan dia.?" tanya Bu Arin.
"Kita sebenarnya nggak punya masalah dengan dia, Bu. Tapi, dia nya yang mencari masalah dengan kita terutama sama Cantika." jawab Bara.
"Maksudnya gimana.?" tanya Bu Arin bingung.
"Dia selalu mengganggu saya, Bu. Setiap ketemu saya pasti dia selalu mencari gara-gara." jawab Cantika.
"Berarti kalian ada masalah pribadi.?" tanya Bu Arin.
"Saya nggak merasa punya masalah dengan dia, Bu." jaeab Cantika lagi.
"Vera itu cemburu sama Cantika, Bu. Karena Cantika bisa dekat dengan Bara.!" sahut Jefry.
Sontak yang ada diruangan itu langsung kaget, terutama Bara dan Cantika langsung saling pandang. Mereka nggak tahu kalau kedekatannya membuat orang lain cemburu.
"Ya ampun, ternyata ini hanya masalah cinta. Kenapa bisa jadi serius gini, sih.!" tukas Bu Arin.
"Maaf, Bu. Kalau soal Vera cemburu atau tidak itu bukan urusan saya dan Cantika, lagian itu diluar kuasa kami. Yang jelas disini Cantika benar dan mereka tidak melakukan apa-apa dan satu lagi, Jefry ini bukan pacarnya. Karena sayalah pacarnya." jelas Bara.
Cantika kaget kenapa Bara bilang seperti itu. Apa maksudnya, dan itu benar aoa tidak dia juga masih belum tahu. Cantika melirik kearah Bara dan tangan Bara masih menggenggam tangannya dengan erat.
__ADS_1
--------------------------------
Bersambung..