
Bu Ratih masih tenggelam dengan kenangan Keanu. Sampai-sampai dia tidak menyadari kalau suaminya sudah datang dan kini berdiri di sebelahnya.
"Sayang,!" seru Gavin sembari ikut duduk disampingnya.
Bu Ratih seketika kaget dan menatap ke arah suaminya dengan pandangan sedikit aneh. Gavin tersenyum sambil mencubit pipi istrinya itu. Si empunya pipi hanya membalas dengan senyum yang maksa.
"Kamu, sayang. Sudah dari tadi disini.?" ucap Bu Ratih.
"Ya sekitaran lima menit yang lalu. Kamu, lagi asyik melamun, jadi nggak tahu kalau suaminya sudah disampingnya." ucap Gavin.
"Maafin aku, sayang. Tadi, aku lagi mikir jika jam ngajar dikelas ditambah, gimana?" jawab Bu Ratih bohong.
Dia memamg sudah berjanji sama dirinya kalau tidak akan ada yang ditutupi sama suaminya. Cuma, kali ini dia belum siap bilang karena takut suaminya tersinggung atau salah faham. Mungkin suatu saat dia pasti menceritakan sama suaminya.
Gavin yang kembali mendapati istrinya bengong, jadi gemes ada apa sebenarnya dengan wanita pujaannya ini.
Gavin menggoyang-goyangkan tangannya pas dimuka istrinya. Seketika Bu Ratih jadi gelagapan.
"Maaf, sayang. Iya, ada apa?" tanya Bu Ratih tanpa dosa.
"Ayo kita pulang, nanti kita bahas lagi
dirumah, ya?" ucap Gavin sembari menuntun istrinya yang masih duduk.
Gavin membuka pintu mobil lalu membantu istrinya masuk ke dalam mobil.
Gavin kini mulai melajukan mobilnya meninggalkan pelataran kampus dan menyusuri jalan raya.
Dalam mobil pun Bu Ratih masih banyak diam dan sering melamun. Gavin sedari tadi melirik ke arah istrinya jadi tambah penasaran dengan sikap istrinya itu.
Dengan tangan kirinya, Gavin meraih jemari istrinya dan menggenggamnya supaya dia merasa rilex dan nggak seperti itu lagi. Akhirnya usaha Gavin tidak sia-sia, kini Bu Ratih menoleh ke arah suaminya dengan tersenyum dan semakin mempererat genggaman suaminya.
Gavin membalas senyuman istrinya dengan lembut. Dia sekarang sedikit lega karena istrinya bersikap seperti biasanya. Gavin terus fokus menyetir.
Akhirnya sampai juga dirumah. Gavin sengaja tidak langsung memarkirkan mobilnya, karena mungkin nanti dia butuh. Ternyata ada mobil Mahen sudah terparkir dihalaman.
Keduanya masuk rumah, dan mendapati Kakak dan istrinya sudah ngumpul dengan Papa Mamanya. Wajah Gavin langsung sumringah ketuka bertemu dengan Kakaknya.
"Hallo.., my brother..!" seru Gavin seraya tangannya meraih tubuh Kakaknya kedalam pelukannya. Kini dua bersaudara itu melepas kangen kayak sepuluh tahun nggak bertemu.
Pak Indra dan Bu Hesty hanya geleng-geleng kepala menyaksikan dua jagoannya masih saja seperti dulu.
"Kak Kinan, gimana kehamilannya? Selamat, ya Kak. Sebentar lagi Ratih punya ponakan lagi." ucap Bu Ratih sembari cium pipi Kakak iparnya itu.
"Iya, Tih. Syukurlah kehamilan ini nggak rewel. Baru lima minggu jadi masih kecil." jawab Kinanti.
"Kak Irene juga gitu, waktu hamil muda masih nggak rewel." jawab Bu Ratih.
"Oh iya, berapa sekarang umur kehamilan Kakakmu.?" tanya Kinanti.
__ADS_1
"Lupa aku, Kak. Masih kecil kok. Mau jalan dua bulan mungkin." jawab Bu Ratih.
"Oh iya, sayang. Sekarang kita bersih-bersih dulu nanti gabung lagi." ajak Gavin seraya meraih tangan istrinya.
Bu Ratih pamit sama semua yang ada disitu untuk naik dulu. Semuanya kembali bercengkerama setelah kepergian Gavin dan istrinya.
Tak lama kemudian mereka kembali bergabung dengan yang lainnya. Mahen dan Kinanti rencana nginep karena besok hari sabtu, jadi libur.
"Gimana sekarang kalau kita makan malam diluar, itung-itung reuni setelah semuanya beraktivitas dengan pekerjaan masing-masing." usul Gavin bersemangat.
"Boleh juga, bukan ide buruk." sahut Pak Indra.
"Okey, aku setuju!" seru Mahen.
Akhirnya mereka sepakat untuk keluar makan malam sekeluarga. Mereka mulai berganti pakaian dan bersiap-siap.
Setelah semuanya siap, akhirnya mereka memutuskan untuk memakai satu mobil saja. Mobil Pak Indra yang lebih besar jadi pilihannya. Kini yang nyetir Gavindra karena Pak Narto sudah pulang.
Dia didepan Gavin dengan Mahen, sedangkan Papa dan Mamanya duduk ditengah, lalu dibelakang ditempati menantu-menantunya. Awalnya Bu Ratih disuruh duduk didepan sama suaminya, tapi, dia menolak karena ingin ngobrol dengan Kakak iparnya.
Melajulah mobil itu ke jalan raya. Suasana malam hari semakin menambah hawa dingin. Mereka memutuskan untuk ke Mall saja, karena mungkin ada yang mau di beli.
