
....................................
Suara jeritan itu membuat Gavin berhenti melangkah. Dia membalikan tubuhnya mencari sumber suara itu. Kemudian ada beberapa karyawan berlarian ke arah suara itu.
Gavin pun demikian, dia mendekati kerumunan orang. Mungkin ada yang terjatuh dari tangga darurat, karena semua berkumpul di tangga darurat. Gavin pun serta merta memecah kerumunan itu.
Sebagai pimpinan dia juga harus cepat tanggap dengan apa yang terjadi dengan karyawannya.
"Ada apa, ini?" ucap Gavin.
"Emm..ini Pak, ada office girl yang jatuh!" ucap salah satu karyawan itu sambil menunjukan orang itu.
Gavin sontak terkejut karena yang jatuh adalah wanita yang tadi menjadi penasaran Gavin. Kelihatannya dia pingsan.
"Cepat, bawa ke rumah sakit.! Perusahaan ini ada mobil operasional kan?" tanya Gavin.
"Ada Pak, cuma mobilnya tadi dipakai buat ke Bank, sampai sekarang belum datang." sahut salah satu orang disitu.
"Baiklah, bawa ke mobil saya, saja. Tolong, angkat, biar saya yang bawa ke rumah sakit." seru Gavin.
"Baik, Pak!"
Kemudian tubuh gadis itu diangkat ke mobil Gavin. Karyawan yang mengangkat gadis itu memgikuti Gavin dibelakangnya.
"Biar, saya yang anter ke rumah sakit." ucap Gavin.
"Iya, Pak."
" Nanti, kalau mobil operasional sudah datang, kamu susul ke rumah sakit, ya. Pak Bima suruh hubungi saya." ucap Gavin.
"Siap, Pak.!"
Kemudian Gavin melajukan mobilnya menuju rumah sakit Citra medika. Kebetulan jalanan tidak begitu ramai, jadi lebih cepat sampainya.
Setelah sampai di rumah sakit, Gavin dengan segera mengangkat wanita itu masuk kedalam.
"Maaf, Sus. Tolong, ini segera ditangani, ya?" ucap Gavin. Pada salah satu perawat yang kebetulan lewat.
"Baik, Pak!"
"Cepat, ya Sus.?"
"Iya, Pak."
Gavin mengukuti Suster. Tubuh wanita itu sudah didorong menuju UGD.
"Bapak, tunggu disini saja, ya?"
"Baik, Sus."
Gavin membuka ponselnya. Dicari nama Bu Ratih.
["Halo, sayang. Maaf aku nggak bisa jemput kamu. Tolong, kamu naik taxi aja, ya? ada insiden di kantor, aku harus antar karyawan yang sedang memgalami kecelakaan."]
["......................."]
["Makasih, sayang."]
__ADS_1
Gavin menutup kembali ponselnya kemudian memasukan ke sakunya kembali. Selang beberapa lama Dokter membuka pintu.
"Maaf, Bapak ini keluarga pasien?" tanya Dokter itu.
"Bukan, saya atasan dia di tempatnya kerja." jawab Gavin.
"Begini, Pak. Pasien kepalanya ada masalah, mungkin tadi habis kebentur benda keras. Kemungkinan ada Gegar otak ringan. Tapi anda tidak perlu kawatir, karena nggak sampai parah, kok." terang Dokter.
"Oh, gitu. Terus gimana kelanjutannya, apa perlu operasi atau bagaimana.?" tanya Gavin lagi.
"Tidak perlu, Pak. Kita tunggu pasien sadar dulu, setelah itu kita lihat perkembangannya." jawabnya.
"Baiklah, Dok. Makasih..." jawab Gavin.
"Iya, sama-sama. Saya permisi dulu." ucapnya lagi.
"Silahkan...." jawab Gavin.
Gavin kembali melihat gadis itu yang masih terbaring diruangan itu. Kemudian datanglah Pak Bima. Sebagai HRD dia memang harus yang lebih tanggap untuk urusan yang terjadi pada esdeem.
"Gimana, Pak Gavin. Ada yang parah dengan Kasih?" tanya Pak Bima.
"Kata Dokter, dia hanya mengalami gegar otak ringan saja. Kita tunggu sampai dia sadar." jawab Gavin.
"Syukurlah, kalau hanya gegar otak ringan. Jadi nggak ada masalah yang serius." jawab Pak Bima.
"Jadi nama gadis itu Kasih.? tanya Gavin.
"Iya, Pak. Dia karyawan baru. Baru dua bulan dia kerja diperusahaan kita. Itu berkat rekomendasinya si Firman, Ob yang dekat dengan Pak Indra." jawab Pak Bima.
