
Bu Ratih menganggukan kepalanya. Pak Keanu lalu tersenyum dan mengambil tempat duduk.
Kini mereka berempat duduk satu meja menunggu pesanannya datang.
"Bu Ratih, nanti pulangnya bareng-bareng kita aja. Sekalian biar Bu Ratih sama Winda nggak usah susah-susah cari Taxi." ucap Vanya.
"Nggak usah, Van. Nanti merepotkan aja. Biar Bu Ratih naikTaxi aja." jawab Bu Ratih mengelak.
"Nggak apa-apa, Bu." jawab Vanya.
Pak Keanu melihat ada sedikit rasa nggak nyaman pada diri Bu Ratih saat putrinya menawarkan pulang bareng, dia langsung bicara.
"Sayang, kalau Bu Ratihnya nggak mau jangan di paksa juga. Mungkin Bu Ratih masih ada perlu habis dari sini." ucap Pak Keanu membujuk.
"Oh ya sudah kalau gitu, Bu. Lain kali aja Vanya main ke rumah Bu Ratih." ucapnya.
"Iya, Van. Kamu boleh main kerumah Ibu kapan saja kamu mau." jawab Bu Ratih.
"Pa, habis ini kita langsung pulang, kan?" ucap Vanya sambil menoleh Papanya.
"Iya, sayang." jawab Pak Keanu.
"Saya permisi dulu, ya Van, Pak." seru Bu Ratih seraya menuju kasir buat membayar.
Tapi, belum sampai melangkah, Pak Keanu dengan cepat berdiri lalu melarang Bu Ratih untuk membayar.
"Biar saya yang bayar, Bu. Tolong, untuk yang satu ini jangan menolak." ucap Pak Keanu sambil menatap Bu Ratih dengan wajah memohon.
"Baiklah, Pak. Saya terima kasih. Dan sekalian saya pamit pulang duluan." ucap Bu Ratih.
"Makasih Bu...," jawab Pak Keanu.
Bu Ratih memanggil Winda yang masih asyik ngobrol dengan Vanya. Akhirnya mereka pulang duluan. Vanya melambaikan tangan kearah Bu Ratih dan Winda.
Tak lama kemudian Taxi datang. Mereka masuk dan pulang. Dalam perjalanan pulang Bu Ratih banyak diam. Winda melihat sikap Kakaknya yang sedikit berbeda dia jadi takut mau mengajak bicara.
Sampailah dia dirumah. Dan Bu Rahma menyambut kedua anak perempuannya itu. Bu Ratih duduk diruang tengah diikuti Mamanya. Sedangkan Winda masih berdiri dibelakang Mamanya.
"Ratih, kamu kenapa, Nak?" tanya Bu Rahma seraya duduk disebelahnya.
Bu Ratih menoleh ke arah Mamanya, kemudian ganti ke arah Winda. Kini, Winda semakin ketakutan. Bu Rahma yang melihat sikap Bu Ratih dan Winda, pasti ini ada salah faham.
"Winda, lain kali kalau ngomong dijaga, dong. Kamu lancang banget sih, pakai bilang ke Papanya Vanya kalau nama mantan Mbak itu sama dengannya." kini Bu Ratih sedikit menaikan suaranya.
Winda semakin ketakutan dan sembunyi dibelakang tubuh Mamanya.
"Winda, apa benar yang dibilang Mbak mu?" tanya Bu Rahma.
"Iya, Ma. Maaf, Winda nggak bermaksud--" belum sampai melanjutkan ucapannya Bu Rahma sudah menengahi.
__ADS_1
"Sudah., sudah., sekarang kalian saling memaafkan. Winda minta maaf sama Mbak kamu." tukas Bu Rahma.
Winda kemudian berdiri lalu mendekati Kakaknya, setelah itu dipeluknya tubuh Bu Ratih.
"Mbak, maafin Winda, ya. Aku nggak bermaksud mengingatkan kembali kenangan dengan Kak Keanu." ucap Winda sambil terisak.
Bu Ratih jadi nggak tega kalau lihat Adiknya seperti ini. Kemudian dia memaafkan Winda dan kembali seperti biasa.
"Oh iya, Tih. Tadi suami kamu telpon. Katanya ponsel kamu nggak bisa dihubungi, jadi dia telpon Mama. Tapi, Mama bilangin kalau kamu antar Adikmu ke toko buku." jelas Bu Rahma.
"Oh iya, Ma. Ponsel Ratih lowbat jadi Ratih matiin." jawabnya.
Akhirnya Bu Ratih pamit untuk naik ke kamarnya. Kini tinggal Bu Rahma dan Winda saja.
"Ma, Winda tadi nyesel banget bilang gitu sama Om Keanu. Nggak tahu kalau Mbak Ratih bakal kembali teringat." ucap Winda.
"Sayang, yang Mbak mu kawatirkan itu bukan masalah kembali ingat dengan Almarhum. Tapi, dia nggak ingin kalau Vanya itu semakin dekat dengan Mbak mu lantaran disambung-sambungkan soal nama yang sama. Tadi Mbak mu cerita kalau Vanya itu lama-lama jadi manja dengan Mbak mu, terus takutnya malah jadi di dekatkan dengan Papanya. Itu yang Mbak mu nggak mau terjadi." terang Bu Rahma panjang lebar.