Sampailah mereka di sebuah Mall terbesar di Jakarta. Gavin menurunkan mereka didepan pintu masuk, kini Gavin mencari tempat parkir ditemani Mahen. Setelah dia muter-muter akhirnya dia dapat tempat parkir juga.
Gavin dan Mahen berjalan menuju tempat dimana keluarganya sudah menunggu. Kini semuanya masuk Mall itu dengan gembira. Para wanita berjalan sendiri melihat-lihat barang yang berhubungan dengan para ladies.
Sedangkan Pak Indra dan kedua jagoannya berjalan menyusuri deretan sepatu dan perlengkapan pria lainnya.
"Bagus juga, Papa suka.!" jawab Pak Indra.
"Ya sudah, Papa coba dulu size berapa?" kini Mahen bersuara.
Mahen dan Gavin membantu Papanya untuk mencoba sepatu yang diinginkan. Mereka dibantu salah satu pramuniaga yang jaga disitu. Akhirnya Pak Indra menemukan yang cocok dan pas.
"Mbak, ambil ini satu, ya?" seru Gavin kepada pramuniaga itu.
"Baik, Pak" jawabnya seraya membungkus sepatu itu. Lalu memberikan ke Gavin untuk segera membayar dikasir.
Setelah semua dibayar, mereka kembali melanjutkan jalan-jalannya dan mulai mencari para wanitanya.
"Kita sudah ditinggal sama kelompok Emak-emak, nih!" celetuk Pak Indra sambil tertawa lepas.
Mahen akhirnya menelpon istrinya. Mereka sudah menunggu disuatu tempat katanya.
Akhirnya mereka menuju tempat yang dikasih tau oleh Kinanti. Setelah berjalan menyusuri Mall, Gavin dan rombongan menemukan Mama dan para menantunya.
"Lama banget, sih. Dari mana saja?" seru Kinan sambil menatap suaminya.
"Ini, habis beli ini?" jawab Mahen sambil menunjukan tas belanjaan.
__ADS_1
"Oh, siapa yang beli sepatu, A'?" tanya Kinan lagi.
"Ini sepatunya Papa. Masa Aa' beli sepatu lagi, kan sudah punya.?" sahut Mahen.
Kinanti sedikit malu, karena ternyata itu sepatu milik Papa mertuanya. Semua yang disitu tertawa melihat obrolan suami istri tersebut. Kinanti memang pribadi yang sederhana dan kebiasaan di yayasan itu selalu diajarkan hidup hemat.
"Kita makan dimana, nih!" seru Gavin tiba-tiba.
"Gimana kalau ke restoran yang disebelah sana, tadi Mama lihat ada restoran yang menyajikan masakan jawa?" ucap Bu Hesty sambil menunjuk restoran yang paling ujung.
"Okey, nggak apa-apa. Kalau gitu kita kesana." jawab Pak Indra.
Mereka menuju ke restoran itu. Suasana Mall terlihat ramai sekali. Apa mungkin hari ini adalah weekend. Setelah sampai mereka ambil tempat duduk yang kosong.
Gavin mencoba membantu Papanya sedangkan Mamanya sudah diurusi oleh para menantu.
Tak lama kemudian pelayan menghampiri mereka dengan membawa daftar menu. Setelah itu mereka memilih makanan yang dipesan dan pelayang itu mencatat dengan teliti semua pesanan itu.
Sambil menunggu pesanan datang, mereka ngobrol-ngobrol satu sama lain.
"Vin, kamu tadi kok nggak beli sekalian." ucap Papanya tiba-tiba.
"Gavin sudah banyaķ sepatu model seperti itu, Pa. Saat kuliah Gavin selalu pakai sepatu gitu." jawab Gavin.
"Mahen juga masih banyak sepatu gitu, Pa." sahut Mahen sebelum ditanyai sama Papanya.
Obrolan mereka sangatlah akrab, menunjukan keharmonisan yang tercipta dalam keluarga itu. Itulah yang selalu diciptakan dalam keluarga Wijaya dari dulu. Kehangatan dalam menjalani hubungan sesama anggota keluarga.
Pesanan pun datang. Pelayan itu membawa semua pesanan yang tadi sudah dipesan. Ada berbagai macam menu yang sudah tersaji. Ada sayur asem, ikan mujair goreng sambal terasi. Ada ayam bakar lengkap dengan urap-urap. Dan masih banyak lagi.
Dengan semangat empat lima, Gavin dan Mahen langsung menyantap makanan itu. Mereka menikmati hidangan itu dengan lahapnya. Tak terasa hampir satu jam mereka berada di restoran itu. Kini, semua merasa sudah kenyang.
Mahen berdiri dan hendak menuju kasir. Tapi, baru berapa langkah Pak Indra memanggilnya.
"Hen, biar Papa yang bayar.!" seru Papanya sambil melirik ke arah Bu Hesty.
"Nggap apa-apa, Pa. Biar Mahen yang bayar." jawab Mahen.
"Sudah, kamu duduk saja. Biar Mama yang ke kasir." jawab Bu Hesty sembari memegang lengan anak sulungnya itu.
Akhirnya Mahen nurut juga apa yang dikatakan Mamanya. Kini yang bayar adalah Pak Indra.
Sambil menunggu Bu Hesty membayar dikasir, tiba-tiba mata Pak Indra menatap seseorang yang dia kenal. Dan kebetulan laki-laki yang dikenal Pak Indra tersebut berjalan didekat dirinya.
Pak Indra seketika beranjak dari tempat duduknya itu dan menyapa laki-laki tersebut.
"Pak Keanu.!" Seru Pak Indra seraya menepuk pundak laki-laki tersebut.
-----------------------------------
__ADS_1
Bersambung.......