
Hari ini hari paling membahagiakan bagi Cantik dan keluarganya. Di umurnya yang masih lima belas tahun dia sudah lulus sekolah menengah atas. Karena dia mengikuti program akslerasi jadi lulusnya lebih cepat.
Saat ini kedua orang tua Cantik Gavin dan Bu Ratih menghadiri wisuda kelulusan di sekolah Cantik. Bu Ratih tampil secantik mungkin begitu juga Gavin dia juga berpakaian serapi mungkin.
"Baiklah, kali ini saya umumkan siapa yang masuk sepuluh besar untuk kelulusan tahun ini." ucap pembawa acara tersebut.
Bu Ratih dan Gavin masih mengikuti acara itu dengan hikmad. Semua orang tua siswa deg deg an karena menanti siapa yang akan menjadi juara satu.
Kini pembawa acaranya sudah menyebutkan sampai lima besar, tinggal lima siswa lagi yang akan segera diumumkan. Gavin menoleh kearah istrinya karena nama anaknya belum disebutkan.
"Sekarang saya akan lanjutkan kembali menyebutkan nama-nama yang akan menjadi lima besar terakhir. Untuk urutan lima jatuh kepada siswa dengan nama MUHAMAD ALDIO PRATAMA dari kelas C. Selamat buat saudara Dio. Mohon naik keatas panggung.
Lalu yang selanjutnya urutan empat jatuh kepada siswi yang bernama FRANSISKA AYU PUSPITA dari kelas A, silakan kepada saudari Ayu naik keatas panggung.
Selanjutnya di urutan ke tiga jatuh pada siswi bernama FATIMAH NUR FADILA dari kelas B. Silakan naik menyusul teman-temannya.
Sekarang tiba runner up kita, jatuh pada siswa yang bernama ARI DWI PURNOMO dari kelas D, silakan naik keatas panggung.
Dan ini yang ditunggu-tunggu. Yang menjadi favorit dan jadi juara satu di sekolah kita ini. Baiklah, untuk urutan pertama dan sekaligus menjadi juara favorit di sekolah kita jatuh pada siswi yang bernama CANTIKA PUTRI WIJAYA dari kelas A. Silahkan Cantik naik ke atas panggung." ucap pembawa acaranya itu.
Semua sontak bertepuk tangan, Gavin dan Bu Ratih spontan berpelukan karena meluapkan kegembiraan yang tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Bu Ratih matanya berkaca-kaca mendengar nama anaknya disebutkan sebagai juara satu.
Kini semua siswa dan siswi yang masuk sepuluh besar berdiri diatas panggung. Dari peringkat sepuluh sampai yang peringkat pertama. Bu Ratih tak henti-hentinya memberi semangat kepada anak perempuannya itu dari tempat duduknya.
Bapak kepala sekolah perlahan naik keatas pangggung memberikan ijazah serta cinderamata kepada ke sepuluh besar itu. Semua mendapatkan hadiah masing-masing sebuah piala sebagai simbol dan kenang-kenangan serta uang.
Khusus buat tiga besar akan mendapatkan bea siswa melanjutkan kuliah sampai lulus. Cantik sangat gembira mendengar itu karena dia akan mendapat bea siswa.
Semua diminta untuk memberikan ucapan terima kasih dan sepatah dua patah kata untuk orang tua masing-masing. Semua yang hadir sempat terbawa emosi dan terharu karena semua anak-anak itu melakukannya dengan hati.
Kini giliran Cantik yang akan memberikan ucapan terima kasih kepada kedua orang tuanya.
"Terima kasih waktunya, pertama-tama saya ucapkan puji syukur kepada Allah yang telah memberikan saya kesempatan berdiri diatas panggung. Kemudian para guru serta teman-teman semua yang telah mensupport saya.
__ADS_1
Terakhir kepada kedua orang tua saya. Papa dan Mama adalah malaikat bagi saya. Buat Papa, Cantik ucapkan banyak terima kasih telah membiayai serta mendidik Cantik sampai sedewasa ini. Lalu buat Mama, hiks..hiks..hiks.. Mama adalah mutiara yang harus Cantik jaga, rawat serta Cantik sayang.
Mama adalah segalanya bagi saya, setiap harinya saya mendapat pelajaran baru dari Mama. Saya seperti ini juga tidak lepas dari didikan Mama saya. Mama tidak hanya sebagai Mama saja, kadang Mama berperan sebagai teman, Kakak bahkan guru.
