BU DOSEN CANTIK

BU DOSEN CANTIK
SEASON TIGA Part : 253 (Bahagia_End)


__ADS_3

Keesokan harinya Bu Ratih dan Gavin mengajak Gazi dan Cantika untuk makan di luar. Dia ingin menghabiskan waktunya bersama keluarganya.


"Cantik, Gazi,! Ayo turun, Nak. Kita mau berangkat," teriak Bu Ratih dari bawah.


"Iya, Ma.!"


"Siap, Ma.!"


Keduanya turun dari kamarnya dengan senang. Gavin menunggu di ruang tamu sambil memainkan ponselnya.


"Cantik sudah siap, Ma," ucapnya saat sampai di bawah.


"Bagus, sayang. Kamu cantik sekali, Nak."


"Makasih, Ma."


"Gimana Gazi, Ma. Apa sudah ganteng,?" tanya Gazi tak mau kalah.


"Kamu ganteng seperti Papa waktu masih muda dulu," sahut Gavin sambil mendekati mereka.


Bu Ratih, Gazi serta Cantika langsung saling pandang dan tertawa. Mereka semua tertawa riang karena melihat tingkah pola Gavin.


"Ya sudah, sekarang kita berangkat dulu," ucap Bu Ratih.


Akhirnya mereka berempat berangkat menuju ke sebuah tempat. Bu Ratih dan Gavin merencakan menuju ke rumah makan langganannya. Jaraknya nggak begitu jauh, paling sekitar lima belas menit dari rumahnya.

__ADS_1


Gazi yang memegang kemudi sedangkan Gavin duduk di sebelah Gazi, lalu Bu Ratih dan Cantika duduk di bangku belakang. Mereka berempat kelihatan gembira sekali karena moment seperti ini akhir-akhir ini jarang mereka lewati bersama.


Tak selang lama akhirnya mereka sampai juga di rumah makan yang dituju. Gavin dan keluarga turun dari mobil dan langsung menuju meja yang sudah di pesan sebelumnya.


Setelah itu Bu Ratih memanggil pegawai rumah makan tersebut dan memesan beberapa makanan sesuai dengan selera masing-masing. Kemudian pegawai rumah makan tersebut kembali dan kini Bu Ratih dan keluarga menunggu pesanan datang.


"Zi, kira-kira Bundamu kapan acara nikahnya,?" tanya Bu Ratih memecah keheningan.


"Belum tahu, Ma. Wakru itu Bunda cuma bilang kalau baru rencana," jawab Gazi.


"Mungkin ya nunggu siap semuanya, Ma,!" sahut Gavin.


"Ya mungkin saja seperti itu," jawab Bu Ratih.


"Iya, Pa. Gazi mau."


"Bagus, nanti soal cafe bisa kamu serahkan sama Heru, jadi kamu fokus di hotel dan restoran."


"Siap Pa, tapi kalau ada apa-apa, Bantu Gazi dulu, Pa."


"Iya, Papa akan tetap pantau dan dampingi kamu. Seperti waktu Papa dulu pertama kali gabung ke perusahaan Kakek, Papa juga masih di dampingi Kakek Indra. Setelah Papa mampu, baru Kakek pensiun dari kantor," jelas Gavin.


"Iya, Pa."


"Cantik, rencana kamu kedepan gimana, jadi tetap lanjutin ngajar,?" tanya Gavin.

__ADS_1


"Iya, Pa. Cantik ingin seperti Mama. Sekarang Cantik kan masih jadi asisten Dosen Bu Arin, jadi itu Cantik buat sebagai pengalaman. Nanti Canti juga mau lanjutin S2. Nggak apa-apa, kan Pa,?" tanya Cantika.


"Nggak apa-apa, bagus itu. Kalau kamu sudah putusin sesuatu, mengerjakannya jangan setengah-setengah. Harus fokus karena pekerjaan yang di lakukan dengan total dan fokus, maka hasilnya bisa maksimal," jelas Gavin.


"Iya, nanti Cantik rencananya ambil S2 dan mengajar seperti Mama."


Bu Ratih senang sekali mendapat jawaban anak gadisnya yang begitu antusias untuk menjadi seorang Dosen seperti dirinya. Meskipun Cantika bukan anak kandungnya, tapi dia sangat menyayangi Cantika seperti anak kandungnya sendiri.


Tak lama kemudian pesanan makanan sudah datang dan mereka menikmati makanan itu. Gavin dan keluarganya terlihat bahagia ketika berkumpul seperti ini. Apalagi Bu Ratih tak henti-hentinya melirik kearah Gavin, Gazi lalu Cantika.


"*Alhamdulilah, aku bisa merasakan kebahagiaan yang luar biasa ini, Suami dan anak-anakku sangat sehat dan bahagia sekali. Aku bangga telah memiliki mereka semua. Suami yang baik, anak-anak yang baik meskipum mereka bukan anak yang lahir dari kandunganku sendiri.


Raka anak sulung aku yang lagi studi di Jepang, menjadi kebanggaan aku dan suamiku. Lalu Gazi, meskipun dia belum lama tinggal sama aku dan suamiku, tapi dia sangat dekat dan sudah terbiasa sama kami. Cantika si anak ajaib yang dihadirkan oleh Tuhan disaat aku butuh hiburan akan seorang anak, kini sudah tumbuh dewasa dan pintar.


Sekali lagi aku ucapkan banyak-banyak terimah kasih padaMU Tuhan, aku sudah Engkau beri kebahagiaan yang tak ternilai harganya. Aku janji akan selalu membuat mereka nyaman dan betah di rumah. Sekali lagi aku sangat amat bahagia memiliki mereka semua dalam hidupku," ucap Bu Ratih dalam hati*.


------------------------------


The end.


Makasih buat semuanya, akan hadir sekuelnya dengan menceritakan tentang Cantika.


Sekali lagi saya ucapkan beribu-ribu terima kasih karena telah setia membaca cerita saya BDC. Maaf jika ada tulisan saya yang kurang berkenan, dan semoga ke depannya bisa lebih baik.


Love u all...

__ADS_1


__ADS_2