"Oalah gitu ta, Ma. Winda jadi ngerti sekarang kenapa Mbak Ratih sampai marah sama Winda." sahut Winda.
"Iya, Nak. Itu yang Mbak mu takutkan." ucap Mamanya.
"Ya sudah kalau gitu Winda ke kamar dulu, ya Ma.?" ucap Winda.
"Iya, sayang." jawan Bu Rahma.
Sedangkan diatas, dikamarnya. Ponsel Bu Ratih sudah di charger. Kini dia bisa menghubungi suaminya.
"Iya, sayang. Nggak apa-apa." jawabnya diujung telpon.
"Oh iya, gimana urusan kerjaannya, sayang?" tanya Bu Ratih
"Masih diurus, orangnya sebenarnya nggak kabur, cuma dia ada masalah keuangan. Jadi, dia nggak berani menampakan dirinya. Makanya dikira dia kabur nggak bertanggung jawab. Tapi, besok aku mau ke rumahnya." jelas Gavin lagi.
"Sayang, kamu sudah makan?" tanya Bu Ratih.
"Sudah.! sayang aku kangen, nih?" ucap Gavin.
"Sama, aku juga kangen banget sama kamu, sayang!" seru Bu Ratih.
"Aku pingin peluk kamu, sayang." sahutnya lagi.
"Makanya lekas pulang, biar bisa peluk aku." ucap Bu Ratih.
"Iya, doakan biar masalahnya cepat selesai, jadi aku cepat balik pulang." jawab Gavin.
"Ya sudah kalau gitu, kamu istirahat aja. Biar besok kerjanya jadi fit." ucap Bu Ratih.
"Okey, sayang. Bye.."
__ADS_1
Bu Ratih menutup kembali ponselnya. Lalu meletakannya diatas nakas. Kini dia merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur. Pikirannya melayang kemana-mana. Tentang masalah suaminya, soal penyakit mertuanya Kakaknya. Kini ditambah lagi soal kehadiran Vanya dan Papanya.
Ingin menghindar tapi dia Mahasiswanya, nggak menghindar takutnya akan salah faham. Dia sebenarnya suka sama Vanya karena anaknya mudah bergaul. Meskipun sudah Mahasiswa tapi anak itu cenderung manja dan seperti anak kecil.
Bu Ratih hanya ingin membantu dalam ketinggalan mata kuliah nya saja. Selebihnya nggak bisa.
Malam semakin menunjukan udara dingin yang begitu khas. Bu Ratih nggak bisa langsung memejamkan matanya. Dia kini hanya rebahan saja diatas tempat tidur dengan memeluk guling. Sampai akhirnya dia tertidur.
(*********)
Sudah hampir seminggu Gavin berada di Bandung untuk mengurusi proyeknya yang ada masalah. Tapi, belum ada kabar untuk kembali ke Jakarta. Bu Ratih hari ini pulang ke rumah Gavin.
"Sore, Ma." ucap Bu Ratih sesampainya dirumah mertuanya.
"Sore, Nak. Gimana kerjaan kamu, lancar?" tanya Bu Hesty.
"Alhamdulilah, lancar Ma." jawab Bu Ratih.
"Kamu kelihatan lelah sekali, Nak. Jangan terlalu diforsir. Karena kamu harus jaga kesehatan, untuk mempermudah mendapatkan keturunan." ucap Bu Hesty.
"Iya, Ma. Ratih juga pingin cepat punya momongan." jawab Bu Ratih.
"Ya sudah, sana mandi dulu nanti kita lanjut ngobrolnya." ucap Bu Hesty.
"Baik, Ma. Ratih ke kamar dulu, ya?" ucap Bu Ratih.
Bu Hesty mengangguk pelan sambil memandangi menantunya itu. Dia sangat mengagumi menantunya ini. Sudah cantik, pinter serta sopan lagi. Pantesan Gavin tergila-gila dengannya.
Diluar rumah Bu Hesty dikagetkan dengan kedatangan suaminya yang marah-marah ditelpon. nggak Tahu lagi marah sama siapa. Belum pernah ia mendapati suaminya semarah ini kalau nggak benar-benar masalah serius.
Bu Hesty mencoba mendekati suaminya. Pak Indra masih serius bicara di telpon sampai tidak menyadari kalau istrinya sudah didekatnya.
Akhirnya Pak Indra mengakhiri pembicaraannya dan menutup telponnya. Kemudian dia duduk di kursi teras.
"Ada apa, Pa. Kok bicaranya serius banget.?" tanya Bu Hesty.
"Papa nggak habis pikir, Ma. Kenapa kok proyek di Bandung itu sampai kecolongan gitu. Gavin sudah berhasil menemui orangnya. Cuma, pasti ada alasan lain kenapa dia sampai melakukan itu." jawab Pak Indra.
"Sabar, Pa. Tenangkan diri Papa dulu." ucap Bu Hesty.
"Iya, Ma." jawab Pak Indra.
Tak selang lama kemudian ponsel Pak Indra kembali berdering.
"Iya, Halo.., ada apa Vin?" tanya Pak Indra di telpon.
"Pak Indra, maaf ini dengan Bayu, saya satpam proyek. Pak Gavin dibawah kerumah sakit, karena habis dikeroyok orang tak dikenal!" ucapnya diujung telepon.
"Apa.!! Gavin masuk rumah sakit." sahut Pak Indra.
__ADS_1
-----------------------------------
Bersambung.......