Sekali lagi saya ucapkan kepada Mama Ratih yang duduk disana. Mama.., kau adalah Mama terhebatku, malaikatku, pokoknya Mamaku is the best. Love you so much Mama..!" ucap Cantik panjang lebar dari atas panggung.
Sontak semua yang hadir disitu langsung bertepuk tangan memberikan aplause kepada Cantik. Bu Ratih langsung menangis tersedu-sedu karena melihat anak perempuannya itu berbicara diatas panggung.
Gavin serta-merta memeluk pundak Bu Ratih. Semua wali murid memberikan selamat kepada Bu Ratih karena prestasi yang diterima anaknya. Dia masih nggak percaya karena anak gadisnya ini telah membuat dia bangga.
Kemudian Cantik turun untuk menemui Mamanya. Bu Ratih langsung memeluk Cantik dan merekapun sejenak tenggelam dalam suasana haru. Bu Ratih tak henti-hentinya menciumi ujung kepala anaknya itu.
"Mama, aku sayang sama Mama. Jangan tinggalin Cantik, ya Ma. Terima kasih telah merawat dan menyayangi Cantik seperti ini." ucap Cantik.
"Iya, sayang. Mama akan selalu ada buat kamu. Terima kasih juga karena telah membuat Mama bangga dengan prestasi yang kamu dapat ini." jawab Bu Ratih.
Perlahan keduanya melepaskan pelukannya, kemudian semua teman-teman Cantik memberikan ucapan selamat kepadanya karena prestasinya ini.
"Terima kasih, Sil."
"Iya, Sil. Terima kasih ya?" sahut Bu Ratih.
"Iya, Tante. Sama-sama."
Tak lama kemudian Dio teman laki-lakinya Cantik dan Sisil mendekat. Dia lalu menyalami Gavin dan Bu Ratih. Tak lama kemudian Dio mendekati Cantik.
"Tik, selamat, ya. Kamu hebat." ucap Dio.
"Terima kasih, ya Dio. Kamu juga hebat, sudah masuk lima besar." jawab Cantik.
"Iya, Tik. Sama-sama."
"Baiklah, kalau memang sudah selesai, kita pulang. Oh iya, nanti malam silakan datang ke rumah untuk sekedar syukuran kecil-kecilan" sahut Bu Ratih.
__ADS_1
"Iya, Tante. Nanti saya usahakan." jawab Dio.
"Iya, Tante. Sisil juga akan usahakan datang."
Akhirnya acara wisuda kelulusan sudah selesai. Bu Ratih dan Gavin mengajak Cantik pulang. Dalam perjalanan pulang tak henti-henyinya Bu Ratih menciumi anak gadisnya itu.
Gavin yang duduk didepan dekat sopir sempat melirik kebelakang. Dia melihat raut kegembiraan istrinya jadi ikut senang.
"Ma, memangnya nanti malam ada acara syukuran gitu, kok tadi Mama mengundang Dio dan Sisil.?" tanya Cantik tiba-tiba.
"Ya nggak apa-apa kan, Dek. Sekedar makan malam bareng kan nggak masalah." jawab Bu Ratih.
"Nggak apa-apa, Ma." jawab Cantik.
"Oh iya, Tik. Dio itu kayaknya naksir kamu lho.!" celetuk Gavin sambil senyum-senyum.
"Ih, Papa. Kok gitu sih. Cantik kan masih kecil. Boro-boro ngurusi cinta-cintaan, KTP saja belum punya." jawabnya sambil mengerucutkan bibirnya.
"Kan Papa cuma menebak-nebak saja, sayang. Enggak juga nggak apa-apa." jawab Gavin.
"Sayang, Mama nggak ngelarang anak Mama ini punya teman dekat cowok. Tapi, yang harus diutamakan adalah belajar, belajar dan belajar." sahut Bu Ratih.
"Iya siap, Ma.!"
"Bagus, anak Mama harus nurut sama Mamanya." jawab Bu Ratih.
Dalam mobil Cantik jadi kepikiran omongan Papanya. Apa benar Dio itu suka sama dia. Kalau Sisil pernah bilang sih begitu, tapi dirinya nggak berani punya pikiran macem-macem.
"Aah, kok aku jadi kepikiran omongan Papa." ucap Cantik dalam hati.
--------------------------
Bersambung..
__ADS_1