"Emm..gitu. Ya sudah, Pak Bima sekarang urus dia, saya pulang dulu. Nanti kalau ada apa-apa, Pak Bima langsung kasih tahu saya." ucap Gavin.
Gavin meninggalkan rumah sakit, dia berjalam menuju parkiran. Diperjalanan pulang, Gavin masih penasaran, pernah lihat gadis itu dimana.
Dengan mengemudikan mobil Gavin mencoba mengingatnya. Masih belum bisa, tapi hatinya berkata kalau gadis itu pernah ada di masalalunya. Tapi, siapa dia. Bathin Gavin.
Akhirnya sampai juga Gavin dirumahnya. Setelah memarkirkan mobilnya, Gavin melangkah memasuki rumahnya sambil melepaskan dasi yang masih melingkar di lehernya.
"Vin, kok baru pulang.?" tanya Pak Indra.
"Iya, Pa. Gavin habis dari rumah sakit. Tadi ada insiden kecil di kantor. Gadis Office girl yang tadi siang Papa suruh beli makan siang, dia jatuh dari tangga darurat. Terus Gavin bawa ke rumah sakit. Karena kebetulan mobil kantor masih dipake." jelas Gavin.
"Ya Allah., terus keadaannya gimana?" tanya Pak Indra.
"Alhamdulilah nggak parah kok, Pa. Kita tunggu kabar dari rumah sakit. Pak Bima masih disana untuk urus semuanya." jawab Gavin.
"Okelah kalau begitu, biar Papa hubungi Pak Bima." ucap Pak Indra.
"Iya, Pa." jawab Gavin.
Gavin melangkah menuju kamarnya. Dia naik keatas. Nampak capek di mukanya. Mungkin ini baru pertama kali dia merasakan gimana dunia kerja kantoran.
Selesai mandi dan bersih, Gavin menuju tempat tidurnya. Masih kepikiran gadis yang bernama Kasih. Apa dia teman SMA atau teman masa kecilku. Bathin Gavin.
Tapi wajah itu nggak asing. Gavin menjadi bingung. Sampai-sampai dia ketiduran.
.
__ADS_1
.
.
Keesokan harinya Gavin sudah rapi dan siap ke kantor. Dia menuju meja makan seperti biasa.
"Pagi, Pa, Ma."ucap Gavin.
"Pagi, sayang." jawab Mamanya.
"Pagi juga, Nak." sekarang Pak Indra giliran ngejawab.
"Oh, ya Pa. Gimana kabar soal Office girl semalem. Maaf, kemarin Gavin capek banget, habis mandi terus ketiduran." ucap Gavin.
"Pak Bima, bilang, katanya gadis itu sudah sadar dan nggak ada masalah yang serius." jawab Pak Indra.
"Syukurlah kalau gitu." jawab Gavin.
"Papa ntar mau ke kantor cabang, Vin. Ada meeting soal proyek. Mungkin lusa Kakakmu akan balik Jakarta dan langsung pegang kantor cabang itu." ucap Pak Indra.
"Baik, Pa." jawab Gavin.
"Kamu, lanjutin aja belajar seperti kemarin. Misal ada yang urgent, kamu langsung handle aja." ucap Pak Indra.
"Siap, Pa.!" jawab Gavin.
"Oke, Papa berangkat dulu. Kamu hati-hati kalau berangkat kerja nanti." ucap Pak Indra.
"Oke, Boss!" seru Gavin.
****
Sesampainya di kantor, Gavin berjalan menyusuri ruangan-ruangan kantor. Dia kemudian berjalan menuju ruangannya.
Para karyawan mulai berdatangan, karena jam sudah menunjukkan pukul delapan.
"Pagi, Pak Gavin.?" sapa dari seorang karyawan.
"Pagi, juga. Selamat bekerja, ya?" jawab Gavin.
"Siap, Pak.!" jawabnya.
Tapi belum sampe dia masuk ruangannya, tiba-tiba dia ada yang panggil.
"Pak Gavin, Pak.!" teriak sesorang dari jauh. Ternyata Pak Bima, terlihat dia berlari kecil menuju Gavin.
"Iya, Pak. ada apa?" jawab Gavin.
"Gini, Pak. Soal Kasih Pak. Hari ini dia boleh pulang. Untuk biaya-biaya saya perlu tanda tangan Pak Gavin. Karena Pa Indra lagi di kantor cabang." ucap Pak Bima.
"Oh itu, iya nggak apa-apa, nanti langsung bawa ke ruangan saya aja." jawab Gavin.
"Baik, Pak." sahut Pak Bima.
Kemudian Gavin masuk ruangannya. Dijatuhkannya badannya di kursi. Dia masih nggak percaya kalau sekarang dia sudah duduk di kursi pimpinan.
"Tok...tok...tok...!!"
__ADS_1
Next...................(32).